
Sandi keluar dari ruangan tempat tadi dikurung. Ternyata Steve ada di depan meja kepala security.
"Ah lagi-lagi dia! Aku tak ingin berhutang budi" Sandi bergumam.
Steve menatap Sandi dari atas ke bawah. Terlihat Sandi baik-baik saja.
"Pulanglah!" Steve menyuruh Sandi pulang. Sedikitnya kalau dia pulang beban masalah akan berkurang.
"Tidak. Aku mau melihat Hana!" Sandi menjawab dengan datar. Sifat Sandi yang keras tak mudah mengalah pada siapapun.
"Issshhh... kamu menjengkelkan!" Steve menggeram. Orang yang baru ditolongnya itu seakan tak tahu berterima kasih.
"Tapi aku suka kamu." Sandi tersenyum tipis. Dia menahan tawa melihat Steve jengkel padanya. Sejak pertama memang Sandi senang menggoda Steve. Entahlah ada perasaan nyaman bareng Steve. Walau memang tak dipungkiri dia belum percaya seratus persen.
"Emang kamu gay apa???" Steve menggidikan bahunya. Dan berjalan keluar dari ruangan security.
Sandi menyusul langkah Steve dan melingkarkan tangan di bahunya.
"Singkirkan tanganmu! Sejak kapan kamu jadi akrab begini?" Steve melirik ketus. Tapi yang dilirik senyum-senyum tak peduli Steve mau berkata apa. Dia tetap melingkarkan tangannya di bahu Steve.
Mereka berjalan menuju ruang UGD. Terlihat Wei sedang mendorong brankar bersama tim medis.
Sandi melepaskan tangannya dari bahu Steve dan mempercepat langkahnya begitu pun Steve.
"Bagaimana keadaan Hana Wei?" Steve melihat Wei.
"Baik!"
"Hana baikan?" Sandi melihat Hana yang sedang terbaring di atas ranjang. Matanya terlihat sendu.
Wei dan Steve spontan melihat Sandi. Sandi melotot ke arah Steve dengan bahasa isyarat.
Apa lu liat-liat?
Steve membalas dengan tatapan yang sama. Dengan bahasa Isyarat
Dasar songong lu!
Wei menggelengkan kepala melihat sifat kanak-kanak Steve dan Sandi.
Begitu pun Hana. Dengan jelas matanya melihat ketiga pria itu. Walau badannya lemas kepalanya masih pusing. Tapi tingkah kekanak-kanakan Sandi dan Steve sempat menghibur Hana.
Kini Hana ada diruang perawatan. Sementara Hana harus dirawat intensif. Hanya Wei yang tahu keadaan Hana sekarang ini.
"Kalian pulanglah! Biar aku berjaga disini!" Wei menyuruh Sandi dan Steve untuk pulang.
"Aku tidak mau. Aku akan tinggal disini!" Sandi tetap keras kepala ingin menungguinya.
"Isshhh.. " Steve kembali melototi Sandi yang keras kepala.
Steve memberi isyarat dengan menggerakkan kepala. Mengajaknya keluar ruangan.
Tapi Sandi masih berdiri mematung.
"Pulanglah! Hana butuh ketenangan. Dia harus menjalani terapi!" Wei melihat Sandi berusaha memintanya dengan lembut. Wei tahu watak keras kepala Sandi tak bisa dilawan.
"Baiklah, jangan macam-macam!" Sandi menatap tajam mengancam Wei.
Wei mengerutkan dahi. Melihat keberanian Sandi mengancam dirinya yang umurnya jauh lebih di atas bocah itu. "Gak sopan!" Wei merutuk dalam hati.
"Hana aku pulang dulu ya!" Sandi berpamitan. Matanya melirik ke arah Wei dengan memberi pesan.
Awas lu
Wei membuang muka malas melayani Sandi bocah ingusan yang masih kekanak-kanakan.
Hana tersenyum melihat kejengkelan mereka, tapi ada baiknya, mereka menjadi lebih dekat.
"Aku boleh numpang mobilmu? Motorku ditinggal disekolah." Sandi kembali merangkul Steve tersenyum padahal ingin kembali menggoda nya.
"Banyak taxi. Lagian kamu orang kaya, mobilmu pasti banyak kan? Kenapa gak nyuruh mereka saja jemput kamu?" Steve bicara ketus.
