
"Kak... apa boleh aku meminta bantuan sama. kakak?" Wajah Hana serius menatap Steve.
"Iya. Apa yang mesti kakak bantu?" Steve pun tak kalah serius menatap Hana.
"Aku ingin membatalkan pernikahan dengan Wei kak." Hana dengan berat hati akhirnya mengungkapkan isi hatinya. Setelah mengingat kejadian kecelakaan yang menimpanya dulu, ada perasaan kecewa yang membuncah pada diri Hana. Kenapa Wei waktu itu pura-pura tidak mengingatnya.
"Kenapa?Ada yang menganggu pikiran Kamu Hana?" Tanya Steve ingin tahu kenapa Hana tiba-tiba ingin putus dengan Wei.
Hana mengangguk.
Kamu sudah bulat Hana?" Tanya Steve pada Hana. Sampai saat ini Steve pun belum menyampaikan tentang keputusan Wei membatalkan pernikahannya dengan Hana.
"Iya kak." Hana mengangguk.
"Alasannya apa?" Tanya Steve.
"Aku teringat kecelakaan waktu itu kak. Ketika kak Wei menabrakku dulu. Sebelumnya aku tidak ingat kejadian itu. Tapi begitu kecelakaan kemarin, tiba-tiba aku ingat sesuatu mengenai kak Wei. Hana mengingat semuanya. Bagaimana kak Wei memperlakukan aku sebagai istri palsunya, dan membodohi Hana kak." Hana terlihat kecewa.
"Hana..sebenarnya ada yang ingin kakak bicarakan juga sama kamu. Tapi janji kamu harus kuat ya!" Steve merasa ini kesempatan yang baik untuk menyampaikan berita itu pada Hana.
"Iya ada apa kak?" Hana melihat Steve dengan penuh tanda tanya.
"Sebelum kecelakaan yang menimpa Wei kemarin, Wei sengaja bertemu kakak. Dia ingin bicara pada kakak mengenai hubungan kalian." Steve mengambil nafas untuk menjeda pembicaraan.
"Terus apa yang dikatakan kak Wei pada kakak?" Tanya Hana penasaran.
"Wei ingin memutuskan pernikahan kalian Hana." Jawab Steve langsung to the point.
"Apa??" Hana membelalakan mata karena terkejut mendengar berita itu. Ternyata Wei lebih dahulu ingin memutuskan hubungannya. Padahal pernikahan sudah sebentar lagi. Dikira dirinya yang ingin putus, tapi jauh sebelumnya Wei ingin memutuskan hubungan. Tapi alasannya kenapa?
__ADS_1
"Iya. Wei telah menjelaskan alasannya pada kakak Hana." Ucap Steve terlihat tenang.
"Apa alasannya kak?" Suara Hana pelan. Dia mendadak sedih ketika Wei lebih dahulu ingin putus darinya.
"Alasannya karena tekanan ibunya. Dia memaksa Wei untuk menikahi Riana setelah kamu. Wei tak mau menduakan kamu dan menyakiti perasaan kamu Hana. Jadi dengan berat hati Wei harus memutuskan kamu demi kebahagian kamu." Jawab Steve seperti mendukung keputusan Wei.
"Kenapa begitu kak?" Hana nampak berkaca-kaca.
"Karena kalau dilanjutkan, hati kamu tidak akan tenang Hana. Ibunya Wei akan terus-menerus menganggu kehidupan kamu dan Wei. Nanti kamu juga akan tersakiti jika kamu memaksakan diri tetap di sisi Wei." Terang Steve menjelaskan apa yang telah disampaikan oleh Wei waktu itu.
Hana terisak, hatinya begitu sakit mendengar penuturan kakaknya. Ada perasaan yang yang sedang diiris-iris dalam dadanya begitu Wei memutuskan hubungan lebih dulu.
"Sabarlah! Jodoh tidak akan lari kemana. Sejak awal kakak sudah ragu Hana. Kakak tahu betul keluarga Wei seperti apa. Makanya dulu Wei mengaku suami karena tanggungjawabnya sama kamu dan keluarganya begitu besar dan berat." Jawab Steve sambil mengelus lembut punggung Hana.
"Kenapa kak selalu memberi harapan seandainya hal ini tak bisa dihadapi?" Hana kecewa berat dengan sikap Wei selama ini.
