Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Cinta bertepuk sebelah tangan


__ADS_3

"Kenapa kamu juga tidak cepat menikah? membuatku susah saja. Tak anak tak orang tuanya." Riana menggerutu sambil mendengus kesal menumpahkan segala unek-unek nya, menyesalkan perjodohan yang direncanakan kedua emak-emak yang kurang kerjaan. Riana sudah lama kenal dengan Daniel tetapi tak ada sedikitpun minat untuk menjalin hubungan dengannya lebih dekat. Jadi sekarangpun dia tak merasa canggung berbicara dengan Daniel apalagi karakter Riana selalu nyablak.


"Eh kenapa menyalahkan aku?" Daniel tak bisa menerima dirinya disalahkan begitu saja. Ego kelaki-lakian nya muncul begitu mendapat gerutuan dari Riana. Walau dirinya tahu Riana kurang menyukai perangai ibunya, tapi Daniel tak bisa menerima kalau dirinya disamaratakan.


"Habisnya kamu sendiri tak bisa mencegah ibumu sih! Bikin pusing aku saja! Daripada berdebat sampai urusannya jadi ribet begini mendingan kamu cari cinta pertama kamu, kamu cepatlah menikah, biar urusan kita kelar!" Riana menaikkan kakinya sebelah dengan memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus. Dia dengan egonya tetap memilih menyalahkan Daniel.


"Apa?" Daniel melotot menajamkan ke arah Riana, setelah Riana mengucapakan kata 'cinta pertama'. Ada rasa sedih yang tercuat kepermukaan setelah Riana menyebutkan 'cinta pertama'. Perasaan rindu pada Hana sudah Daniel rasakan memuncak di ubun-ubun tapi Daniel sendiri harus menahan beban besar untuk tidak bertemu bahkan dengan perasaan yang sangat menderita dia menahan rindu yang tak pernah bersambut.


"Lalu apa lagi kalau bukan menunggunya? Kalau memang mencintainya kenapa tidak dikejar?" Riana yang mencoba mengalihkan pembicaraan pada cinta pertama Daniel yang diketahuinya dari Wei.


"Bukannya kamu sendiri menyukai Wei? Kenapa belum juga ada kemajuan hubungan kalian?" Daniel tak mau kalah dari Riana, dia kembali memutar permasalahan pada Riana. Pertanyaan itu benar-benar menohoknya. Dia sadar bahwa yang dikatakan Daniel memang benar adanya. Sekian lama Riana mendekati Wei sepertinya masih saja jalan di tempat. Riana masih terdiam memikirkan bagaimana jalan terbaik agar hubungannya dengan Wei ada kemajuan. Tiba-tiba terbersit pikiran untuk meminta bantuan Daniel.


"Please tolonglah! Aku harus berbuat apa untuk bisa menikah dengannya?" Riana dengan wajah memelas menatap Daniel dengan serius. Sebentar kedua manik mereka bertemu, lalu pandangan Daniel beralih menunduk. Tatapan Riana masih tetap mengamati gerak-gerik Daniel. Dia berharap Daniel membantunya agar hubungannya dengan Wei bisa berjalan dengan lancar.


"Cari saja sendiri! Apa yang bisa menjadi kelemahannya!" Daniel mengambil nafas perlahan dan menghembuskan nya dengan tenang lalu melipatkan tangannya di dada sambil berfikir. Sebenarnya Daniel tak mau ikut campur mengenai hubungan Wei dan Riana yang tampak bertepuk sebelah tangan. Bukan tipe Daniel yang suka mengusik hubungan orang lain, terkecuali itu ada hubungan dengannya.Tangannya tampak mengusap wajah. Gusar


Rasanya kita berdua mengalami hal yang sama.


"Daniel... masa kau tega! Please bantu aku! Sekian tahun aku mendekatinya aku belum tahu bagaimana cara menundukkannya. Apa salahnya kalau kamu membantuku. Bukankah kau sahabat dekatnya?" Riana betul-betul menyerah dengan usahanya selama ini. Dia berharap Daniel bisa memberitahu kelemahannya. Riana mengerlingkan matanya pada Daniel.


"Jangan menatap seperti itu!" Daniel merasa tak nyaman dengan tatapan Riana. Terkadang Daniel ingin sekali berbuat licik di saat seperti ini yang bisa saja membuat dirinya beruntung. Tapi hati nuraninya seolah menolak.


Riana menghempaskan dirinya di sofa dan menurunkan kaki nya.


