
Hana membalas pelukkan dari Caterina dengan hangat. Adiknya yang satu ini bukan hanya cantik tapi terasa friendly.
Caterina menatap wajah Hana dengan senyuman yang manis. Dia sedang mengamati dengan detail, wajah kakaknya yang ini kira-kira mirip siapa ya? Hana membalas tatapannya, bola matanya pun ikut bergerak ke kiri dan ke kanan membaca apa yang sedang dilihat adiknya.
"Mama... ko kak Hana mirip kak Steve?" Wajahnya merengut, kecewa. Ternyata Caterina sedang mengamati wajah Hana dan membandingkan dengan kakaknya, Steve.
"Ya untung mirip, kalau tidak kakak bingung nanti adik kakak tapi tidak mirip." Steve menimpali Caterina.
"Ih kak Steve.. sebel. Kaya aku gitu?' Wajahnya yang cantik blasteran Prancisnya kini ditekuk, kesal.
"Ya enggaklah.. adik kakak yang paling cantik. Bukannya kamu bangga mamerin wajah kakak yang kayak oppa Korea ini ke temen-temen kamu?" Steve menggoda Caterina.
"Iya deh.." Caterina mengalah. Mengingat memang selama ini dia selalu bangga sama kakak laki-lakinya. Selain tampan dia juga pintar bisa dipamerin pada teman-teman sekolahnya. Tapi yang paling penting dia juga kakak paling baik.
"Wah senengnya punya kakak lagi. .." Caterina kembali memeluk Hana dengan imut.
"Lah.. sama kakak yang lama gak dipeluk?" Steve seolah memperlihatkan kecemburuan pada Hana. Melihat Caterina ibarat menemukan mainan baru.
"Gak, aku mau peluk-pelukan sama kak Hana dulu. Kak Steve sudah gak enak dipeluk sekarang." Caterina memejamkan matanya dan tersenyum imut.
"Ih segede gini kaya balita aja!" Maria menguyel-nguyel rambut Caterina. Seisi ruangan tertawa melihat kelucuan Caterina. Hana mengusap lembut bahu adiknya dan tersenyum bahagia.
"Kak Hana.. kapan kita bisa jalan-jalan? Kayanya seru deh punya kakak perempuan." Caterina sedang membayangkan jika dia mempunyai kakak perempuan menyenAngkan seperti cerita teman-temannya.
"Hhhmm kapan yah?" Hana terdiam mendengarkan permintaan Caterina.
Maria yang mengerti kegalauan Hana langsung bicara.
"Kak Hana mesti sehat dulu ya! Biar nanti jalan-jalan nya bisa rame-rame." Maria mengelus lembut Hana.
"Maaf paman, bibi.. Bolehkan saya berbicara?" Wei yang sedari tadi mengamati keluarga Steve, pikirannya sempat terdorong untuk mengungkapkan niatnya.
'Ini kayanya waktu yang tepat. Kalau aku menundanya, aku tak ingin terjadi sesuatu hal yang tak bisa diduga.
Jelas semua pandangan tertuju mengarah pada Wei.
"Iya, bicaralah! Tuan Hans sebagai wali juga orang paling dewasa mempersilahkan Wei bicara.
"Paman, bibi..saya mohon maaf jika sikap saya kurang sopan."
"Begini paman, sebenarnya saya sudah mengenal Hana sudah sejak lama. Begitupun hubungan ayah kami, mereka pernah berteman baik."
"Saya juga tahu Hana menyukai saya sudah dari dulu." Pandangan Wei menatap netra Hana dengan lekat. Yang ditatap menunduk malu, semu merah merona tergambar di pipinya yang putih.
"Oleh karena itu, izinkan saya m sekarang akan mengambil tanggung jawab pada Hana. Paman, bibi." Wei bergantian melihat tuan Hana dan Maria.
Semua netra tak mampu berkedip mendengar kata-kata Wei.
Tangan Caterina mengeratkan pelukannya. Seolah dia tak ingin kehilangan kakaknya yang baru saja dimiliki. Kepalanya dibenamkan pada dada Hana. Bergelayut manja.
Sejenak orang-orang disekitar Hana bingung, apalagi Hana. Kaget. Degup jantungnya seakan berirama tak beraturan. Badannya lemas tak bertenaga.
"Ehem.. ehem." Tuan Hans berdehem untuk memulihkan pikiran semua orang yang ada di ruangan itu.
