
"Dateng kesini cepat!"
"Ngapain?" Sandi mengerutkan dahi.
"Pokoknya cepetan!"
"Gue sibuk nih!" Sandi sedikit berbohong.
"Ya udah... kalau ga mau lihat Pak Fikri kencan sama bu Restu... " Raffa menggoda sambil cengengehan. Setelah tadi melihat pak Fikri berjalan bersama dengan Hana melihat-lihat kondisi kelas.
"Apa? Gue langsung caww." Sandi tak perlu berpikir lama jika itu mengenai Hana. Dia langsung mengemasi kotak yang tadi dia bongkar. Dia langsung menutup pintu dan melihat semua ruangan, memastikan kembali rapih. Dia tak mau membiarkan Hana didekati laki-laki manapun tak terkecuali dengan pak Fikri.
Dia membawa ransel dan kotak itu bersama kepegiannya dari rusun milik Hana. Keduanya disimpan di bagasi mobil agar tidak ketahuan Hana. Dia tak mau Hana curiga. Tak lama kemudian mobil melesat menuju sekolah untuk menemui Hana. Sesampainya di sekolah Sandi memarkirkan mobil di luar sekolah agar tidak menjadi perhatian teman-temannya.
"Hei Itu Sandi... " Beberapa teman- temannya langsung berhamburan mendekati Sandi. Sudah barang pasti teman-temannya bukan tanpa tujuan mendekati Sandi. Tapi demi kesuksesan acara perpisahan Sandi menjadi sangat penting untuk andil. Maklumlah selama ini Sandi selalu membantu sebagai donatur.
"Hei bro... kemana aje? Baru nongol jam segini." David si raja kepo menepuk bahu Sandi.
"Kepooo." Sandi mencibir David.
"Ya kepo lah... emang gue aja yang kepo. Tuh tanya yang laen juga lebih kepo dari gue." David melakukan pembelaan diri.
"Udah, gue ada urusan sama si Raffa." Sandi melepaskan tangan David dari bahunya.
"Eit... loe mau kemana bro? Si Rafa sama si Vania lagi difoto buat buku kenangan. Loe juga diarepin! Jadi ga lengkap dong kalau si raja duit ga ada. Ha ha ha... bener ga??" David menoleh teman-temannya yang sudah mengerubuti Sandi sejak kedatangannya.
"Bener banget... " Semua pada mengangguk tanda setuju.
"Tuh si Raffa kesini... " David menunjuk menoleh ke arah Raffa dan Vania yang kian mendekat.
Sandi buru-buru mendekati Raffa. "Dimana bu Restu?" Pandangannya beredar mencari Hana.
"Lah giliran bu Restu aja gak pake lama. Dia aman, lagi keliling liatin semua kelas. Aneh!" Raffa membuka permen loli popnya dan me memasukkan ke dalam mulutnya.
"Gue nyusul ke sana!" Sandi berniat melangkahkan kaki menyusul Hana. Tapi bajunya tersangkut ditarik Raffa.
"Elu difoto dulu! Abis gitu ngumpul di basecamp buat acara perpisahan." Raffa mencegah kepergian Sandi dulu agar bisa mengambil foto dulu.
"Gue gak minat!" Sandi dengan ketus menjawab.
"Masalahnya bukan minat dan gak minat. Ini masalah harkat. Iya gak Van?" Raffa melirik ke arah Vania. Vania mengangguk mengiyakan.
"Terserah elu aja deh. Gue gak ikutan!" Sandi melepaskan cengkraman tangan Raffa dari bajunya. Dia langsung berlari ke arah gedung yang berjejer kelas. Saat ini tak berminat dengan masalah itu.
"Ya... gimana donk? Pendanaan kita?" David yang sedari tadi mendengarkan, sepertinya harus kecewa jika Sandi tak ikut rapat.
"Ya udah.. tanggung renceng!" Vania dengan santai melengos meninggalkan kerumunan teman- teman seangkatannya. Dia seperti Sandi tak berminat berkumpul rapat untuk acara perpisahan. Itu demi solidaritas persahabatannya.
"Hadeuhhh.. kalau kalian kompak gitu, gimana dong kita?" David bertambah kecewa ketika the geng Sandi sudah kompak begitu.
