
Sejak Steve dan Wei keluar dari ruangan, semuanya hening. Sampai tuan Hans yang dianggap walinya Hana memulai berbicara.
"Hana sayang... maaf ya kalau ayah ikut campur dengan kehidupanmu mulai sekarang. Buat ayah, kamu adalah titipan ibumu yang paling berharga. Ayah sudah menganggap kamu anak ayah sendiri seperti Steve dan Caterina. Takdir Tuhan mempertemukan kita agar ayah bisa menjagamu mulai sekarang sampai ayah tiada."
Semua orang yang ada di ruangan perawatan VVip diam mendengarkan dengan seksama apa yang sedang diutarakan tuan Hans.
"Ayah, tahu kalau kamu menyukai Wei dan ayah pun tak melarang. Begitu pun jika Wei ingin mengambil tanggungjawab padamu ayah pun tak bisa melarang. Kalian berhak menentukan dengan siapa kalian berpasangan. Tapi... ayah khawatir disaat ini kamu belum siap dan begitupun Wei. Ayah memberikan saran bagaimana kalau menundanya dan kalian bisa memikirkannya dengan matang!" Terdengar nada bicaranya penuh kharismatik.
"Iya ayah.. Hana tahu. Hana senang telah memiliki keluarga lengkap lagi. Ya,Tuhan terlalu baik untuk mengirimkan kalian untuk Hana." Mata Hana mulai mengembun.
"Hana sudah lama menyukai Wei ayah.. sejak ayah Hana masih ada. Hana tak pernah sekalipun melupakan Wei sampai Hana beberapa kali menolak teman-teman Hana karena cinta Hana hanya untuk Wei seorang. Hana tahu kak Wei juga menyukai Hana ayah.. tapi karena kak Daniel sangat mencintai Hana, kak Wei memilih mundur." Hana mengambil nafas lalu mengeluarkannya dengan kasar. Beban beratnya seolah berkurang seiring nafas yang baru saja dikeluarkan.
"Hana, sebuah pernikahan itu bukan hanya mengambil keputusan sesaat karena cinta saja atau karena sesuatu tuntutan. Kalian harus sudah menyiapkan diri dengan ilmu dan mental yang kuat. Pernikahan bukan hanya sebatas akad atau ritualnya saja. Tapi sebuah akad melahirkan tanggungjawab jawab yang luar biasa besar. Dan itu membutuhkan kesabaran seluas samudera dan kekuatan yang benar tangguh untuk menjalaninya." Tuan Hans menatap Hana dengan penuh harap.
"Berkaca dari pengalaman kami Hana. Aku dan ibumu yang saling mencintai. Dulu kami yang sama-sama kuliah di sana dengan jiwa muda kami yang bergelora memutuskan untuk mengikat cinta kami sebagai pasangan tanpa restu orang-tua. Waktu itu kami hanya membayangkan bagaimana indahnya kami kasmaran dan kami bisa hidup bersama tanpa memikirkan bagaimana ke depannya dan akan bagaimana akibat keputusan yang kami ambil."
"Ya, kami benar-benar merasakan kebahagiaan sampai lahir buah hati kami Steve. Hidup kami serasa lengkap waktu itu. Bahkan tak akan terbayangkan bahwa kami akan berpisah dan meninggalkan trauma kesedihan yang harus ditanggung Steve sampai sekarang. Yang paling menyedihkan bukan karena kami tidak bersama tapi kami berdua menyisakan semua kesedihan apalagi ketika kamu lahir ke dunia dan harus menjalani semua takdir hidup sendirian"
"Ya ayah baru menyadarinya dan menyesalinya sekarang. Ayah menyesal sebagai laki-laki tidak bisa menjaga kalian dengan baik. Ayah sebagai laki-laki tidak meminta ibumu secara baik pada keluarganya.Tapi semua itu tak bisa ayah tebus atau ganti dengan apapun. Ayah tak ingin kamu pun mengalami hal yang sama seperti kami Hana." Tuan Hans menitikkan air mata tak kuasa membendung kesedihan tentang bayangannya di masa lalu.