"Wei.. Paman rasa sebaiknya ditunda dulu. Mari kita pikirkan dengan kepala dingin!" Tuan Hans belum sempat melanjutkan bicaranya tapi Hana sudah mendahuluinya.
"Kak Wei.. " Suara itu memecah konsentrasi.
"Saya.. siap jika kak Wei berniat mengambil tanggung jawab pada saya." Tanda beban Hana menjawab pengajuan Wei.
"Hana... " Steve dan tuan Hans serempak memanggil Hana dengan tatapan tajam dan suara meninggi. Seakan menegur sikap Hana yang tanpa berpikir dahulu langsung menjawab.
Semua tak mengerti apa yang sedang dipikirkan Wei dan juga Hana.
"Wei.. bisakah kita berbicara di luar.' Steve berinisiatif mengajak Wei untuk ke luar ruangan. Dia berniat berbicara dengan Wei sebelum terlanjur Wei mengambil keputusan. Wei mengangguk menyanggupi ajakan Steve. Keduanya berjalan menuju pintu dan Wei mengikuti langkah Steve berjalan.
Sampai di sebuah taman langkah Steve berhenti. Dia mengamati sekeliling. Lalu mencari tempat yang memungkinkan dia bisa berbicara empat mata. Dan netranya dengan cepat menemukan tempat duduk yang mungkin bisa dipakai untuk duduk dengan nyama. Keduanya duduk berdampingan.
Steve mengambil nafas dan mengeluarkan nafas perlahan. Berusaha menenangkan suasana hatinya yang berloncatan setelah barusan kaget mendengar Wei bicara seperti itu pada Hana.
"Wei.. aku susah lama mengenalmu. Tapi aku tak ingin menerka-nerka apa yang ada dalam pikiranmu saat ini. Aku harap kamu jujur, apa maksud semua yang baru saja kamu katakan!' Steve menoleh ke arah Wei.
Wei pun menghela nafas. Tatapannya menatap ke depan tanpa jelas apa yang dilihatnya.
__ADS_1
"Ya, mungkin sudah saatnya aku menikah. Aku juga sudah cukup umur. Dan aku tahu Hana menyukaiku." Wei tertunduk.
"Wei... " Steve menatap heran dengan jawaban Wei seolah ringan dan asal.
"Kenapa kamu keberatan jadi kakak iparku?" Wei melirik Steve.
"Issahh.. kamu!" Steve mendengus kesal.
"Kamu tahu.. ini bukan main-main?" Steve kembali menoleh Wei.
"Iya aku tahu betul. Dan aku tak pernah main-main dengan keputusanku."
"Wei.. kamu.." Steve mengusap kasar wajahnya.
"Hana tak ingat kamu siapa, dia amnesia. Di malah mengingat kamu ketika remaja, bukan mengingatmu yang kemarin."
"Maksudmu? Hana hanya ingat akau waktu sekolah? Tidak mengingat aku yang kemarin menolongnya?"
"Iya." Wei menatap lekat Steve.
"Kenapa kamu ceroboh Wei. Aku tak ingin kamu mengambil tanggung jawab Hana dengan asal, lalu melemparkan akibatnya suatu saat padaku."
Wei menajamkan pandangannya.
"Apa kamu berpikir seperti itu?"
"Aku tak ingin melukai Hana Wei. Kamu tahu Hana lumpuh dan tak tahu sampai kapan dia bisa berjalan." Steve benar-benar mengkhawatirkan Hana.
"Justru aku ingin melindungi semuanya. Aku ingin Hana merasa aman bersamaku. Kamu tahu sendiri, bukan hanya kelumpuhannya saja yang kupikirkan. Tapi bagaiman dengan keselamatannya? Hana sedang diawasi Steve!"
Steve terhenyak.
"Apa ada yang tahu dengan keberadaan Hana disini?" Steve baru teringat apa yang dahulu Wei ceritakan. Tapi itu pun baru sedikit informasi Steve dapatkan dari Wei. Sekarang waktunya Steve meminta penjelasan.
"Kamu ingat kan bagaimana kecelakaan Raffa muridnya Hana? Salah satunya seseorang telah memerintahkan untuk selalu mengawasi Hana."
Mata Steve menyipit berbarengan dengan tangannya menopang dagu.