Vania dan Raffa menuju lapangan parkir.
"Hei.. Van.. tunggu aku! Raffa menyusul Vania.
"Kita kemana nih?" Nafas Raffa masih terengah-engah setelah langkahnya dipercepat menyusul Vania.
"Mau bakso?" Vania sedikit menarik bibirnya ke depan. Sembari mengajak Raffa makan bakso. Vania memasangkan helm dan menaiki motor ninja nya.
"Hayuu." Disusul Raffa memasang helm dan naik motor n max keluaran lama. Ya Raffa tak tertarik dengan barang-barang mewah atau pun terbaru. Buat dia bisa naik motor aja udah puas. Bukannya gak mampu beli, tapi Raffa bukan tipe anak muda sekarang yang royal gonta-ganti kendaraan. Padahal orang tuanya terbilang mampu. Kalau pun pakai mobil dia meminjam kepunyaan ayahnya atau mamihnya.
Beda banget dengan Sandi. Mobil dan motornya sudah ada beberapa koleksi. Buat dia uang seperti pohon. Bisa mengambil kapan dia mau, belanja apa yang dia mau.
"Raf... lu gak lihat Sandi markir motor apa mobil?" Vania agak penasaran keberadaan kendaraan yang dipakai Sandi.
Raffa mengedarkan pandangan di sekitaran parkir. Tak ditemui diantara motor atau mobil terparkir di halaman sekolah salah satu koleksi Sandi.
"Ngangkot kali.. " Raffa kembali menyalakan kunci motor tidak menghiraukan keberadaan kendaraan Sandi
Vania masih diam. "Masa iya ngangkot apa ngegrab sih?" Vania mengerutkan dahi, lalu mengedarkan pandangan ke sekitaran parkir. Kali aja kendaraan Sandi ada nyempil. Vania tak percaya jika Sandi memakai kendaraan umum kalau tidak darurat banget.
"Eh jadi gak ngebaksonya?" Raffa menatap ke arah Vania yang masih belum menyalakan mesin motor.
__ADS_1
"Ya jadilah.. laper nih! Vania segera menyalakan kunci dan menarik gas siap-siap meluncur untuk makan bakso.
Mereka beriringan menuju pintu gerbang sekolah. Motor terhenti. Pak satpam segera mengangkat tiang palang lalu keduanya keluar gerbang sekolah.
"Eh... itu kaya mobil si Sandi?" Vania menghentikan motornya tak jauh dari mobil Sandi di parkir, ketika sekilas mata Vania melihat kendaraan Sandi terparkir di luar area sekolah. Raffa menyusul menghentikan motornya dan membuka helmnya melihat mobil Sandi.
Pandangan Vania tiba-tiba teralihkan dengan gerak-gerik seseorang.
"Raff itu siapa? Mereka bawa apa dari bagasi mobil si Sandi?" Vania menunjuk ke arah dua orang laki-laki berjaket hitam dan berkacamata hitam yang sedang mengambil barang dari bagasi mobil Sandi.
"Mereka mencurigakan banget!" Vania menoleh ke arah Rafa.
Raffa turun dari motor, lalu melangkah mendekati laki-laki itu. Memastikan apa yang diambil mereka dari mobilnya Sandi. Tapi Raffa tak menyangka sesuatu terjadi. Salah satu dari orang itu mengeluarkan senjata api dan menembakan ke arah Raffa.
Dor
Raffa terkulai jatuh ke jalan aspal. Tak bisa menopang lagi tubuhnya setelah peluru menyerempet betisnya. Sengaja penembak hanya melukainya saja tanpa niat untuk membunuh sebagai ancaman saja.
"Rafaaa... " Vania turun dari motor berlari ke arah Raffa jatuh. Dia kaget melihat Raffa terkena tembakan.
"Rafaaa.. bangun.. " Vania menggoyang-goyang badan Raffa. Berteriak histeris diiringi dengan tangisan. Air matanya jatuh tak terkira melihat Raffa terluka.
"Gue masih sadar Van.. " Raffa meringis menahan sakit. Raffa masih tersadar, karena tembakan itu hanya menyerempet .
Tak lama ada mobil van, menyerempet mendekati mobil Sandi, lalu dua orang laki-laki tadi masuk dengan cepat ke dalam van membawa serta barang yang telah diambilnya dari mobil Sandi.
