Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Apakah kamu mau menikah denganku?


__ADS_3

Seminggu sudah tuan Hans, Maria dan Caterina bertolak ke Perancis. Hana menghabiskan waktu hanya dengan pergi terapi dan diam di rumah.


Sekarang keberadaan Hana pun semakin sepi. Apalagi semenjak Steve sibuk di perusahaan waktunya sangat sedikit untuk menemani Hana.


Hana mulai bosan dengan rutinitasnya yang banyak dihabiskan dengan menonton dan membaca.


Apakah aku harus pergi ke kota B menemui Kang Gavin dan teh Sari di sana? Aku bisa membantu mereka mengajar di lembaga agar ada kegiatan yang bisa bermanfaat buatku.


Hana tak bisa bertukar pikiran dengan siapapun terkecuali Rara dan Doni sebagai pengawal pribadinya.


Hana menekan nomor Steve.


Tut


Tut


Tut


"Halo Hana.. " Steve berusaha terdengar ceria di depan telepon. Dia takut kalau Hana mendengarkan suaranya seperti lelah, dia akan merasa khawatir.


"Kak... " Suara Hana terdengar manja.


"Iya ada apa Hana..?" Tanya Steve sabar. Tiap hari Hana selalu menelpon Steve beberapa kali. Steve mengerti sikap Hama seperti itu. Dia mungkin mulai merasa bosan dan jenuh berada sendiri di rumah.


"Apa aku boleh pergi ke kota B?" Hana mencoba meminta izin pada Steve.


"Untuk apa?" Steve mengernyitkan dahinya walau orangnya tak berada di depan.


"Kak.. aku ingin mengajar. Bosan di rumah tak ada kegiatan." Keluh Hana seperti dulu sewaktu amnesia.


"Kamu kalau kesal jalan-jalan atau ke salon atau belanja aja! Bagaimana?" Steve memberikan ide pada Hana seperti kebiasaan wanita-wanita pada umumnya senang berbelanja dan perawatan diri.


"Ahh.. aku sudah banyak barang buat apa lagi belanja? Ke salon? Masa tiap hari ke salon? Aku bukan tipe-tipe perempuan sosialita kak." Hana melayangkan protes.


"Hhmm... atau kamu belajar bisnis aja dengan kakak di sini? Biar bisa." Steve mengajak Hana untuk pergi ke perusahaan. Dia akan mengajarkan bagaimana mengelola perusahaan.


"Gak mau kak.. pusing. Aku lebih suka mengajar kak daripada mengurus perusahaan, ribet." Hana yang kurang mengerti dengan urusan perusahaan kadang malas untuk berpikir tentang masalah-masalah yang ada di perusahaan warisan ayahnya.


"Kamu mau berapa lama? Kan harus terapi?"


"Aku masih bisa kan kak dilanjutkan di sana, seperti awal-awal." Bantah Hana.


"Mmmhh.. tapi nanti terus mentah lagi Hana. Kamu mencoba bersabar bagaimana? Atau kamu mau mengambil kursus seperti menata bunga misal?" Steve sudah pusing memutar ide.


"Haloo Steve.." Wei menyapanya.


Steve memberi isyarat pada Wei bahwa dia sedang berbicara.


Wei mengangguk.


"Siapa kak? Kok aku kaya kenal suaranya." Hana mendengar suara yang dikenalnya.


"Mau bicara sama dia?" Steve memberikan handphone padahal bisa saja Wei menelpon dari handphone miliknya.


"Halo Hana, Gimana kabarmu hari ini?" Wei memulai berbasa-basi. Hubungan dengan Hana tidak bisa seakrab layaknya pasangan lainnya. Ada perasaan yang terjeda dalam diri Wei untuk mengungkapkan seutuhnya perasaannya pada Hana. Sikap Wei lebih terlihat formal dan kaku. Wei yang sudah satu minggu ini sibuk dengan pekerjaannya seperti Steve, belum sempat mengunjungi Hana kembali.


"Baik kak Wei."


"Malam ini aku.. ke rumah ya?" Tiba-tiba Wei berinisiatif untuk mendatangi Hana.


