Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Di luar dugaan


__ADS_3

"Kita istirahat dulu Alvian. Rasanya badanku minta haknya." Dokter Aldi mengajak Alvian untuk beristirahat. Waktu sudah menunjukkan jam satu malam.


"Baiklah. Tapi akankah kita ke apartemen sekarang?" Dokter Alvian menanyakan perihal kepulangannya.


"Sebaiknya kita istirahat dulu di ruang dokter. Aku agak tidak nyaman jika harus mendadak ke rumah sakit karena pasien belum sampai 24 jam dari kondisi aman."


"Baiklah. Aku ikut denganmu. Aku juga sudah tak tahan ingin tidur."


Keduanya berjalan beriringan menuju ruangan istirahat dokter. Mereka terbiasa dengan jam tidur yang tak teratur. Ya dokter dengan profesinya siap menerima panggilan alam kapan pun pasien memanggil.


Mereka langsung terlelap tidur. Di ruangan itu semuanya hening. Para tim medis juga dokter beristirahat dari segala kepenatan dan aktifitasnya.


Keesokan harinya mereka terbangun. Setelah melakukan shalat subuh berjamaah dokter Alvian dan dokter Aldi sarapan pagi di kantin rumah sakit.


"Vian.. aku heran kenapa kamu tidak langsung saja pulang ke rumahmu! Bukannya sudah lama sekali kamu tidak menemui ayahmu?" Ada rasa penasaran dipikirkan Aldi, kenapa konflik ayah dan anak ini tak juga mereda setelah sekian lama mereka tak jumpa, tak terdengar mereka akur.


Alvian hanya terdiam.


"Mengalahlah! Aku pikir ayahmu juga kangen. Setiap bertemu denganku dia sering bertanya tentangmu. Mumpung ada kesempatan untuk berkumpul. Kalau sudah tiada malah menyesal." Saran Aldi pada Alvian.


"Hhmm." Alvian menjawab pendek. Dia sebenarnya tak ingin hatinya terluka kembali. Setelah ditinggalkan ibunya, dia hidup sendiri sedangkan ayahnya menikah lagi tanpa peduli perasaan hatinya. Ya dari kecil dia harus masuk sekolah dengan fasilitas asrama. Bahkan libur pun jarang sekali dia berkumpul dengan ayahnya. Selain kesibukan, ayahnya lebih memilih untuk tinggal berpisah rumah dengan Alvian. Karena Alvian hidup selama ini dengan pembantu juga pengasuh di rumah yang berbeda.


"Eh, ngomong-ngomong Hana tuh pasien kamu waktu di rumah sakit jiwa? Yang dulu pernah kamu ceritakan padaku?"


"Hhmm." Sekali lagi Alvian menjawab pendek.


"Eh dari tadi jawabnya irit banget. Bensinnya belum penuh ya?" Canda Aldi menyindir Alvian.


Yang disindir masih tenang menyuap bubur kacang hangat yang dibeli di kantin rumah sakit.


"Eh rencanamu habis ini mau ngapain? Kamu masih cuti kan?"


"Hhmm."


"Ih.. ditanya tuh jawab! Bukan Hhmm.. Hmm.. hmm.. " Aldi menyuruh Alvian untuk menjawab pertanyaannya.


"Ya.. jalani saja. Aku gak ada rencana apapun selain mengantar pasien ke rumah sakit ini dan bertemu denganmu. Dan satu lagi.. " Alvian terdiam menghentikan suapannya.


"Apa?" Aldi tak sabar menunggu jawaban Alvian.


"Ya nungguin Hana lah. Emang ada lagi?" Alvian dengan cueknya menjawab sekenanya.


"Ishh.. dasar. Makanya jangan jomblo aja! Cari jodoh gih! Biar gak ada kerjaan!"


"Lah ente aja menduda belum nikah lagi!" Alvian malah nyengir mendapat saran Aldi.


"Setidaknya aku tuh pernah nikah. Kalau jadi duda kan taqdir aku sekarang. Emang ada gitu yang ngarep jadi duda?" Aldis sedikit cemberut.


"Ada.Tuh pelakor!"


"Ishhh... kamu tuh kalau ngomong!" Aldi mengetuk sendok ke kepala Alvian.


Mereka tertawa lepas. Sudah lama mereka tak bertemu dan bercanda bersama. Ini memang menyenangkan. Dulu ketika Aldi mempunyai istri Alvian benar-benar kesepian. Tidak ada teman yang bisa diajaknya untuk hangout. Tapi setelah istrinya meninggal, Aldi merasa ada Alvian yang selalu menjadi curhatannya.