"Tolong... tolong!" Vania dengan suara gemetar meminta bantuan. Satpam sekolah yang tak jauh dari tempat kejadian segera berlari ke arah Vania dan Raffa.
"Pak tolong panggilan ambulance!" Vania sambil menangis meminta pak satpam untuk memanggilkan ambulan.Tapi tangan Raffa memegang tangan pak satpam, dia memberi isyarat menggelengkan kepala. Pak satpam mengerti.
"Panggilkan Sandi!" Raffa mendongak ke wajah Vania, meminta menelpon Sandi.
"Iya.. Ya aku panggil Sandi." Vania dengan gemetar menekan handphonenya menelpon Sandi.
###
"Iya halo.. Van.. kenapa lu?" Sandi kaget mendengar tangisan Vania. Karena belum lama dia sudah bertemu dengan temannya itu. Mata Sandi masih tertuju pada Hana yang sudah ada di depannya. Pandangan mereka berdua beradu saling menatap.
"Iya.. iya gue nyusul kesitu!"
"Siapa yang tertembak?" Hana tak kalah kagetnya setelah mendengar suara Sandi. Hana melangkah mendekati Sandi.
"Ayo kita pergi sekarang! Raffa ada yang nembak." Sandi menarik tangan Hana mengajaknya berlari. Hana tanpa perlawanan mengikuti Sandi.
Keduanya berlari dan dengan nafas terengah-engah sampai juga di tempat lokasi Raffa terkulai.
Sandi menatap lamat-lamat dan memeriksa bagian yang tertembak.
"Bagaimana ini?" Hana lemas. Sebenarnya semua orang yang ada disitu sedang cemas.
"Pak jangan bilang ke siapa-siapa ya!" Sandi mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan pada satpam. Agar satpam bisa tutup mulut. Dia harus mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi.
"Van.. titipkan kunci motor lu sama Raffa ke satpam. Biar dia amankan. Ntar kita ambil setelah Raffa dibawa ke rumah sakit." Sandi menatap ke arah Vania.
Vania mengangguk.
"Iya. Nih pak saya titip dulu!" Vania menyerahkan dua kunci motor ke satpam.
"Iya neng... Hati-hati!" Satpam menerima kunci motor titipan Vania.
Sandi segera memangku Raffa memasukkan ke dalam mobilnya. Sandi melesat menuju rumah sakit. Tanpa menunggu lama Raffa dibawa ke ruang UGD.
Semua menunggu di luar tunggu depan UGD. Mereka terdiam. kelihatan wajah- wajah cemas.
Tiba-tiba Sandi menoleh ke arah Vania. Dia penasaran ingin mengetahui kronologi kejadian yang menimpa Rafa.
"Van.. coba ceritain apa yang sudah terjadi?" Sandi dengan mata tajam menatap Vania. Dia penasaran dengan apa yang menimpa Raffa.
"Begini San... " Vania dengan mata sembab masih sesekali meneteskan air mata. Hana mengusap punggung Vania, mencoba memberi dukungan.
"Tadi gue sama Raffa mau jalan makan bakso. Pas di tempat parkir, gue sama Raffa gak liat mobil lu. Gue ga curiga kalau lu nyimpen mobil di luar sekolah. Gue sama Raffa keluar parkiran, pas lewat, gue baru ngeh mobil lu ada di luar. Gue berhenti ngasih tau Raffa. Terus gue liat ada dua orang ngebongkar bagasi elu dan ngambil barang. Replek si Raffa turun dari motor, coba ngedeketin mereka. Tanpa ngasih aba-aba mereka nembak Raffa. uhuk.. uhuk" Vania kembali histeris.
__ADS_1
"Iya sabar ya! Kita do'ain Raffa semoga luka-lukanya gak parah." Hana membesarkan hati Vania sambil memeluknya.
"Kalian berdua tunggu disini! Gue ada perlu dulu." Sandi langsung berlari meninggalkan Vania dan Hana. Dia langsung teringat dengan barang yang dibawanya dari rumah susun itu.
Hana melongo melihat sikap Sandi. Di dalam hatinya dia sangat penasaran ingin menanyakan banyak hal pada Sandi. Ya, dia berniat nanti kalau sudah tenang, Hana akan bicara.
