Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Berduka


__ADS_3

"Tunggu disini!" Dokter Aldi langsung masuk membantu dokter yang sedang jaga di ruang ICU.


Hana menatap ke dalam ruangan dengan harap-harap cemas. Beberapa orang di dalam ruangan terlihat sibuk.


"Kak Hana tenang ya.. kita berdoa semoga kak Daniel. tidak apa-apa." Caterina mengusap bahu Hana memberikan dukungan.


"Apa yang terjadi ya? Kok mereka kelihatannya sibuk. Apa kak Daniel tidak bisa ditolong?"Hana begitu cemas.


"Kakak berdoa aja. Semoga Tuhan menolong kak Daniel. Bukankah kuasa Tuhan itu Maha Besar kak? Kita tak berdaya apapun. Kaya tadi yang diucapkan dokter Aldi." Caterina berusaha menguatkan mental Hana.


"Iya. Tapi kenapa kok hati kakak gak tenang begini ya?" Hana tetap tidak bisa membohongi hati nuraninya.


"Iya kak. Coba kakak tarik nafas dan berusaha tenang!"


"Iya dek terimakasih." Hana kembali melihat ke ruangan ICU.


"Dek.. " Nyonya Maria dan Santi tiba di ruang ICU setelah mendapatkan pesan dari Caterina mengenai kondisi Daniel.


"Mama.. " Hana memeluk Maria dengan erat.


"Tenang sayang.. kita doakan semoga Daniel baik-baik saja." Sambung Maria sambil mengusap rambut Hana dengan lembut.


"Bagaimana kalau kak Daniel meninggal ma... Apa yang harus aku bilang sama mamanya kak Daniel ma?" Hana menitikkan air mata.


"Sudahlah jangan bersedih. Lebih baik kita doakan. Biar dokter bisa mengatasi kondisi kak Daniel." Kembali Maria mengusap Hana.


"Ya ampun ma... " Teriak Caterina


"Mama... Hana berteriak histeris manakala melihat kain putih ditutup ke seluruh badan Daniel.


Maria langsung merangkul Hana. Hana terguncang. Dia terus menangis.


"Innalillahi wainnailaihi rojiun." Sari ikut berduka cita.


"Sabar ya Hana. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Semoga kak Daniel tenang disana. Sudah tidak merasakan kesakitan. Sudah kembali pada Pemiliknya dengan tenang." Sari berusaha memberikan dukungan moril.


'Teh Sari... hik hik hik.. " Caterina memeluk Sari ikut menangis. Dia tak bisa menahan air mata nya. Walau dia baru melihat ny tapi serasa kak Daniel adalah kakaknya sendiri.


"Sabar sayang... teteh yakin kak Daniel menyayangi kalian. Dia ingin berkumpul dengan kalian disaat terakhirnya." Sari mengelus lembut punggung Caterina.


"Kasihan kak Hana teh Sari.. dia sangat menyayanginya."


"Tuhan lebih padanya sayang.. Tuhan sudah merindukannya. Kak Daniel orang baik pastinya Tuhan sangat menyayanginya." Sari berusaha menghibur.


"Hana.. " Tuan Hans mendekati Hana lalu merangkulnya.


"Ayah.. kak Daniel... " Hana kini memeluk tuan Hans sambil menumpahkan kesedihannya.


"Sabar sayang... kita sudah berusaha semaksimal mungkin." Tuan Hans berusaha membesarkan hati Hana.


Dokter Alvian dan direktur rumah sakit pak Hadi menyusul ke ruang ICU lalu masuk ke ruangan. Mereka terlihat berbincang-bincang dengan tim media yang ada di ruangan ICU.


Lalu mereka keluar dan mendekati Hana dan keluarga.


"Tuan Hans.. kami mohon maaf tidak bisa menolong Daniel. Daniel terkena serangan jantung yang mengakibatkan drop. Kami atas nama keluarga rumah sakit juga tim medis mengucapkan ikut berbela sungkawa atas meninggalnya Daniel Putra Senoaji. Kami mohon maaf sebesar-besarnya tak bisa menolongnya." Direktur rumah sakit pak Hadi mengucapkan permohonan maaf dan mengucapkan berbela sungkawa atas meninggalnya Daniel.


