
"San.. ini maksudnya apa? Gue terus terang agak deg-deg an. Raffa menatap Sandi berharap jawaban atas isi email itu.
"Email ini sebenernya ditujukan pada bu Restu." Sandi menjawab pelan.
"Ceritanya panjang Raff, gue juga gak habis pikir kehidupan bu Restu rumit banget."
"Emang kenapa San, gue boleh tahu gak?" Giliran Vania bertanya. Belum juga pertanyaan Vania terjawab, seseorang memanggil dari pintu.
"Mas Sandi ada telpon." Dia menyodorkan Handphone Sandi yang sedang ditahan ayahnya.
Sandi mengambil handphonenya lalu menggeser tanda hijau.
"Halo, ada apa lagi?" Sandi berkata to the point. Vania dan Rafa mengamati Sandi yang sedang menerima telpon.
"Kamu tahu dimana Hana tinggal?" Di seberang telpon Wei sedang mengkhawatirkan Hana. Semenjak kepergiannya malam itu, Hana belum diketahui keberadaannya. Bahkan orang-orang Wei pun kehilangan jejak Hana.
"Lah, katanya kamu akan mencarinya. Kamu waktu itu sudah janji kan?" Sandi mengernyitkan kening. Kepalanya agak sedikit berdenyut. Masalah Hana benar-benar menguras energinya.
"Iya, saya sudah menyuruh orang mengawasinya, tapi mereka kehilangan jejak. Barangkali kamu tahu dimana dia tinggal? Aku akan mencoba mencarinya."
"Coba cari di cafe kesukaannya atau kamu datangi Rusun X, dimana selama ini dia tinggal. Soalnya dia sudah risain juga dari sekolah."
"Baik, ntar aku cari!" Wei buru-buru menutup telponnya.
"Sial dia menutup telponnya!" Sandi merutuk.
"Maaf mas handphonenya mau diambil lagi!'
"Nih!" Sandi memajukan bibirnya, cemberut.
"Kasian deh lu!" Raffa menertawakan Sandi yang cemberut.
Bisa dibayangkan Sandi begitu stress benda kesayangannya semua ditahan. Itu lebih dari menyiksa. Karena batin sama pikiran Sandi meronta-ronta. Apalagi sekarang keberadaan Hana sedang dalam pencarian. Sandi tak bisa melakukan apapun.
"Ah elu bisanya ngetawain! Tuh bawa hadiah gue buat elu! Itu baru kuncinya ntar dealer langsung kirim barangnya."
"Wah apa ini? Serius ini kunci? Tapi bukan kunci wc kan? Atau kunci kotak amal?"
"Itu kunci makam nenek leluhur mu!' Sandi sewot. Dan kembali menghempaskan badannya di kursi. Pikirannya sedang beredar.
"Eh Vania.. ni dari gue. Mudah-mudahan lu suka!' Sandi menyodorkan kotak perhiasan yang sudah dipesan jauh-jauh hari, sebagai kenang-kenangan."
"Ma kasih San!" Vania menerima kotak itu lalu membukanya. "Wah bagus banget.. " Mata Vania berbinar-binar melihat sebuah kalung yang melingkar dikotak itu.
"Pake Van! Biar lu kagak ketuker sama banci-banci dijalanan." Raffa seneng sekali menggoda Vania, walau kadang Vania sering cemberut menerima candaan Raffa.
"Ih elu kagak peka banget jadi cowok. Gue sumpahin kagak laku lo!" Vania manyun. Dia protes dengan candaan Raffa yang menyinggung perasaannya.
"He he sorry! Sini biar gue pakein. Maksud gue biar kamu keliatan feminim gitu! Kalau elu pake kalung." Rafa mencoba merayu Vania agar cemberut Vania tidak terlalu lama. Vania masih terdiam. Meski penampilannya tomboi, tetaplah dia perempuan yang perasaannya lebih peka dari laki-laki.
"Biar gue pakein Van!" Sandi menawarkan diri. Sandi tahu kalau Vania menyukainya, tapi Sandi tak bisa menerima perasaan Vania. Dia telah menganggap Vania adalah teman baiknya.
Padahal teman antara laki-laki dan perempuan tak bisa sebagai teman biasa. Karena salah satunya akan melibatkan hati dan perasaan. Begitulah alam mengaturnya.