"Ayah hanya memintamu, cobalah pikirkan matang-matang! Jika kamu sudah siap ayah tak akan melarang kamu untuk menikah dengan Wei. Bahkan ayah mendukung semuanya untuk kebaikan kamu." Tuan Hans terlihat menyeka air matanya yang jatuh.
Semua yang ada di ruangan kembali terdiam.
"Ayah...maafkan Hana! Hana ucapkan terima kasih buat ayah, mama, dan semuanya yang mau dengan tulus menerima Hana sebagai anggota keluarga." Air mata Hana mulai menggenang.
"Tapi yah.. Hana merasa bahwa Hana sudah cukup umur untuk menikah. Dan Hana juga harus memikirkan diri Hana sendiri. Kak Wei adalah laki-laki yang mau menerima keadaan Hana seperti ini? Hana tidak mungkin terus bergantung pada kalian dan menunggu laki-laki yang akan menikahi Hana sampai Hana kembali sembuh.
"Buat Hana bisa menikah dengan kak Wei saja sudah cukup. Kalau suatu hari kak Wei menginginkan untuk mempunyai lagi istri Hana tidak keberatan, asal Hana bisa bersamanya Hana sudah bahagia."
"Kalian mempunyai kesibukan masing-masing dan kehidupan. Hana... tak ingin kehilangan orang yang Hana cintai lagi yah. Hana takut. Hana tahu pasti semua keputusan ada resiko yang harus diambil. Tapi Hana yakin.. ibu Hana juga bahagia dengan hidupnya bersama ayah juga keluarga kami dan Hana pun merasakan bahagia. Jadi Hana tetap akan mengambil keputusan untuk menikah dengan kak Wei." Hana terisak menarik air yang mau jatuh di hidungnya.
Tuan Hans mengambil nafas dan mengusap wajahnya setelah mendengar keputusan Hana tetap pada semula.
Maria mengelus lembut bahu Hana sementara Caterina memeluk erat pinggang ibunya sedih.
###
Sekarang di rumah kang Gavin berkumpul sudah semuanya. Sengaja kang Gavin mengundang keluarga Hana untuk makan siang di rumahnya. Sifat ramah dan dermawan Gavin sudah lama diturunkan dari keluarga nya. Inilah yang disukai Sari dari keluarga Gavin.
Apalagi sekarang Hana kedatangan
Maria juga Caterina. Sudah kewajibannya menyambut dan memuliakan tamunya. Hana susah dianggap bagian dari keluarganya sejak Hana bergabung untuk menjadi pengajar di tempat bimbelnya.
Walau secara materi keluarga Steve mampu makan di tempat yang mewah, tapi kebahagiaan kebersamaan tak bisa dibeli oleh uang.
Tuan Hans dan Gavin berbincang terpisah sambil menunggu Steve dan Wei datang. Sedangkan Sari, Caterina dan Maria berbincang di ruangan berbeda. Meski mereka berbeda keyakinan keluarga Hana menganut Kristiani dan keluarga Gavin Muslim mereka saling menghormati kebiasaan masing-masing dan tidak sungkan untuk bersosialisasi.
__ADS_1
"Saya bingung kang Gavin." Tukas tuan Hans memulai pembicaraan.
"Bingung kenapa tuan Hans?"
"Wei melamar Hana dan Hana menyetujuinya."
"Oh." Gavin menjawab pendek. Dia mendengarkan secara serius sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Saya sudah memberikan saran pada keduanya agar berpikir lagi dan tidak usah tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Tapi Hana tetap pada pendiriannya."
"Menurut kang Gavin bagaimana ya? Kan Hana juga masih dalam perawatan, butuh waktu untuk menyembuhkan penyakitnya."
"Oh begitu ya? Ya kalau tuan Hans berkenan saya memberikan pendapat, tapi mohon maaf jika pandangan saya tidak sependapat dengan anda. Menurut saya pribadi yang namanya jodoh, rejeki dan kematian sudah ditentukan Allah SWT. Ketika waktunya tiba kita tak bisa menolak. Adapun jalannya memang berbeda-beda. Mungkin saja seperti sekarang. Hana ditakdirkan berkumpul dengan cara seperti ini dan menikah pun caranya seperti ini pula. Kalau keduanya sudah merasa mantap, kita sebagai orang luar hanya bisa memberi saran dan doa. Itu menurut saya tuan Hans." Entahlah, Tuan Hans merasakan pikirannya lelah akhir- akhir ini. Dan ada baiknya bisa bertemu dengan keluarga Gavin yang bisa diajaknya berbincang-bincang mengenai masalahnya.