"Ya aku akui, bahwa aku menitipkan Hana karena aku sendiri belum siap dengan semua masalah yang baru saja ayah tinggalkan berkenaan dengan perusahaan. Banyak hal yang aku tak ketahui selama ini di balik apa yang ayah kerjakan di perusahaan. Aku mohon maaf jika aku melimpahkan masalah Hana padamu." Terlihat gurat wajah penyesalan yang Wei lakukan pada Steve.
"Ya aku mengeri." Steve menghela nafas dengan berat.
"Aku tahu kamu pasti kecewa ketika aku memperlakukan Hana kurang baik. Aku sudah berusaha yang terbaik Steve. Dibelakangmu aku mencari sendiri siapa Hana dan dimana dia tinggal tanpa sepengetahuan mu."
Steve menatap tajam wajah Wei.
Benar dugaan ku, kamu terlalu banyak menyimpan rahasia.
"Bahkan aku berusaha menyembunyikannya dari Daniel. Agar Hana aman bersama kita."
"Maksudmu?" Steve menoleh Wei penasaran dengan kalimat barusan Wei katakan.
"Jika Hana mengingat hal sebelum bertemu kita, dia pasti ingat betul bagaimana dia menghilang dari keluarga Daniel."
"Ceritakan apa yang kamu ketahui Wei! Aku tak mungkin bertanya pada Hana sekarang. Kamu tahu sendiri keadaannya sangat rapuh seperti aku kemarin."
Wajah Steve terlihat memohon pada Wei untuk menceritakan apa yang belum dia ketahui.
"Baiklah jika hal itu membuatmu lebih baik. Sebenarnya ketika kecelakaan itu terjadi aku juga syok. Aku sudah kenal Hana semenjak aku berteman dengan Daniel. Bahkan ayahku adalah sahabat baik ayahnya. Ketika ayahnya meninggal, sejak itu aku tak melihat lagi Hana di rumah Daniel. Aku mengira sih tak ada apa-apa, sampai suatu hari ayahku pernah berwasiat untuk mencari keberadaan anak dari sahabtnya itu. Ayahku sudah dari dulu mencurigai ibunya Daniel. Tapi sulit juga untuk mencari bukti. Bahkan ayahku pernah mencurigai ibunya Daniel lah penyebab kematian ibumu."
"Apa?" Steve terhenyak mendengar pernyataan Wei.
"Ayahku belum bisa memastikannya. Karena banyak faktor. Tapi sejak pembicaraan itu aku selalu waspada pada ibunya Daniel. Makanya ketika aku menemukan kembali Hana, aku lebih cenderung menyembunyikan di rumahmu."
"Aku baru mendapatkan sedikit bukti, ketika kotak Hana dicuri dari Sandi yang berakhir penembakan Raffa. Aku bisa membaca dari buku diary dan surat-surat yang dikirimkan Dokter Alvian pada Hana. Belum sempat aku menangkap penembak Raffa, kejadian peretasan membuat konsentrasi aku buyar." Wei sejenak berhenti bicara.
"Maafkan aku Wei..aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang kau alami. Aku egois lebih memikirkan diri aku sendiri." Steve tertunduk, dia memahami apa yang dikatakan Wei. Dia bisa membayangkan bagaimana Wei sudah berusaha melindungi Hana sebaik mungkin, walau apa yang dinilainya selama ini, Steve menganggap Wei terlampau cuek.
"Tak apa Steve, semua pasti ada hikmah yang bisa ambil dari kejadian ini. Ketika kita berbuat jahat cepat atau lambat pasti suatu saat akan terbongkar juga."
"Ya, aku setuju Wei."
"Kamu ingat kan ketika Daniel berkelahi di rumah sakit?"
__ADS_1
"Iya, kenapa?
"Dari kejadian itu, aku menceritakan sedikit kenapa Hana ketakutan jika melihatnya. Dan sekarang Daniel membantuku dalam mencari barang bukti. Ya setidaknya dia bisa mencegah ibunya untuk tidak melangkah lebih jauh."
Wei menyandarkan badannya ke kursi yang ada di taman itu untuk merelaksasikan tubuhnya sejenak.
Terlihat beberapa orang tengah melakukan hal yang sama, menikmati suasana luar rumah sakit sambil santai.