"Mmmm.Baik kak.. tapi kalau kakak sibuk jangan terlalu memaksakan diri kak!" Imbuh Hana tidak enak harus menuntut banyak pada Wei. Apalagi akhir-akhir ini Wei banyak tersita waktunya untuk mengurusi permasalahannya Hana.


"Gak pa-pa. Kayanya aku sudah bisa santai. Lagian hampir satu minggu ini aku tidak melihat perkembangan kamu Hana. Bagaimana dengan terapinya?" Ucap Wei menunggu kabar kemajuan Hana.

__ADS_1


"Baik kak Wei. Walaupun masih sedikit peningkatannya tapi dokternya mengatakan ada progres yang positif." Kabar Hana pada Wei memberitahukan perkembangan kesehatannya.


"Oh.. baguslah. Aku senang mendengar hal itu. Semoga kamu bersabar ya!" Ucap Wei menyemangati Hana.


"Iya kak Wei. Terima kasih kak Wei! Sudah memberikan suport dan dukungan bagi Hana." Hana sangat senang sekali mendengar Wei memberinya semangat.


"Sudah dulu ya! Sampai ketemu nanti!' Imbuh Wei pada Hana.


"Iya kak Wei terimakasih!" Hana langsung menutup teleponnya.


Wei mengembalikan handphone Steve ke tangannya.


"Nanti malam beneran kamu mau mengunjungi Hana?" Tanya Steve memastikan Wei.


"Hhmm." Jawab Wei pendek.


"Wei.. Maaf kalau sekarang aku akan protektif pada Hana. Jujur ya Wei! Aku mau bertanya sama kamu sebagai seorang laki-laki. Apa Hana begitu menarik secara fisik?" Steve ingin memastikan Wei, apakah dia tertarik secara fisik pada Hana, karena keadaannya memang sedang lumpuh.


"Menurut mu?" Wei malah bertanya balik.


"Wei.. jawab! Aku tidak bisa membiarkan Hana berhubungan denganmu kalau sekiranya kamu tidak memiliki cinta padanya." Tegas Steve tak ingin adiknya menyesal dikemudian hari. Kenapa Steve bertanya seperti itu, karena dia merasa ragu sejak awal pada Wei. Ya ketika dia semasa menjadi asistennya, Steve melihat Wei tidak begitu sungguh-sungguh malah terkesan tarik ulur.


"Bukankan kamu dulu sangat menyukai Hana?"


"Ya. Dulu aku sempat merasa kasihan. Mungkin karena serumah rasa kasihan itu berubah menjadi suka. Dan kamu? Apakah karena kecelakaan itu kamu merasa harus bertanggungjawab jawab padanya? Kamu dari awal hanya pura-pura menjadikan Hana istrimu untuk melindungi dirimu kan Wei?" Steve ingin sekali mengorek perasaan Wei yang sebenarnya.


"Tidak juga. Aku sudah menyukai Hana sejak dulu. Tapi aku lebih banyak menahan diri karena Daniel. Sejak aku mengetahui Daniel sangat mencintai Hana, aku lebih memilih melepasnya. Aku pikir persahabatan lebih penting dari sekadar berebut seorang wanita. Dan sekarang.. aku ingin mencoba untuk menyukainya. Meski terlambat itu lebih baik daripada tidak sama sekali."


"Tapi.. aku pikir hubungan kalian bukan main-main lagi seperti dulu Wei. Kamu akan menghabiskan sisa umur mu dengan Hana.


Bagaimana kalau Hana cacat dan tidak bisa memberikan keturunan padamu?"


"Aku tidak ingin berpikir sesuatu yang belum terjadi Steve. Aku ingin menjalani hubungan dengan Hana sebagaimana pasangan lain. Tidak usah terburu-buru, kita butuh adaptasi. Karena kedekatan kita pun baru dimulai. Tapi aku tak ingin kedekatan ini hanya sebatas pacaran. Aku ingin kedekatan itu tumbuh dengan baik dalam suatu hubungan yang sah."


"Jadi?"


"Apa ibumu setuju Wei?"


"Mulai besok aku akan mengajaknya berkunjung ke rumah. Memperkenalkannya dengan ibuku juga adikku."


