Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Bagian masa lalu


__ADS_3

"Paman Hans siapa yang sakit?" Telinga Wei seolah menajam untuk memastikan siapa yang sedang sakit.


"Steve.. " Ayahnya Steve berkata lirih. Sangat sulit untuk mengatakan kebenaran itu pada Wei, terlebih bukan hanya sakit biasa.


"Steve? Suara Wei agak meninggi, kaget bercampur heran.


"Bukankah kemarin Steve terlihat baik-baik saja?" Wei berkata dalam hati.


"Baik paman, saya akan datang. Tolong kirimkan alamatnya!" Sejenak Wei mengambil nafas memulihkan rasa kagetnya.


Sepanjang perjalanan Wei berpikir, apa yang terjadi dengan Steve? Apakah obrolan pada malam itu membuatnya begitu terpukul sampai menyebabkan dia sakit?


Ah tidak mungkin jika Steve sakit gara-gara hal itu.


Tak lama kemudian mobil telah sampai di depan rumah sakit. Wei menyusuri koridor mencari kamar yang telah diberikan ayahnya Steve.


Terlihat dua orang sedang duduk di luar, raut wajah mereka nampak gelisah.


"Paman Hans, bibi Maria apa kabar?" Wei menyapa terlebih dahulu ketika dia sudah ada di depan mereka.


"Baik, Wei." Raut wajah ayah Steve terlihat kusut.


"Duduklah Wei!" Wei duduk di sampingnya.


Ayah Steve menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan dan terdiam.


"Paman.. kalau boleh tahu Steve sakit apa?" Wei mendahului untuk menanyakan keadaan Steve.


"Wei... Steve tidak sakit, tapi...dia nekad mencoba bunuh diri dengan memotong urat nadinya." Dengan perasaan berat ayah Steve berbicara pada Wei.


Deg


"Apa?" Jantung Wei seolah berhenti sesaat. Rasa kagetnya mampu membuat jantungnya tertekan. Alisnya terangkat matanya melebar memandang ayahnya Steve kaget. .


"Iya, paman juga tidak menyangka Steve melakukan hal itu." Suara ayah Steve terdengar lemas.


"Lalu sekarang bagaimana keadaan Steve paman?"


"Lukanya sudah dijahit. Sekarang sedang istirahat, setelah tadi dokter memberikan obat penenang."


"Hhmm.. " Wei terdiam.


"Wei.. bolehkah paman bertanya padamu?" Ayah Steve menatap inten Wei, berharap dia menemukan penyebab masalah putranya.


"Iya paman?" Matanya mengartikan dia belum mengerti.


"Darimana kamu mendapatkan kalung yang sama dengan Steve?" Ayah Steve menduga hal ini ada kaitannya dengan penyebab putranya mencoba bunuh diri.


"Iya paman?" Wei mengerutkan dahinya. Dia sedang berfikir untuk mempertimbangkan apakah dia harus bicara atau diam.


"Steve pernah menanyakan sebuah kalung yang pernah kamu tunjukan pada paman. Kalau memang benar kalung itu adalah kalung pasangan yang kami miliki, itu bisa dipastikan milik adiknya Steve, Hana. Paman mohon kamu bisa terus terang Wei..." Ayah Steve terlihat memohon.


"Pertama-tama saya mohon maaf paman apakah paman bisa memegang janji untuk tidak kecewa? Wei meminta ayah Steve memberikan kepastian, bahwa ketika dia bercerita jujur, ayah Steve tidak kecewa atau pun marah padanya.


"Baik Wei.. paman berjanji. Apapun yang terjadi paman akan berlapang dada."


"Begini paman... Semenjak awal saya tidak tahu kalau Hana adalah adiknya Steve. Tapi saya sudah mengenal Hana dan keluarganya Hana semenjak saya satu sekolah dengan Daniel kakak tirinya Hana. Saya berteman baik dengannya, begitu juga ayahnya Hana adalah teman baik ayahku. Tapi semenjak kematian ayah Hana, saya tidak melihat lagi Hana di rumah itu."


"Maksudnya bagaimana Wei, Hana tidak tinggal dirumahnya?" Sorot mata ayah Steve agak tajam mendengar Hana tidak tinggal di rumahnya.


"Iya paman. Setahu saya Hana sudah tak tinggal lagi bersama Daniel setelah kematian ayahnya.