"Tidak, aku hanya ingin naik mobilmu. Jadi aku boleh numpang kan?" Sandi cengengehan menggoda Steve.
__ADS_1
"Tidak!" Steve menjatuhkan tangan Sandi yang sedari tadi menempel di bahunya.
Sandi menarik bibirnya, manyun. Dia tak berhasil menggoda Steve. Tapi dia tak habis akal. Begitu Steve mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya secepat kilat Sandi menyambar benda itu.
Steve kaget bukan kepalang. Wajah putihnya memerah, yang biasa manis berubah seketika jadi garang. Kesalnya sudah di puncak ubun-ubun.
"Kembalikan!" Steve mengejar Sandi yang cengengehan mempermainkan kunci diujung telunjuknya.
"Tangkap kalau bisa! Sandi berlari secepat mungkin sambil membawa kunci mobil Steve. Lalu masuk ke dalam taxi yang sedang terparkir di depan rumah sakit mencari penumpang.
"Bang cepat jalan! Sandi menepuk bangku supir supaya menjalankan mobilnya dengan cepat.
"Iya, mas!" Supir taxi pun melaju dengan cepat ke luar area rumah sakit.
Sandi memperhatikan Steve sepanjang taxi melaju. Steve berjongkok mengacak-ngacak rambutnya dia merasa dongkol sama Sandi yang telah membawa kunci mobilnya.
*Dasar bocah songong... awas ya kamu!
Steve terus mengumpat dari kejauhan*.
Sementara itu Sandi tertawa lepas terpingkal-pingkal menyaksikan Steve yang dongkol.
"Ahhh cape deh!" Baru kali ini Sandi segembira sekarang setelah menggoda Steve. Dia menganggap lucu kejadian barusan. Dasar Sandi suka jahil. Ada saja idenya untuk menjahili orang. Terlihat wajah Steve yang kiyut benar-benar menarik untuk digodanya. Entahlah Sandi merasa lebih dekat dengan Steve. Tanpa sadar dia sudah merasa nyaman padanya.
Sedari tadi sopir melirik dari balik kaca spion depan. Dia heran melihat penumpangnya tertawa lepas seperti itu. Dia menggelengkan kepala. Seperti orang gila.
"Mas mau kemana? Dari tadi belum menyebutkan alamat." Sopir itu agak bingung mau mengarahkan mobilnya kemana. Karena semenjak Sandi masuk mobil dia hanya tertawa belum menyebutkan alamat yang mau dituju.
"Pergi ke alamat ini Xxx." Sandi menyebutkan alamat rumahnya pada sopir taxi. Dia ingin segera sampai di rumahnya, dia tak berniat untuk mengambil motornya yang sedari tadi terparkir di sekolah.
Tak lama kemudian taxi sampai di depan gerbang rumahnya. Sandi mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribuan dan menyerahkan pada sopir. Padahal argo tertera jauh dibawah uang yang diberikan Sandi.
"Ambil sisanya buat tips!" Sandi keluar dari mobil taxi. Dia melenggang sambil meneruskan tertawanya.
Sopir itu melongo melihat sepuluh lembar uang seratus ribuan di tangannya. Selama dia jadi supir baru kali ini ada penumpang memberikan tips banyak. Dia menatap benteng rumah besar itu. Lalu tak lama kemudian berlalu meninggalkan rumah besar itu.
Orang kaya yang gila
###
Steve mengambil kunci mobil sport. Mobil yang biasa dipakai ke kantor masih teronggok di rumah sakit menunggu diderek. Steve malas untuk kembali ke rumah sakit dengan mengambil mobil itu. Dia memilih jasa Derek untuk memulangkan mobilnya.
Tak lama kemudian Steve sampai di hotel. Steve menuju restoran mewah yang ada di hotel itu. Meja sudah dipesan. dari kejauhan sudah terlihat orangtua Steve sudah duduk terlebih dahulu.
"Hai ayah.. Hai mam. " Steve menyapa orangtuanya sambil cium pipi ayah dan ibunya sebelum duduk.
"Wah... anak ayah ganteng banget malam ini. Kemana pacarmu?" Ayah Steve mengedarkan pandangan pura-pura. Lalu tersenyum menggoda anaknya.
"Gak ada yah.. " Steve duduk manis setelah melebarkan serbet diatas pangkuannya.