"Bagaimana dengan Riana Wei? Dia sangat menyukaimu sudah lama. Apakah kamu tidak memilikirkan perasaannya? Dia sepertinya berharap banyak. Aku sih inginnya kalian saling mengenal dulu lalu menikah. Syukur-syukur Hana sembuh sebelum pernikahan." Steve benar-benar khawatir jika suatu saat Hana kan dilecehkan karena keadaannya yang cacat.


"Harus menunggu berapa lama? Aku tak ingin hubungan yang tak pasti. Sedangkan kita juga sudah tidak muda lagi. Cukup umur untuk membina rumah tangga." Ucap Wei memastikan dirinya bisa mendapatkan kepastian. Karena kesembuhan Hana belum bisa dipastikan. Sedangkan dia tak mempermasalahkan hal itu untuk bisa menikahinya.


"Sebaiknya kalian pendekatan saja lebih dulu. Aku tak ingin nantinya ada penyesalan. Kalian yang menjalani kehidupan ini. Aku akan mendukung selama itu adalah untuk kebaikan Hana." Ucap Steve sebagai kakak akan benar-benar protektif pada adiknya jika memang Wei tidak sungguh-sungguh.


"Baik.. beri aku kesempatan untuk pendekatan. Nanti malam aku akan menemuinya. Aku ingin berbicara lebih dekat dengan Hana." Wei seolah minta izin pada Steve untuk bisa bertemu dengan Hana.


Steve mengangguk setuju. Dan Wei pun keluar dari ruang kerja Steve untuk kembali ke kantornya.


Steve menekan salah satu nomor.


"Halo tuan Steve." Suara perempuan di seberang telepon menjawab.


"Nyonya Kim... tolong siapkan menu untuk acara makan malam. Wei akan bertamu sebagai tamu spesial." Steve tak ingin mengecewakan Wei juga Hana.


"Maksud tuan?" Nyonya Kim masih belum jelas atas maksud pembicaraan Steve.


"Nyonya Kim pasti tahu masakan apa yang disukai Wei. Maka buatkan lah! Nanti malam dia akan datang bertandang ke rumah ku untuk menemui Hana. Aku percayakan semuanya padamu." Ucap Steve.


"Baik lah tuan muda Steve. Saya akan persiapkan segalanya." Nyonya Kim tanpa banyak bicara lagi langsung menyanggupi apa yang diminta Steve.


Steve melanjutkan pekerjaannya setelah tanggungjawabnya untuk Hana diserahkan pada Nyonya Kim selalu kepala pelayan.

__ADS_1


Bagaimanapun Steve tak mau membuat Hana kecewa. Banyak hal yang harus dipikirkan oleh Steve tentang Hana. Dia adiknya sekaligus pemilik perusahaan ini, jangan sampai dia mempunyai suami yang tidak bertanggung jawab apalagi pisik Hana yang tidak sempurna saat ini membuat Steve lebih khawatir.


Sementara itu Hana yang sudah mendapatkan kabar bahwa Wei malam ini akan datang ke rumahnya, hatinya sangat berbunga-bunga. Dia dibantu Rara memeriksa semua isi lemarinya untuk memilih baju mana yang pantas dipakainya. Dipandangi nya satu persatu baju-baju yang tergantung di lemari lalu dikeluarkan dan dia membolak-balikan pakaian-pakaian itu dan berakhir di atas ranjang bertumpuk dan dinilainya seperti tak pantas. Padahal baju-baju itu semuanya bermerk, bahkan tak semua pernah dipakai nya alias masih baru.


"Nona.. apa mau dibantu untuk pergi ke butik? Sekalian nona perawatan." Ucap Rara yang sudah bingung dengan semua tumpukan baju tapi tak ada satupun yang terpilih.


"Menurutmu aku pantas memakai baju seperti apa? Aku ingin kelihatan lebih baik." Maksud Hana mungkin ingin tampil lebih cantik juga menawan di hadapan Wei.


"Menurut saya, nona sudah cantik. Memakai baju apa saja juga tetap cantik. Mungkin untuk acara makan malam lebih baik memakai baju sedikit agak cerah itu lebih baik." Rara akhirnya merekomendasikan satu pilihan untuk Hana.


"Baiklah.. aku akan ikuti saran mu. Kalau kita harus pergi ke butik, kita siapkan mobil sekarang untuk berangkat." Hana nampak sekali bersemangat.


