
Wei beserta ibunya kembali ke rumah. Mereka sekarang sedang menikmati makan malam. di meja makan.
"Wei.. kapan kamu membawa calon kamu?" Nyonya Rosa melayangkan pertanyaan seputar. calon menantunya.
Uhuk.. uhuk.. uhuk
Wei terbatuk-batuk mendengar pertanyaan ibunya.
"Ya nanti kalau mama sudah sehat. Wei akan membawanya bertemu dengan mama." Ada rasa senang di hati Wei begitu ibunya menanyakan hal itu.
"Tapi kamu ingatkan Wei, pesan mama waktu itu?" Nyonya Rosa sedang menguji ingatan Wei.
"Yang mana ma?" Wei mengernyitkan dahi tidak tahu pesan mana yang dimaksud.
"Kamu boleh menikahi Hana, tapi kamu juga harus menikahi juga Riana." Ucap ibunya Wei tanpa merasa berdosa.
Wei menghentikan makannya. "Apa mesti ma?"
"Ya.. izin aku hanya berlaku dengan syarat itu Wei. Kalau kamu tidak setuju, maka kamu tidak bisa menikahi Hana." Rosa tetap pada pendiriannya agar Wei bisa menikahi Riana agar mempunyai keturunan.
Wei menghela nafas panjang. Akankah dia bisa melakukan hal itu? Bahkan jika dia melakukan hal itu, Riana juga Hana bisa tersakiti. Apa. yang harus dia lakukan? Apa lakukan saja dulu menikah dengan Hana, untuk urusan dengan Riana dia bisa mengubahnya jika nanti sudah dapet restu dari ibunya. Pasalnya jika dia menolaknya sekarang, pastinya usaha Wei akan terhambat.
"Baiklah.. Aku akan menikah dengan Hana sesegera mungkin. Dan acaranya akan dibuat lebih sederhana. Hanya akan dihadiri keluarga saja." Ucap Wei sambil melihat ke arah ibunya.
'Itu bagus. Mama setuju." Rosa tahun dengan digelar acara sederhana berita pernikahan Wei tidak akan banyak diketahui. Dan jika nanti menikah dengan Riana barulah acara pernikahan itu akan digelar besar-besaran.
Lain Wei lain ibunya. Wei sengaja menggelar pernikahan sederhana agar Hana nyaman. Jika suatu hari Hana sudah sembuh, dia akan menggelar acara pernikahan itu secara besar-besaran.
Setelah pembicaraan di meja makan Wei naik ke lantai dua menuju kamarnya. Dia duduk ditepian kasur dan membuka layar handphonenya. Dia mengetikkan sesuatu pada Steve lalu mengirimkan maksudnya pada Steve. Setelah itu Wei melemparkan begitu saja benda pipih itu, dan berdiri melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Suara telepon langsung terdengar mendering. Wei yang sedang di kamar mandi tidak begitu mendengar panggilan.
Diseberang sana Steve mengerutkan dahi. "Kemana nih orang? Baru kirim pesan tapi malah susah ditelpon."
Setelah membaca pesan Wei, Steve kaget sekali bahwa dia berencana melamar Hana pada keluarganya. Dan dalam dua minggu ini dia berencana menikahi Hana.
Steve masih termangu. Secepat itukah Wei memutuskan untuk menikahi Hana. Satu sisi dia senang sebagai kakak, satu sisi dia malah khawatir dengan Hana.
Wei selesai membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan pakaian tidur. Setelah itu dia membaringkan tubuhnya tanpa melihat handphonenya lagi. Steve pun tak menelponnya lagi.
Steve berdiri melangkahkan kaki ke kamar Hana. Dibukanya kamar Hana dan Steve tidak berani masuk. Dia hanya melongokkan kepalanya memastikan Hana sudah tidur apa belum. Dari balik pintu terlihat Hana sudah menarik selimut sampai menutupi punggung. Dia tak bergerak, menandakan dia sudah tertidur pulas. Steve kembali ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya sambil berselancar di handphone.
"Apa harus aku beritahu sekarang ayah dan ibu mengenai rencana Wei tentang lamarannya?" Steve sedang menimbang-nimbang keputusannya untuk menelpon kedua orang tuanya.