"Eh kamu mau ikut piket? Sekarang aku mau keliling pasien. Kali aja kamu mau lihat Hana." Aldi menawarkan Alvian untuk ikut dengannya.


"Oke."


Mereka berjalan beriringan diikuti para perawat untuk kunjungan pasien. Tak ketinggalan Dokter Aldi dan dokter Alvian mengunjungi Hana di ruang ICU.


"Bagaimana perkembangannya?" Dokter Aldi menanyakan keadaan Hana pada dokter jaga juga perawat yang ada di ICU.


"Perkembangannya baik dok. Bahkan barusan ada respon." Terang dokter jaga.


"Baik. Saya akan periksa dulu." Aldi mendekati Hana dan memeriksa alat-alat yang memonitor keadaanya. Semuanya cukup baik. Dokter Aldi memeriksa Tubuh Hana apakah benar ada respon.


"Assalamu'alaikum Hana." Kebiasaan dokter Aldi selalu memperlakukan pasien-pasien koma atau tak sadarkan diri selayaknya mereka sadar.


"Nih.. aku bawakan dokter Alvian buat kamu. Kamu kangen tidak sama dia? Kalau kangen ayo cepet bangun ya! Katanya dia rindu sama kamu!" Orang seisi ruangan menutup mulut, mereka tersenyum simpul menertawakan sikap dokter Aldi. Lantas dokter Alvian yang ada didepannya memelototi temannya yang suka menggoda pasien.


"Wah.. dia merespon. Lihat telunjuknya!" Alvian begitu terkejut melihat respon Hana yang menggerakkan telunjuknya.


"Perempuan pintar ya! Ayo cepet buka matanya. Biar kamu bisa melihat dokter Alvian ada disini." Dokter Aldi kembali mengajak dialog. Terapi ini sudah lama dilakukan dokter Aldi. Menurutnya pasien koma perlu berinteraksi hal-hal baik untuk menstimulus keinginan sembuhnya.


Semua orang menatap Hana berharap mendapatkan keajaiban yang lebih. Setelah sekian lama menunggu, mereka melihat Hana diam tak lagi merespon.


"Saya lihat beberapa bagian vitalnya sudah aman. Kita akan menunggu pasien sadarkan diri baru kita pindahkan ke ruangan perawatan. Kabari saya jika ada apa-apa!" Dokter Aldi memberikan interupsi pada perawat dan juga dokter jaga yang ada di ruangan ICU.

__ADS_1


"Baik dok!" Mereka menjawab serentak.


Dokter Aldi dan dokter Alvian ke luar ruangan.


"Kamu akan menemui direktur? Hari ini. beliau akan datang kesini karena ada rapat internal." Dokter Aldi menanyakan dokter Alvian apakah dia akan menemui ayahnya atau tidak.


"Dia sibuk. Nanti saja kalau memang waktunya tepat." Dokter Alvian menjawab tegas.


"Aku akan menemui Keluarga Hana dulu sebelum keluar dari rumah sakit."


"Ya sudah. Kalau kamu inginnya begitu aku akan mengantarmu dulu. Lalu kita pergi ke apartemen." Ajak dokter Aldi pada sahabatnya.


"Oke!"


Mereka berjalan menuju ruangan Steve berada.


Pintu diketuk.


Tok.. tok.. tok


Handle pintu dibuka setelah mendapatkan izin dari dalam ruangan.


Semua orang dalam menatap ke arah pintu.


"Sel.. lamat pagi." Suara itu seolah tercekat ketika sosok yang baru saja dibicarakan ada dalam ruangan Steve.


"Selamat pagi direktur!" Dokter Aldi memberi hormat. Dia agak sungkan melihat direktur ada dalam ruangan ini. Yang tadinya menjenguk sepertinya akan ada aura aneh di ruangan ini.


"Selamat pagi." Pak Hadi direktur rumah sakit menjawab sapaan. Matanya tertuju pada orang yang dibelakang dokter Aldi.


Semua terdiam. Masih menunggu salah seorang untuk mencairkan suasana.


"Maaf saya mau memeriksa pasien saya." Dokter Alvian maju melangkah mendekati ranjang pasien tanpa mengucapkan apa-apa pada ayahnya.


"Bagaimana keadaanmu Steve? Apa dadamu masih terasa sesak?" Dokter Alvian tanpa terganggu, melakukan pemeriksaan seperti biasanya.


