Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Pilihan


__ADS_3

Dia melihat laki-laki yang lebih tampan, jelas lebih dewasa dari anaknya. Bagaimana anaknya menyukai perempuan yang sudah mempunyai pasangan.


Sepanjang hari ibunya hanya duduk merenung tanpa ada yang bisa diajaknya bicara. Bahkan telepon yang sedari ditekannya tak juga mengangkat.


Apapun yang terjadi dia harus menanyakannya pada Sandi. Wanita itu masih banyak, kenapa harus jatuh cinta pada wanita bersuami. Apa jadinya kalau Sandi jadi orang ketiga dari rumah tangga mereka. Ibunya tak boleh tinggal diam sebelum ayahnya Sandi tahu kejadian ini.


"Kemana sih anak itu? Kenapa dia tak bilang kalau bu Hana sudah punya suami? Bahkan dia dengan berani membawa perempuan itu ke rumah." Dia bergumam sendiri. Pikiran ibunya Sandi begitu sangat cemas, marah dan kesal.


"Andri... " Ibunya Sandi memanggil pengawal pribadinya.


"Iya nyonya." Laki-laki yang perawakannya tinggi dan rambut cepak segera menghampiri majikannya begitu ibunya Sandi berteriak memanggilnya.


"Cepat cari Sandi dan bawa pulang! Katakan ibunya sedang sakit!" Ibunya Sandi terpaksa menggunakan alasan itu untuk memuluskan pengawalnya membawa Sandi. Ya Sandi sangat khawatir kalau ibunya sakit. Dia akan datang cepat jika mendengarnya sakit.


"Baik nyonya! Pengawal tadi tanpa menunggu lama berlalu meninggalkan majikannya yang sedang memijat kening. Dia segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menyusuri beberapa tempat yang biasa Sandi tongkrongi.


Di lain tempat, setelah lelah kebut-kebutan dengan mobilnya, Sandi berhenti di satu tempat. Tepatnya di tempat biasa Sandi bermain game. Dia masuk memilih tempat VIP. Dadanya masih terasa sesak, emosinya ingin meledak begitu melihat Wei berani mencium Hana di depannya.


Sandi menghempaskan diri di kursi empuk besar tempat biasa dia bermain game di ruangan ber AC juga full fasilitas, lemari pendingin juga toilet pribadi.


Sandi menutup matanya dengan sebelah tangan. Dia tak bisa marah pada Hana, karena sebelumnya memang Sandi sudah mengetahui Hana sudah bersuami. Tapi sampai saat ini Sandi belum mempercayainya.


"Akhhhh... " Sandi memukul kursi yang tak bersalah apa-apa. Kursi itu menjadi pelampiasannya menerima kemarahannya. Pukulan demi pukulan saling menyusul dibarengi dengan umpatan. Untung ruangan itu kedap suara, kalau tidak? Pasti seluruh penghuni tempat itu terkejut dengan teriakannya yang menggema.


Sandi merasakan kelelahan setelah beberapa kali memukul kursi duduknya. Sandi tak peduli kalau kursi itu jadi rusak, karena pikirnya dia bisa dengan mudah menggantinya dengan seribu kursi yang sama.


Sandi menekan tombol mesin game. Sebetulnya dia tidak berniat untuk main. Hanya saja dia ingin melepaskan kekesalannya dan menghindari sesuatu yang mungkin bisa berakibat buruk. Sandi tak ingin menenggak minuman keras lagi. Itu janji terakhirnya setelah dia berkelahi di suatu klub mengakibatkan Sandi masuk penjara, karena Hana tak kunjung membebaskannya.


"Aku akan membunuhmu disini!" Kata-kata ini diumpatkan untuk melampiaskan kekesalan pada Wei. Dia memilih satu permainan yang menurutnya paling cocok di saat ini.


Sandi memilih tokoh yang bisa jadi pelampiasannya. Sebenarnya game ini game yang penuh dengan kekerasan. Tapi pikirannya menuntun memilih game itu untuk mengatur suasana hatinya.


"Ayo... kita mulai permainan ini. Aku akan menghabisimu!" Matanya mulai fokus, emosinya mulai bermain. Sandi asyik dengan permainan itu hampir satu jam lebih. Beberapa panggilan di handphonenya tak digubris demi misi kemenangannya di game itu. Dia lihai dengan game sampai susah dikalahkan.