Dengan nafas masih terengah-engah Sandi sampai di parkiran rumah sakit, lalu membuka bagasi.
"Sial! Mereka berhasil bawa barangnya." Mereka berhasil membobol kunci otomatis mobilnya. Sandi mengusap kasar wajahnya, nafasnya terdengar berat dan matanya memerah. Dia mencoba menahan marah.
"Ini bener-bener serius! Orang yang dihadapi bukan orang sembarangan."
###
Pintu UGD terbuka. Muncul dokter berserta satu perawat.
"Bagaimana dok?" Hana dan Vania mendekati dokter yang menangani Raffa menanyakan keadaan Raffa.
"Gak apa-apa. Lukanya gak serius. Pelurunya cuman agak menyerempet aja. Pelurunya juga gak ada.Kemungkinan jatuh di Tkp"
"Oh iya dok terimakasih." Hana tersenyum lega. Vania memeluk Hana saking gembiranya dia tak bisa berkata-kata.
"Tapi...apa kalian melaporkannya pada polisi? Ini kasus serius lho!" Dokter menatap Hana dan Vania silih berganti.
"Belum dok, mungkin setelah ini." Hana memberi jawaban spontan. Dia belum tahu apa yang harus dilakukan nya.
"Iya baik. Nanti akan saya buatkan laporan jika diperlukan untuk penyidikan. Kalau polisi datang tinggal hubungi saya ya!"
"Iya baik dok. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih!" Hana membungkukkan badan.
Dokter berlalu dari hadapan Hana dan Vania.
Tak lama kemudian Sandi datang dengan raut wajah kusut mendekati Hana dan Vania.
"Bagaimana Sandi, apa yang hilang? Apa yang dibawa mereka?" Hana tak sabar terus memberondong dengan pertanyaan.
"Sudahlah... nanti kita bicara! Kita lihat Raffa dulu!" Sandi mencoba menyembunyikan kegalauannya.
Mereka bertiga berjalan ke ruang perawatan. Di sana Raffa sudah berbaring, luka bekas tembakan sudah dibungkus perban.
"Halo bro... Jangan sedih gitu donk! Gue aman ko." Raffa seperti biasa ceria. Tak ingin melihat teman-temannya sedih.
Sandi menyalami tangan sobatnya, lalu terdiam.
"Van.. jangan mewek gitu! Jelek tau!" Raffa menoleh ke arah Vania yang masih dipeluk Hana.
Vania malah menangis kembali, dia membenamkan kepalanya ke pundak Hana.
"Sudahlah Van! Raffa baik- baik aja ko! Mending Kalian pulang aja pake taxi, nanti gue yang nungguin Rafa disini." Sandi tak tega melihat para wanita itu tinggal di rumah sakit.
"Iya Van... mending elu sama bu Restu aja! Besok juga gue udah bisa pulang ko." Raffa menyarankan hal yang sama dengan Sandi.
"Iya Van... biar ibu antarkan sampai rumah. Atau mau tinggal dulu sama ibu?" Hana berencana mengajak menginap Vania di rumah Steve.
"Jangan! Kalian lebih baik pulang ke rumah gue aja hari ini. Berbahaya kalau kalian balik ke rumah Steve." Sandi spontan bicara, mengkhawatirkan ada sesuatu berkaitan dengan Steve.
Semua kaget. Sekarang mereka menatap Sandi penuh pertanyaan.
"Maksudnya San?" Raffa menatap manik mata Sandi.
"Sekarang gue telpon supir rumah buat jemput kalian berdua kesini."
"Tapi San?" Giliran Vania menatap Sandi. Di dalam hatinya dia ingin mendengar alasan Sandi.
"Udahlah Van! Mending elu nurut aja kata Sandi. Gue juga khawatir sama elu, kalau elu pulang ke rumah urusannya takut runyam. Mending kita cari aman dulu. Setelah gue keluar rumah sakit, kita pikirkan bareng-bareng gimana baiknya."
"Elu bilang sama nyokap, lu nginap di rumah gue." Sandi menimpali.
"Dan kamu juga Hana.. "
"Hana???" Raffa dan Vania sontak menatap Sandi, kaget dengan panggilan Hana.
__ADS_1
"Maksudnya bu Restu."