"Bingung! Sebenarnya kita sama-sama bernasib sama Daniel. Ya... Kita mengejar seseorang yang masih saja dingin." Riana melirik pada Daniel.


Entahlah kalau bukan karena ibunya, aku masih bisa mempertimbangkan. Tapi aku tak mau bermain api


"Kenapa kau tak coba mencoba mendekati tante Rosa?" Tiba-tiba saja Daniel memberikan ide pada Riana untuk mendekati ibunya Wei. Setahu Daniel Wei begitu penurut pada ibunya. Mungkin ide ini bisa mengalihkan perhatian perjodohan antara Riana dan Daniel.


"Aku... " Riana menatap Daniel seolah ingin berkata 'tidak berani'


"Ya terserah kamulah... hah, aku juga pusing memikirkan diriku sendiri." Pikiran Daniel sedang berkecamuk memikirkan masalah Hana yang harus segera diselesaikan. Apalagi Hana tak diketahui keberadaannya. Cemas, dan rasa takut sekarang sedang menyelimuti pikiran Daniel. Dia berharap pikiran-pikiran negatif nya tidak terbukti.


Kling


Kling


Kling


Sebuah notifikasi masuk. Daniel membuka layar handphonenya. Matanya agak melebar membaca pemberitahuan pesan.


"Riana, aku pergi dulu ada beberapa yang harus ku urus. Masalah perjodohan kita, lebih baik kita berdua bicara pada orangtua kita sebelum mereka melangkah jauh. Masalah Wei.. kau urus saja sendiri! Aku tak bisa membantumu lebih." Daniel berdiri lalu meninggalkan ruangan kantor Riana.


"Issh... menyebalkan." Riana menatap punggung Daniel yang menjauh dan akhirnya pergi dari ruangannya.


Sementara itu Daniel memicu mobilnya ke sebuah tempat. Dia bertemu seseorang agen rahasia yang disewanya untuk menyelidiki kasus Hana. Tempat itu lumayan jauh, dia sengaja memilih tempat yang jarang dikunjungi.


"Ini, bacalah!" Seseorang yang berkacamata hitam lengkap dengan jaket kulitnya menambah kesan sangar memberikan amplop coklat pada Daniel.


Daniel membuka amplop coklat dan membacanya dengan teliti. Jantungnya berdetak kencang ketika membaca poin demi poin bukti kejahatan yang tertera dalam lembaran kertas-kertas dalam amplop coklat. Lembar demi lembar habis dibacanya. Daniel menarik nafas lalu mengeluarkannya dengan kasar. Lalu memasukkan kembali lembaran itu dalam amplop.


"Terus selidiki! Aku tak mau ada kesalahan sedikitpun! Oh ya cari keberadaan dokter Alvian! Jika kau menemukannya suruh beberapa orang untuk mengawsinya!"


"Baik! Tapi... " Orang itu berbicara ragu.


"Tapi apa?" Daniel mendelik.


"Anda tahu siapa yang sedang dihadapi sekarang?"


"Maksudmu?" Daniel mengerutkan kening.


"Beberapa orang sedang melakukan hal yang sama termasuk ibu anda sendiri."


"Habisi orang-orang nya. Jangan beri kesempatan untuk lengah!" Daniel bangkit dari kursi meninggalkan pria berkacamata yang telah memberikan informasi yang dimintanya.


"Baik!" Orang itu tak lama kemudian berdiri meninggalkan tempat pertemuan dengan Daniel. Dan memerintahkan anak buahnya sesuai intruksi Daniel.


Daniel menuju ke arah kantornya dengan membawa sejuta perasaan yang campur aduk. Kesal, sedih, juga bingung. Kesal karena perjodohannya dengan Riana mempersulit ruang untuk mencari Hana. Sedih, hatinya selalu rindu padamu Hana tapi yang dirinduinya tak bersambut. Bingung, kejahatan ibunya sendiri harus dia dihadapi.

__ADS_1


Daniel berjalan menuju ruangannya, langkahnya terhenti begitu sekertaris nya mendekat.


"Maaf tuan Daniel, ibu anda sudah menunggunya anda di ruangan." Sekertaris nya memberitahunya sebelum Daniel memasuki ruangan.


"Sudah lama?" Daniel mengerutkan dahinya.


"Ya kira-kira sudah dua puluh menit yang lalu. Tapi.. " Sekertaris nya berhenti bicara.


"Tapi apa?" Daniel menatap curiga.