"Lalu dimana Hana selama ini?"


"Saya kurang tahu paman."


"Tapi saya mohon maaf sebesar-besarnya paman! Ketika ayah saya masuk rumah sakit terkena serangan jantung, karena saya terburu-buru saya... menabrak Hana." Wei tertunduk.


"Apa?" Mata ayah Steve terbelalak, kaget.


"Iya paman. Saya baru tahu itu adalah Hana, karena mengenali wajahnya. Akibat kecelakaan itu Hana mengalami gangguan amnesia. Pada waktu itu saya bingung harus membawanya kemana, karena saya tidak tahu dimana Hana tinggal, dan keadaan saya juga tak memungkinkan merawat Hana, makanya saya menitipkannya pada Steve untuk sementara"


"Jadi semenjak Hana kecelakaan Hana tinggal bersama Steve?"


"Iya paman. Saya mohon paman bisa memaafkan kesalahan saya!" Sesal Wei pada ayahnya Steve.


"Terus kalung itu apa dipakai Hana?" Ayah Steve masih penasaran dengan cerita kalung itu.


"Tidak paman."

__ADS_1


"Lantas darimana kamu mendapatkan kalung itu?" Ayah Steve mencoba bersabar, baru mendengar sedikit saja, hatinya agak kesal pada Wei.


"Setelah kecelakaan itu, saya menyuruh beberapa orang untuk mengawasi Hana, demi keamanan Hana. Tapi tak disangka ibunya Daniel menyuruh beberapa orangnya untuk membuntuti Hana. Saya agak curiga dengan gerak geriknya, sampai pada suatu waktu mereka mencuri kotak kepunyaan Hana yang isinya ada kalung dan beberapa surat penting. Untungnya orang-orang saya berhasil mengambil kotak itu kembali." Wei mengambil nafas. Ada perasaan lega setelah sekian lama dia menyimpan rahasia itu.


"Lalu kenapa sampai mencuri kotak itu Wei?"


"Dalam kotak itu ada buku catatan diary, dalam diary itu Hana menceritakan beberapa kejadian yang telah menimpanya selama ini. Juga ada beberapa surat dari dokter Alvian yang dahulu pernah merawat Hana di rumah sakit jiwa."


"Maksud kamu Hana pernah masuk rumah sakit jiwa? Tapi kenapa?" Ayah Steve bertambah penasaran.


"Menurut yang saya tahu dari surat itu, Hana sengaja dimasukan ke rumah sakit jiwa setelah mengalami kecelakaan. Tapi.. " Wei berhenti bicara.


"Tapi apa Wei?"


"Saya kurang pasti paman, sepertinya Hana.. mengalami percobaan pembunuhan paman. Tapi saya belum menemukan bukti yang cukup untuk hal itu. Saya hanya membaca dari isi surat dokter Alvian yang dikirimkan pada Hana."


"Ya ampun.." Ayahnya Steve menunduk. Memikirkan begitu banyak masalah.


"Iya paman. Awalnya saya tidak ingin memberi tahu Steve. Tapi karena kalung itu Steve... belum siap menerima Hana sebagai adiknya." Wei berkata lirih.


"Apa Steve tahu apa yang menimpa Hana?" Ayah Steve kembali menegakkan badannya menoleh ke arah Wei.


"Saya memberi tahunya tadi malam paman." Wei kembali tertunduk.


"Tadi malam?" Alisnya ayah Steve terangkat menatap lekat pada Wei.


"Iya paman."


Ayah Steve mengusap wajahnya dengan kasar. Dia menduga, mungkin inilah penyebab anaknya melakukan percobaan bunuh diri. Ayah Steve tahu bahwa Steve sangat membenci Hana karena telah menganggap Hana merebut ibunya. Dia masih tidak bisa menerima kehadiran Hana sebagai takdirnya. Bisa jadi antara benci, sayang yang tumbuh pada Hana, dan rasa bersalahnya pada Hana membuat Steve berbuat nekad seperti itu.


"Wei.. paman harap kita tidak membahas hal ini ketika nanti kita menemui Steve!" Ayah Steve merasa perlu untuk membatasi pembicaraan Wei, tak lain karena alasan kekhawatiran.


"Baik paman."


"Paman ucapkan banyak terimakasih padamu nak! Selama ini sudah menjaga Steve dengan baik. Adapun mengenai masalah Hana, nanti kita bicarakan lagi." Ayah Steve seperti lelah untuk memikirkan banyak masalah sekaligus.