Vania yang sudah sejak lama menyimpan rasa, seolah mendapatkan lampu hijau. Vania menyodorkan kotak itu ke tangan Sandi. Sandi melingkarkan kalung itu. Ada desiran yang mengalir ke tubuh Vania. Seolah tak bisa ditahan apalagi dibendung. Jantungnya serasa dipompa lebih cepat, dan keringat pun seolah berpacu untuk saling mendahului keluar.
"Wah beneran so Sweet..." Raffa memberikan dua jempolnya ke hadapan Vania. Pertanda kalung itu cocok melingkar di leher Vania.
Ko gue merasa kaya lamaran gitu ya? Ah mimpi apa semalam.. sampe jantung gue mau meloncat dari tempatnya. Ah gue gak boleh berharap banyak. Sandi kan gak cinta sama gue, jadi anggap ini kenangan perpisahan gue sama dia.
Vania berbicara dalam hatinya.
"Eh San.. lu belum jawab pertanyaan gue." Sandi mengernyitkan kening. Tadi Sadi sempat tidak fokus sama pertanyaannya.
"Yang mana Raff?" Sandi menoleh ke tempat duduk Rafa.
"Ntuh... masalah email itu. Kalau dilihat kaya data-data medis ya Van?" Raffa meminta Vania mendukungnya.
"He'em." Vania menjawab pendek.
__ADS_1
"Terus maaf ya kalau gue kepo sama urusan bu Restu. Emang hubungannya sama dia apa?"
"Gue, juga bingung Raff.. gue harus cerita apa enggak nya sih! Tapi sebenarnya ini masalah serius juga!" Sandi menggigit telunjuknya sambil berpikir. Sandi tak tahu kalau mau membantu Hana, cara membantunya bagaimana. Sedangkan beberapa bukti sudah Sandi ketahui. Masalah Hana menurutnya paling berat dan berbahaya, bisa jadi nyawanya ikut terancam.
"Cerita aja Raff! Kali aja kita mungkin bisa bantu. Kasian juga kan bu Restu. Eh San.. bu Restu dekat kan sama lu? Tapi apa lu tahu asal usulnya? Selama dia deket sama kita, dia ga open masalah keluarganya atau ya.. misalnya dia asalnya darimana?"
Sandi menghela nafas, Lalu mengeluarkannya dengan kasar. "Emang aku deket, tapi kaya bertepuk sebelah tangan. Kalau pun deket, dia gak cerita masalah dia, apalagi keluarganya." Sandi terdiam.
"Eh Van.. Kira-kira babeh lu bisa bantu masalah ginian gak? Gue bukannya ga mampu, soalnya gue sendiri lagi dikurung gini. Gue gak punya kekuatan buat nolongin bu Restu." Sandi menanyakan pada Vania, apakah dia dan keluarganya bisa membantu masalah bu Restu. Soalnya ayahnya Vania pejabat polisi. Sedikit banyak dia punya kekuasaan untuk menangani kasus bu Restu.
"Cerita sejujurnya aja San! Gue rasa ada yang lu tutupin deh! Soalnya gue gimana mau bantu kalau masalahnya ga jelas gitu. Terus ntar nyeritain ke babeh gue gimana?" Vania bicara panjang lebar pada Sandi agar dia bisa terus terang secara detail. Vania membaca mimik Sandi sepertinya Sandi belum bisa terus terang sepenuhnya.
Sandi terdiam. Pikirannya bercabang kemana-mana. Tak tahu harus memulainya darimana. Mungkin inilah yang disebut belum dewasa. Dimana dia masih mengandalkan bantuan orang-tua dan masih tergantung pada mereka. Bahkan untuk dirinya sendiri pun masih diurus dan dibimbing oleh orang-tuanya. Apalagi sekarang dihadapkan dengan masalah Hana. Ini bukan masalah sepele. Ini kaitannya dengan nyawa orang.
"Aku harap ada yang bisa membantu kesulitan bu Restu. Kalau aku cerita sama kalian, kalian janji bisa pegang rahasia?" Sandi menatap kedua sahabatnya. Dia sedang menilai keduanya dari bola mata. Apakah mereka bisa dipercaya?