Tok.. tok.. tok


Suara pintu terdengar diketuk. Tapi Sandi tetap dengan game di layar mesin itu. Sampai seseorang memberi kode memaksa masuk.


"Mas Sandi.. " Andri menepuk anak majikannya dengan langkah hati-hati.


Sandi yang sadar ada yang menepuk bahunya dia menoleh.


"Maaf mas Sandi... bisakah mas cepat pulang?"


"Tak mau!" Dia melanjutkan game itu dengan emosi tinggi.


"Maaf mas... ibu sakit." Pengawal itu mendekatkan wajahnya ke telinga Sandi yang terhalang alat penutup telinga khusus buat bermain game.


Sandi membuka alat itu.


"Apa?"


Sandi menatap lamat-lamat orang yang baru saja bicara padanya.


Sandi berdiri lalu melangkah keluar dari ruangan itu tanpa sedikit pun membantah.


"Mas ikut sama saya saja, biar mobil mas ini dibawa pak Dul!" Pengawal itu ingin memastikan bisa membawa Sandi bersamanya.


Sandi menurut, lalu melangkah menuju mobil pengawal ibunya, setelah dia menyerahkan kunci kendaraannya ke pak Dul.


Sepanjang jalan Sandi hanya menutup mata, padahal dia tidak mengantuk. Andri, pengawal pribadi ibunya sesekali melirik pada Sandi merasakan perubahan aneh pada anak majikannya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Andri tak berani ngebut seperti awal dia berangkat. Padahal dia tahu Sandi biasanya protes jika mobilnya pada kecepatan sekarang. Tapi anehnya sekarang Sandi hanya terdiam tanpa ada keluhan apapun.


Padahal sejuta rasa sedang berkecamuk dalam pikiran Sandi. Dia tetap terpejam tanpa sedikit pun keinginan untuk membukanya atau sekadar mengintip. Tak peduli dengan mobil yang sedang dia kendarai bahkan terlalu pelan untuk melaju.


Mobil yang dibawa Andri telah sampai depan rumah. Sandi beranjak dari duduknya lalu membuka sabuk pengaman dan membuka handle pintu.


"Dikira tidur... " Andri terheran melihat Sandi turun dari mobil tanpa dibangunkan. Dia menggeleng-geleng kan kepala melihat sikap Sandi.


Sandi berjalan masuk ke dalam rumah dengan setengah tenaga. Dia langsung menuju ke kamar ibunya karena khawatir dengan keadaannya.


Dia mengetuk pintu kamar ibunya.


Tok.. tok.. tok.

__ADS_1


"Masuk!" Terdengar dengan jelas suara ibunya Sandi yang sudah dari tadi menunggu kepulangan putra semata wayangnya.


Sandi tak bersuara masuk ke dalam kamar ibunya. Biasanya ketika masuk Sandi selalu berteriak memanggil ibunya. Tapi berbeda dengan hari ini. Dia memilih untuk diam.


Klek


Handle pintu bergerak terbuka. Lalu Sandi perlahan masuk menatap langsung pada ranjang king size yang ada di dalam kamar itu. Terlihat ibunya sedang berbaring.


"Sandi." Ibunya Sandi bangkit dari tempat pembaringannya lalu duduk bersandar pada sandaran ranjang mewahnya.


Sandi mendekat lalu duduk di tepi ranjang ibunya.


"Mamih... sudah makan obat?" Sandi menatap wajah sendu wanita yang sangat dicintainya.


"Sudah. Mendekatlah sayang!" Dia menepuk pinggir kasur yang masih kosong menyuruh Sandi agar duduk lebih dekat lagi.


Sandi bergeser lalu duduk berhadapan lebih dekat.


"Tadi bu Hana datang kesini bersama suaminya." Ibunya Sandi menatap anaknya dengan wajah penuh kasih.


"Apa???" Sandi terperangah. "Berani sekali dia membawanya kesini." Sandi bergumam dalam hati. Matanya liar menahan gejolak emosi yang terpendam. Tangannya sedikit gemetar. Detak jantungnya tak beraturan.


Ibunya Sandi menarik tangan Sandi lalu mengelus lembut punggung tangannya. Dia merasakan gejolak putranya.


"Sandi... besok papihmu akan pulang. Mamih harap kamu jangan kemana-mana dulu ya sayang!"


Sandi mengangguk. Lalu tertunduk.