Setelah satu hari tuan Hans menginap di rumah Gavin, dia merasakan kehangatan dan ketulusan yang diberikan keluarga Gavin padanya. Dia merasakan kenyamanan ketika sedang bersama. Padahal ini baru pertama kali mengenalnya.
"Iya. Mungkin Hana bisa lebih tenang jika ada yang sudah bertanggungjawab. Tapi saya menyimpan kekhawatiran kang Gavin." Dia menatap anak muda yang menurutnya bisa diajak bertukar pikiran.
"Apa yang anda khawatirkan?" Nampak jelas wajah gelisah tuan Hans di mata Gavin.
"Ya. Laki-laki kan pasti menuntut sempurna. Bagaimana kan Hana lumpuh. Apakah dia bisa memberikan pelayanan pada suaminya? Terus apakah Hana bisa memberikan keturunan?Saya khawatir keluarga Wei banyak menuntut banyak. Bagaimana dengan kekurangan Hana. Saya terus terang tidak tenang. Menurut saya dalam pernikahan tidak sedikit hal ini akan menjadi perselisihan di kemudian hari. Saya tak ingin Hana terluka." Akhirnya kecemasan tuan Hans terbuka.
"Oh iya ya. Mungkin kalau untuk kesehatan mending dikonsultasikan dahulu, biar mereka juga tidak kaget nantinya. Masih ada waktu untuk mempertimbangkannya. Dan masalah keluarga bisa diajak dialog dengan cara pertemuan keluarga. Jadi masing-masing tidak akan menyesal dikemudian hari." Saran Gavin.
"Iya ya. Sebaiknya begitu. Biar semuanya tenang dan siap dengan kenyataan." Tuan Hana tersenyum. Ada raut senang setelah berbincang dengan Gavin. Kecemasannya berkurang setelah mendengar solusi.
"Eh sudah datang?"
"Iya paman."
"Steve mana?"
"Itu lagi ngobrol sama Raffa sambil lihat ikan koi di kolam."
"Oh." Tuan Hans menjawab pendek. "Duduklah!"
"Baik paman." Wei menurut duduk di kursi dengan arah menyamping.
"Silahkan kalian ngobrol-ngobrol dulu! Saya mau membantu istri saya untuk menyiapkan makan bersama." Gavin berdiri dan berjalan mendekati ruang makan memastikan istrinya untuk menyiapkan makan siang bersama.
"Oh iya silahkan!" jawab tuan Hans.
"Disini adem ya paman. Suasananya asri, suhu udaranya juga sejuk." Cicit Wei melihat sekeliling rumah Gavin yang luas dan banyak pepohonan dan taman.
"Iya. Disini juga banyak penghuninya ternyata. Gavin punya kontrakan khusus perempuan." Tuan Hans yang sempat menginap memperhatikan suasana rumah Gavin."
"Oh begitu ya? Tapi ko tidak keliatan?" Wei masih heran nampak sepi dan tidak terlihat banyak orang.
__ADS_1
"Itu disana! Ada mushola dan pintunya dari arah sana bangunan kos-kostan nya. Memang dibuat tidak terlihat jelas agar nyaman bagi yang kost." Tuan Hans menerangkan.
"Nanti kalau mau malam mereka baru terlihat di mushola berkumpul. Kemarin paman juga sempet kaget. lho... banyak yang tutup muka kaya orang Arab ternyata." Tuan Hans yang asli Perancis tapi fasih bahasa Indonesia masih belum mengenal muslim yang ada di Indonesia. Karena kalau di Perancis kebanyakan hanya orang Arab yang memakai cadar dan berbaju gelap. Tapi disini di kostan Gavin hampir semuanya memang memakai cadar. Ya Gavin dan Sari sengaja memilih penghuni kos-kostan nya perempuan yang benar-benar dia kenal agar tidak menyulitkan dan membuat masalah.
