
"Kak.. aku minta izin untuk pergi ke Bandung bersama Caterina. Aku ingin mengisi waktu dengan mengajar di sana." Hana meminta izin ingin pergi ke Bandung bersama Caterina. Setelah beberapa masalah datang bertubi-tubi rasanya dia ingin menyepi dan berdamai dengan dunia. Hana ingin mencari hiburan yang bermanfaat. Karena di Bandung lah hatinya bisa terasa damai. Jika di Jakarta tak ada yang bisa dikerjakannya sehingga pikirannya akan tertuju pada masalah.
"Baiklah. Kakak mengizinkan kamu menemani Caterina ke Bandung agar dia ada yang menemani dan kamu juga ada kegiatan di sana." Steve tak bisa melarang Hana untuk tidak pergi. Dia tahu pembatalan pernikahan Hana sangat memukul mental Hana. Dia perlu waktu untuk menghibur dirinya dengan cara lain.
"Terima kasih kak." Ucap Hana memeluk Steve. Ada perasaan damai ketika memeluk laki-laki itu. Andaikan dia bukan saudaranya, mungkin dia bisa jatuh cinta pada Steve.
Steve mengecup pucuk kepala Hana. "Pergilah! Temukan kebahagiaan kamu! Kakak tidak akan melarang apapun jika itu bisa membuatmu bahagia. Maafkan kakak ya tidak bisa menemanimu di sana!" Ucap Steve sambil mengelus rambut Hana.
"Gak pa-pa kak. Malah aku yang harus banyak minta maaf sama kakak. Aku selalu dibutakan oleh cinta dan tak melihat realita. Semuanya adalah salah aku kak." Sekarang Hana mampu menerima segala konsekuensi yang telah diperbuatnya.
"Mmm.. pasti ada hikmah di balik itu Hana. Kalau sudah jodoh dia tak akan lari kemana." Ucap Steve memberi dukungan pada Hana.
Steve merasa salut pada Hana. Sekian banyak ujian bisa dilalui dengan baik. Perempuan tangguh ini selalu saja tersenyum dan bersemangat kembali. Dia berharap suatu hari akan datang seorang laki-laki yang akan menyayanginya sepenuh hati dan seumur hidupnya. Steve merasa kasihan juga melihat Hana di gonjang ganjing dengan perasaan yang tak pasti. Baginya dia adalah adik kesayangannya. Tak boleh ada satu laki-laki pun yang akan menyakitinya kembali.
"Ayo kakak! Apa kakak sudah bilang sama kak Steve bahwa kita akan ke Bandung?" Caterina mendekati keduanya menunggu kepastian apakah Hana diizinkan Steve untuk ikut atau tidak.
"Iya. Baru saja kak Steve mengizinkan." Ucap Hana melepaskan pelukannya dari sang kakak.
"Aku juga ingin dipeluk dong!" Caterina langsung memeluk Steve dari samping. Anak manja ini selalu saja seperti itu.
Steve membalas pelukan Caterina dengan penuh sayang.
"Kalau nanti aku punya pacar kalian gak boleh lagi kaya gini! Nanti mereka bisa cembury!" Ucap Jacky melepaskan pelukan dari Caterina.
Caterina mendongak. "Emang kakak sudah punya pacar? Gak yakin aku." Caterina malah tidak mau melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Ya.. kakak kan bilang nanti, bukan sekarang." Jawab Steve tak mau kalah berdebat.
"Ya udah. Kalau belum ada kita boleh meluk kaya gini. Nanti juga aku akan meluk laki-laki lain selain kakak." Ucap Caterina asal.
"Eh apa? apa?" Steve seketika kaget mendengar Caterina akan memeluk laki-laki lain selain dirinya.
"Ya iyalah.. nanti aku kan punya suami kak. Aku akan meluk dia juga. Masa iya meluk kakak terus, bosan kan?" Ucap Caterina.
"Apa bosan? Bisa-bisanya kamu bilang bosan!" Steve langsung menggelitik Caterina seperti anak kecil.
"Mama.. tolong kak Steve nakal.. " Teriak Caterina menggema.
