
Steve dan ayahnya yang sedang memperhatikan Wei, tentu mendengar percakapan Wei. Keduanya saling memandang.
"Ayah... apa yang terjadi dengan Hana?" Steve cemas.
"Tenang nak.. kita tunggu Wei menyelesaikan pembicaraannya. Kamu cepat sehat ya! Biar kita bisa bertemu Hana segera.
Keduanya masih memperhatikan Wei yang sedang berbicara di balik handphone nya. Tak lama kemudian dia menutup handphonenya.
Raut wajah Wei terlihat agak kusut walau memaksakan tersenyum. Dia mendekati meja dan mengambil buah apel yang tadi dibawanya.
"Kamu mau makan buah Steve? Biar aku kupaskan!" Wei berusaha mengalihkan perhatian kedua orang yang ada dihadapannya.
"Boleh." Steve tak berani menolak. Walau dia sendiri sedang mengalami kejiwaan yang lemah, dia berusaha memahami Wei saat ini.
"Wah kelihatannya manis, ayah juga mau!" Ayah Steve pun sama. Dia berusaha untuk tidak tegang menanggapi apa yang baru saja dia dengar. Apalagi kondisi Steve sedang lemah. Setidaknya tidak berkata yang berat-berat dulu saat ini.
"Baik paman, akan saya kupaskan sekalian." Wei tersenyum palsu. Saat ini hatinya sedang dilanda gundah. Apalagi setelah mendengar berita dari Raffa mengenai Hana yang sudah di rumah sakit dan harus dioperasi segera.
"Ini Steve, cobalah!" Wei memberikan potongan apel yang telah dikupas.
"Terimakasih!" Steve menerima garpu yang sudah ada potongan apelnya yang tertancap.
"Ini paman!" Wei menyodorkan piring yang sudah ada beberapa potongan apel yang telah dikupas.
"Terima kasih Wei!" Ayah Steve menerima piring yang disodorkan.
"Bagaimana manis?" Steve hanya mengangguk.
"Wei.. sebenarnya apa yang terjadi dengan Hana?" Steve tak bisa menahan rasa kepenasarannya.
"Ya?" Alis Wei terangkat matanya agak membesar menerima pertanyaan Steve.
"Aku tak mau kau menyembunyikan berita tadi dariku!" Protes Steve pada Wei.
Wei hanya terdiam. Tak bisa menjawab apa yang baru saja ditanyakan Steve. Apalagi kalau harus jujur mengenai keadaan Hana sekarang. Bisa-bisa asam lambungnya naik dan memperburuk keadaan Steve saat ini.
"Wei.. " Steve memanggil Wei karena tak juga memberi tahunya.
"Nak.. sehatkan dulu dirimu. Baru nanti kita menemui Hana. Kalau sekarang, Wei tak bisa memberi tahumu karena dia khawatir kesehatanmu malah menurun. Jadi bersabarlah!" Ayah Steve berusaha mewakili Wei untuk menyampaikan apa yang harus diterima Steve sekarang ini.
"Ayah... aku tak bisa menahannya lagi. Aku ingin bertemu sekarang juga! Mungkin aku bisa sembuh dengan sendirinya jika aku bertemu dengannya. Aku ingin menebus kesalahanku. Aku tak mau menundanya lagi!" Mata Steve terlihat berkaca-kaca. Ada luapan emosi yang sedang dibendungnya.
Wei dan ayahnya saling menatap. Tak tahu harus bagaimana menghadapi Steve sekarang ini.
"Sebentar ayah akan bicara dulu dengan dokter Alvian ya! Harap kamu bisa bersabar!"
"Iya ayah. Aku berharap ayah bisa mengabulkan permintaanku." Steve menatap ayahnya dengan penuh harap.
"Baik, ayah sama Wei keluar dulu ya! Mau bertemu dengan dokter Alvian." Ayahnya Steve mengusap rambut Steve dengan lembut.
"Baik yah..!" Ada rasa harap, hadir dalam hati Steve. Dia berharap permintaannya bisa dikabulkannya.
Wei berdiri. "Aku pamit dulu ya Steve!"
"Hhm." Steve mengangguk.
Ayahnya berjalan keluar ruangan diikuti langkah Wei.
Mereka berhenti di luar ruangan.
"Kemarilah Wei! Paman ingin tahu berita tentang Hana. Apa yang terjadi dengannya?" Ayah Wei mengajak duduk di kursi yang berada di luar ruangan kamar pasien.