"Lalu bagaiman dengan tujuanmu tadi Wei, apa. maksudmu mengambil alih tanggung jawab mengenai Hana?" Steve tidak lupa akan tujuan semula untuk menanyakan dengan serius mengenai pembicaraan di ruangan perawatan.
"Aku akan menikahi Hana segera."
"Kau.. " Steve masih tak percaya apa yang dikatakan Wei.
"Ya, aku akan menikahi Hana dan Hana pun setuju. Tidak masalah kan?"
"Hei.. apa kamu sudah memikirkannya dengan matang? Apakah ibumu sudah setuju? Terus kamu sendiri tahu Hana perlu perawatan yang intensif mengenai kondisi nya yang sekarang." Sela Steve yang tentu saja karena posisinya sekarang adalah kakaknya Hana, banyak sekali yang harus dipertimbangkan.
"Justru itu, aku ingin menikahinya lebih cepat agar Hana ada yang mengambil alih tanggungjawab. Kamu cobalah lebih berfikir bijak! Apakah keluarga akan kerepotan mengurus Hana selama dia ada disini?" Bola mata Wei membesar ingin melihat kesungguhan Steve selaku kakaknya Hana.
"Aku tahu Steve, Hana sekarang adalah tanggung jawab kami selalu keluarga. Dan dia tak usah khawatir kalau dia akan sendirian. Aku siap jika harus menjaganya." Steve berusaha meyakinkan.
"Itu yang kamu pikirkan. Berbeda dengan karakter Hana Steve. Kamu baru mengenalnya. Dia wataknya keras Steve. Dia terbiasa mandiri bahkan cenderung lebih tidak mau merepotkan."
"Kami tidak merasa merepotkan ko, kalau ayah setuju kami bisa membawanya ke Perancis."
"Ya sudah, jika kamu ingin mengajukan usulanmu nanti bicarakan saja sama Hana. Apakah dia akan setuju atau tidak Aku tidak yakin apakah Hana mau ikut ke Perancis."
"Why?"
"Tanyakan saja nanti pada Hana. Kalau jawabannya sama denganku, kamu baru percaya."
Steve bengong.
Apa benar yang dikatakan Wei? Hana akan setuju dengan lamaran Wei? Tapi dia harus menjalani pengobatan dulu, bagaimana kamu dia terus lumpuh?
Sepasang mata sejak tadi mengawasi pembicaraan mereka. Bahkan mencuri-curi dengar untuk mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.
Wei dan Steve tidak sadar bahwa gerak-geriknya diintai sudah sejak lama.
Setelah obrolan di taman selesai, Steve dan Wei kembali ke dalam ruangan.
Nampak ruangan kosong.
"Pada kemana mereka?" Steve tercengang melihat ranjang Hana kosong dan keluarganya pun tak ada satu pun yang ada di ruangan.
"Kita tanyakan saja pada perawat!" Usul Wei pada Steve.
"Baik." Tanpa menunggu lama keduanya kembali keluar ruangan dan menemui perawat di mejanya.
"Maaf kalau pasien Hana kemana ya? Di ruangan kosong." Steve dengan serius menatap dua orang perawat yang siaga di meja kerjanya.
"Maaf tuan, tadi pasien Hana harus menjalani terapi pemeriksaan. Anda bisa menunggunya."
"Kira-kira berapa lama? Ya ada kemungkinan sekita 2 Atau 3 jam. Karena ada beberapa tahap yang harus dilakukan pasien Hana paska operasi diantaranya harus menjalani Fisioterapi rutin setelah pengecekan global.
"Baiklah, Terima kasih."
"Iya sama-sama."
"Sebentar aku mau menelpon ayah dulu!" Steve meminta izin untuk mengetahui keberadaan keluarganya sekarang.
"Halo yah. Sekarang ayah dan ibu lagi dimana?"
"Ayah sudah sampai di rumahnya kang Gavin. Mereka menawarkan untuk beristirahat disini sambil menunggu Hana selesai terapi. Kamu kesini juga menyusul ya! Ini keluarga kang Gavin menunggu." Terang tyan Hans menyarankan Steve untuk menyusul.
"Baiklah yah! Tolong sharelock ya!"
"Hhmm. Sudah dulu yah!" Ayahnya menutup telepon.
"Bagaiman Steve?"
"Kita ke rumah kang Gavin!"
__ADS_1
Keduanya berjalan ke arah parkiran. Seseorang membuntuti keduanya agar tidak ketinggalan.