Dan akhirnya Steve menunda keputusannya itu. Dia berencana besok akan menemui Wei terlebih dahulu agar semuanya pasti.
Keesokan paginya, Steve dan Hana sarapan bersama satu meja.
"Hana.. tadi malam, Wei ada menghubungi kakak. Katanya dia akan melakukan lamaran resmi. Dan akan menentukan acara pernikahan bersama kamu dalam jangka dua minggu ini. Apakah jalan sudah merencanakan hal itu?" Steve meneguk gelas yang berisi susu sambil menanyai Hana.
"Mmm.. dia juga mengirimkan pesan sama aku kak. Aku sih gimana baiknya saja. Tapi kalau bisa kita menikahnya sederhana saja kak. Yang penting kedua keluarga hadir itu sudah cukup buat aku kak." Hana sepertinya tidak mempermasalahkan apapun dengan rencana Wei.
"Hana.. apakah Wei pernah menceritakan rencana setelah pernikahan? Apa kamu akan tinggal dimana? Dan rencana ke depannya akan bagaimana?" Steve ingin tahu detail apa yang direncanakan Wei bersama Han. Dia sangat berhati-hati dengan keadaan Hana, takut keputusan yang dibuat keduanya akan merugikan Hana.
"Aku sih baru denger sepintas kak. Katanya kak Wei ingin tinggal di rumahnya. Karena ibunya dan adiknya masih membutuhkan perhatiannya. Terkecuali kalau adiknya sudah menikah. Itu sih yang aku dengar dari kak Wei." Ucap Hana yang masih polos.
"Kamu sudah kenal belum sama ibunya Wei?" Steve melihat Hana serius.
"Belum kak. Rencana hari ini kak Wei akan mengajak aku ke rumahnya sambil mengenalkannya." Hana sangat semangat menyambut ajakan Wei untuk bisa lebih dekat dengan keluarganya.
__ADS_1
"Mmm.. aku harap kamu harus menguatkan mental ya. Karena pernikahan bukan hanya sekedar menyatukan dua manusia, tapi dua keluarga. Bisa jadi Wei dia baik padamu, tapi kamu akan mempunyai mertua dan adik ipar. Siapkan segalanya dari sekarang!" Ucap Steve Melanjutkan sarapan paginya dengan menggigit potongan roti yang ada piring.
"Iya kak." Hana mengangguk mengiyaka segala pepatah dari Steve.
"Rencananya jam berapa kamu akan pergi ke rumah Wei?" Steve ingin memastikan adiknya pergi ke rumah calon mertuanya.
"Nanti sekitar jam makan siang kak." Hana menghabiskan sarapan paginya lebih dulu daripada Steve.
"Oh.. mau diantar kakak?' Steve menawarkan diri untuk mengantarkan Hana.
"Tidak usah kak. Nanti aku akan pergi dengan Rara dan Doni saja. Biar aku bisa leluasa mengenal keluarga kak Wei. Kalau ada kakak nanti mereka canggung." Tolak Hana dengan halus.
"Ya sudah kakak doakan ya semoga lancar." Steve berdiri lalu memakainya jasnya akan pergi ke kantor.
"Aamiin Terima kasih kak." Hana tersenyum bahagia. Steve mencium pucuk kepala Hana berpamitan untuk pergi bekerja. Hana mengantarkan Steve sampai pintu utama rumahnya.
"Dah.. " Hana melambaikan tangannya begitu Steve masuk ke dalam mobilnya
Steve membalas lambaian tangan Hana sambil tersenyum.
Steve langsung menelpon Wei begitu kendaraan melaju. Hari ini Steve membawa supir karena ada beberapa agenda yang harus keluar.
"Wei.. aku ke kantor kamu sekarang ya!" Steve langsung to the point.
"Oh.. iya. Aku tunggu." Jawab Wei singkat.
"Ya sudah aku tutup teleponnya." Ucap Steve mengakhiri pembicaraan singkatnya.
Sang sopir pun yang sudah mendapatkan perintah melajukan mobilnya ke arah perusahaan Wei.