"Tidak dokter. Bahkan tadi malam tidur saya nyenyak tidak gelisah lagi." Terang Steve mengabarkan keadaannya.


"Bagus. Jangan lupa rutin dimakan obatnya. Jika ada keluhan nanti bisa dibicarakan pada dokter yang ada disini."


"Baik dokter."


"Maaf, kalian berdua saya tunggu di ruang kerja saya!" Pak Hadi segera memotong pembicaraan. Dan berlalu dari ruangan.


"Kami permisi dahulu ya!" Dokter Aldi terpaksa berpamitan, untuk menghindari kecurigaan mereka.


"Oh iya baik dokter!" Steve dan ayahnya menatap mereka dengan pandangan yang sama, aneh.


Dokter Alvian juga dokter Aldi mengikuti langkah pak Hadi menuju ruangannya.


Mereka duduk di sofa sedangkan pak Hadi duduk di kursi kebesaran.


Aldi menyikut tangan Alvian. Matanya memberi isyarat.


"Kapan kamu datang Alvian? Kalau bukan dokter Hasan yang memberitahuku kamu pasti pulang tanpa menemuiku." Pak Hadi menatap tajam anaknya. Yang ditatap hany tertunduk malas untuk berdebat.


"Bagaimana hasil operasinya dokter Aldi?"


"Untuk sementara pasien masih dalam masa observasi pak! Mungkin menunggu 24 jam dahulu baru dinyatakan pasien aman." Dokter Aldi yang tadinya mau kembali ke apartemen tertahan di ruang kerja direktur utama. Dia pikir masalahnya bukan pada dirinya. Tapi dia hanya sebagai alat untuk menahan Alvian tidak pergi.


"Dokter Aldi kamu boleh istirahat jika sudah selesai melakukan tugas."


"Baik Pak! Saya pamit dulu." Dokter Aldi berpamitan.


"Hei Alvian kamu mau kemana? Aku belum selesai bicara." Pak Hadi yang melihat Alvian berdiri mengikuti dokter Aldi melarang untuk meninggalkan tempat.


Dokter Alvian kembali duduk, sementara Dokter Aldi keluar dari ruangan dengan mengambil nafas lega.


"Inikah sikapmu setelah sekian lama tidak bertemu?" Ayahnya dokter Alvian bertanya dengan nada tegas. Jauh dalam lubuk hatinya dia merasa kangen pada putranya. Tapi dia tak tahu harus memulainya darimana. Karena selama ini selalu saja salah paham jika bertemu dan mengungkapkan perasaannya. Mungkin karena pak Hadi tipe orang kaku begitu pun Alvian dia merasa seperti anak buangan semenjak kematian ibunya.


Alvian masih terdiam seperti biasanya dia tak pernah membantah atau pun mendebat kalau bukan terdesak.


"Pulanglah! Ibumu sudah masak sejak tahu kepulanganmu. Adikmu juga sudah menunggu di rumah."


"Hhmm." Dokter Alvian hanya menjawab singkat.


"Kita akan pulang bersama. Sopir ayah pak Kardi, sudah siap dibawah."

__ADS_1


Ayah Dokter Alvian berdiri lalu diikuti oleh dokter Alvian. Mereka menaiki mobil yang sama tapi sepertinya pak Kardi tidak merasakan ada penumpangnya. Sepi dan hening. Bahkan nafas keduanya pun seperti tak terdengar.


####


"Ayah... kapan kita bisa melihat Hana?" Steve yang sudah merasa baikan menanyakan perihal Hana. Semenjak perawatan Steve dipindahkan kondisi asam lambungnya berangsur-angsur membaik. Bahkan kondisi kejiwaannya pun terlihat membaik.


"Nanti ayah telpon dulu dokter Aldi. Mungkin Hana masih dalam masa observasi. Jadi kita dilarang untuk menemuinya dahulu."


"Baiklah. Tapi aku tak sabar untuk melihatnya." Steve berharap Hana sudah bisa dikunjungi.


"Halo dokter Aldi. Maaf dok. Saya ayahnya Hana. Saya mau bertanya, bagaimana keadaan Hana sekarang dok?" Terdengar ayahnya Steve, tuan Hans sedang berbincang dengan dokter Aldi. Ini hari kedua mereka ada di rumah sakit. Ada rasa penasaran ingin menanyakan perkembangan kondisi Hana.


"Alhamdulillah Hana sudah beberapa kali merespon. Kita harap Hana akan segera pulih kembali. Ini saya bersama dokter Alvian sedang di ruang ICU." Dokter Aldi mengabarkan kondisi perkembangan Hana.


