Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Terlahir kembali


__ADS_3


Nah buat kamu yang penasaran penampakan Sandi kaya gimana. Aku pinjem dari kamar sebelah. Biar ga jauh-jauh bawanya... he he Selamat menikmati episode yang baper ya... 😁


"Seingat saya, nama saya Hana tante, bukan Restu. Jadi panggil saya Hana saja!" Bola mata Hana bergantian menatap Sandi dan ibunya, meyakinkan apa yang baru saja Hana katakan.


"Oh my God.." Ibunya Sandi memegang keningnya. keterkejutannya membuat matanya agak berkunang-kunang. Ibunya menatap Sandi dengan tatapan penuh penasaran mencari jawaban atas apa yang baru saja didengarnya. Anaknya pasti tahu dengan masalah ini.


Apa lagi trend gitu ganti nama?


"Biar kita makan dulu aja mih! Kekagetan kita biar kita tunda dulu. Biar Restu.. eh Hana juga ada tenaga buat ngejelasin ke kita?" Sandi memberi saran untuk menenangkan ibunya.


"Baiklah.. bu... he he mamih mesti panggil Hana ya?" Wajah ibunya Sandi nampak kikuk setelah mendengarkan Hana.


"Kita makan sama-sama ya sayang! Buat mamih Restu atau pun Hana tidak mengapa. Orangnya tetep cantik ko, ga berubah." Ibunya Sandi berusaha menghibur. Bibirnya tersenyum padahal pikirannya berjalan-jalan.


"Iya tante terimakasih." Hana mulai menyantap makanan yang sudah dihidangkan. Walau terkadang saling memberi senyuman dengan pikiran penuh pertanyaan.


"Baiklah! mamih mau ke bawah dulu. Kalian ngobrol-ngobrol aja dulu! Jangan sungkan ya Hana! Anggap aja rumah sendiri!" Ibunya Sandi mencairkan kekakuan.


"Baik tante.. terimakasih atas pengertiannya."


"Baik sayang.. mamih tinggal dulu ya." Ibunya Sandi berjalan menjauh. Dia seakan tahu apa yang harus dilakukannya. Dia tak boleh menekan Hana terlalu jauh, apalagi membuatnya tak nyaman.


Setelah Sandi dan Hana menyelesaikan makannya. Sandi berniat mengajak Hana untuk masuk ke satu ruangan.


"Ayo kesini! Aku akan mencari informasi buat bantu kamu." Sandi mengajaknya ke satu ruangan, tepatnya tempat Sandi bekerja. Disana banyak alat-alat perlengkapan elektronik, mulai TV, kamera, komputer dan alat-alat pendukung pekerjaannya sebagai hecker ruangan itu sengaja didesain canggih.


"Ini ruangan apa?" Hana melebarkan pandangan.


"Ini ruang kerjaku." Sandi segera membuka sebuah laptop yang telah tersambung ke internet.


"Kerja? Emang kerjaanmu apa?" Hana ingin tahu pekerjaan Sandi. Matanya beredar mengamati sekeliling ruangan. Ada rasa takjub dan penasaran melihat desain interior ruangan kerja Sandi. Hawa maskulin bercampur dengan alat-alat elektronik yang Hana kurang mengenalnya.


"Aku.. selain belajar suka ngotak-ngatik komputer juga." Sandi menggeserkan kursi untuk Hana duduki. Hana duduk bersebelahan dengan Sandi.


"Tapi Hana.. mohon maaf.. bolehkan aku bertanya padamu?" Sandi membalikkan badan sehingga bisa melihat Hana posisi mereka jadi berhadapan.


"Iya, tanyakanlah!" Hana terlihat santai.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Aku belum tahu yang sebenarnya apa yang telah menimpamu?" Sandi menatap Hana serius.


"Hhmm yang aku ingat, tiba-tiba aku terbangun di sebuah rumah sakit. Lalu dokter memvonis ku amnesia."


"Amnesia?" Wajah Sandi berubah. Alisnya terangkat matanya jadi melebar. Sungguh Sandi sangat terkejut.


"Kenapa kamu bisa ada di rumah sakit?" Sandi kembali bertanya.


"Aku... katanya kecelakaan." Hana menjawab tanpa beban sambil menatap Sandi.


