Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Dunia terlalu sempit


__ADS_3

Ada pepatah dunia tak selebar daun kelor. Tapi berbeda yang dirasakan Hana saat ini. Baru juga dia bernafas bebas dari keterkaitannya dengan masa lalu, eh tanpa direncanakan malah bertemu dengan seseorang yang dikenalinya.


"Bu Restu... " Raffa terlihat kaget melihat Hana ada di depannya. Matanya belum terlepas menatap Hana yang sedang duduk di depan pak. Gavin pemilik bimbel yang ada di kota B.


"Raffa.. " Hana tak kalah terkejut melihat Raffa kini ada di depannya. Dua pasang mata sedang saling memandang karena keduanya sama-sama terkejut.


Pak Gavin yang sedang menelpon pun perhatiannya jadi teralihkan mengamati keduanya Hana dan Raffa.


Pak Gavin menutup telponnya karena pembicaraan dengan istrinya tidak begitu lama. Dua orang di hadapannya kini menjadi pusat perhatiannya.


"Kalian saling mengenal?" Pak Gavin menatap pada Raffa.


"Iya kang. Ini guru saya waktu di Sma." Raffa terlihat lebih sopan dari biasanya.


"Duduklah Raffa!" Pak Gavin menyuruh Raffa duduk di sampingnya. Dan tanpa menolak Raffa pun duduk di samping pak Gavin.


"Kamu sudah beres belajarnya?" Tanya pak Gavin menoleh pada Raffa. Dia menatap Raffa selayaknya biasa. Hana yang ada di seberang pak Gavin tentu merasakan keanehan.


Kenapa ketika berhadapan denganku dia tak berani menatap sama sekali. Tapi ketika berhadapan dengan Raffa pak Gavin layaknya seperti orang normal.


"Iya kang, sudah!" Jawab Raffa.


"Maaf, kalau bu Restu sedang apa disini?" Akhirnya Raffa mengangkat bicara untuk menjawab rasa penasarannya.


"Hhh.. " Hana belum bisa menjawab.


Pak Gavin membaca kebingungan Hana mendapatkan pertanyaan dari Raffa.


"Sekarang bu Restu akan jadi pengajar disini Raffa." Jawab pak Gavin.


"Wah bagus kang. Bu Restu orangnya baik juga kalau menerangkan mudah dimengerti." Wajah riang Raffa terbaca jelas. Tapi selain itu, Raffa mendapat angin segar karena akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan bu Restu.


"Ya kalau menurutmu begitu, saya dapat rejeki baik!" Pak Gavin merasa kedatangan Hana adalah berita baik apalagi Raffa lebih tahu siapa Hana sebelumnya.


"Baik... selagi saya menunggu istri saya datang, saya akan ke dalam dulu. Silahkan bu Restu dan Raffa ngobrol-ngobrol dulu ya!" Pak Gavin dari kursinya dan melangkahkan kakinya ke dalam satu ruangan yang biasa ditempatinya sebagai ruangan pribadi atau ruangan kepala bimbel.


"Terima kasih kang!" Raffa mengangguk sopan.


Setelah kepergian pak Gavin, Hana dan Raffa terdiam. Mereka saling menunggu siapa yang harus memulai obrolan.


Akhirnya Hana memulai bertanya, untuk mencairkan suasana. Ya walau dia sudah bukan gurunya, tapi karena umurnya di atas Raffa dia memperlakukan Raffa seperti biasanya.


"Apa kabar Raffa?" Hana mencoba basa-basi.


"Baik bu, alhamdulillah." Raffa tersenyum. lebih ceria dari biasanya.


"Kamu kapan datang kesini?" Hana mencoba mencari tahu.


"Sebenarnya setiap liburan sekolah saya suka datang kesini bu?" Raffa menjelaskan.


"Oh ya?" Hana baru mengetahui kalau Raffa suka bimbel disini.


"Iya bu. Kebetulan kang Gavin masih sodara sepupu bu."


"Oh begitu?" Hana melongo.


Pantesan saja mereka terlihat akrab


"Iya bu, ya sambil liburan sambil belajar juga di kota B."


"Pantesan saja kamu pinter Raff.. dikira ibu kamu suka main aja." Hana tersenyum bercanda pada Raffa. Keakraban Hana dengan Raffa masih belum berubah.