"San... kamu gak penasaran apa yang telah dibicarakan bu Hana ke mamih?" Ibunya Sandi mencoba memancing Sandi supaya berbicara. Dia melihat anaknya sangat murung sekali. Ibunya bisa merasakan apa yang sedang dirasakan anaknya sekarang. Bisa jadi Sandi sedang patah hati.


"Mmmm... menurut mamih Sandi perlu tahu?" Dia sepertinya tak ingin mendengar berita buruk yang akan disampaikan ibunya.


"Ya. Iyalah.. dia kan guru kamu. Memangnya dia kemari tak ada urusan penting dengan sekolahmu." Ibunya Sandi berusaha untuk memancing Sandi bicara jujur.


"Ohh... " Sandi sekali lagi kurang semangat menanggapi pembicaraan ibunya.


"Ko oh.. San?" Ibunya benar heran melihat Sandi menjawab pendek.


"Ya terserah mamih... mau cerita apa tidak?" Sandi tak mampu menolak keinginan ibunya dan Sandi sendiri tak mau bicara dengan apa yang sedang dialaminya sekarang.


"Begini San... tadi bu Hana menyampaikan tentang sekolahmu. Katanya kamu gak ikut ujian. Ko kamu gak cerita sih sama mamih alasan kamu gak ikut ujian?" Ibunya Sandi berusaha lembut agar Sandi tidak menghindar.


"Mamih gak marah ko San.. yang lalu biarlah berlalu. Tapi mamih rasa, mamih gak bisa membiarkanmu begitu saja. Ini menyangkut masa depanmu." Mamihnya kembali mengelus tangan Sandi mencoba bersikap lunak.


"Maafkan Sandi mih!" Sandi tertunduk.


"Iya mamih maafkan. Tapi tetap masalahnya kamu perlu solusi. Bagaimana nanti mamih harus menyampaikannya pada papihmu? Karena lambat laun papih juga akan tahu. Jadi... mamih butuh bantuan kamu juga untuk menghadapi masalah ini."


"Hana tadi bilang apa sama mamih?" Sandi menatap ibunya dengan seksama. Sebenarnya Sandi penasaran juga, tapi gengsi untuk bertanya.


"Bu Hana hanya menyampaikan pesan dari sekolah. Karena kamu tidak ikut ujian akhir, maka kamu dinyatakan tidak lulus. Tapi pihak sekolah memberikan dua opsi untuk masalah kamu."


"Opsinya apa?"


"Kata bu Hana... kamu bisa ikut ujian persetaraan secepatnya agar bisa melanjutkan kuliah tahun ini. Tapi kalau kamu keberatan, kamu bisa ikut ujian susulan tahun depan jika menginginkan ijazah sekolah. Lalu menurut kamu sendiri kamu memilih yang mana?" Manik mata ibunya menatap lurus ke arah Sandi.


"Aku tak bisa memilih!" Sandi benar-benar bingung, akalnya masih terasa buntu. Apalagi saat ini hatinya terlalu remuk. Tak ada yang ingin dipikirkannya.


Ibunya menarik tangan Sandi, otomatis Sandi mengikuti kemauan ibunya. Dia menarik tangannya dan mendekapnya dalam dada. Seorang anak butuh dekapan dikala dia sedang gundah.


"Sayang... mamih tidak bisa memaksa kamu. Tapi sekolah memberikan batas waktu tiga hari untuk menjawab penyelesaian masalahmu. Mamih tahu kamu masih bingung, tapi mamih harap kamu bisa berfikir bijaksana ya!" Ibunya mengecup ubun-ubun kepala Sandi sambil mengelus-ngelys rambutnya dengan lembut.


Sandi mengangguk. Dia membenamkan kepalanya di dada ibunya. Hatinya terasa tenang di dekap ibunya. Inilah tempat ternyaman yang Sandi rasakan. Seketika perasaannya menjadi tentram. Sejenak pikirannya agak relaks menerima sentuhan ibunya.


Drama ibu dan anak sedang berlangsung. Ruangan itu jadi saksi kasih sayang antara ibu dan anak selama ini. Ya saling menguatkan dalam segala kerapuhan masalah yang mereka miliki.


Ibunya Sandi tak mau membahas tentang suaminya Hana dulu. Mungkin menunggu Sandi siap diajaknya bicara.


###


Hana termenung sepanjang hari. Pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi membuat dia leluasa untuk melamun.


