Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Sebuah kejelasan


__ADS_3

"Hana.. apa kamu sudah tidur? Aku begitu merindukan mu." Wei mengetikkan pesan di layar handphone nya. Ditatapnya lamat-lamat pesan itu. Ada ruang hampa yang kini terasa kosong dalam hatinya. Dia teramat ingin bertemu dengan Hana meski kini hubungannya sudah purus.


"Apa aku pantas mengirimkan pesan ini padanya?" Gumam Wei belum juga menekan perintah send pada layar handphonenya. Dia sedang berpikir apakah Hana akan menerima dengan baik pesan itu atau bahkan menghapusnya? Pikiran Wei seharian itu tak bisa berpikir jernih. Dalam kepalanya hanya diisi dengan bayangan Hana sehingga pekerjaannya banyak yang terbengkalai.


Tanpa dia sadari jari jempolnya malah bicara lebih dulu ketimbang pikirannya sehingga tombol send pun tertekan. Dan akhirnya pesan itupun terkirim pada Hana.


"Yah.. " Wei menatap heran pada layar handphonenya yang memberikan laporan bahwa pesan tadi terkirim dengan tanda ceklis dua hitam di layar itu.


"Ya ampun... " Wei menepuk jidatnya sendiri. Sikapnya mendadak seperti anak remaja yang sedang bucin.


Dia beguling-guling di kasur sambil menutup kepalanya dengan bantal. Pikirannya yang tidak karu-karuan menyalahkan dirinya yang seperti orang bodoh memberitahu Hana bahwa dirinya sedang merindukan nya.


"Bodoh-bodoh... " Wei beberapa kali merutuki kebodohannya karena mengirimkan pesan itu pada Hana. Padahal dalam hatinya yang paling dalam dia berharap besar Hana akan menjawab pesannya dengan jawaban yang dia harapkan.


Wei tak berani melihat layar handphonenya. Setelah mengirimkan pesan itu disimpannya benda pipih itu di samping bantal dan dia menutup wajahnya seperti sedang menanggung malu dengan kedua telapak tangannya.


Di lain tempat Hana juga termenung. Apakah perlu dia membuka pesna itu atau tidak. Meski kecewa, tapi rasa cinta Hana yang besar tidaklah mudah untuk hilang begitu saja. Perasaan rindu yang besar masihlah ada meski terhalang oleh kecewanya.


Perlahan Hana mengusap layar itu dan menatap nya lamat-lamat.


"Ah... apa salahnya jika aku membuka pesan itu? Toh akhirnya kita juga memang berpisah." Gumam Hana lirih.

__ADS_1


Dia pun membuka peaan Wei lalu membacanya.


"Mmmm... gombal sekali. Memangnya aku cewek gampangan apa?" Hana berkata ketus. Rasa kesal sedange mendominasi dirinya, padahal jauh dalam lubuk hatinya Hana merasa senang Wei mengirimkan pesan itu. Buktinya sekarang dia masih menatap layar itu dan membaca pesan itu berkali-kali seperti sedang menghafal ujian saja.


Wei yang sedang dilanda rindu pun tak bisa membiarkan handphonenya menganggur tanpa kejelasan. Diambilnya kembali benda pipih itu dan dilihatnya notifikasi pengiriman. Ternyata pesan yang dikirimnya, kini sudah berubah menjadi centang biru.


"Ah.. dia membacanya." Wei tidak percaya kalau Hana masih mau membuka pesannya. Ada perasaan senang meski belum naik level ke tingkat bahagia. Karena pesannya hanya baru dibaca belum dibalas. Segitu juga sudah lumayan menurut Wei. Hana tidak sampai memblokir nomornya saja sudah keberuntungan yang besar buat Wei. Apalagi dia mau membaca pesannya yang baru saja terkirim. Setidaknya Hana sudah membaca isi hatinya.


Lama layar itu ditatap, tapi jawaban tak pantas muncul. Wei yang melihat status Hana online langsung memberanikan diri menelponnya. Dia tak tahan juga jika harus menunggu dan diabaikan. Biarlah dia merendahkan dirinya sekarang demi bisa menjalin kembali hubungannya dengan Hana.


Setelah putus dengan Hana, ternyata perasaan cunta Wei bukannya hilang malah semakin besar. Dia bertekad akan melanjutkan hubungannya dengan Hana meski dia harus menerima tantangan dari ibunya sendiri.