"He he ah biasa aja bu. Kebetulan ibu saya suka ngaji juga bersama keluarga mas Gavin. Jadi kalau liburan saya juga suka ikut juga kesini. Ya mau tidak mau karena ibu saya suka menitipkan saya di kang Gavin saya jadinya sambil bimbel buat mengisi waktu." Raffa berbicara panjang lebar.


"Baguslah kalau begitu. Jadi setidaknya walau kamu bergaul tidak terbawa arus." Hana menilai diantara para muridnya Raffa belum pernah melanggar aturan meski mereka suka bergaul dengan Sandi dan Vania, tapi Raffa tidak pernah terlibat kriminalitas.


"Iya bu. Saya senang sekali bisa bertemu ibu lagi. Eh ini ibu baru datang ya?" Raffa melihat tas yang berada di samping kursi Hana.


"Iya."


"Ibu sudah dapat tempat tinggal?" Raffa menatap Hana. Dia mengkhawatirkan Hana apalagi Raffa mengetahui kondisi Hana sebelumnya.


"Belum.Tapi tadi pak Gavin sudah menawarkan untuk kost di tempatnya."

__ADS_1


"Oh, saya tenang kalau ibu tinggal di tempat kost pak Gavin. Tempat asri lho bu.. he he aman buat akhwat." Raffa sepertinya banyak mengetahui pak Gavin karena masih ada kaitan saudara.


"Apa tuh akhwat?" Hana mengernyitkan kening.


"Maksudnya perempuan." Raffa lupa kalau Hana tidak familiar dengan bahasa yang dikatakannya.


"Assalamu'alaikum." Seorang perempuan dengan pakaian segala tertutup muncul dari pintu kedatangan. Dari balik niqob nya dia sedang mengarah pada Raffa.


"Waalaikumsalam teh Sari." Raffa langsung berdiri dan menyapanya.


"Mana kang Gavin Raff?" perempuan yang dipanggil Sari langsung menanyakan pak Gavin.


Mungkinkah dia istrinya pak Gavin? Ternyata bercadar juga seperti orang-orang tadi.


Hana melihat Sari dengan penuh keinginan tahu.


"Kang Gavin sedang di ruangannya teh." Raffa memberitahunya.


"Assalamu'alaikum teh." Resepsionis yang ada di meja kerja sejak tadi berdiri memberi hormat.


"Waalaikumsalam warahmatullahi Syifa. Apa kabar?" Dia menyapa Syifa dengan ramah meskipun memang wajahnya tertutup cadar, tapi suaranya merdu terdengar.


Tak lama kemudian pak Gavin keluar dari ruangannya. Perempuan itu mencium punggung pak Gavin setelah mengucap salam. Hana masih mengamati sikap orang-orang yang ada di hadapannya. Terbersit rasa takjub atas sikap sopan santun yang ditunjukkan Sari pada pak Gavin.


Sepertinya senang sekali melihat mereka begitu sopan dan baik.


"Mari akang kenalkan dengan guru baru." Pak Gavin mengajak Sari untuk saling berkenalan.


"Bu Restu perkenalkan, ini istri saya Sari. Sari ini guru baru namanya Restu." Pak Gavin memperkenalkan mereka berdua.


"Assalamu'alaikum." Sari dengan hangat menyapa dan memegang erat tangan Hana lalu mencium pipi kiri dan kanan Hana. Hana yang belum terbiasa mendapat sambutan malah terlihat agak kaku menerima sambutan dari Sari.


"Waalaikumsalam." Hana akhirnya menjawab salam Sari walau agak terlambat.


"Senang berkenalan dengan bu Restu."


"Eh.. saya juga senang berkenalan dengan anda bu Sari." Suara Hana terdengar agak tergagap.


"Oh iya kebetulan bu Restu juga gurunya Raffa sewaktu di Jakarta." Terang Gavin menjelaskan pada istrinya.


"Iya bu. Mohon bimbingannya!" Hana mencoba berbasa-basi dengan sopan.


"Sama-sama bu Restu, kita sama-sama belajar."


"Kita mau pergi sekarang kang?" Sari menoleh pada suaminya.


"Boleh. Mari bu Restu!" Pak Gavin mengajak Hana sesuai penawarannya tadi.


"Baik pak." Hana menganggukkan kepalanya.