"Iya. Saya mewakili keluarga Daniel yang ada mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan tim medis yang sudah maksimal membantu Daniel. Tuhan kembali memanggilnya karena Dia lebih menyayanginya. Sekarang Daniel sudah tenang dalam penjagaan Nya." Ucap Tuan Hans mewakili keluarga Daniel.


"Anda boleh melihat jasadnya untuk terakhir kali. Silahkan!" Dokter Hadi. mempersilahkan semua anggota keluarga untuk melihat jasad Daniel untuk terakhir kalinya.


"Baik. Mari Hana... kuatkan dirimu ya! Bersabarlah! Ayah yakin kamu kuat!" Tuan Hans menguatkan mental Hana menerima kenyataan.


"Baik ayah. Tapi bagaimana dengan mama Daniel yah?" Hana sangat sedih apalagi ibunya Daniel. Tapi dia bingung bagaimana nanti menyampaikan pada ibunya.


"Jangan khawatir nanti pihak rumah sakit yang akan mendatangi ibunya Daniel." Pak Hadi memberitahu Hana agar tidak terlalu khawatir.


"Yuk mari kita doakan Daniel. Bersabar ya Hana!" Tuan Hans mengajak Hana untuk masuk ke ruangan ICU.


Mereka beriringan masuk ke ruangan ICU. Dokter Aldi membantu membuka penutup jenazah.


Hana menatap dalam wajah Daniel yang tenang seperti tidur. Ya tidur panjang yang tak bangun kembali. Hana mengusap wajah Daniel dengan. penuh kesedihan. Ditatapnya wajah yang kini terbujur kaku tanpa memberikan respon. Bayangan Daniel yang selalu tersenyum masih Hana ingat. Masa-masa bahagia mereka ketika waktu kecil. Sampai mereka menghabiskan waktu remajanya di rumah yang sama. Daniel yang selalu perhatian dan belum pernah sekalipun memarahinya. Dia selalu menjadi pahlawan kecilnya, pelindungnya, juga selalu hangat menyambutnya.

__ADS_1


Tanpa terasa buliran deras airmatanya meleleh membanjiri pipinya. Hana memeluk Daniel untuk terakhir kalinya.


"Maafkan aku kak.. gara-gara aku kakak kena tembakan. Aku yang menyebabkan kakak mati. Kakak... aku sangat menyayangimu. Kenapa kakak tega meninggalkan aku kak.. " Hana menangis diselingi dengan berbisik sedih. Hana memeluk badan Daniel sambil menangis.


"Sudahlah sayang.. Bicarakan Daniel meninggalkan kita dengan tenang. Dia pasti menyayangimu sampai akhir. Dia akan selalu menjagamu nak!" Tuan Hans mencoba menguatkan mental Hana.


"Iya yah. Gara-gara menjaga aku dia sendiri malah yang tertembak. Kalau dia datang mungkin dia tidak akan mati yah." Hana menyesali dirinya.


'Tidak nak! Tuhan mengatur segalanya. Kelahiran, kematian, sudah ada waktunya. Kita hanya menunggu gilirannya. Bersabarlah! Doakan dia agar tenang disisi Tuhan." Tuan Hans mengangkat Hana agar tidak terus memeluk jasad Daniel.


"Ayah..." Hana memeluk tuan Hans sambil menangis kencang.


"Sabar sayang. Jangan bebani kakakmu dengan tangisan. Kita antar jasadnya dengan doa." Tuan Hans memberikan nasehat.


"Sabar ya Hana. Kita lepas kak Daniel dengan ikhlas. Biar dia tenang." Maria mengusap rambut Hana sambil memberi dukungan.


"Iya ma.. Hana coba ikhlaskan. Kak Daniel.. sayang Hana. Hana juga menyayanginya." Hana terlihat menghapus air matanya.


"Maaf tuan Hans. Untuk beberapa hal kami akan membawa jenazah ke ruangan khusus. Sambil menunggu izin dari ibunya langsung. Apakah jenazah akan dikremasi disini atau di Jakarta. Untuk lebih lanjut jenazah akan disimpan dahulu." Terang dokter Aldi bersama dokter yang sudah mengoperasi Daniel.


"Oh iya baiklah. Kami akan serahkan pada pihak rumah sakit. Kami akan menunggu keputusan Ibunya Daniel." Jelas tuan Hans.


"Baik. Saya mohon maaf jika berkenan saya akan membawanya. Silahkan jika ada keluarga yang ingin melihat untuk yang terakhir kali." Terang pak Hadi memberikan kesempatan pada semua orang.