"Aku sendiri sih ya, InsyaAllah San!" Jawab Raffa meyakinkan sahabatnya.
"Gue juga! Apa yang bisa gue bantu buat elu?" Vania menatap balik wajah Sandi yang sedang memikirkan kebingungannya.
"Sebenernya bu Restu itu kena amnesia." Sandi menghela nafas.
"Apa? Amnesia?" Raffa dan Vania saling menatap, lalu beralih ke Sandi. Mereka kaget mendengar keadaan bu Restu.
"Beneran San? Sejak kapan dia amnesia?" Raffa mendekatkan duduknya dan duduk menyamping menghadap Sandi. Dalam pikirannya ini adalah berita besar, pasti ada berita kelanjutannya.
"Waktu dia mau jemput gue ke kantor polisi, dia tertabrak mobil. Dia mengalami gegar otak juga amnesia."
"Oh my God!" Raffa menutup mulutnya. Lalu beralih memandang Vania.
"Oh jadi waktu gue ketemu di cafe itu, bu Restu gak inget sama kita-kita?" Vania menyusul bertanya dan mencoba mencocokkan kejadian waktu itu.
"Oh pantesan aja!" Raffa menunduk.
"Terus, yang nabraknya tanggungjawab?" Vania kembali mengajukan pertanyaan.
"Maksud bahaya?" Raffa menatap inten.
"Yang gue tahu dari barang-barang bu Restu. yang ada di kotak itu, dia mengalami percobaan pembunuhan. Pengirimannya juga sama dengan pengirim email ini. Dan.. gue rasa dia saksi hidup yang mesti dilindungi. Jadi sebenarnya bu Restu sekarang dalam keadaan masih tidak aman."
"Jadi penembakan itu juga ada kaitannya dengan bu Restu?" Raffa menatap Sandi lebih inten.
"Ya menurut Wei sih begitu!"
"Lah siapa itu Wei?" Vania jelas penasaran dengan nama asing yang baru didengarnya.
"Dia yang menabrak bu Restu, eh.. sebenarnya namanya bu Restu itu Hana."
"Hana?" Vania dan Rafa kembali melongo, mulutnya menganga dan matanya membesar.
"Wah bu Restu.. gue gak nyangka banyak teka-tekinya." Raffa menghempaskan badan lalu berpikir.
"Jadi.. kita perlu menyelidiki kasusnya bu Hana? Eh bu Restu? Pokoknya siapa lah namanya, gue jadi bingung manggil namanya?"
"Ya kalau bisa. Tapi gue pikir ini masalah gede. Jadi harus orang profesional yang tangani kasus ini." Sandi melihat Vania.
"Tapi San gue heran juga. Kan tadi kata lu, ada di kotak tuh bukti-bukti percobaan pembunuhannya? Lah kenapa sebelum amnesia bu Restu gak melaporkan kasusnya?"
"Gue juga kurang tahu. Bisa jadi dia takut atau gak bisa menghadapinya sendirian. Itu baru penilaian gue. Buktinya kan mereka bisa nembak kapan mereka mau."
"Terus siapa lagi yang tahu kasus ini San?"
"Setahu gue sih.. ya Wei itu. Kayanya dia juga menyelidikinya. Cuman butuh bukti yang cukup."
Ketiganya terdiam. Mungkin sedang memikirkan jalan keluarnya untuk kasus bu Restu.
"Nanti gue coba ngobrol sama bokap gue. Baiknya gimana."q Vania mencoba memberi ide.
"Ma kasih Van.. gue hutang budi sama lu!" Sandi melihat Vania.
__ADS_1
"Iya, gue coba ngobrol dulu. Ntar mungkin aku kabari solusi ke depannya harus bagaimana. Tapi kayanya sih butuh waktu juga ya San, gak bisa cepat. Kita juga butuh saksi hidup yang lain buat mendukung informasi kepolisian. Kira-kira selain Wei siapa lagi yang tahu?" Sorot matanya seakan membutuhkan jawaban Sandi.
"Mungkin dokter Alvian, dia tahu betul kasusnya. Ya mungkin yang harus kita cari dia dulu. Tapi Entahlah.. gue juga takut salah." Sandi memberikan keterangan sepihak yang hanya dia ketahui saja.
