Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Aku rindu


__ADS_3

"Kakak, Daniel?" Sejenak Hana mengernyitkan dahi.


Apakah aku punya seorang kakak? Semenjak kapan? Ah.. akhirnya ada keluargaku mencari. Apakah aku harus bahagia atau sedih? Ah aku penasaran sekali dengan wajahnya..


"Iya Hana.. aku menunggu didekat lapangan basket ya... kebetulan aku sedang jalan-jalan. Tadi aku datang ke ruang guru tapi kamunya tidak ada."


"Iya baik. Nanti saya menyusul."


Telepon segera ditutup. Hana melangkah menuju lapangan basket.


Di lapangan Basket hati Daniel sudah tak sabar lagi bertemu Hana. Waktu dia mendatangi rumah Sandi, Hana tak mau menemuinya. Tapi Daniel tak tahu alasannya, dia tak mau menemuinya. Tapi kali ini Hana tak menolaknya. Ini berita baik buat Daniel.


Dilain tempat Hana tidak curiga sama sekali dengan Daniel. Karena wajah Daniel ketika datang ke rumah Sandi, dia hanya mengenali wajahnya tapi tidak tahu namanya. Bahkan dia lupa bahwa yang bernama kakak Daniel adalah orang yang sama, orang yang ditakutinya. Pikirannya sama sekali tak mengingat hal itu.


Hana segera sampai di lapangan basket. Daniel menatap inten pada Hana yang dari kejauhan sudah terlihat.


Begitu sudah dekat, Hana terkejut bukan main. Ternyata kakak Daniel adalah sosok yang sama yang dia lihat di rumah Sandi.


Hana yang tadinya gembira, malah menjadi ketakutan. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Bayangan masa lalunya tiba-tiba hadir dalam ingatannya. Dia Daniel yang dahulu sangat dia sayangi, berubah total sangat ditakutinya. Mengingat kekejaman ibunya pada Hana. Seringkali Hana dikurung karena ketahuan terlalu akrab dengannya. Daniel sama sekali tidak mengetahui kejadian itu.


###


"Wei..kenapa kau melarangku menemui adikku sendiri hah?" Tatapan Daniel sepertinya agak menegang.


"Pada saatnya kau bisa menemuinya?" Wei dengan dinginnya menjawab sambil membuka lembaran-lembaran yang mesti di tanda tanganinya.


"Kapan? Kenapa kau harus mengatur pertemuan aku dengan Hana?" Nampak kekesalan di wajah Daniel.


Wei terdiam. Tidak ada tanggapan sama sekali.


"Baik... aku tak bisa menahan diri lagi. Aku akan menemuinya." Daniel bergegas melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan kantor Wei.


"Daniel.... " Wei berdiri lalu berhasil menghentikan langkah Daniel. Daniel menoleh.


Wei berjalan mendekati Daniel. Tiba-tiba tangannya mencengkram kerah baju Daniel. Wajah Wei mendadak sangar. Matanya memerah dan giginya menggertak.


"Awas kalau berani menyentuhnya! Kamu dan ibumu akan merasakan akibatnya!"


Daniel terkejut mendengar ancaman Wei. Seumur dia mengenal Wei, baru kali ini dia melihat wajah dinginnya marah.


Daniel melepaskan cengkraman Wei. Kedua sahabat itu seolah sedang menabuh perang. Kedua pasang mata saling menatap tajam.


"Apa hak mu mengaturku?" Daniel mendengus.


"Kamu tahu? Kenapa Hana sangat takut bertemu denganmu?" Wei kembali menyerang Daniel.


"Karena kalian sama-sama pembunuh!"


Hampir saja gendang telinga Daniel terputus mendengar Wei berteriak sangat dekat.


"Jangan kurang ajar!" Tangan Daniel mengepal dan melayangkan kepalannya ke muka Wei. Dan seketika Wei terpelanting ke belakang. Wei tak menyangka Daniel senekad itu. Sudut bibir Wei mengeluarkan darah. Wei mengelap bibirnya dan merasakan sakit.


Wei berdiri bangkit, emosinya menyeruak ingin membalas pukulan Daniel. Tapi sayang Daniel keburu membuka pintu, dia keluar dari ruangan itu menutup pintu dengan hentakan keras.


