Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Kebersamaan


__ADS_3

"Wah dua bidadari ayah sudah siap makan. Mari kita merayakan hari kembalinya keluarga kita." Tuan Hans nampak. sangat bahagia sekali.


"Yah kita harus berfoto nih!" Caterina memberi ide.


"Oh iya hampir saja ayah lupa."


"Steve coba pasang kamera biar kita bisa mengabadikan moment ini." Tuan Hans menyuruh Steve membawa kamera.


"Oke deh!" Steve berdiri hendak membawa kamera.


"Tidak lama kemudian Steve muncul membawa kamera dan dudukannya.


"Aku pasang dulu ya. Biar masakan ayah ikut kebawa." Steve mengatur posisi.


"Nah ini kayanya sudah bagus. Aku pasang mode otomatis deh!" Steve memasang mode otomatis agar momen kebersamaan ini bisa semuanya ikut tampil di foto.


"Oke. Kita siap-siap!" Semua orang tengah memasang senyuman terbaiknya.


pret


pret


pret


Jepretan foto pun kini mulai memainkan aksinya sendiri.


"Selesai." Steve mendekati kamera melihat hasil jepretannya.


"Aku lihat dong kak!" Caterina mendekati Steve melihat objek dalam foto.


"Ih bagus banget. Seneng nya... kita berkumpul. Wah rasanya pengen tiap hari kaya gini. Dunia serasa hangat. Akan lebih hangat lagi kalau ayah segera punya menantu dan cucu. Kayanya lebih seru deh! Celetuk Caterina yang tanpa beban bicara sesuai dengan yang ada dipikirkannya.


"Wah siapa nih yang duluan?" Tuan Hans menatap Steve dan Hana silih berganti.


"Ya.. yang sudah dilamar pastinya yah!" Jawab Steve sambil menyiduk nasi dan lauk pauknya.


Tuan Hans sengaja memasak banyak menu untuk merayakan kebersamaannya hari ini. Tentu saja menu yang disukai semuanya ada di depan meja.


"Yah namanya jodoh kak gak bisa begitu. Bisa jadi malah kakak duluan. He he.. tapi ngomong-ngomong kak Steve ada calonnya gak sih?" Caterina menengok Steve yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Uhuk.. Uhuk." Steve terbatuk -batuk mendengar Caterina berbicara. Adiknya yang satu ini memang kalau bicara tanpa sensor. Apa yang dipikirannya langsung bicara.


"Wah kakak. sampai keselekan gitu. Minum dulu kak biar ada persiapan menghadapi mertua." Caterina terkekeh menggoda kakak laki-laki nya ini.


"Kamu.. ayo makan! Jangan menggoda kakakmu! Kasian kan keselekan begitu." Sela Maria yang menasehati Caterina agar segera menyiduk makanan.


"Oke Juliet. Ananda makan deh! Goda Caterina pada ibunya, Maria.


"Hana.. ayo makan yang banyak sayang. Ayah sengaja masak banyak untuk kamu." Tuan Hans tersenyum melihat Hana.


"Wah kak.. kita ada kompetitor nih! Bagaimana?" Wajah Caterina pura-pura sedih mendengar ayahnya menyuruh Hana makan banyak.


"Ih cemburuan gitu!" Tukas tuan Hans.


"Ah.. aku juga pengen digituin kaya kak Hana!" Rajuk Caterina pura-pura manja.


"Iya deh ananda yang cantik dan juga bawel. Silahkan tuan putri makan! Cepet besar dan berhasil." tuan Hans membalas candaan Caterina.


"Iya tuan King yang baik hati dan pintar memasak. Princess mau makan nih!" Caterina berlagak kaya tuan putri.


"Iya princess nya ayah yang paling cerewet Kaya siapa ya?" Tuan Hans pura-pura dengan model berpikir dia menaruh tangannya di dagu seperti sedang berpikir.


"Kaya ayahlah.. " Maria langsung menjawab


"Kaya apanya mam?" Steve melihat ke arah Maria.


"Ayahmu kan cerewet sekali. Turun tuh ke anaknya yang mengaku princess.


"Ha ha.. " Steve menertawakan Caterina. Hana hanya tersenyum melihat interaksi antar anggota keluarga Steve.