"Kenapa, masa jomblo terus anak ayah? sayang cakep-cakep jomblo!" Ayahnya Steve menggoda. Yang digoda tersenyum simpul malu-malu.
"Yuk makan! Ini kelihatan enak." Sahut ayahnya dengan wajah sumeringah. Hidangan pembuka dan utama sudah datang dan dihidangkan di atas meja. Mereka menyantap makanan dengan obrolan-obrolan ringan disertai tawa-tawa kecil.
Tak lama kemudian melintas masuk beberapa bodyguard lalu diikuti majikannya yang sudah berpenampilan rapih, sepertinya pengawalan orang penting. Mereka memasuki ruang VIP restoran hotel. Kedatangan mereka menyita perhatian pengunjung restoran.
"Sandi... " Steve berkata pelan. Mata Steve sekelebat melihat rombongan itu. Ada Sandi diantara orang-orang itu. Mungkinkah mereka keluarganya? Terlihat ada tiga orang yang mencolok, satu orang wanita dengan penampilan Fashionable dan satu orang laki-laki dengan jas rapih dan Sandi dengan penampilan terbaiknya kemeja dan celana jins dengan gaya anak muda kelas atas.
"Kamu mengenalnya?" sahut ayahnya menatap Steve lalu melirik pada rombongan yang baru saja masuk ke ruangan VIP.
"He'em" Mata Steve mengikuti iringan itu sampai masuk.
"Siapa?" Ayahnya bertanya penuh telisik.
"Ya kenal aja." Steve melepaskan tatapannya lalu beralih melihat ayahnya.
"Sepertinya mereka orang penting." Ayahnya kembali menatap Steve dengan manik penuh penasaran.
"Ya begitulah... " Steve menghela nafas.
"Oh iya, yah. Aku boleh nanya gak?" Steve menghentikan suapan makanan penutup.
"Boleh." Ayahnya duduk tegak mendengarkan dengan mimik serius.
__ADS_1
"Ayah tau kan kalung ini?" Steve mengeluarkan kalung dari balik kerahnya. Malam itu sengaja Steve memakainya kembali kalungnya. Ada yang ingin ditanyakan tentang kalung itu. Padahal sebelumnya juga Steve sudah tahu tentang kalung itu
Entahlah malam ini Steve merasa perlu membahas kalung itu dengan kedua orang tuanya.
Ayahnya Steve menajamkan pandangan mengamati kalung yang dikeluarkan dari balik kerah Steve. Sejenak matanya menyipit.
"Iya." Ayah Steve mengangguk.
"Sebenarnya kalung ini ada yang lain gak yah?" Steve menanyakan kembali status kalung itu pada ayahnya.
"Maksudnya?" Ayah Steve mengernyitkan dahi. Ayahnya merasa ada keanehan. Kenapa Steve tiba-tiba menanyakan kalung itu. Bukannya dia sudah tahu.
"Apa ayah mempunyai kalung yang sama selain kalung yang ini?" Steve menatap serius.
"Ya... kalung itu dulu dipesan sepasang. Itu kalung pasangan bersama ibumu. Yang punya ayah dikasih ke kamu dan... " Ayahnya Steve berhenti bicara.
"Satu lagi dimana yah?" Steve mendekatkan pandangannya lebih lekat melihat ayahnya.
"Hhh... " Ayahnya menggaruk kepala dan tangannya yang satu dirapatkan ke dada. Tersirat satu beban berat untuk membicarakan kalung yang satunya lagi, takut anaknya tidak siap.
"Yah.." Steve berkata lirih. Steve dan ibu sambungnya spontan menatap ke arah laki-laki yang sedang ditanyai. Ayahnya melirik ke arah Steve lalu berganti melihat istrinya.
"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan kalung itu?" Ayahnya merapatkan tangannya di dada. Lalu menyandarkan badan di kursi. Menatap Steve lebih selidik.
"Yah tolong! Katakan dimana kalung yang satunya lag!" Steve memelas.
"Hhmmm... Kamu janji gak bakalan marah?"
"Kenapa harus marah?" Sepertinya Steve melupakan kejadian masa lalunya tentang saudara perempuannya.
"Ayah takut kamu kecewa berat seperti beberapa tahun ke belakang."