Tuan Hans dan nyonya Maria mendekati mereka bertiga di ruang keluarga.
"Mmm.. sudah gede saja masih saja kelakuannya kaya gitu. Pantas aja belum punya pacar." Ucap tuan Hans tersenyum bahagia.
"Kalian kapan berangkat?" Tanya Steve pada Hana dan juga Caterina.
"Mmm.. besok kak." Jawab Hana.
"Baiklah besok aku akan cansel pekerjaan untuk mengantarkan kalian ke Bandung. Ayah sama mama ikut juga?" Tanya Steve.
'Mmm.. rencananya ayah sama mama mau liburan dulu sambil mencari rumah yang dekat dengan kang Gavin. Mereka gak mau jauh-jauh dari kang Gavin. Katanya biar bisa ikut kajian." Ucap Tuan Hans.
"Ya baiklah. Kalau kalian ada rencana beli rumah di sana. Jadi kapan-kapan datang ke sana ada tempat tinggal." Steve merasa tenang jika Hana dan Caterina ada tempat tinggal.
__ADS_1
"Sekalian aja cari pembantu dan sopir yang suami istri agar kalau kalian pergi-pergi ada yang mengantar." Steve memberi saran agar ayahnya sekalian mencari Art dan sopir.
"Iya, nanti ayah bilang ke kang Gavin. Untuk membantu mencarikan Art. Ayah kan tidak bisa cari sembarangan. Harus orang yang terpercaya."
"Mmm.. kak. Rara dan Doni katanya gak mau keluar dari kita. Maunya dia ikut dengan kita terus. Dia merasa nyaman tinggal sama kita." Tiba-tiba Hana mengatakan hal itu pad Steve.
"Tapi.. merekan kan orang nya Wei. Bisa saja Wei menyuruh mereka tetap tinggal bersama kamu buat mengawasi kamu Hana." Steve kurang setuju dengan Hana.
"Tapi katanya sih, meski dia tidak kerja sama kita mereka memilih untuk tidak berkerja lagi sama kak Wei." Ucap Hana merasa kasian melihat nasib mereka.
"Ya Sudah. Kalau ku mau mereka jadi bodyguard kamu. Nanti tinggal cari Art saja. Biar gaji semuanya kakak yang bayar termasuk rumah yang akan dibeli." Steve tak mau Hana merasa ditolak. Dia ingin hari ini Hana bahagia.
"Ma kasih Kak.. " Ucap Hana kembali memeluk Steve.
"Kalian kalau seperti ingin terus, akan membiarkan kakak terus jomblo. Kakak juga mau kaya yang lain pacaran dan menikah. Tapi kalau kalian nempel kaya gini rasanya jadi enggan untuk cari pacar." Canda Steve pada adik-adiknya.
"Ah.. kak Steve bukan jomblo. Tapi memang gak ada niat. Masa secakep ini gak ada yang mau?" Ucap Caterina agak heran dengan kakaknya yang satu ini.
"Iya nanti kita carikan jodoh saja dek. Biar langsung ke pelaminan. Gak ada kata pacaran lagi, udah gak pantes pacaran." Ucap Hana sambil tertawa.
"Eh.. kamu ngece ya sama kakak." Steve sekarang menggelitik Hana.
"Ampun kak.. ampun." Hana gak kuat digelitik meminta Steve untuk menghentikan aksinya.
"Ah.. kalian sudah jangan bercanda terus. Ayah sudah memasak tuh! Kita sekarang makan. Nanti malah keburu dingin." Tuan Hans dan nyonya Maria bergerak menuju ruang makan diikuti ketiga anaknya.
__ADS_1
Sore itu mereka menikmati makan bersama dengan perasaan bahagia. Tuan Hans mengamati satu persatu anak-anaknya yang mungkin sebentar lagi akan berpisah mencari kebahagiannya sendiri.
Dia berharap kebahagiaan ini akan selalu hadir. Dia tak ingin anak-anaknya bersedih. Cukuplah ujian yang kemarin yang sangat menguras energi dan emosinya.