__ADS_1


"Ga pa-pa ya yah? Tos dulu dong!" Caterina mengajak ayahnya tos telapak tangan.


"Wah ada pesta nih... " Suara seseorang mengagetkan semuanya yang ada di meja makan.


"Wei... sini nak! Wah kebetulan kamu datang. Ayo duduk kita makan bersama. Nih paman masak banyak yang belum tentu habis. Untung kamu datang." Tuan Hans menyodorkan piring tambahan yang diambil Maria dari kitchen.


"Terimakasih paman! Ini saya mengganggu acara kalian tidak?" Wei melihat paman Hans dan bergantian melihat orang yang ada di sekitar meja makan.


"Tidak Wei... malah kami senang." Jawab Steve.


"Kak Wei datang saat yang tepat." Caterina tersenyum ramah pada Wei. Yang kebetulan duduk di samping Caterina. Wei mengusap lembut pucuk kepala Caterina yang imut.


"Ayo makan! Keburu dingin, nanti kurang enak lama dianggurin!" Tuan Hans mengajak semuanya untuk segera makan.


Meja makan kini jadi saksi kehangatan mereka berkumpul dalam satu meja. Mereka terlihat senang dan bahagia setelah beberapa tidak berkumpul bersama.


"Bagaimana keadaan perusahaan?" Wei bertanya pada Steve.


"Aku belum tahu karena baru saja diangkat." Jawab Steve sambil mengunyah makanan.


"Wah selamat ya! Steve dia jadi CEO?" Wei kaget bercampur senang mendengat kabar Steve. Tak menyangka Hana akan memberikan jabatan itu pada Steve.


"Selamat juga Hana!" Aku senang mendengar kalian kompak seperti itu.


"Terimakasih! Kami mohon bimbingannya kak Wei." Hana mengangguk kepalanya tanda hormat. Dan meminta Wei untuk membimbing Steve.


"Iya. Tanyakanlah jika kamu punya kesulitan. Kalau aku bisa bantu, nanti kubantu." Jawab Wei sambil mengunyah makanan.


"Terimakasih Wei. Aku berharap kamu bisa membantuku. Apalagi aku kan belum pengalaman memimpin." Sahur Steve pada Wei.


'"Kamu pasti bisa Steve. Kamu asisten andalanku selama ini. Aku pikir kamu juga sudah terlatih menyelesaikan masalah. Jadi tidak akan banyak kendala." Terang Wei.


"Iya terimakasih. Saya harap Wei bisa membantu Steve. Karena kami harus kembali ke Perancis." Jelas tuan Hans.


"Paman mau kembali kapan?" Wei agak tercengang mendapatkan informasi bahwa tuan Hans akan kembali ke Perancis.


"Kalau tidak keberatan. Doni sama Rara bisa menjaga Hana. Bagaimana Steve?" Wei melirik ke arah Steve.


"Boleh. Lagian mereka pernah menjaga Hana sebelumnya." Steve setuju dengan usulan Wei.


"Nanti aku kirimkan bersama nyonya Kim untuk melayani kalian. Steve akan sibuk sekali bukan?" Wei sudah bisa memperkirakan kesibukan Steve diawal menjabat di perusahaan.


"Wah, maafkan ya sudah merepotkan nak Wei!" tuan Hans berbasa-basi.


"Tidak paman. Aku tidak merasa direpotkan. Lagian mereka sebelumnya pernah melayani Hana. Hana pun harus fokus terapi pengobatan. Jadi kalau sudah ada pelayan untuk Hana, tuan Hans dan keluarga bisa tenang meninggalkan Hana disini." Terang Wei.


"Baiklah kalau begitu. Ayah jadi tenang Hana meninggalkan Hana disini bersama Steve. Nanti juga ayah akan datang lagi sesudah urusan ayah selesai di sana. Karena karyawan ayah cukup lama ditinggalkan juga. Jadi ayah harus mengontrol mereka selama ditinggalkan ayah." Tuan Hans yang mempunyai usaha restoran dan Hotel mengkhawatirkan perkembangan usahanya yang cukup lama ditinggalkan.


"Baik ayah. Hana berterima kasih atas kebaikan ayah, mama juga Caterina yang selama ini menemani Hana disini. Pastinya Hana akan merindukan kalian semua." Mata Hana mulai berkaca-kaca.