"Sudahlah lupakan saja! Anggap benda yang satunya lagi tidak ada." Ayah Steve tertunduk. sebelah tangannya mengusap kasar wajahnya.
"Yah... kemarin Wei memperlihatkan kalung yang satunya lagi. Jadi.. aku rasa kenapa kalung itu bisa ada di tangan Wei? Tadinya aku sendiri tak mau ambil pusing mengenai benda itu. Tapi... entahlah... aku rasa aku perlu bertanya sama ayah."
"Apa? Kenapa ada di Wei... harusnya dia ada di Hana?" Ayah Steve tak sadar sudah menyebutkan satu nama yang pernah dibencinya. Orang itu dianggap telah merebut ibunya dan menyebabkan kematiannya.
"Tolong jelaskan ayah! Biar ini tidak salah paham. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal." Steve terlihat gelisah.
Ayahnya Steve menarik tangan anaknya lalu mengusap punggung tangannya dengan lembut.
"Begini Nak... sebetulnya kalung itu dimiliki ibumu. Setahu ayah, ibumu punya anak bernama Hana, kamu juga sudah tahu kan? Maaf kalau ayah mengungkit luka lamamu."
Steve tertunduk. Ada kesedihan yang menyayat kalau mengingat masa lalunya itu. Kenapa harus muncul kembali. Dia merasa ibunya sudah direbut oleh keluarga suaminya yang baru, merenggut kebahagiaan keluarga Steve. Ibunya dipaksa menikah lagi dengan suaminya yang baru. Untuk melupakan kenangan itu Steve banyak mengalami masa transisi yang menyedihkan. Bagi Steve kenangan ibunya yang sangat dia cintai sampai sekarang pun belum bisa dilupakan.
"Jadi kalung itu ada kemungkinan... " Steve berhenti bicara.
"Bisa jadi kalung itu diberikan pada Hana saudarimu, tapi tak habis pikir kenapa sekarang ada di Wei?"
"Tidak. Aku tak punya saudara ayah. Saudaraku cuman Caterina saja, tak ada yang lain." Mata Steve memerah ada air yang menggenang di kedua bola matanya. Dia masih tak bisa menerima bahwa dia mempunyai saudari yang lain yang telah dianggapnya seorang penjahat selama ini. Steve begitu membenci keluarga itu karena telah mengambil ibu kesayangannya dari keluarga Steve.
Ibu Caterina dan ayahnya Steve sontak terkejut. Mereka tak mau membangkitkan kekecewaan Steve. Ibunya Caterina mengusap bahu Steve lalu memeluknya. Steve membalas pelukan hangat itu.
Ayahnya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Masih memikirkan apa yang baru didengarnya dari Steve. "Kenapa kalung itu ada di tangan Wei?" Dia bicara dalam hati. Itu memang terasa janggal.
Dia masih mengingat-ingat pertemuan terakhir kali dengan Hana... itu sudah lama sekali. "Yah aku masih ingat, anak itu memakai baju sekolah sendirian ada di depan kuburan ibunya sambil menangis. Setelah tahun itu aku tak melihatnya lagi datang ke kuburan ibunya. Apakah dia sudah meninggal?" Ayah Steve bergumam sendiri sambil berpikir.
"Kring... kring.. " Handphone Steve berdering. Dia menggeser tanda hijau.
"Ya halo.. "
"Steve...kamu bisa datang ke kantorku malam ini?" Terdengar suara cemas Wei dibalik teleponnya.
"Apa ada masalah di kantor?" Steve menajamkan pendengarannya.
"Nanti aku bicara disana, sekarang aku mau mengantarkan Hana dulu ke rumahmu."
"Iya nanti ku kabari lagi Wei... " Steve menutup pembicaraannya.
"Pergilah! Wei pasti membutuhkanmu. Besok kita ketemu di pemakaman, atau nanti ayah kabari lagi."
"Baiklah yah, mam... aku pergi dulu ya!" Steve segera menyudahi acara makan malamnya. Dia bangkit dari kursinya lalu melangkah ke luar dari restoran.
__ADS_1
Steve bergegas ke kantor. Dalam perjalanan pikiran Steve masih berjalan-jalan kesana-kemari memikirkan apa yang dibicarakan tadi bersama orangtuanya. Semoga semuanya baik-baik saja. Itulah yang Steve harapkan.