Brak


Daniel merasa baru kali sahabatnya keterlaluan. Menuduhnya sebagai pembunuh. Alasan apa yang membuat Wei sangat membencinya. Walau tak dipungkiri memang ibunya kurang baik memperlakukan Hana semenjak mereka berdua masuk ke rumah besar itu. Tapi Daniel tak ingin Wei berlebihan menanggapi sikap ibunya. Dia yakin seburuk-buruknya ibunya takkan mampu membunuh siapapun. Itu yang ada dibenak Daniel.


Daniel segera memacu mobilnya mengarahkan stir mobil menuju satu sekolah, dimana Hana mengajar disana. Perasaan rindunya sudah tak bisa ditahan. Sudah lama dia mencari keberadaan Hana, baru ketemu sudah menghilang lagi. Dan giliran ketemu ingatan Hana malah terganggu.


Daniel tak ingin menunggu lama lagi untuk bertemu Hana. Walau dalam ikatan keluarga dia sebagai kakak tiri, tapi sejak bertemu dengan Hana, hati Daniel sudah jatuh cinta padanya. Daniel tak bisa menerima sosok Hana sebagai adiknya. Itulah yang menyebabkan ibunya selalu memisahkan Hana dan dirinya sejak masuk ke rumah besar itu. Yang berakhir pengasingan Hana.


Tiba sudah mobilnya di depan pintu gerbang sekolah. Kenangan sekolah ini melintas ke masa lalu ketika dia masih jadi pelajar putih abu-abu.


Disini, disekolah ini bersama Wei dia menghabiskan masa persahabatannya selama tiga tahun. Entahlah... dua sahabat ini sepertinya dari dulu memang bersaing ketat dalam hal apapun. Mulai dari pelajaran, prestasi, maupun masalah wanita. Ya sama-sama laki-laki tampan, tajir, juga keduanya pintar.


Dia bergegas memasuki halaman sekolah. Tak banyak yang berubah. Kecuali penambahan jumlah gedung juga beberapa fasilitas modern yang dia lihat.


Dia bergegas ke ruang guru lalu dia mengetuk pintu.


Tok.. tok.. tok


Daniel mengetuk pintu. Beberapa orang yang ada di dalamnya spontan melihat ke arah pintu. Salah satu guru menghampiri Daniel.


Dia tersenyum ramah, "Maaf ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau bertemu bu Hana." Daniel mengembangkan bibirnya tersenyum.


"Hana.. " Wajah Emilia terlihat bingung. Matanya agak menyipit dan maniknya seolah memutar mengingat nama asing yang tak ada di daftar memorinya.


"Yang ini bu?" Daniel menyodorkan foto yang ada dalam handphone nya. Rupanya Daniel menangkap bahasa tubuh dari Emilia yang sedang kebingungan.

__ADS_1


"Oh, ini bu Restu bukan bu Hana." Emilia menatap ada keanehan di wajah Daniel.


Daniel pun merasa ada hal yang membingungkan. Tapi Daniel malas untuk berdebat.


"Iya bu Restu, maksud saya." Dia kembali tersenyum. Selintas dalam pikirannya teringat, mungkin dia harus bertanya pada Wei, dia harus menjelaskan lebih banyak lagi tentang Hana. kenapa nama Restu ada disini.


"Oh, bu Restu sedang ada di ruang bapak kepala sekolah. Mungkin anda harus menunggunya. Silahkan masuk! Anda bisa duduk di ruang tamu menunggu bu Restu selesai." Emilia menawarkan Daniel untuk menunggu di ruangan tamu.


"Oh tidak apa bu, biar saya menunggu diluar saja. Saya ingin jalan-jalan lihat sekolah ini." Tolak Daniel sambil tersenyum tipis.


"Oh baik kalau begitu. Apa anda mempunyai kontak bu Restu?" Emilia menatap Daniel dengan serius.


"Oh belum bu, bolehkah saya memintanya?"


"Baik, ini nomornya." Emilia memperlihatkan layar handphone nya. Daniel dengan cepat menyalin ke memori handphone nya.


"Terima kasih bu! Kalau begitu saya permisi dulu."Daniel merapatkan kedua tangannya di depan dada sebagai ucapan terima kasihnya.


"Iya baik. Sama-sama."


Daniel berlalu dari hadapan Emilia. Daniel berniat mengelilingi sekolah untuk sekedar melihat-lihat sambil menunggu Hana.


"Wah rupanya pak Fikri mendapat saingan berat nih!" Goda Emilia pada pak Fikri yang sedari tadi menatap Daniel.