"Ah.. kak Han.. aku juga akan kesepian lagi. Aku akan kembali kesini walau ayah dan mama di Perancis. Aku lebih senang tinggal disini ayah.. " Wajah Caterina begitu memelas.


"Iya nanti kamu bisa kembali kesini jika urusan di sana sudah selesai. Kamu juga sudah lama bolos sekolah. Pastinya akan banyak ketinggalan pelajaran. Sebaiknya kamu fokus dulu belajar dan sekolah. Nanti kita akan pikirkan rencana selanjutnya." Tuan Hans memberi saran pada Caterina agar fokus belajar dahulu.


"Iya ayah.. tapi aku sedih.. harus berpisah dengan kalian." Caterina menatap silih berganti Hana dan Steve.


"Kamu boleh tidur sama kakak malam ini. Asala jangan rusuh!" Jawab Hana yang merasakan perasaan adiknya yang akan segera meninggalkan Indonesia.


"Asikkk." Pekik Caterina sambil mengacungkan kedua tangannya.


Mereka tertawa melihat kelakuan Caterina yang ekspresif dan tanpa beban. Dia terlihat sangat bahagia sekali diperbolehkan satu kasur dengan Hana. Selama ini Caterina merindukan sosok kakak perempuan yang bisa diajak bercerita ataupun curhat.


Setelah acara makan selesai. Mereka berpindah ke ruang keluarga sambil makan cemilan dan diselingi obrolan kecil.


Hana memilih masuk kamar bersama Caterina. Mereka asik bercerita tentang masa lalu juga hal-hal yang membuat mereka gembira.


"Maaf paman. Hana mungkin sebentar lagi akan mendapatkan surat panggilan dari pengadilan kota B berkenaan dengan kematian Daniel. Saya harap Hana sudah menyiapkan diri. Saya sebenarnya datang kesini untuk mengabarkan hal ini." Wei menceritakan awal niat mendatangi kediaman Steve untuk memberitahukan masalah persidangan


"Oh begitu ya? Steve kamu bisa membantunya kan?" Tuan Hans melihat ke arah Steve.

__ADS_1


"Apa saja yang harus disiapkan untuk persidangan Wei?" Steve pun belum ada pengalaman dalam bidang ini menanyakan apa saja yang harus dipersiapkan.


"Mungkin nanti kita bisa ngobrol dengan pengacara ya. Baiknya harus bagaimana. Karena Hana sendiri tidak mau membahas kejahatan ibunya Daniel. yang telah lalu. Jadi kita tak bisa memaksakan pada Hana untuk mengadukan semua kejahatannya. Cukup mungkin hukuman tentang kematian Daniel yang bisa diungkapkan. Tapi lebih jauhnya kita besok berbicara dengan tim pengacara.


"Aku akan sibuk sekali Wei. Apakah kamu bisa mewakili Hana menemaninya?"


"Baik. Aku akan meluangkan waktu untuk menemani Hana. Kamu bisa tenang bekerja. Kamu juga belum punya asisten kan Steve?" Wei yang sudah pengalaman menanyakan asisten Steve yang akan membantu nantinya bekerja.


"Belum. Aku paling mengandalkan sekertaris yang ada dulu. Aku belum tahu kinerja mereka sejauh mana bisa membantuku." Steve mengambil inisiatif mengandalkan sekertaris nya dahulu yang sudah ada di perusahaan.


"Ya bagus. Soalnya aku juga begitu kerepotan ketika kamu keluar Steve. Sekarang aku mengandalkan Rei sebagai pengganti kamu." Terang Wei pada Steve yang merasa cocok. dengan Rei setelah Steve keluar dari perusahaannya.


"Iya. Aku pastinya harus bisa membuktikan pada dewan direksi dan para pemegang saham tentang kemampuan ku pada mereka. Itu bukan perkara mudah bukan? Apalagi posisiku hanya menggantikan Hana di perusahaan. Beban aku lebih besar ketimbang seperti engkau Wei." Terang Steve pada Wei.


"Iya aku mengerti. Jangan sungkan jika kamu membutuhkan bantuan dariku!" Jawab Wei memberikan suport dan dukungan pada Steve.


"Steve aku.. kayanya harus pulang sekarang. Hari sudah malam. Kamu juga harus istirahat!" Wei melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Iya baiklah! Kamu bawa sopir?" Tanya Steve.