"Ibu anda... meminta seseorang untuk masuk ke ruangan anda dan kami dilarang memasukinya."


Daniel terdiam sesaat. Ada rasa curiga yang menyelinap dalam hatinya.


Siapa orang itu? Lalu maksud ibu apa memasukkan orang ke ruangan? Kalau orang kantor pasti sekertaris ku mengenalinya.


"Simpan dokumen ini dengan baik!" Tiba-tiba Daniel merasa harus menyimpan dokumen yang harus dirahasiakannya di luar tempat kerjanya.


"Baik, tuan Daniel!" Skertarisnya memberi hormat. Daniel melangkah berlalu dari hadapan sekertarisnya dan masuk ke dalam ruang kerjanya.


Klek


Pintu terbuka.


Daniel mengedarkan pandangan. Terlihat ibunya sedang membuka beberapa berkas di atas meja nya.


"Bu.. sudah lama?" tanya Daniel sambil berpura-pura tidak tahu.


"Belum." Ibunya tersenyum dengan wajah terpaksa.


"Ada apa bu? Bukankah kita tadi sudah bertemu?" Daniel penasaran apa maksud kedatangannya. Padahal tadi mereka sudah bertemu.


"Bagaimana dengan Riana?" Ibunya Daniel bediri lalu mendekati anaknya sambil menepuk bahu, dia menatap sepertinya tidak sabar menunggu hasil pertemuan Riana dan Daniel. Dia berharap kabar gembira segera didengarnya.


"Kami memutuskan untuk tidak menjalin hubungan." Nada datar terdengar dari suara Daniel.


"Iya, kami merasa tidak cocok satu sama lainnya." Daniel memandang wajah ibunya dengan wajah biasa saja.


"Hah.. " Suara hentakkan nafas begitu terdengar jelas. Lalu dia memalingkan wajah mendengus kesal.


"Baru saja bertemu sudah mengatakan tidak cocok. Dasar tak berguna!" Walau suaranya pelanggan masih terdengar jelas di telinga Daniel.


"Ibu jangan memaksakan diri! Riana sudah mempunyai seseorang yang dia cintai, begitu pun aku bu!"


"Apa katamu? mencintai? Siapa orang nya?" Kembali wajah ibunya terlihat kecut.


"Bu... kalau memang ibu tahu orang nya apakah ibu akan membawakannya padaku?" Daniel memancing bagaimana reaksi ibunya jika mengetahui siapa yang selama ini yang dicintainya.


"Kenapa harus ibu yang membawanya? Orangnya pun ibu tak tahu. Lalu kenapa juga harus dibawa ibu segala kalau memang orangnya hanya kamu sendiri yang tahu." Wajah kesalnya masih nampak jelas terlihat. Apalagi mendengar Daniel berkata begitu, membuat ibunya bertambah kesal.


"Aku yakin ibu juga tahu. Bahkan ibu lebih tahu keberadaannya." Pancing Daniel sambil tertunduk memandang sepatunya.


"Maksudmu?" Rupanya jawaban Daniel memancing sedikit emosi yang mungkin sebentar lagi akan meledak.


"Aku sudah lama mencintai Hana bu! Kenapa ibu dengan tega memisahkan kami? Bahkan ibu dengan tega memasukan Hana ke rumah sakit jiwa." Suara Daniel terdengar berat.


Ibunya terhenyak kaget. Dia mengerlingan mata menatap tajam wajah Daniel.


Daniel yang asalnya menunduk memberanikan diri membalas tatapan ibunya.


Sejenak ruangan itu hening dalam kekakuan.


"Ibu tahu selama ini aku hanya bisa patuh pada perintah ibu. Tapi tidak dengan sekarang. Aku.. ingin memperjuangkan perasaanku yang selama ini dipendam."


Ibunya Daniel melengos, memalingkan wajah menatap ke arah lain.


"Ibu tahu, apa yang selama ini yang membuatku bertahan? Ya aku hanya menunggu. Menunggu dari waktu ke waktu berita tentang Hana. Bahakan hidupku sudah dihabiskan dengan menunggu. Aku tak mau wanita lain selain dia. Tapi dengan teganya ibu membiarkan aku dan Hana menderita menanggung ke egoisan ibu."


"Cukup!" Suara bertahan terdengar begitu menggelegar di ruangan itu.

__ADS_1


"Ibu tak mau mendengar nama itu lagi! Buat ibu dia sudah mati sejak lama. Jadi jangan berharap ibu akan setuju jika kamu mencintai nya."