"Wah betul tuh..." Sambut pak Yusuf yang kebetulan duduk di samping meja pak Fikri.


"Kayanya pak Fikri harus segera melamar bu Restu... takut keduluan sama orang ganteng tadi, he he." Emilia terkekeh menggoda pak Fikri.


"Ah bu Emilia... bisa aja. Mana mau bu Restu sama saya bu. Lagian saya kalah tampan sama orang tadi." Pak Fikri tertunduk malu. Dia merasa minder setelah melihat penampilan Daniel. Selintas dari wajah dan penampilannya, laki-laki tadi bukan orang biasa. Pasti kalau bersaing pak Fikri kalah jauh dengannya.


###


"Wei... sorry hari ini aku gak bisa masuk kantor." Steve memberi tahu Wei.


"Steve... kuharap kamu bisa ada disini sekarang."


Terdengar suara Wei lemas.


"Wei.. kamu ada masalah?"


Wei terdiam tak mampu bicara lagi.


"Baik nanti aku mampir, setelah aku jemput ayah ke bandara, nanti aku ke kantor."


"Iya. kebetulan besok mau ke pemakaman."


"Udah dulu ya Wei.. nanti ku kabari lagi." Steve buru-buru menutup telpon.


"Steve.. Steve... " Wei memanggil-mangil, tapi begitu melihat layar handphone ternyata Steve sudah menutup telponnya.


Wei menghempaskan tubuhnya. Bibirnya menggigit bolpoin. Matanya menatap ke depan memikirkan sesuatu.


###


"Ayah..." Mereka saling berpelukan melepas rindu.


"Steve...Apa kabar honey?"


"Fine mam"


"Kamu gak kerja sayang?"


"Tadi aku sudah izin sama Wei." Wajah Steve terlihat senang. Tangan Steve melingkar di bahu ayahnya, terlihat masih manja. Sesekali ayah Steve mencium pipi anaknya.


"Ayah mau langsung ke hotel. Mamah mu pengen langsung istirahat."


"Baiklah... nanti aku ke hotel buat makan malam." Steve terlihat olokan. Dia menyandarkan kepalanya dibahu ayahnya.


"Baik.. sekalian kita tidur bersama saja di hotel, Ayah kangen sama kamu."


"Wah jangan! Kan gak enak sama mamah."


"Gak ko.. mamah seneng kalau Steve mau tidur di hotel. Jadi kita bisa ngobrol panjang." Sambut ibu sambung Steve, Maria.


"Masih ada hari esok kan yah.. " Sambung Steve.


"Iya tapi kamu sibuk kerja.. mana bisa bertemu siang-siang. Nanti Wei bisa marahin ayah deh.. "


Mereka tergelak tertawa bersama.


Setelah mengantar ayahnya ke hotel Steve bergerak menuju ke kantor kembali.

__ADS_1


###


Sandi menatap layar laptopnya. Dia mencari informasi seputar lembaga yang bisa membantunya ikut persetaraan.


"Ah masa aku sekolah tiga tahun, ijazahnya gak elit." Sandi terlihat kesal.


Dia menghempaskan tubuhnya di sofa lalu mengambil handphone. Dia menekan nomor Hana. Walau hatinya sakit tapi rindunya tak bisa ditahan.


Dia menekan nomor Hana, tapi nada sibuk terdengar beberapa kali di telinganya.


"Ah.. kenapa dia tak menjawabnya juga. Apa dia sedang di sekolah atau sedang bersamanya?" Hatinya begitu penasaran, lalu bangkit. Sandi tak bisa menunggu lama. Dia mengambil kunci motornya dari laci.


Tanpa menunggu lama motor merah sport langsung melesat di atas rata-rata. Motor itu menuju sekolah.


Tak lama kemudian motor itu terparkir di area dalam sekolah. Dia membuka helm dan segera menelpon Hana.


Belum sempat nadanya tersambung tiba-tiba dia mendengar suara Hana.


"Jangan mendekat! Jangan mendekat!" Mata Hana terlihat ketakutan. Dia bergerak mundur selangkah demi selangkah ketika langkah Daniel maju mendekatinya.


"Hana... ini aku Hana, Daniel. Kakakmu." Daniel berulang kali menegaskan pada Hana.