"Oh my God... " Sandi mengusap kasar wajahnya, tak habis pikir Hana yang ada di depannya benar-benar amnesia. Bagaimana dia bisa menghadapi ke depannya kalau tidak ada yang membantunya. Selintas Sandi mengkhawatirkan kondisi amnesianya yang mudah dimanipulasi siapa saja.


"Terus.. apa lagi yang kau ingat?" Sandi tak sabar mendengar penjelasan Hana.


"Tak ada."


"Oh my God,sama sekali?" Pandangannya menilik netra Hana. Sandi mencoba menilai apakah dia jujur atau sebaliknya.


"Lalu siapa yang membawamu ke rumah sakit?"


"Suamiku." Begitu datar nya Hana menjawab, seolah hal itu benar.


"Suamimu? ko kamu bisa tahu itu suamimu?" Sandi mengernyitkan keningnya dia tak begitu mempercayai. Kapan Hana menikah? Setahu Sandi Hana kecelakaan ketika dia akan ke kantor polisi menyelesaikan masalahnya. Itu kan belum lama ini? Mungkinkah laki-laki tadi memperalat amnesianya? Tapi untuk apa?


"Aku mendengar perbincangan antara dia dan dokter sewaktu masih dirawat disana."


"Lalu.. siapa nama suamimu? dan apa pekerjaannya?" Pikiran Sandi mulai tak nyaman mendengar kata 'suami'.

__ADS_1


"Namanya Wei, dia direktur di perusahaan sekaligus ownernya di Global Grup. " Hana nampak tenang. Dia menjawab apa yang dia tahu dari Steve.


"Direktur? Owner-nya Global Grup?" Sandi melipat tangannya di dada sambil menggigit bibir bawahnya berfikir. Dia sedikit terusik dengan posisi laki-laki yang baru saja didengarnya.


Pesaingnya orang penting juga.


"Hhhmm." Sandi berusaha berpikir dengan cara pandang yang berbeda. Maksudnya dia mengaku suami untuk apa? Sekelas pengusaha besar seperti Global Grup pasti berita pernikahan bukan hal yang rahasia.


"Kamu sekarang tinggal dimana?" Sandi kembali menatap Hana.


"Aku tinggal di rumah Steve."


"Steve? Siapa dia?" Sandi bingung ternyata ada nama laki-laki lain selain suaminya.


"Laki-laki yang kau temui di gerai namanya Steve. Dia asisten pribadinya Wei."


"Maksudmu, suamimu Wei? Tapi kenapa kamu bisa tinggal bersama dengan Steve. Itu aneh!" Sandi merasa ada kejanggalan dengan semua keterangan Hana.


"Suamiku pergi keluar negeri untuk waktu yang lama. Jadi dia menitipkan aku sama Steve. Katanya demi kebaikan bersama."


"Lantas kamu percaya begitu saja?" Bertambah pula kejanggalan dipikiran Sandi. Sandi menatap mata Hana tajam. Seolah sedang membaca pikiran Hana.


"Katanya mau bantu? ko jadi aku yang ditanya terus?" Hana merasa tak nyaman. Seperti sedang diinterogasi.


"Maafkan aku Hana! Bukan maksud aku membebani mu. Tapi aku tak tahu harus mulai darimana membantunya." Sandi belum menemukan ide.


"Mulailah dengan ceritamu dulu! Dimana kamu kenal aku? Terus apa saja yang kamu ketahui tentang aku. Cobalah ceritakan kepadaku semuanya!" Hana berbalik meminta Sandi untuk menjelaskan kepada Sandi apa yang diketahui tentang Hana.


"Baik.. aku akan bicara. Semoga saja kamu bisa mengingatnya!" Sandi menarik nafas lebih dalam dan menghembuskan nya perlahan-lahan.


"Begini... aku masih mengingat pertemuan pertama denganmu. Itu terjadi dua tahun yang lalu. Waktu itu kamu terburu-buru masuk pintu gerbang sekolah yang sudah mau dikunci.


Ya, kita berpapasan waktu itu. Aku yang awalnya berniat membolos sekolah, akhirnya tidak jadi. Ketika itu aku sedang berjalan bertolak denganmu. Aku melihatmu begitu gugup. Karena terlihat kikuk dan kamu seperti kebingungan. Karena aku kasihan padamu, aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya duluan. Ternyata kamu sedang mencari ruang kepala sekolah. Waktu itu adalah hari pertama kamu mengajar.