Tak lama kemudian mobil Steve terparkir di perusahaan Wei. Steve yang sudah lama bekerja di sana sudah tidak canggung lagi. Bahkan beberapa karyawan memberi hormat pada mantan kepercayaan Wei ini. Karena dia sudah lama mengenal lingkungan perusahaan Wei jadi semua masih terasa akrab.
Steve masuk ke ruangan Wei setelah mengetuk terlebih dahulu!.
"Mmm.. baik." Jawab Steve sambil mengamati isi ruangan Wei. Tak ada berubah, semuanya masih terasa sama.
Dulu dia sering keluar masuk ruangan ini ketika masih bekerja sebagai asisten Wei.
Ah... waktu berlalu begitu cepat. Aku kira aku akan selamanya menjadi asisten Wei. Tapi takdir menyatakan lain. Dia malah akan jadi ipar gue.
Sejenak Steve mengingat kenangan kebersamaan dengan Wei.
"Lah.. masih pagi kok melamun? Apa belum sarapan?" Teguran Wei meleburkan lamunan Steve.
"Mmm... tak terasa waktu terasa seperti karin sore aku masih disini." Steve menghela nafas.
"Iya.. Apa kau tidak sedang sibuk Steve? Bagaimana dengan perusahaan? Apa kamu mendapatkan kesulitan?" Tanya Wei duduk di depan Steve.
"Iya.. begitulah. Demi adikku tercinta semuanya akan aku lakukan." Jawab Steve sambil menatap Wei.
"Ya Hana beruntung mempunyai kakak seperti kamu Steve. Begitu perhatian dan bisa diandalkan." Puji Wei yang memang sedari dulu dia mengakui keunggulan Steve makanya dia mengangkatnya menjadi asistennya. Ada hal yang baik yang didapat Steve, selain pengalaman bekerja juga ilmu untuk mengelola suatu perusahaan sudah Steve ketahui berkat dia bekerja dengan Wei.
"Oh.. bagaimana rencana kamu Wei? Aku ingin mendengar langsung dari kamu mengenai rencana pernikahan kalian bersama Hana." Steve segera menanyakan tentang rencana pernikahannya dengan Hana.
"Ya hari ini aku meminta izin membawa Hana makan siang dengan ibuku juga adikku. Selanjutnya sambil jalan kami mempersiapkan untuk pernikahan. Aku berencana dalam jangka dua minggu ini selesai. Aku dan Hana sepakat tidak mau menggelar pesta besar. Kami ingin mengadakan pesta di rumah saja yang dihadiri oleh teman dekat dan saudara-saudara." Terang Wei menceritakan rencana pernikahannya bersama Hana.
"Ya.. aku titip Hana padamu. Ingat! Jika kamu menyakiti Hana berarti kamu menyakiti aku juga." Steve serius memperingatkan Wei. Dia tidak main-main dengan semua perkataannya. Steve tak ingin Wei hanya menaruh kasihan tapi ingin dia serius mencintai Hana. Kekhawatiran Steve memang besar. Apalagi kondisi fisik Hana belum terlalu bagus untuk bisa mendampingi Wei. Dia takut Wei kecewa dan keluarganya menuntut banyak pada Hana.
"Baiklah. Aku masih punya urusan. Kalau begitu aku tunggu kabar baiknya. Apa yang harus kubantu untukmu, akan aku lakukan." Steve tidak berlama-lama di ruangan Wei. Karena dia pun harus bekerja dan begitupun Wei.
__ADS_1
"Iya. Terimakasih atas dukungan dan pengertianmu Steve. Doakan kami agar bisa menjadi pasangan yang saling mencintai sampai akhir hayat kami." Ucap Wei begitu menyentuh.
"Baik.. doaku yang terbaik untuk kalian." Setelah berpamitan Steve pun berlalu menuju perusahaan. Dia harus melanjutkan pekerjaannya dan memberikan yang terbaik untuk Hana. Dia berharap perusahaan ini akan maju pesat dibawah pimpinannya.
Dan di lain tempat Hana sudah cantik dibantu stylish memakai pakaian terbaik juga make up tipis tapi sangat terlihat anggun.
Wei telah mengirimkan seorang sopir untuk menjemput Hana. Dia telah memesan satu restoran khusus hanya untuk makan siang spesial ini.