"Baik nona. Saya akan persiapkan Doni untuk menyiapkan mobil." Rara keluar kamar lalu menyuruh pelayan untuk membereskan semua baju yang terserak di atas kasur agar kembali pada tempatnya.


Hana menggerakkan jari-jari kakinya yang sudah mulai bisa bergerak walau belum bisa bertenanga untuk diayunkan. Dia masih membutuhkan tangannya untuk memindahkan kedua kakinya karena masih terasa mati rasa.


Hana menggeserkan kursi rodanya ke dekat tepian kasur agar Hana bisa leluasa memindahkan badannya ke kasur untuk memilih pakaian yang akan dipakai keluar sekarang.


Perlahan Hana menepikan tangannya terlebih dahulu untuk menopang berat tubuhnya dan dia mulai merangkak. Hana tak ingin terlihat lemah, semangat juangnya untuk sembuh sangat tinggi.


Nafas Hana terengah begitu semua badannya sudah ada ditepian kasur.


"Nona... " Seorang pelayan yang baru masuk agak terhenyak melihat Hana sudah berpindah tempat dari kursi roda ke tepian kasur.


"Kenapa anda tidak menunggu saya untuk membantu Anda berpindah tempat?" Raut wakah sang pelayan terlihat khawatir. Dia mungkin takut kalau ketahuan dia lalai akan dimarahi oleh Rara yang mungkin saja akan berakhir dengan pemecatan.


"Tidak apa-apa. Aku harus berusaha mandiri agar otot-otot ku semakin kuat." Ada rasa puas yang Hana rasakan dengan pencapaian nya dan kemajuan kesehatannya sampai saat ini. Walaupun hanya sedikit, tapi Hana berusaha mensyukurinya. Bukankah ketika dia masih bayi, dia butuh waktu untuk bisa berjalan. Maka Hana akan menikmati prosesnya seperti layaknya seorang bayi.


"Anda akan berganti pakaian?" Pelayan itu akan membereskan baju-baju yang telah berserakan juga bertumpuk di kasur.


"Iya." Hana mengangguk.


"Mana yang akan anda pakai?" Pelayan itu langsung mengangkat satu persatu sambil memperlihatkannya pada Hana.


"Yang ini saja." Hana menunjuk satu gaun berwarna pict.


"Baik nona.. apa mau saya bantu?" Pelayan tadi menawarkan bantuan.


"Tidak akau akan menggantinya sendiri. Kamu bisa keluar dulu?"


"Baik." Pelayan itupun keluar untuk memberikan ruang pada Hana berganti pakaian.


Setelah siap Hana pun pergi diantar Rara juga Doni ke sebuah butik ternama di daerah Jakarta.


Seorang pelayan butik menyambut ramah. Dia memilihkan merekomendasikan beberapa baju keluaran terbaru yang cocok dipakai Hana.


Setelah selesai Hana pergi ke spa juga salon untuk perawatan. Tak terasa waktu pun sudah menjelang malam. Hana pun kembali ke rumah dengan perasaan senang.


"Wah.. kamu cantik sekali malam ini." Puji Steve ketika Hana sudah terlihat rapih siap menyambut Wei.


Hana tersipu malu, dia menepikan rambutnya ke belakang telinga.


"Jam berapa Wei akan datang?" Steve menatap Hana tersenyum.


"Katanya jam delapan." Jawab Hana.


"Wah.. sebentar lagi ya!" Steve ikut berdebar-debar. Padahal Wei sering datang ke rumahnya.


Untuk mengisi waktunya Steve menonton televisi bersama Hana. Tanpa terasa waktu berjalan melewati jam 8. Nampak Hana seperti gelisah.


"Kak.. apakah benar Wei akan datang?" Hana menoleh ke arah Steve.


"Iya. Sebentar kakak telepon dulu." Steve membuka layar pipinya dan menghubungi Wei. Namun beberapa kali nomor itu diulang ditekan jawabannya selalu tidak aktif.

__ADS_1


Steve melihat jam dinding hampir jam 10 malam. Berarti dua jam sudah berlalu dari janji Wei yang akan mendatangi rumahnya.


"Sebaiknya kamu istirahat saja! Mungkin Wei mempunyai halangan lain." Ucap Steve.


__ADS_2