"Raffa kamu mau ikut?" Pak Gavin melihat Raffa dan mengajaknya untuk pulang bersama.


"Terimakasih kasih kang. Saya bawa motor. InsyaAllah kapan-kapan kalau saya tidak membawa motor." Raffa menolak ajakan pak Gavin dikarenakan dia membawa motor yang kebetulan masih baru pemberian Sandi sebagai tanda kenang-kenangan darinya.


"Ya baiklah, Hati-hati di jalan!" Pak Gavin menasehati Raffa agar berhati-hati di jalan.


"Iya kang!"


"Assalamu'alaikum." Pak Gavin memberi salam pada Raffa.


"Waalaikumsalam." Raffa menjawab salam mereka.


Ketiganya lalu meninggalkan ruangan dan berlalu menaiki satu mobil yang tadi dibawa oleh Sari.


Sepeninggal pak Gavin, Sari dan Hana, Raffa mengeluarkan handphonenya. Rasanya kabar tentang pertemuannya dengan Hana tak boleh diabaikan. Dia berniat untuk memberi tahu Sandi. Ya sahabat dekatnya yang sebentar lagi akan meninggalkan Jakarta menuju Australia.


"Halo San.. ini aku Raffa."


"Hei... nomor handphone mu tidak ganti kan?"


"Tidak.'


"Kaya yang mau kenalan aja!"

__ADS_1


"He he sorry bro! Saking senengnya gue lupa jadi nervous begini." Raffa cengengehan.


"Lah emang lu mau kawinan apa? Sampe nervous begitu?" Sandi menggoda Raffa.


"Eh lu, gak ngerasain sih! Gimana rasanya ketemu bu Restu.. apa bu Hana ya?" Tiba-tiba kening Raffa berkerut. Bingung menyebutkan nama.


"Apa lu bilang?" Sandi seolah tak percaya dengan apa yang baru saja di dengar. Kalau dirinya tidak sedang siap-siap ke bandara, mungkin dia akan melompat seketika itu ke tempat Hana berada.


"Gue serius San. Aku bertemu Bu Restu. Kamu gak penasaran lihat dia?" Raffa sedang menguji nyaki Sandi saat ini. Padahal dia sendiri tahu Sandi tengah siap-siap berangkat ke Australia.


"Beneran lu Raff? Gak sedang becanda kan?" Sandi masih memastikan kalau Raffa tidak sedang bercanda. Walau Sandi tahu Raffa gak mungkin mempermainkannya.


"Serius Bro!"


Suara Sandi tiba-tiba hening. Dia sedang berpikir bagaimana seharusnya dia bertindak saat ini. Jika mencoba kabur saat ini, adalah sebuah kemustahilan. Bayangkan saja pengawalan saat ini benar-benar ketat. Jangankan kabur, sekedar ingin ke toilet saja Sandi merasa sedang diawasi.


"San.. San lu masih disitu kan?" Raffa berteriak setelah keheningan Sandi agak mencurigakannya.


"Iya, jangan teriak-teriak gitu Raffa!" Sandi agak menaikkan beberapa oktaf.


"Sandi kamu lagi ngapain?" Suara tegas itu muncul tak diduga di balik pintu.


"Tidak apa-apa. Raffa kasih salam perpisahan." Sandi terpaksa berbohong pada papihnya.


"Jangan macem-macem!" Suara tegas itu memberikan penekan.


"Gak ko pih, aku hanya satu macem aja ko!" Sandi mencoba tidak untuk serius.


"Iya, satu macem kamu tuh, hanya guru kamu!" Ayahnya Sandi menebak apa yang sedang dilakukan anaknya.


"Papih ko tau?" Gigi Sandi agak terlihat jelas. Dia merasa ini kesempatan untuk merayu papihnya. Siapa tahu dia diizinkan dulu untuk bertemu Hana.


"Ya tahu lah, emangnya selain itu ada lagi dipikiranmu? Isi kepalamu penuh wanita itu!" Perdebatan mulai menghangat antara ayah dan anak.


"Kalau papih tahu, kasih dong kesempatan buat aku bertemu dulu dengannya ya pih... " Suara memelas Sandi begitu terdengar menyedihkan.


"Gak akan!" Ayah Sandi tidak sedikit merasa iba melihat anaknya menghiba.


"Ih papih... kaya yang gak pernah muda aja." Bibir Sandi maju beberapa centi dari tempatnya.