Pintu kamar tiba-tiba terbuka.


"Maaf Pak, pasien memanggil keluarganya." Seorang perawat ke luar dari ruangan dimana Steve dirawat.


"Baik." Orang-tua Steve berdiri. Dia menoleh ke arah Wei.


"Baik paman." Wei mengikuti langkah mereka di belakang.


####


Sementara di kamar perawatan Steve masih menatap langit-langit kosong. Badannya begitu lemas tak bertenaga, kepalanya terasa kleyengan, mungkin karena obat yang disuntikan perawat ke dalam infusan.


"Maaf suster... bisakah anda panggilkan orang-tua saya?" Saya ingin bertemu mereka." Pinta Steve dengan suara pelan.


"Baik, sebentar saya panggilkan!" Perawat itu melangkah ke luar memanggilkan kedua orang-tua Steve.


Mereka muncul dari balik pintu dengan senyuman, tak menandakan wajah mereka sedang bersedih ataupun sedang gelisah. Tadi setelah berkonsultasi dengan dokter juga psikiater, bahwa Steve mengalami gangguan psikis paska mendengar kenyataan bahwa Hana adiknya. Dan hal itu pernah terjadi beberapa tahun yang silam ketika Steve masih kecil. Dokter berharap orangtuanya atau pun temannya tidak membicarakan yang berat-berat dulu.


"Ayah, mam.. " Steve menatap kedua orangtuanya yang baru saja datang.


"Apa kabar sayang? Ayah datang bersama Wei lho.. nih dia membawa buah-buahan untuk kamu Steve."


"Mana dia yah?" Steve mengedarkan pandangan ke arah pintu.


Wei yang tadinya mengikuti orang-tua Steve tiba-tiba langkahnya tertahan. Dia merasa khawatir kalau kehadirannya tak diharapkan Steve.


"Wei masuklah!" Ayah Steve menyuruh Wei masuk. Mereka bertiga spontan menatap ke arah pintu berharap Wei masuk.


Wei masuk, sudut bibirnya terangkat


mengembangkan senyuman. Dia melangkah mendekati ranjang Steve.


"Bagaimana kabarmu Steve?' Wei menyapa Steve dengan perasaan bersalah.


"Baik." Steve tersenyum tipis.


"Bagaimana dengan perusahaan?" Steve menanyakan kabar perusahaan, yang terakhir kali dia ingat bahwa perusahaan masih dalam masa genting.


"Baik. Jangan khawatir! Semuanya sudah kembali normal." Jelas Wei pada Steve. Memang perusahaan Wei sudah membaik paska peretasan. Tinggal beberapa masalah kecil yang masih bisa diatasi oleh para pegawai lainnya.


"Benarkah?" Steve masih belum mempercayai apa yang baru saja dikatakan Wei. Dia tahu betul sifat Wei yang tertutup, kadang sulit untuk terus terang.


"Iya benar. Sudahlah jangan banyak berpikir! Sekarang kau butuh istirahat!" Pinta Wei sedikit memaksa.

__ADS_1


"Benarkah itu perbuatan bocah nakal kemarin sore?"


"Iya.. ha ha.ha." Wei tertawa lebar. Tak habis pikir bocah itu bisa mengalahkannya dan dia terpaksa harus tunduk dibawah keinginannya yang kekanak-kanakan.


"Apa dia juga yang membereskan masalah itu?"


"He'em." Wei menganggukkan kepalanya


"Eh.. kalian pada bicara apa? Ko ayah tak diajak bicara?" Ayah Steve mencoba mencairkan suasana.


Steve dan Wei tersenyum menatap ayah Steve.


"Tidak.ayah, ini masalah di kantor Wei. Kemarin perusahaan Wei diretas." Jelas Steve pada ayahnya.


"Bagaimana sekarang Wei?" Dia menoleh ke arah Wei memastikan jawaban Wei tentang perusahaannya.


"Tenang paman! Semuanya baik-baik saja!" Jelas Wei dengan tersenyum, menandakan tidak ada masalah.


Sementara mereka mengobrol panjang lebar dengan diselingi gelak tawa menghibur Steve.