Wei menurut. Dia duduk di samping ayahnya Steve.
"Begini paman. Tadi saya mendapat berita dari salah satu anak didiknya Hana. Hana masuk rumah sakit."
"Apa? Rumah sakit? Apa yang telah terjadi dengan Hana? Jelaskan pada paman dengan sejelas-jelasnya!" Sekarang ujian kecemasan sedang datang bertubi-tubi mengenai ayahnya Steve. Satu anaknya masih terbaring, sekarang berita Hana masuk rumah sakit. Ini membuat orangtua setengah baya ini semakin kelimpungan.
"Iya paman. Hana perlu dioperasi segera. Katanya ada penyumbatan di dalam otaknya." Wei berusaha menjelaskan berdasarkan berita dari Raffa.
"Lalu bagaimana sekarang?" Tangan ayanya Steve menggenggam erat Wei. Mungkin akibat kecemasan yang sedang melanda dirinya dan dia butuh seseorang untuk menguatkan psikisnya juga.
"Tenang paman! Hana sedang ditangani. Disana sudah ada kakaknya Raffa yang bertanggung jawab terhadap Hana." Terang Wei.
"Siapa Raffa?" Manik mata ayahnya Steve begitu tajam memperhatikan Wei.
"Dia murid Hana sewaktu di Sma."
"Lalu kenapa Hana sekarang bersama mereka?" Selidik Ayah Steve. Dia merasa bertanggungjawab atas keselamatan Hana. Dia rasa Hana akan menjadi tanggungjawabnya sekarang. Anak dari mendiang istrinya sudah tidak ada tempat untuk dianggap sebagai orangtua.
"Menurut keterangan yang saya dapatkan, Hana mengajar di tempat saudaranya Raffa. Begitu paman."
"Apakah kita harus segera kesana?" Ayahnya Steve begitu mencemaskan Hana.
"Iya paman. Tapi... " Wei menghentikan bicaranya.
"Pasti kita berat dengan Steve." Ayahnya Steve menghela nafas.
"Baiklah. Paman akan konsultasi dulu dengan dokter Alvian. Sekiranya Steve bisa dipindahkan ke rumah sakit dimana Hana dirawat, paman akan berangkat sekarang juga. Agar paman bisa menjaga keduanya sekaligus. Kalau berjauhan sulit juga memantau keadaannya. Kedua-duanya butuh perhatian." Ayahnya Steve berdiri lalu berjalan mencari keberadaan dokter Alvian.
Wei yang masih bingung duduk termenung di kursi depan ruangan Steve. Apa yang terjadi dengan Hana sampai harus dioperasi kembali? Ada perasaan sangat bersalah dalam hati Wei. Kemungkinan besar akibat kecelakaan waktu itu membuat Hana menderita. Wei tertunduk bagaimana kalau Hana harus menderita seumur hidupnya? Apa yang harus dilakukannya jika orang-orang tahu. Apalagi Steve adalah kakaknya sendiri dan dia mengetahui betul siapa yang bersalah.
__ADS_1
Terlihat ayahnya Steve berjalan beriringan dengan dokter Alvian mendekati Wei. Wei yang tadinya posisi duduk sekarang bangkit dari tempat duduknya menyambut keduanya.
"Bagaimana paman?"
"Kita sekarang siap-siap! Dokter Alvian mengizinkan kita pindah rumah sakit." Ayah Steve terlihat berbinar.
"Syukurlah!" Saat ini Wei sebenarnya begitu panik. Bagaimana kalau kebenaran tentang kecelakaan Hana nantinya akan diketahui banyak orang. Akankah mereka memaafkan Wei.
"Dimana Hana dirawat?" Dokter Alvian memastikan tempat Hana ditangani.
"Di rumah sakit xxx. " Wei menjawab sesuai keterangan Raffa.
"Wah kebetulan sekali disana ada seorang dokter sekaligus teman saya waktu kuliah. Saya akan menemani kalian untuk pemindahan Steve kesana."
"Terima kasih dokter! Saya sangat senang sekali jika dokter bisa menemani kami sampai sana." Ayah Steve terlihat sangat senang. Di balik kesulitannya ada kemudahan yang menyertainya.
"Iya kalian silahkan siap-siap! Saya akan membantu Anda untuk mengurus surat-surat untuk pemindahan perawatan Steve."
"Baik. Sekali lagi terimakasih dokter atas bantuan anda!"