Masing-masing bergiliran mengecup kening Daniel untuk yang terakhir kali, kecuali Sari. Karena perbedaan prinsip dan perbedaan keyakinan Dia mendoakan dari dekat tanpa menyentuh nya.


Setelah semuanya selesai, jenazah pun dibawa oleh tim media ke ruangan khusus kamar jenazah menunggu keputusan ibunya Daniel akankah dikremasi di kota B atau dibawa ke Jakarta.


"Hana Mari kita kembali ke ruangan!" Tuan Hans mengajak Hana untuk kembali ke ruangan agar tidak berlarut-larut bersedih di ruangan ICU.


"Ayah.. bagaimana dengan ibunya Daniel?" Hana menatap wajah tuan Hans.


"Nanti ayah bersama pihak rumah sakit akan mendatanginya. Kamu sekarang tenang ya!" Saran tuan Hans pada Hana agar Hana bisa tenang.


Hana mengangguk.


Semua orang berjalan beriringan menuju ruangan Hana dengan wajah menyimpan duka.


"Kalian makanlah bergiliran. Karena mungkin hari ini akan terasa panjang. Temani Hana dengan baik dan hibur dia!" Tuan Hans bicara pada istrinya Maria.


"Baiklah kita pesan saja untuk semuanya. Kita makan disini saja." Tuan Hans akhirnya memberikan ide untuk makan di ruangan Hana.


"Tuan Hans biar saya pesankan! Sebentar lagi suami saya sampai disini bersama Steve. Saya akan pesankan pada suami saya makanan untuk makan siang disini." Usul Sari pada semuanya.


"Terimakasih kasih banyak ya Sari. Kami semuanya jadi merepotkan mu! Tuan Hans mengucapkan terimakasih pada Sari yang sejak awal sudah banyak membantu mereka.


"Tidak tuan Hans! Bagi kami adalah kewajiban saling membantu jika ada saudara kita yang kesusahan." Terang Sari.


"Terimakasih kasih sayang.. budi baikmu akan dikenang." Maria mengusap bahu Sari dengan wajah tersenyum penuh haru.


"Sama-sama nyonya!" Sari tersenyum dari balik cadarnya.


Tak lama kemudian Steve, Gavin juga Raffa tiba di ruangan Hana.


"Yah.. " Steve langsung memeluk tuan Hans. Dia tak menyangka Daniel akan menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit ini.


"Bersabarlah! Daniel ingin berkumpul bersama kita disaat terakhirnya. Dia sekarang sudah tenang. Hibur Hana jangan sampai bersedih berlebihan! Kasihan Hana!" Tuan Hans berbisik di telinga Steve. Steve juga bersedih atas kematian Daniel. Selama ini dia mengenal Daniel seorang yang baik. Dia juga patner bisnis yang bisa diandalkan. Selama dia mengenalnya Daniel mempunyai kepribadian yang baik selalu teman dan sahabatnya Wei.


Steve mendekati Hana lalu memeluk adiknya.


"Sabarlah! kakak yakin Tuhan lebih menyayanginya daripada kita. Dia sudah tenang juga bahagia di alamnya. Kita antar dia dengan doa ya!" Steve melepaskan pelukannya. Dia melihat wajah Hana yang sudah sembab yang sejak tadi menangis.


"Iya kak. Jangan tinggalkan aku ya kak! Aku tak mau kehilangan kakak lagi." Hana memeluk Steve dengan erat. Steve mengelus bahu Hana dengan lembut.


"Maafkan kakak ya! Kakak pernah menyakitimu. Kakak janji tidak akan meningkatkan kalian." Steve berkata lirih pada Hana.


Steve mencium pucuk kepala Hana. Teringat dirinya yang pernah menyakiti Hana. Walau Hana tidak mengingat hal itu.


"Sekarang Hama makan dulu ya! Biar mama yang suapin!" Nyonya Maria segera membuka isi kantong yang berisi kotak makanan yang sudah dipesan tadi oleh Sari lewat Gavin.


"Iya kamu makan dulu biar ada tenaga. Kita juga harus sehat!" Saran Tuan Hans.

__ADS_1


Semua orang makan bersama dalam ruangan Hana dalam keadaan hening. Ya tak bisa digambarkan perasaan yang sedang sedih kehilangan orang terdekat mereka. Hana dengan wajah sebabnya sedang disuapi oleh Maria. Terlihat tidak semangat. Hanya beberapa suap dia langsung menghentikannya.