####


Dilain tempat Hana sedang mencari beberapa lowongan kerja. Setelah kemarin Hana mengajukan risain lewat email, Hana memutuskan untuk mencari lowongan kerja yang sesuai bidangnya.


Ah.. lelah juga memilih dan memilah beberapa lowongan kerja. Apa sebaiknya aku tidak mengajar di sekolah lagi?


Terbersit dalam pikiran Hana untuk tidak mengajar lagi di sekolah. Dia ingin mengajar dengan jam yang lebih ringan. Hana berpikir untuk kembali kuliah untuk meningkatkan keahliannya.


Tiba-tiba matanya spontan menangkap satu baris iklan yang ada di layar handphonenya. Di Sana ada lowongan kerja di tempat bimbel. Dahinya mengkerut dia sedang mengamati angka- angka gajih yang dijanjikan.


Ini gak terlalu kecil?


Hana agak menciut melihat angka gaji yang ditawarkan oleh tempat bimbel yang tertera di barisan iklan. Lalu Hana kembali mengamati lagi dengan seksama tempat bimbel yang sudah beriklan.


Wah pantas saja, ini bukan Jakarta.


Hana merenungkan beberapa kemungkinan yang akan diambil.


Kalau di Jakarta bayarannya memang besar, tapi biaya kuliahnya pun terbilang besar juga, belum biaya hidup. Apa masih bisa mencukupi kebutuhan?


"Ah pusing juga memikirkannya." Hana berkata sendiri.


"Apa coba saja ambil yang di luar kota? Selain ada pengalaman baru, juga bisa mengirit biaya hidup." Kembali Hana memikirkan lowongan kerja di tempat bimbel yang berada di kota B.


"Baik. Besok aku akan pergi ke sana mencoba pengalaman baru jadi guru bimbel di kota B." gumam Hana dalam hati. Dia seolah menemukan atmosfir baru dalam dirinya setelah beberapa waktu ke belakang pikirannya bergulat dengan beberapa masalah yang membuatnya agak sedikit terbebani.


Hana membaringkan tubuhnya dan menutup mata agar bisa tertidur dengan tenang.


Ah nikmatnya, sekarang aku hanya butuh tidur sebelum besok berangkat ke kota B.


Tunggu aku ya! Semoga rejeki aku gak lari.


Hana tertidur menghabiskan malamnya dengan tenang. Segala kepenatan dan kesusahan seolah sirna. Padahal di luar sana ada banyak yang sedang mempertanyakan keberadaannya. Apalagi besok adalah hari perpisahan dari anak-anak didiknya.


Beberapa anak sudah mempersiapkan kado spesial untuk Hana. Bahkan Sandi sendiri sudah memberikan sejumlah uang untuk membantu acara perpisahan agar meriah.


"Kira-kira kado apa yang tepat buat bu Restu?" David mengajukan pertanyaan pada beberapa temannya yang kini sedang mempersiapkan acara.


"Kira-kira kesukaan bu Restu apa?" Salah satu murid perempuan mengajukan ide.


"Kalau itu sih nanyanya sama bos kita.. dia yang paling tahu tuh! iya gak teman-teman? Sambung David memberi persetujuan.


"Eh... eh liat sana.. bukannya itu si Raffa?" mata David tertuju pada Raffa.


"Wah beneran tuh Raffa.. " beberapa orang melihat Raffa yang sedang berjalan mendekati teman-temannya yang sibuk dengan persiapan perpisahan.


"Ngapain lu pada liatin gue?" Raffa agak aneh melihat tatapan beberapa temannya terfokus padanya.


"Lah mana si Sandi Raff?" David mengedarkan pandangan kebelakang Raffa.


"Dia kagak bisa nongol! lagi siap-siap ke Ausi."


"Whattt?" David sedikit menaikan oktaf. Kaget mendengar Sandi akan ke Australia.


"Sudah ente fokus semua sama acara. Bukannya dia udah kirim duit buat dukungan?" Raffa mengamati semua teman-temannya.


"Ah kagak rame juga.. kalau si bos kagak nongol, pastinya kagak seru lah. Dia tuh kaya MSG, rasanya belum gurih kalau dia kagak datang." David terlihat kecewa mendengar berita Sandi.


"Sudah.. elu gak usah ngurusin si Sandi. Bu Restu juga kagak bisa hadir. Dia udah kirim email sama bu Emilia buat salam perpisahan.

__ADS_1


"Apa???"


__ADS_2