"Tuan Wei.. anda bisa membantu saya?" Dokter Alvian meminta Wei untuk membantunya mengurus administrasi rumah sakit.
"Baik." Keduanya pun pergi meninggalkan ayahnya Steve.
Akhirnya Steve bisa dipindahkan perawatannya menuju kota B.
###
Dilain tempat.
"Bagaimana Raffa? Apakah kamu sudah menghubungi keluarga bu Restu? Aku agak khawatir jika ada apa-apa dengan bu Restu." Gavin terlihat cemas, karena operasi yang dilakukan terbilang berat.
"Sudah kang. Mereka dalam perjalan." Raffa berusaha menenangkan Gavin.
"Alhamdulillah kalau begitu. Akang jadi tenang. Mari kita berdoa bersama-sama agar bu Restu kembali pulih seperti sediakala." Gavin mengajak Sari dan Raffa berdoa untuk kesehatan Hana yang akan menjalani operasi.
Kring kring kring
Suara handphone Raffa terdengar ada panggilan.
"Halo."
"Iya, Halo."
"Tolong kamu tandatangani surat wali pasien terlebih dahulu jika Hana membutuhkan operasi segera!" Suara di seberang telepon meminta Raffa menjadi wali Hana.
"Iya, baik. Sekarang sedang dilakukan general cek up dulu. Nanti saya kabari untuk perkembangannya."
"Baik."
Raffa menutup teleponnya.
"Siapa Raff?" Tanya Gavin penasaran.
"Ayahnya Steve." Jawabnya pendek.
"Siapa Steve? Apa hubungannya dengan bu Restu?"Gavin kembali bertanya.
"Aku juga belum tahu kang.. tapi kata Sandi mereka semua ada hubungannya dengan bu Restu. Jadi saya tidak bisa menjelaskan pada akang apa hubungan mereka semua."
"Hhhmm...Mudah-mudahan bu Restu dimudahkan urusannya. Akang jadi banyak khawatir. Akang sebelumnya belum pernah sekhawatir ini sama karyawan." Gavin menghela nafas sambil merenung.
"Sabar kang. Pasti ada maksud di balik semua ini. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Bisa jadi Allah SWT menitipkan bu Restu pada kita ada maksud baik." Sari membesarkan hati suaminya.
"Iya kang Gavin. Terus terang saja bu Restu orangnya baik. Tapi hidupnya terancam dibunuh. Bahkan... aku pernah kena tembakan dari orang yang mau membunuh bu Restu."
"Apa?" Sontak Gavin dan Sari terkejut mendengar penuturan Raffa.
"Tapi untungnya hanya menyerempet saja. Raffa bisa selamat."
"Alhamdulillah. Tapi kenapa tidak laporan pada polisi?" Gavin merasa heran.
"Karena gak ada bukti."
Pintu kamar pasien ruang UGD terbuka. Muncul seorang dokter muda bernama Aldi.
"Apakah kalian wali pasien bernama Restu?"
"Iya dokter."
"Salah satu dari kalian silahkan ikuti saya!"
"Baik." Gavin menyanggupi.
Dokter Aldi dan Gavin masuk ke ruang kerja dokter. Ada yang harus dibicarakan mereka berdua tentang kondisi Hana saat ini.
"Begini pak Gavin, kondisi pasien harus segera dioperasi. Karena ada penggumpalan darah di bagian otaknya yang bisa saja pecah sewaktu-waktu dan bisa mempengaruhi kondisi pasien."
"Baik dok! Saya ikuti saran dokter bagaimana yang terbaik." Gavin mencoba menyerahkan urusan yang terbaik pada dokter.
"Tapi.. operasi ini bukan tanpa resiko. Kalau pun berhasil juga pasti ada efek samping yang akan diterima pasien."
__ADS_1
"Maksudnya dok?"
"Kami hanya bisa membantu, kalau dalam perjalan operasi ada beberapa yang tak bisa diprediksi, kami tidak bisa membantu lebih. Misalnya saja kondisi pasien bisa cacat tubuh karena ada bagian otak yang terkena gangguan akibat pembekuan darah dan pecah."
"Oh.. begitu ya dok!"
"Kami hanya menyelamatkan pasien dari kemungkinan terparah saja."
"Saya hanya bisa menyerahkan yang terbaik saja dok!" Sela Gavin untuk memberikan keputusan.
"Baik. Pemeriksaan sudah dilakukan. Tinggal wali pasien menandatangani untuk operasi segera."
"Baik dok!"