"Apakah Hana bisa dijenguk dok?"


"Bisa, tapi harus tenang dan steril. Agar pasien tidak terganggu."


"Oh begitu dok! Baik. Saya bersama kakaknya Hana ingin melihatnya. Kalau memungkinkan kami bisa melihat kondisinya." Terlihat wajah ayahnya Steve bergembira melihat kabar dari dokter Aldi.


"Iya nanti masuknya bergiliran ya."


"Baik dokter Terima kasih informasinya. Kami segera kesana."


"Iya sama-sama."


"Bagaimana ayah?" Steve yang sejak tadi mendengarkan ayahnya berbicara sangat penasaran apakah dia mendapatkan izin melihat Hana.


"Iya, kita akan kesana. Kata dokter Alvian Hana sudah banyak merespon. Kita bedoa semoga Hana membaik dan kembali pulih."


"Iya yah!" Steve tersenyum bahagia mendapatkan kabar bisa melihat Hana dari dekat.


Perawat menyiapkan kursi roda untuk Steve. Bersama ayahnya Steve mengunjungi ruang ICU.


Terlihat dokter Alvian masih di dalam ruangan memberikan pengarahan pada beberat perawat juga dokter jaga. Perawat yang mendorong kursi roda menekan belt yang ada di pintu ICU. Dokter Aldi bersama dokter Alvian menoleh ke arah pintu.


Tak lama kemudian keduanya keluar ruangan.


"Bagaiman kabarnya Steve?" Dokter Alvian menyapa Steve.


"Baik dokter."


"Wah sepertinya semangat nih mau melihat adiknya?" Dokter Alvian memberikan motivasi pada Steve. Paska depresi berat Steve memang mudah sekali drop.


"Iya dok. Saya sudah gak sabar ingin melihatnya."


"Baik saya antarkan ya!" Dokter Alvian memberi isyarat pada dokter Aldi. Dokter Aldi terlihat mengangguk menandakan dia memberi izin.


Setelah memakai pakaian steril, Steve diantar dokter Alvian masuk keruangan Hana.


"Apa kabar Hana? Nih ada tamu ingin menjenguk kamu Hana. Ayo coba lihat siapa yang datang?" Dokter Alvian meniru gaya dokter Aldi. Meski tingkat kesadaran Hana masih koma, tapi dia terlihat merespon ketika diajak bicara.


"Lihatlah tangannya bergerak. Berarti dia mendengar pembicaraan kita." Dokter Alvian menunjuk pada bagian tangan Hana yang bergerak-gerak walau pun lemah.


Steve terlihat senang. Wajahnya berseri menyatakan kesenangan dalam hatinya setelah sekian lama dia tak bertemu Hana.


"Kita mendekat ya!" Dokter Alvian mendorong kursi roda yang diduduki Steve mendekati ranjang Hana.


"Nih Hana! Ada kakakmu Steve. Apa kamu kangen sama kakakmu?" Dokter Alvian kembali mengajak berbicara.


Hana terdiam. Tak ada respon balik. Tidak seperti sebelumnya.


"Kenapa Hana tidak merespon dokter?" Steve cemas.


Dokter Alvian mendekatkan diri dan berbisik di telinga Steve.


"Coba ingat-ingat kenangan manis bersama Hana. Kamu ceritakan kenangan itu!" Dokter Alvian memberi isyarat menganggukkan kepalanya.


Steve merenung, mengingat-ingat kenangan manis bersama Hana.


"Hana, bukankah kamu ingin mi bersama es krim coklat? Kamu masih ingatkan ibu kita selalu membuat makanan itu buat kita? Makanya kita mempunyai hobi yang sama." Steve baru tahu bahwa makan kesukaan Hana sama dengannya, dikarenakan sejak kecil ibunya selalu memanjakan dengan makanan itu.


Sejenak terdiam. Semua hening. Steve meraih tangan Hana dan mengelusnya lembut. Beberapa menit kemudian sebuah cengkraman kuat menggenggam telapak tangan Steve. Semua orang yang ada di ruangan itu pandangannya tertuju pada tangan lembut yang sedari kemarin tergeletak lemah.


Steve kaget, melihat respon Hana begitu kuat. Yang sebelumnya hanya menggerakkan jari, sekarang berubah. Jari-jari Hana begitu kuat memegang telapak Steve.


"Aldi.. " Dokter Alvian mendekati pintu lalu memangil Aldi.

__ADS_1


__ADS_2