Aku masih ingat wajahmu seperti apa. Beberapa kali kamu mengelap keringat karena gugup. Aku tak tega melihatmu, dan terpaksa niat membolos pun batal. Aku mengantar kamu ke ruang kepala sekolah.


Selanjutnya kamu mengajar di sekolah Sma favorit di kota ini sebagai guru baru mata pelajaran biologi sekaligus wali kelas di kelas utama.


"Bukan, aku di kelas istimewa, dimana kelas itu kebalikan dari kelas utama."


"Maksudnya kelas utama dengan kelas istimewa bedanya apa?" Hana masih belum mengingat apapun mengenai masa lalu yang diceritakan Sandi.


"Kelas utama, dimana di dalamnya terdiri dari murid-murid dengan disiplin tinggi dan tertib. Kelas aku, kelas kebalikannya."


"Terus aku bisa kenal kamu bagaimana?" Tukas Hana lebih penasaran dengan cerita Sandi.


"Ya, kamu sebagai guru baru dikelas utama hanya tiga bulan percobaan sementara. Selanjutnya kamu menjadi guru mata pelajaran sampai satu tahun." Sandi terdiam, agak sedikit malu.


"Ada yang sudah diingat?" Buru-buru Sandi bertanya. Padahal ada sesuatu yang disembunyikan Sandi. Dia tak mau kejadian memalukan waktu itu diingat Hana. Mengingat waktu itu Sandi suka mengintip dikelas utama, sampai Hana dihentikan.


Hana menggelengkan kepala.


"Ya. Sudah satu tahun, akhirnya kamu masuk ke kelas istimewa jadi wali kelas menggantikan pak Nelson. Sudah ada yang diingat?" Sandi menatap manik mata Hana, menunggu reaksinya. Sandi tetap menyembunyikan kejadian masa itu yang pernah melibatkannya.


Ya ada sebab kenapa Hana diberhentikan mengajar di kelas utama. Salah satu penyebabnya adalah Sandi. Dia selalu mengintip di kelas utama, memperhatikan Hana. Suatu hari karena Hana merasa iba pada Sandi, maka Sandi dimasukkan di kelas utama tanpa izin kepala sekolah. Tentu itu melanggar peraturan, sehingga Hana diberhentikan menjadi wali kelas karena tidak punya kedisiplinan.


"Yang aku ingat, kamu sedang merokok dengan baju putih abu-abu lalu.. " Hana berhenti bicara, merasa malu untuk melanjutkan bicara.


"Lalu apa?" Sandi menarik kursi Hana mendekatkan wajahnya dan menatap lamat-lamat. Wajah Hana merah merona karena malu.


"Mau ditampar lagi?" Hana spontan mendorong badan Sandi menjauh.


"Iya.. iya sorry lupa!" Sandi terdiam begitu pun Hana. Entahlah dari kejadian itu Sandi seolah tergoda untuk menyentuh Hana.


"Kamu tahu alasan kenapa kamu menamparku waktu itu? Bukan karena aku tak sopan, tapi tak lebih dari rasa cemburu kamu pada Vania." Sandi menjelaskan alasan kenapa Hana marah padanya.


"Cemburu? Vania? Apa kamu yakin?" Hana agak tak percaya pada pengakuan Sandi. Bisa jadi laki-laki ini otaknya mesum sengaja memanfaatkan kelemahan Hana.

__ADS_1


"Ya.. karena kamu memergoki aku sedang di kamar hotel bersama Vania. Kamu salah paham. Jadi marahan deh." Sandi dengan entengnya menjelaskan kejadian waktu itu.


"Kenapa harus cemburu." Ada perasaan yang tak nyaman di hati Hana.


"Ya kamu cuman salah paham aja. Waktu itu Vania sakau, aku berusaha mengantarkan sabu buatnya. Tapi malangnya Raffa malah melaporkannya sama kamu. Akhirnya kamu memergoki Vania sama aku disana. Karena Vania sakau parah, akhirnya masuk rumah sakit karena sabunya tidak sempt aku berikan dirazia sama kamu."


"Jadi kalian sejauh itu bikin kenakalan?" Raut wajah Hana agak memerah menahan kekecewaan.


"Aku sama sekali gak nyabu. Tapi Vania iya. Eh... jangan salah paham dulu! Vania juga sekarang sudah insyaf ko! berkat kamu." Sandi menjelaskan agar Hana tak salah paham lagi.


"Oh iya, sebelum aku lanjut, boleh gak aku minta foto suami kamu? Kali aja aku bisa identifikasi."