"Bawa. Kebetulan tadi memang aku sudah lelah juga. Tapi ingin menemuimu dulu penasaran dengan kondisi di perusahaan Hana. Takutnya kamu ada kendala." Wei berdiri dari kursinya.


"Paman, bobo saya pamit dulu sudah malam." Pamit Wei pada tuan Hans juga Maria yang masih nonton televisi di ruang keluarga.


"Oh iya Wei.. Hati-hati ya nak! Jangan lupa istirahat yang baik!" Pesan tuan Hans pada Wei.


"Iya paman. Terimakasih atas jamuannya ya paman, bibi. Sungguh saya merasakan lagi masakan paman yang sungguh enak di lidah." Wei tersenyum bahagia yang sudah lama sekali tidak merasakan masakan tuan Hans.


"Iya. Kapan-kapan kita berkumpul lagi. Nanti paman siapkan masakan yang lain."


"Iya terimakasih paman. Saya pamit." Wei bersalaman dengan tuan Hans juga Maria. Lalu diantar Steve keluar menuju area parkir rumah Steve.


"Aku pulang dulu ya!" Wei pamit lalu masuk mobilnya.


"Iya hati-hati di jalan!" Steve melongokkan dan mencondongkan badannya ke jendela mobil Wei.


Mobil pun berlalu dari hadapan Steve. Dia masuk ke dalam rumah.


"Sudah pulang?" Tuan Hans menanyai Steve.


"Sudah." Jawab Steve.


"Ayah dan mama belum mengantuk?" Tanya Steve pada pasangan yang masih menonton televisi.


"Sebentar lagi Steve. Sambil menunggu turun makanan di perut." Kekeh tuan Hans.


"Ya sudah aku mau melihat Hana dan Caterina. Aku penasaran mereka sedang apa sih?" Steve berjalan menuju kamar Hana.


"Halo. Kalian pada ngapain sih? Asik bener!" Steve mendekati mereka yang sedang tertawa entah sedang mengobrolkan apa.


"Ini kak Steve. Kak Hana sedang menceritakan ketika jadi guru. Lucu-lucu ceritanya." Caterina tertawa asik mendengarkan cerita Hana.


"Boleh aku ikutan?" Steve duduk di pinggir kasur menemani kedua adiknya.


"Ah kakak sana! Ini obrolan antar cewek. Kakak sana!" Usir Caterina pada Steve.


"Eh kakak harus tahu. Apa kalian sedang menceritakan laki-laki? Jangan sampai kakak tidak tahu pacar kalian! Kakak harus seleksi laki-laki pilihan kalian jangan sampai salah memilih." Protes Steve. pada kedua adiknya.


"Lah... kakak so mau menyeleksi. Kakak sendiri belum punya pacar kan?" Caterina malah membalikkan perkataan Steve.


"Eh kalian kan perempuan. Pastinya. Kalian akan lebih dahulu menikah. Kakak akan jaga kalian jangan sampai kalian salah memilih calon suami." Steve begitu protektif pada kedua adiknya.


"Ah.. kak Steve. Eh kak. kalau kak Wei menurut kakak bagaimana?" Caterina menanyakan tentang Wei.


"Kenapa? Kok tiba-tiba menanyakan kak Wei sih?" Protes Steve.


"Kan kak Hana waktu di rumah sakit pernah dilamar kak Wei. Menurut kakak dia baik gak sih?" Caterina malah lebih aktif bertanya ketimbang Hana.


"Ya secara umum sih baik. Tapi kakak gak tahu ya.. kalau keluarganya. Dia kan punya adik perempuan dan mamanya yang harus dijaga Wei setelah sepeninggal ayahnya. Terus menurut kakak.. mending kamu fokus dulu berobat Hana! Kakak agak khawatir jika keadaanmu seperti ini apakah calon mertuamu akan menerimanya tidak? Tetap saja buat aku, Wei laki-laki sempurna yang bisa mencari perempuan lain. Kakak harap kamu mending fokus dulu sampai sembuh. Biar kamu bisa menyeimbangkan diri kamu dengan suami juga keluarganya." Steve mengungkapkan kegelisahannya terhadap Hana seorang.

__ADS_1


__ADS_2