"Hana.. setiap orang diuji. Entah dari dirinya sendiri ataupun dari orang lain. Begitu juga Wei. Semenjak meninggal ayahnya, tanggung jawab Wei bertambah besar. Apalagi ibunya kak Wei tuntutannya begitu banyak, sehingga Wei harus bisa memenuhi keinginannya, meski harus mengorbankan kamu Hana." Steve menatap kosong ke depan membayangkan apa yang telah terjadi pada Wei.
"Hana.. semuanya pasti ada hikmahnya. Jika kamu telah bulat ingin putus, kamu tak harus kecewa karena keadaan telah mempermudah kamu." Steve menoleh ke samping melihat Hana yang sedang terisak.
"Iya kak." Hana menyeka matanya menghapus air matanya.
"Sekarang kamu jangan lagi menangis! Kita berdoa sama-sama semoga kamu dan Wei mendapatkan sesuatu yang terbaik. Karena dibalik kejadian ini pasti banyak menyimpan hikmah Hana." Steve memberi semangat pada Hana agar tidak larut dalam kesedihan.
"Iya kak. Maafin aku ya kak.. aku banyak merepotkan kakak." Ungkap Hana pada Steve.
"Gak pa-pa. Kita kan saudara. Kita harus banyak bersyukur Hana. Dengan kejadian kecelakaan waktu itu, kita jadi ketemu lagi. Tuhan mempertemukan kita dengan caranya. Makanya jangan terlalu kecewa! Justru kita harus gembira, karena kita bisa berkumpul lagi. Pertemuan kita lebih berharga dari apapun. Kita bisa melewati banyak rintangan bersama-sama bukan?" Tetang Steve memberi penjelasan dari beberapa kejadian yang telah terjadi ke belakang.
"Iya kak." Hana memeluk Steve mencurahkan segala kegundahan dan kesedihannya di bahu Steve.
__ADS_1
Steve mengelus lembut rambut Hana.
"Di luar ada ayah dan mama juga Caterina. Mereka sedang menunggu kamu Hana." Steve segera memberitahukan Hana.
Hana melepaskan pelukannya dari Steve dan menyeka air matanya yang masih meleleh.
"Apa.kamu sudah siap bertemu dengan mereka Hana?" Tanya Steve menanyakan kesiapan Han terlebih dahulu.
Hana mengangguk pelan.
"Baik kakak panggilkan ya!" Steve berdiri bangkit dari kursi melangkah ke arah pintu ruangan.
Tak lama kemudian ketiganya masuk. ke ruangan Hana dengan wajah tersenyum. Mereka tak ingin memperlihatkan kesedihan atau kekecewaan pada Hana. Dia tahu Hana baru saja syok dari rasa kagetnya telah mengingat masa lalunya yang sempat lupa.
"Apa kabar kak Hana?" Caterina memeluk Hana dengan erat.
"Kakak baik." Jawab Hana.
Lalu Caterina melepaskan pelukannya lalu bergerak ke samping memberi kesempatan pada kedua orang tuanya untuk menyapa Hana.
"Apa kabar sayang?" Mamanya Caterina memeluk Hana sambil mengelus punggungnya halus. Hana menangis di bahu nyonya Maria mencurahkan isi hatinya.
"Sayang.. yang sabar ya!" Nyonya Maria hanya bisa memberi motivasi pada Hana.
"Iya ma. Terima kasih ya ma. Maafkan Hana sudah banyak merepotkan mama." Ucap Hana pada nyonya Maria.
"Gak pa-pa sayang. Mama selalu sayang sama kamu... " Ucap nyonya Maria sambil melonggarkan pelukannya. Lalu jari-jarinya menyeka air mata Hana yang meleleh di pipi.
"Ayah... maafkan Hana... " Hana menoleh pada tuan Hans.
__ADS_1
"Gak pa-pa sayang.. kamu banyak sabar ya! Semua yang terjadi pasti sudah ada takdir dari langit. Kamu pagi kuat dan bisa melewati semua ujian ini." Tuan Hans mengusap bahu Hana membesarkan hatinya juga memberikan suport bagi Hana. Saat ini keluarga lah yang sangat Hana butuhkan. Tanpa mereka entah apa yang akan menimpa Hana. Dukungan keluarga dan juga doa mereka yang membuat Hana bisa bertahan sampai sekarang dengan berbagai ujian dan cobaan yang selalu datang bertubi-tubi.
"Terima kasih buat semuanya kak.. "