"Iya, papih juga pernah muda. Tapi tidak kaya kamu menyukai wanita yang lebih tua dari kamu." Sorot matanya membuat Sandi melemah. Ya Sandi berpikir, bukannya tidak mau mencari wanita yang seumurannya tapi hatinya malah terpaut pada Hana sejak bertemu dengannya pertama kali. Sandi tidak berani bicara lagi. Dia memilih duduk sambil menunduk.


Papihnya keluar dari kamar Sandi. Dia melihat anaknya murung setelah mendengar pembicaraannya. Sebenarnya sesama lelaki pasti mengerti bagaimana seorang lelaki mencintai seorang wanita. Begitu pun dengan ayahnya Sandi, jauh dalam lubuk hatinya dia mengerti bagaimana putranya sedang jatuh cinta. Tapi karena belum cukup umur bisa jadi usia kematangannya belum sempurna untuk memilih seseorang sebagai calon istri. Untuk waktu sekarang yang terpenting buat Sandi bukan memilih calon istri tetapi bagaimana dia harus menimba ilmu untuk meneruskan perusahaannya.


"Halal bro? Kenapa tadi babeh lu nyadap ya?" Suara Raffa kembali tersambung. Handphone nya sedari tadi menyala, karena kaget Sandi lupa mematikan handphonenya.


"Raff... aku boleh minta tolong ga sama lu?" Sekarang hati Sandi sedang dilanda galau. Betapa tidak galau, disisa waktunya yang gak mungkin bisa bertemu dengan Hana dia tidak mau berputus asa kehilangannya. Dia bertekad akan menyelesaikan pendidikannya dengan cepat dan bisa membantu ayahnya dalam mengembangkan usahanya. Semoga jika ayahnya mempercayainya dia bisa menikahi Hana.


"Kenapa bro? Apa yang bisa gue bantu buat lu?" Raffa merasakan perasaan Sandi saat ini.Sandi akan berpisah dalam waktu lama pastinya hatinya juga sedang dilanda rindu besar.


"Tolong jagain Hana buat gue Raff!" Dia termenung tak bisa meneruskan kata-katanya lagi. Ya yang terpikir oleh Sandi saat ini hanya kata-kata itu. Andaikan bisa mungkin Hana akan dibawanya kemana pun dia pergi.


"Ha ha emangnya anak kecil yang bisa gue jaga 24 jam sehari." Raffa terkekeh menertawakan permintaan Sandi padanya.


"Ya emangnya gue harus minta tolong siapa lagi Raff? Mengingat Hana kan gak punya sodara yang bisa jagain dia. Terus yang penting.. gue takut ada yang membuntuti dia Raff." Nada Sandi terdengar sedih di telinga Raffa.


"Ya, gue jaga sebisa gue ya San. Kita bedoa sama-sama biar Allah jagain bu Restu. Manusia cuman bisa ikhtiar San." Raffa yang tadinya bercanda mendadak serius. Dia tahu masalah Hana memang peluk dan rumit.


"Ya gue juga kasian sih.. harapan gue sih gak ada yang nguntit lagi."


"Ya, Mudah-mudahan sih begitu San. Gue juga gak bisa jamin apapun ke elu.


"Eh gue sampe lupa nanyain ke elu deh. Elu ketemu Hana dimana?" Sandi sepertinya melupakan sesuatu. Entah karena pikirannya yang sedang terbagi atau memang dia saking gembiranya menerima kabar tentang Hana.


"Dia melamar jadi guru bimbel di sepupu gue San." Terang Raffa pada Sandi.


"Syukurlah. Kalau gitu dia bisa dipantau kan Raff. Gue jadi tenang nitipin Hana ke elu." Sandi merasa tenang setelah mendapatkan kabar bahwa Hana bekerja di tempat bimbel milik sepupunya Raffa.


"Iya."


"Sandi... " Tiba-tiba sebuah teriakan terdengar dari lantai satu setelah beberapa lama Sandi tak kunjung turun ke lantai bawah yang sudah dari tadi ditunggu.


"Raff. Gue meski berangkat nih. Papih udah ngabsen gue." Sandi berpamitan.

__ADS_1


"Iya.Gue do'akan urusan lu disana lancar jaya ya!" Raffa menyemangati Sandi yang sudah siap berangkat ke bandara.


__ADS_2