"Kalau bu Restu sendiri dimana sekarang San?" Raffa penasaran keberadaan bu Restu. Ya terasa kurang afdol kalau perpisahan tanpa kehadiran beliau. Namanya juga wali kelas.
"Gue juga gak tahu. Tadi juga Wei bertanya sama gue. Gue mana tahu, handphonenya sudah tidak aktif lagi. Jadi bingung mau mencari kemana. Lu tau sendiri gue gak bisa kemana-mana."
Raffa menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan.
"Beneran rumit hidupnya." Raffa berbicara pelan. Suaranya masih terdengar oleh Sandi. Ketiga sahabat itu merenung, memikirkan masalah yang baru saja dibicarakan mereka.
"Eh Raff.. lu planing gimana?" Sandi memecahkan keheningan.
"Gue sih disuruh bokap kuliah di kota B. Katanya sih biar adem. Adem segalanya. Memang larutan kali. Kemarin sudah cari-cari tempat bimbel sama kost an buat persiapan test masuk perguruan tinggi negeri di kota B."
"Kalau lu Van?"
"Gue juga udah survei ke kota S. Ya ngikutin bokap jadi polri juga. Aku juga nunggu test masuk akademi."
"Ya gue do'ain, good luck yah buat elu berdua! Semoga cita- cita elu kecapai!"
"Aamiin." Mereka kompak mengatakan aamiin.
"Elu juga San! Jangan sia-siakan bakat elu. Elu tuh bakatnya banyak. Bakat terpendam. He he... " Raffa kembali menggoda Sandi.
Sandi menepuk bahu Raffa. Malam itu mereka habiskan bertiga di rumah Sandi. Tertawa, juga bercerita tentang masa-masa indah mereka di SMA.
Sementara itu Wei bersama beberapa orang suruhannya sedang mencari Hana. Di mulai dari cafe yang biasa didatangi Hana. Namun setelah mereka beredar mendatangi satu cafee ke cafe lainnya, mereka tak menemukan jejaknya.
Selanjutnya Wei meneruskan ke sebuah rusun tempat tinggal Hana selama ini. Wei dibarengi dua orang bodyguardnya memasuki rusun Hana. Tapi alangkah terkejutnya, semua yang ada dalam rusun terlihat acak-acakan, semerawut. Wei menatap dengan penuh curiga. Sepertinya tempat itu telah dimasuki orang asing yang tidak bertanggung jawab. Seperti habis mencari sesuatu lalu membiarkan barang itu tergeletak dimana saja. Barang-barang terlihat berserakan di semua tempat. Wei melangkahkan kakinya ke sebuah kamar. Terlihat pintu lemari baju terbuka lebar dan beberapa baju tergeletak dilantai, dengan lipatan yang sudah tidak beraturan. Begitu pun laci dibawah nakas, nampak terbuka dan isinya berantakan dibawah.
"Ya ini seperti habis digeledah bos!" Salah satu anak buahnya berkata pada Wei.
Wei hanya mengangguk.
"Tolong kalian rapihkan lagi sambil lihat dan cari barang-barang yang bisa jadi petunjuk!"
"Baik bos!" Mereka kembali mengatur barang sesuai tempatnya sambil mencari barang-barang yang kira-kira bisa dijadikan petunjuk.
Wei merenung, dia memikirkan kemana lagi harus mencari Hana. Karena setelah mencari di CCTV rumah Steve tak ada petunjuk Hana pergi kemana dan naik apa. Sepanjang jalan yang mungkin disusuri Hana pun dia tak menemukan petunjuk juga.
"Hana dimana kamu? Aku hampir gila." Wei mengacak rambutnya.
kring...
kring..
kring..
Suara panggilan di handphone masuk. Wei menggeser tanda hijau di layar handphonenya.
"Ya halo."
"Halo Wei."
"Iya ada apa?"
"Kamu ada dimana? Aku ingin bicara empat at denganmu." Suara diseberang telpon terdengar agak kurang bersemangat.
"Bicaralah! Aku sedang ada urusan di luar." Wei sedikit malas menanggapi Daniel.
"Aku... ingin bicara tentang Hana." Terdengar dia mengambil nafas.
"Hana?" Suara Wei agak meninggi ketika disebut nama 'Hana'
"Apakah Hana ada bersamamu?"
"Tidak."
__ADS_1