Bagaimana aku bicara sama Sandi ya? Aku merasa bersalah sudah menyakitinya.


Hana bingung, menatap kosong tepat di depan layar komputer yang sedari tadi menyala.

__ADS_1


Apakah dia harus senang atau sedih.


"Ah kegilaan macam apa yang harus ku hadapi sekarang." Hana bergumam sendiri. Tubuhnya melorot, lalu sebelah tangannya menopang wajahnya yang kini tertidur miring ke kanan.


Lesu sekali rasanya. Padahal dia sedang tidak bekerja terlalu keras.


"Bukankah dari kemarin aku menantikan kedatangannya? Tapi mengapa ketika dia datang malah aku bingung dan yang lebih jelasnya, 'aku tak siap'.


"Maaf Bu Restu... " Suara itu mengagetkan Hana dan dia langsung bangkit dari tempat duduk.


"Eh iya bu. Hana memasang wajah senyum.


"Bapak kepala sekolah ingin bertemu bu!"


"Oh baik bu Emilia. Saya akan segera ke ruangannya."


"Iya." Emilia menepuk bahunya.


"Terima kasih bu!"


"Iya sama-sama. Semangat!"


Hana berjalan ke ruangan kepala sekolah. Sebelum mengetuk pintu itu dia merapihkan bajunya dan mengetes vokal suara.


"Ehem.. ehem.. aa.. bb." Hana agak deg-degan. Mengatur nafas lalu membuangnya perlahan. Setelah hatinya siap, dia mengetuk pintu di depannya.


"Masuk!"


Suara beratnya itu terdengar berwibawa. Hana masuk lalu duduk di kursi sofa yang ada di ruangan kepala sekolah.


"Apa kabar bu Restu?" Laki-laki berkaca mata minus itu membuka kacamatanya. Menyapa Hana dengan senyuman ramah. Dia berdiri lalu melangkah mendekati sofa. Dia memilih tempat duduk yang lebih dekat ke mejanya.


"Baik pak." Hana menjawab dengan senyum tipis.


"Begini bu Restu...pertama-tama saya secara pribadi atau pun perwakilan sekolah ikut berbela sungkawa atas kecelakaan yang menimpa ibu. Mohon maaf kalau ucapan saya terlambat."


"Oh iya Pak tidak apa-apa."


"Iya saya baru dengar dari bu Emilia. Bahkan kita-kita gak sempet menjenguk ya bu, mohon maaf atas kelalaiannya!"


"Iya saya juga mohon maaf pak, kalau sudah membuat bapak dan para guru cemas karena tidak ada kabar." Hana merasa bersalah, wajahnya agak tersipu malu.


"Iya, untung bu Restu sudah kembali. Kalau tidak kasian anak-anak yang mau lulus. Tapi bagaimana semuanya sudah beres bu Restu?"


"Alhamdulillah pak, sudah pak. Raport dan ijazah sudah siap tinggal bapak tanda tangani. Semuanya sudah saya cek pak, InsyaAllah semuanya sudah selesai."


"Bagus bu Restu! Kalau begitu nanti semuanya tinggal simpan di meja saya, biar saya tanda tangani."


"Baik pak!"


"Oh iya bu Restu, apa bu Restu sudah menemui orangtua Sandi?" Pak Herman selaku kepala sekolah memastikan kasus Sandi. Wajahnya serius menatap Hana.


"Sudah pak, tadi pagi saya sudah datang ke rumahnya. Saya memberi waktu tiga hari sesuai saran bu Emilia untuk memberikan jawaban."


"Oh baik, mari kita tunggu! Mudah-mudahan tidak ada masalah ya bu." Pak Herman sepertinya mencemaskan sesuatu.


"Iya pak, saya harap juga begitu.


"Iya. semoga saja. Baik kalau begitu bu Restu boleh melanjutkan pekerjaannya!"


"Iya baik pa! Saya permisi dulu!"


"Iya silahkan!


Hana keluar dari ruangan dan berjalan menuju ruangan guru. Tapi handphone nya terdengar berbunyi.


Hana menatap nomor yang tertera di layar handphone.


Hana menekan tombol.


"Halo." Hana menjawab agak sedikit ragu.


"Iya halo. Hana... apa kabar?"


"Ini kakak Daniel Hana... "

__ADS_1


"Siapa?"


Deg


__ADS_2