Wajah Hana benar-benar pucat ketika pertama kali melihat Daniel tepat ada di depannya. Bayangan masa lalunya tiba-tiba menyeruak dalam pikirannya. Badannya bergetar hebat. Kedua tangannya terangkat melarang Daniel untuk mendekat. Suaranya makin terbata-bata.


"Jangan dekati aku!" Hana bergerak mundur tanpa mengindahkan tangga dibelakangnya. Satu langkah mundur tak diduganya, badan Hana terhempas kebelakang. Untungnya Sandi sudah ada di tepat dibelakangnya. Badan Hana terkulai lemas, pingsan. Kini badannya meringkuk di dada Sandi.


"Hana..." Sandi menepuk pipinya. Hana masih terdiam. Sandi menatap wajah laki-laki yang ada di depannya dengan wajah kecut.


"Apa yang kau lakukan disini?"


"Lalu kamu sendiri ngapain disini?" Daniel tak mau kalah sengit melihat tatapan Sandi lebih garang.


"Kamu tahu, Hana ketakutan melihatmu? Kenapa kamu masih saja mendatangi Hana?"


"Aku kakaknya, kenapa dia harus takut melihatku?" Daniel mendekat dan menjulurkan tangannya ingin membelai wajah Hana. Daniel menatap dengan wajah penuh kerinduan.


"Singkirkan tanganmu dari Hana!" Bentak Sandi. Dia segera memangku Hana. Dan berjalan ke depan menuju gerbang.


"Hei... mobilku disini!" Daniel tak mau lagi berdebat. Dia segera berlari menuju mobilnya. Dia berniat membawa kedua orang itu ke dalam mobilnya.


Sandi baru ingat, bahwa dia hanya membawa motor. Sekarang yang dia pikirkan hanya keselamatan Hana. Terpaksa dia mengikuti Daniel menuju mobilnya.


Setelah pintu belakang terbuka, Sandi menyimpan tubuh Hana dan memakaikan sabuk pengaman agar aman dari guncangan. Dia memutar ke sebelah kanan lalu duduk di samping Hana yang masih terkulai lemas pingsan.


Daniel segera masuk dan menyalakan mobilnya.


Sandi menekan nomor seseorang yang dianggapnya paling tahu kemana Hana harus dibawa pergi. Mengingat riwayat penyakit amnesianya dia harus ditangani dokter yang sama.


"Steve... ini aku Sandi."


"Ngapain kamu nelpon?" Terdengar suara sinis di seberang telpon.


"Hana pingsan. Aku mau membawanya ke rumah sakit. Tapi... aku tak tahu rumah sakit mana yang pernah merawat Hana."


"Apa? Hana pingsan?" Suara terkejut Steve seperti memekikkan telinga Sandi. Sandi menjauhkan handphone nya dari telinganya.


"Heii... Sandi... "


"Jangan teriak, telingaku bisa pecah!" Sandi sedikit agak kesal. Kembali menempelkan handphonenya.


"Bawa ke rumah sakit Xxx. Nanti aku tunggu disana."


"Tolong bawa Hana ke rumah sakit Xxx." Sandi memberitahu Daniel.


"He'em" Daniel tak banyak bicara lagi.


Tak lama kemudian mobil Daniel sampai di rumah sakit Xxx.


Wei dan Steve sudah berdiri di sana menunggu kedatangan Hana.


Petugas rumah sakit sudah siap dengan brankar.


Sandi dan Steve segera membantu mendorong brankar bersama petugas medis.


Sementara Wei menarik tangan Daniel dan mereka bicara di luar.


Sekelebat Sandi dan Steve melirik mereka berdua yang masih tertinggal di belakang.


"Hhmmm.. " Sandi hanya mengeleng-gelengkan kepala. Lalu menatap Steve. Steve membalas tatapan Sandi,pandangan mereka beradu. Entah apa yang sedang dipikirkan keduanya. Mereka saling melepaskan pandangan lalu kedua pasang mata laki-laki itu menatap wanita yang sedang terbaring di depannya.


"Maaf.. para keluarga pasien tunggu di luar! Kami akan melakukan pemeriksaan dahulu." Petugas medis menahan Sandi dan Steve begitu pintu masuk ruang pemeriksaan UGD ada di depan mereka.

__ADS_1


Mereka berdua melepaskan tangannya dari brankar yang sedari dipegangnya. Keduanya duduk di kursi penunggu pasien.


__ADS_2