"Baik. Anggap juga aku sudah mati bu! Jadi mulai sekarang aku tidak akan muncul di hadapan ibu." Daniel melangkah ke luar ruangan menahan sedih dan putus asa. Selama ini dia menahan diri untuk tidak mengeluh dan memilih jadi anak penurut. Tapi kali ini dia tidak akan berdiam diri.


"Daniel... " Suara teriakan itu tak menghentikan langkahnya. Bahkan keributan itu terdengar sampai luar.


Tatapan penuh ingin tahu sekertaris Daniel diluar ruangan membuat Daniel menghentikan langkahnya.


"Mana amplop tadi?" Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.


"Ini tuan." Dia menyodorkan amplop coklat yang tadi Daniel titipkan. Daniel melangkahkan kaki pergi menjauh. Sementara mata sekertarisnya tetap mengamati sampai punggung itu menjauh.


Tak lama Daniel meninggalkan ruangan. Ibunya Daniel mengepalkan kedua telapak tangannya. Marah dan kesal sedang bercampur menjadi satu.


"Berani-beraninya dia melawan!" Giginya menggertak dan kepalan itu akhirnya mengenai meja sehingga terdengar suara pukulan.


"Apa benar dia mengancamku? Bagaimana kalau benar?" Ibunya Daniel berbicara sendiri memikirkan apa yang diucapkan Daniel padanya. Seumur hidupnya dia mengenal Daniel yang penurut. Hampir tidak pernah dia berani melawannya. Entah kenapa hari ini dia berani sekali memberontak. Apalagi dia bicara seolah mengetahui apa yang sudah lama disembunyikannya.


Darimana dia tahu kalau Hana masuk rumah sakit jiwa? Apa diam-diam dia mengetahuinya? Atau Hana sendiri yang mengatakan? Ah kenapa aku jadi ceroboh begini! Bagaiaman kalau benar ancamannya? Dasar anak tak tahu diuntung. Aku selama ini berjuang mati-matian demi kamu.


Ibunya Daniel merogoh saku dan menekan satu nomor.


tut


tut


tut


Nada telpon yang tak diangkat pemiliknya jelas terdengar. Dia kembali membuka laman pesan. Menuliskan sesuatu.


"Awasi Daniel!"


Centang satu tertera di layar.


"Pada kemana kalian? Giliran penting malah tak aktif." Dia berkata sendiri. Menahan kekesalan pada anak buahnya yang belum bisa terhubung. Dia kembali menekan nomor mencoba menghubunginya kembali. Nada yang sama masih juga terdengar.


Dia terdiam sejenak. Pikirannya bercabang. Dia memutuskan untuk pergi dari ruangan kerja Daniel.


Seseorang memberi hormat, walau yang diberi hormat acuh tak acuh. Netranya sedang mengamati punggung ibunya Daniel. Dia menggelengkan kepala.


Aneh.


Dia kembali duduk. Menyelesaikan beberapa berkas yang harus segera disiapkan untuk majikannya.


Kling


Kling


Kling


Sebuah notifikasi masuk ke layar handphone sekertaris Daniel. Lalu dia membuka layar dan mengusapnya. Satu pesan yang membuatnya terbelalak.


"Sekarang aku tak lagi bekerja. Jadi cancel semua pekerjaan sampai posisiku digantikan."


Ya ampun. Apa yang sebenarnya terjadi antara tuan Daniel dengan ibunya? Apa aku akan dipecat?


Dia duduk dengan nafas yang berat. Lemas


Sementara itu Daniel melajukan mobilnya menuju sebuah apartemen mewah milik sahabatnya setelah tadi dia menelpon untuk menemuinya. Tak berselang lama dia sampai di basemen apartemen milik Wei. Lalu dia berjalan menyusuri parkiran. Langkahnya terhenti ketika Daniel melihat mobil kuning sport yang dikenalinya.


Apa dia ada disini juga?


Daniel mengeluarkan handphone nya menelpon Wei guna memastikan apakah Riana juga ada disana atau tidak.


"Halo Wei, apa kau sudah ada di apartemen?" Daniel menajamkan pendengarannya.


"Ya, aku sudah sampai. Kamu lagi dimana?"


"Apa Riana ada disana juga?" tanya Daniel mastikan keberadaan Riana. Karena jika dia ada bersama Wei, tak mungkin Daniel bisa membicarakan masalahnya.

__ADS_1


__ADS_2