"Silahkan anda ke bagian administrasi untuk mengurus apa saja yang mesti disiapkan sebagai wali."
"Sebentar dok! Saya disini sebagai wali sementara, apakah saya memungkinkan untuk mengambil keputusan? Keluarganya sedang dalam perjalanan."
"Kalau pihak keluarga sudah tahu tidak masalah. Nanti di bagian administrasi anda bisa jelaskan secara rinci, agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari." Terang dokter Aldi
"Baik dok! Kalau begitu saya permisi!" Gavin menjabat tangan dokter sebagai ucapan terimakasih.
"Baik. Silahkan banyak berdoa. Kami dokter hanya bisa berikhtiar. Selebihnya hanya Allah lah yang menjamin taqdir seseorang." Dokter Aldi menyemangati.
"Iya baik. Terimakasih kasih atas nasehatnya dok!"
"Iya sama-sama."
Gavin keluar dari ruangan dokter dengan membawa sekelumit masalah kesehatan Hana.
"Bagaimana kang?" Sari dan Raffa begitu penasaran.
"Kita berdoa saja. Dokter hanya bisa berikhtiar. Walau sudah dioperasi bu Restu akan tetap mendapatkan resiko. Cuman kita tidak tahu. Setidaknya operasi adalah ikhtiar terbaik untuk mengurangi resiko yang nantinya didapat bu Restu.
"Iya kang. Kita sama-sama berdoa. Kita tak tahu apa yang ditakdirkan Allah SWT pada masing-masing hambanya." Sari memberikan dukungan moril.
Raffa dan Gavin mengangguk tanda mereka setuju atas apa yang dikatakan Sari.
Tak lama kemudian mereka melihat brankar bu Restu memasuki kamar operasi. Gavin, Sari dan juga Raffa tidak tega melihat Hana yang sudah tidak sadarkan diri sejak dari tempat kost. Mereka hanya bisa mengiringi nya dengan doa terbaik.
"Sari dan Raffa kalian pulanglah! Biar akang yang menunggu disini." Gavin tidak tega melihat Sari yang sedang hamil muda ikut menunggu di rumah sakit.
"Baik kang. Tapi sebaiknya akang saja yang mengantar teh Sari. Soalnya saya harus menunggu disini. Nanti kalau keluarga Hana datang mereka pasti akan kebingungan." Raffa menyarankan Gavin untuk mengantar Hana. Di pikir Sari dan Gavin lebih butuh istirahat karena mereka pastinya banyak pekerjaan yang harus dipersiapkan besok hari.
"Oh begitu ya? Baiklah kalau memang Raffa mau menunggu. Akang akan mengantar Sari dulu. Nanti kalau situasinya membutuhkan akang harus disini kabari saja ya Raf!"
"Baik kang."
"Kalau begitu kita giliran shalat magrib dulu. Nanti setelah shalat akang akan antarkan Sari pulang."
"Baik kang."
Setelah mereka melakukan shalat magrib, Gavin dan Sari berpamitan pulang. Tinggallah Raffa menunggu di depan kamar operasi sendirian. Raffa menunggu keluarga Hana yang sedang perjalanan.
Setelah dua jam berlalu, munculah Wei menyusul Raffa.
"Raffa.. " Panggil Wei setelah melihat Raffa yang sedari tadi duduk di kursi tunggu.
"Eh pak Wei. Dengan siapa anda datang?" Raffa mengedarkan pandangannya.
"Aku bersama ayah Hana juga Steve. Cuman mereka sedang mengatur ruangan dulu bersama dokter Alvian."
"Oh." Raffa bingung harus berkomentar apalagi.
"Bagaimana keadaan Hana Raf?"
"Masih di kamar operasi."
"Kamu cape Raf?" Sebaiknya kamu istirahat saja. Biar giliran kami menunggu Hana.
"Tidak apa-apa pak Wei."
"Jangan panggil aku pak, panggil aku kakak saja!" Protes Wei pada Raffa.
"Eh iya, baik."
"Kak Wei, boleh aku bertanya?"
"Ya?"
"Sebenarnya apa hubungan kak Steve dengan Bu Restu? eh bu Hana?"
"Mereka kakak adik beda ayah."
"Oh ya?" Mata Raffa melebar karena heran. Ternyata banyak yang belum dia ketahui tentang asal usul mereka.
"Lalu kenapa selama ini bu Hana selalu tinggal sendirian?"
"Karena mereka sendiri baru tahu."
"Apa, Kenapa?"
__ADS_1