Hana merasakan begitu bahagia. Beberapa kali dia bercermin di kaca dadanya begitu berdebar-debar menghadapi makan siang spesial ini.
"Mari nona saya antar!" Doni dan Rara sebagai asisten dan bodyguard yang telah disewa Wei untuk menjaga Hana kini sedang siap-siap masuk ke sebuah restoran mewah.
Mata Hana begitu berbinar, begitu melihat Wei menyambutnya. Dia sangat tampan sekali. Ditambah aura bahagianya terlalu kentara terpancar dari wajah Wei.
"Biar aku yang dorong!" Wei mendorong kursi roda Hana lalu merendahkan badannya ke bagian telinga Hana sambil berbisik.
"Kamu cantik sekali Hana." Bisikan Wei yang lembut namun begitu terdengar seksi, spontan membuat pori-pori Hana berdiri.
"Terima kasih." Hana begitu bahagia dan malu mendengar pujian Wei yang terasa tulus.
"Bolehkah aku mencium sayang sebelum masuk ke ruangan?" Wei ternyata begitu terpesona dengan penampilan Hana siang ini sampai ingin melabuhkan bibirnya.
Hana hanya mengangguk dengan perasaan yang malu sekali.
Rara dan Doni segera membalikkan badannya menutupi sepasang insan yang sedang memadu kasih agar tidak dilihat oleh orang banyak.
Wei menciun tipis agar tidak mengganggu lipstik Hana yang sudah terpoles cantik.
"Mari sayang... kita masuk! Mama dan adikku Sally sudah ada di dalam." Begitu bahagia. Perasaannya seperti selalu rindu dan tak mau berpisah dengan Hana. Sekarang sepertinya perasaannya sudah terlihat jelas, bahwa dia mencintai Hana sepenuh hatinya.
Keduanya masuk ke dalam ruangan VIP.
Ibunya Wei juga Adiknya menatap ke arah pintu masuk begitu pintu di geser pelayan. Muncul lah Hana dan Wei dari balik pintu. Hana tersenyum manis pada calon ibu mertuanya dan pada adiknya Wei.
Wei menepikan kursi rodanya sejajar dengan tempat duduknya. Wei pun tersenyum.
"Hana... perkenalkan ini ibuku dan ini Sally. Wei memperkenalkan dua wanita yang sudah duduk di depannya.
"Selamat siang nyonya. Perkenalkan saya Hana. Senang bertemu dengan anda nyonya dan adik." Hana tersenyum sambil menundukkan kepalanya memberi hormat.
Sally tersenyum melihat Hana yang tampil anggun dengan baju hitam berkilauan permata di dadanya juga renda di tangannya. Tetapi ibunya Wei hanya bersikap datar saja menyambut kedatangan Hana. Wei memegang erat tangan Hana, begitu bahagia dan senang.
"Selamat siang kak Hana. Senang bertemu kakak siang ini. Semoga kita akan menjadi keluarga yang bahagia ya kak. Kak Hana cantik banget." Puji Sally pada Hana sambil tersenyum tulus.
"Terima kasih adik Sally. kamu juga tak kalah cantiknya seperti ibu." Puji Hana yang melihat pada ibunya Wei yang masih terlihat cantik diusianya yang mau menginjak 5O lebih.
"Terima kasih kak Hana." Sally tersenyum.
"Bagaimana kalau kita memesan makan sekarang sambil ngobrol-ngobrol?" Wei menatap silih berganti pada ibunya, Sally dan Hana.
Prak.. Prak...
Wei menepuk tangan memanggil pelayan.
Tak lama kemudian pelayan masuk dan menuliskan beberapa menu yang dipesan dan undur diri untuk menyiapkan pesanan.
"Apa kalian benar sudah siap menikah?" Ibunya Wei melihat pada Hana dan juga Wei.
"Kami siap ma.. kami meminta doa restu mama untuk pernikahan kami ma." Wei memegang erat tangan Hana.
__ADS_1
"Kapan kalian berencana menikah?" Ibunya Wei ingin tahu rencana anaknya.
"Kami ingin pernikahan sederhana ma. Kami akan menggelar di rumah dengan tamu undangan keluarga dan teman dekat. Dalam dua minggu ini pernikahan kami digelar."