"Sudah ma, kenyang." Hana berbicara pelan. Terlihat tidak semangat.


"Iya. Ini minumnya." Maria menyodorkan segelas air pada tangan Hana. Hana meneguk beberapa tegukan lalu mengembalikan gelas itu pada Maria.


Maria dengan telaten mengurus Hana seperti layaknya anak sendiri.


"Hana.. ayah mau mengantar Steve dulu ya bersama kang Gavin." Izin tuan Hans pada Hana. Steve yang belum melihat jenazah Daniel mau diantar sama ayahnya.


"Iya yah." Hana menatap lesu.


"Kamu baik-baik ya disini sama mama!" Tuan Hans mengusap bahu Hana dengan penuh kelembutan.


"Iya." Hana mengangguk lemah.


"Kakak pergi dulu ya!" Sekarang giliran Steve meminta izin pada Hana.


"Iya." Hana menatap sedih kepergian ke empat orang laki-laki, tuan Hans, Steve, kang Gavin juga Raffa untuk pergi ke ruang penyimpanan jenazah.


Sepeninggal mereka Steve telah menghubungi Wei di Jakarta mengenai kematian Daniel.


Wei mendadak lemas mendengar berita itu.


"Tuan Wei.. ada apa?" Rei melihat wajah Wei begitu pucat dan terlihat linglung. Rei sedikit mengkhawatirkan keadaan Wei saat ini. Baru saja pulang dari kota B tapi setelah mendapatkan panggilan wajah Wei langsung berubah.


"Daniel... Daniel.. " Wei terus memanggil namanya.


"Ada apa dengan tuan Daniel?" Rei menatap heran Wei.


"Dia... dia...telah meninggal." Kata itu akhirnya terucap dari bibir Wei. Wei langsung menelungkupkan wajahnya di meja.


"Tuan Daniel meninggal?" Bibir Rei pun menganga. Dia tak percaya bahwa Daniel meninggal. Karena kemarin dia telah bertemu dengannya dan kondisinya baik-baik saja.


"Kenapa? Apa dia sakit? Kemarin dia baik-baik." Ucap Rei yang masih termangu heran.


"Dia kritis, tertembak. Dan akhirnya tidak bisa ditolong." Jawab Wei lalu dia bangkit dari kursi lalu berjalan menuju kaca jendela. Dia menatap jauh keluar. Membayangkan kebersamaannya dengan Daniel. Sahabat baik juga kompetitor bisnisnya selama ini. Tak menyangka dia akan meninggal di usia muda.


"Sekarang jenazahnya ada dimana?"


"Di kota B."


"Kok.. disana tuan?" REI semakin heran.


"Panjang ceritanya."


"Apakah anda akan berangkat kesana lagi?"


"Iya.Tapi tidak sekarang. Aku menunggu keputusan ibunya yang sedang berada di tahanan."


"Kok bisa beliau masuk tahanan?"


"Begitulah ceritanya."


"Bermaksud menculik Hana, malah Daniel yang tertembak."


"Maksud anda ibunya Daniel akan menculik Hana? Kenapa tuan Daniel ada disana?"


"Takdir. Daniel berusaha menyelamatkan Hana. Dia malah kena tembakan oleh penculik yang diduga suruhan ibunya Daniel."


"Ohh. Kenapa beliau begitu ingin menculik Hana?"


"Sudahlah! Kamu nanti pusing sendiri. Sekarang mari kita kerjakan apa yang harus kita kerjakan. Agar cepat beres dan aku bisa menyusul kesana.


"Baik tuan. Ada beberapa meeting yang tertunda mungkin bisa diselesaikan sekarang." Tukas Rei yang sekarang menjadi asisten Wei.


"Oh iya tadi aya nona Riana datang kesini. Saya tidak bisa menerimanya karena tadi ada rapat. Apakah beliau sudah menghubungi anda kembali?" Tanya Rei.


"Belum. Biarkan saja. Mungkin tidak terlalu penting."


Di lain tempat ayah Steve, dokter Alvian juga direktur rumah sakit sedang menemui ibunya Daniel di ruang tahanan khusus sementara.

__ADS_1


Ibunya Daniel diapit oleh dua penjaga dan satu orang polisi.


"Ada apa kalian mendatangiku?" Bicaranya ketus.


__ADS_2