"Gak ada."


"Lah.. masa? Mungkin di hp?" Sandi gak percaya.


"Gara-gara kamu culik, handphone pun gak ada." Hana kesal.


"Ya ampun sorry deh!" Sandi menarik badannya lalu menarik laci yang ada disekitar meja, mengeluarkan beberapa handphone miliknya.


"Pilih! Semua masih baru. Aku beli beberapa bulan yang lalu. Itu juga buat kamu semuanya. Waktu itu handphone kamu pernah dibajak seseorang. Aku berniat memberimu handphone baru. Eh telat, kamu udah beli duluan." Sandi menyodorkannya ke pangkuan Hana.


"Beneran ini buat aku?" Hana mengambil salah satunya yang berwarna pink.


"Iya beneran! Kalau gak percaya kamu boleh tanya Vania sama Raffa. Aku membelinya sama-sama mereka ko!"


"Ya terimakasih! Aku Terima handphonenya. Tapi, aku janji, nanti aku bayar kalau sudah punya uang." Hana tanpa berpikir panjang mengambil salah satu handphone yang diberikan Sandi. Padahal semua handphone yang disodorkan telah dipasang chip oleh Sandi.


"Kamu beneran gak punya uang Hana?" Sandi berniat memberikan sesuatu. Ya jiwa Sandi yang dermawan kadang suka gak tegaan melihat temannya kesusahan. Apalagi buat orang yang dia cintai.


Hana mengangguk.


Sandi mengambil dompetnya lalu mengeluarkan satu kartu debit. "Nih buat kamu! Pergunakanlah buat keperluan mu!" Dia menyodorkan kepangkuan Hana.


"Tidak-tidak. Aku juga punya tapi..."


"Tapi... dia milik Steve." Hana agak ragu-ragu.


"Steve? Bukan punya Wei?" Sandi mengerutkan dahi. Kalau istri punya debit kartu suami sih wajar, tapi kenapa harus Steve. Pikiran Sandi beredar.


Hana mengangguk.


"Mana? Coba lihat!" Sandi seolah mendapatkan ide untuk membajaknya. Untuk mengetahui siapa laki-laki yang telah tinggal bersama Hana.


Hana mengeluarkan kartu debit yang belum sempat diterima Steve sewaktu makan steak di mall sebelum penculikan. Dia menyerahkan pada Sandi.


"Hah ini dia!" Sandi seolah mendapatkan ide. Dia langsung menggerakkan jari- jarinya di keyboard laptop. Matanya mulai mengamati dengan serius apa yang tampil di layar laptopnya.


Semuanya fokus melihat apa yang akan muncul di layar laptop. Begitu pun Hana. Dia diam mengamati apa yang sedang dilakukan Sandi.


Sandi mulai mengeluarkan jurus hecker nya. Tapi tak disangka pekerjaannya menjadi rumit.


Dia bekerja keras untuk bisa mengakses data. Tapi sialnya, data orang yang sedang diakses terkunci rapat. Seolah dia sudah mempersiapkannya sebelum Sandi mengheckernya.


Tentu ini menjadi alasan kuat buat Sandi. Orang yang sedang dihadapinya bukanlah orang sembarangan. Bisa jadi ada sesuatu yang besar yang terjadi dengan Hana.


Dia berniat untuk melindungi Hana semampunya. Dia berpikir orang-orang yang sedang dihadapi Hana adalah orang berbahaya. Dari perlindungan datanya saja bener-bener kuat.


Ada apa ini?


Sandi tetap memecahkan kode-kode yang biasa dikerjakannya. Baru kali ini dia menemukan kesulitan serumit ini.


Ini tantangan baru buat Sandi. Dia tak boleh menyerah begitu saja. Demi Hana dia akan berusaha dengan jalan lain.


Ya dia harus menyewa informan untuk mengetahui siapa sebenarnya mereka? Ada motif apa sehingga Hana harus jadi korban? Atau jangan-jangan mereka adalah penjahat kelas kakap.


Pikiran Sandi bergemuruh. Pikirannya dipenuhi pikiran negatif.

__ADS_1


Ini sebabnya kenapa kamu menghilang Hana? Dan datang dengan kondisi amnesia. Maafkan aku Hana, aku hanya membuatmu susah selama ini


Perasaan Sandi bertumbuh sekarang. Rasa sayangnya kini bertambah. "Maafkanlah!"


__ADS_2