"Oh begitu. Tapi tenang ya paman kalau Hana kost disini. Bisa aman dan tenang karena pergaulannya terjaga.
"Iya, paman juga baru satu hari menginap merasa tenang disini. Apalagi kalau dengar bacaan Al-Qur'an di mushola adem banget. Kang Gavin bacanya enak di dengar." Wajah Tuan Hans begitu bahagia membayangkan suasana yang kemarin dialaminya selama menginap.
Padahal dia sendiri adalah penganut Kristiani tapi begitu mendengarkan Al-quran rasanya seperti tentram hatinya.
"Ayah... tiba-tiba Caterina muncul di depan pintu yang posisi dibelakang kursi.
"Eh iya sayang.. sini duduk!"
"Kata mama makannya sudah siap!" Anak 16 tahun itu terlihat manja bergelayut di tangan ayahnya.
"Baik sayang.. ayah segera ke sana. Mari Wei!" Mereka berjalan saling beriringan menuju meja makan.
"Mari tuan Hans!" Gavin sudah ada di meja makan bersama Steve dan Raffa.
"Para bidadari dimana ya?" Tuan Hans tidak melihat istrinya di meja makan.
"Oh para bidadari makannya terpisah. Istrinya saya tidak terbiasa bercampur dengan laki-laki." Terang Gavin.
Tuan Hans, Steve juga Wei menatap pada Gavin heran.
"Oh begitu ya? Hebat teh Sari istri kang Gavin sangat terjaga. Saya kagum kalian begitu teguh memegang prinsip" Tuan Hans merasa kagum dengan sikap pasangan ini begitu teguh memegang prinsip. Satu hari dengan keluarga Gavin banyak sekali pengalaman baru yang bisa diambil oleh tuan Hans. Keluarga Gavin begitu ramah dan hangat juga dermawan.
"Terimakasih, tuan Hans. Kami hanya menjalankan apa yang diajarkan agama kami." Gavin tersenyum menerima sanjungan dari tuan Hans. Sebetulnya Gavin dan Sari sudah terbiasa seperti itu karena tahu ilmunya. Bahwa bercampur dengan lawan jenis yang bukan mahram jelas tidak boleh. Selain memang ada syaratnya jelas menjaga fitnah. Gavin sangat menjaga pandangannya (Ghudul Bashar)
Banyak orang barat beranggapan bahwa orang yang seperti keluarga Gavin kaku dan fanatik bahkan dicap *******. Tapi image itu bisa ditepis dari pikiran tuan Hans setelah melihat sendiri dan berinteraksi dengan keluarga Gavin. Mereka begitu baik menyambut dan memperlakukan non Muslim dengan baik.
"Mari tuan Hans, silahkan anda duluan!" Gavin mememberikan tempat nasi. Tuan Gavin pun menyiduk nasi dan beberapa lauk pauk. Disusul yang lainnya.
Mereka pun khusyu makan setelah melakukan doa masing-masing. Tuan Hans sedari tadi mengamati dengan cermat apa yang dilakukan Gavin. Dalam hatinya dia sedang tertarik dengan apa yang dilakukan Gavin dan keluarganya.
"Wah ini masakan istri kang Gavin?" Tuan Hans mengomentari lauk pauk yang sedang dia kunyah. Rasanya begitu enak. Meski dia dia kali menikah dengan orang Indonesia tapi belum pernah mencoba makanan rumahan yang sekarang dia makan.
"Iya tuan Hans, mohon maaf jika kurang pas di lidah anda." Gavin merendah.
"Ah tidak, saya malah suka. Saya walau dia kali menikah dengan orang Indonesia belum pernah mencicipi makanan rumahan seperti ini. Kami lebih banyak makan ala eropa malah." Terang tuan Hans.
"Ayah sama ibu cheff lho kang Gavin. Kalau kata ayah enak berarti bisa dikonsumsi oleh banyak orang." Terang Steve.
"Masya Allah. Saya mendapat kehormatan bisa kedatangan cheff. Istri saya pasti senang makanannya dinilai baik." Gavin tersenyum.
"Wah malah saya yang senang bisa mencicipi masakan istri anda kang Gavin." Tuan Hans terlihat senang.
__ADS_1