Kehadiran perempuan lain tak bisa menggantikan perasaan cintanya pada Hana yang kini membumbung tinggi yang sebelumnya tidak sebesar itu. Wei merasa menderita dan hidupnya terasa hampa tanpa ada Hana. Ternyata perasaan cinta nya pada Hana baru bisa dibuktikan besar ketika dirinya berpisah.


Hana kaget dengan panggilan yang kini menyala. di layar handphonenya. Jantungnya kini berirama lebih kencang seiring nada handphonenya yang berdering.


"Hah.. apa yang harus aku lakukan?" Hana terlihat bingung. Apakah dia harus mengangkat panggilan Wei atau menolaknya?


Terus terang Hana ingin melupakan Wei dengan pergi jauh ke Bandung. Tapi nyatanya perasaan rindunya juga tak pantas pergi begitu panggilan Wei datang.


"Kenapa dia menelponku? Dan apa maksudnya dia mengirimkan pesan itu? Bukankah hubungan kita sudah putus?" Hana bicara sendiri sambil melihat handphonenya.

__ADS_1


"Angkat dong Hana... aku kangen sama kamu. Aku yakin kamu juga pasti kangen sama aku." Wei tak sabar menunggu Hana menerima panggilannya.


"Halo.. " Suara lirih Hana terdengar begitu merdu ditelinga Wei saat ini. Padahal suara itu sebenarnya biasa-biasa saja. Entahlah, Wei seperti anak abg yang baru saja jatuh cinta. Perasaan rindunya kini terkabul dengan mendengar suara Hana di seberang telepon.


"Halo Hana... " Panggil Wei dengan wajah sumringah.


"Iya.. ada apa?" Rupanya Hana tak mau basa basi pada Wei saat ini.


"Mmm.. kamu belum tidur?" Tanya Wei basa-basi untuk mengusir kecanggungan.


"Iya. Ada perlu apa?" Hana bicara ketus. Dia mencoba menormalkan perasaannya yang masih dilanda kecewa.


"Mmm... aku.. kangen Hana. Maafkan aku... " Wei tak bisa menahan lagi perasaan rindunya saat ini pada Hana.


"Kamu salah alamat. Seharus nya rindu kamu simpan saja untuk orang lain. Bukankah hubungan kita sudah putus?" Hana tak ingin terlena dengan ucapan Wei yang bisa saja membuat dirinya lemah kembali.


"Tidak. Aku tidak salah alamat Hana. Setelah berpisah darimu, ternyata perasaanku benar-benar menderita Hana. Aku... tak bisa berpisah sama kamu. Aku benar-benar mencintaimu Hana.. " Wei meluapkan isi hatinya yang beberapa hari ini sempat tersimpan.


"Sudahlah.. tak. ada yang bisa kita lakukan selain berpisah. Jika kita memaksakan diri, toh akhirnya kita juga yang akan menderita. Aku tak ingin melukai siapapun atas hubungan kita. Mari kita berpisah dan menjalani hidup kita masing-masing. Aku sudah berusaha untuk menerima kenyataan." Hana berkata tegas meski itu bertentangan dengan hati nuraninya sendiri.


"Tidak Hana.. aku tak mau. Aku akan memperjuangkan cintaku. Maafkan aku yang kemarin yang tidak bisa tegas. Tapi mulai sekarang aku sudah bertekad akan melepaskan semuanya demi untukmu Hana. Mari kita kembali! Aku akan menyerahkan semua perusahaan pada pamanku dan aku ingin hidup bersamamu dari nol." Ungkap Wei yang sudah bertekad bulat akan menyerahkan semua haknya pada adik ayahnya demi hidup bersama Hana.

__ADS_1


"Tidak Wei. Aku tidak mau. Aku ingin memilih jalan lain, jika jalan itu terasa mudah. Aku tak mau menyakiti perasaan banyak orang. Cinta yang tak dilandasi restu orang-tua tak bisa aku erima karena suatu saat aku pun akan menjadi orang tua. Orang tua mana yang tidak sakit hatinya dilukai oleh anaknya sendiri. Aku tak mau Wei. Jadi lebih baik kita berpisah dan ini adalah hal terakhir kita bisa berhubungan. Aku harap kamu tidak menghubungi aku lagi dan jangan pernah mencariku lagi! Cukup ini yang terakhir kita bicara." Hana tak mau dikalahkan dengan perasaan. Dia harus memberi kejelasan pada Wei agar hubungannya ke depan bisa tenang.


"Tidak Hana aku tidak mau." Dada Wei terasa sesak mendengar Hana berkata seperti itu padanya. Dia tidak sanggup harus berpisah dari Hana.


__ADS_2