Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Titik balik


__ADS_3

flasback


"Terkadang kita perlu menyendiri. Ya kata orang bilangnya me time. Padahal dari dulu juga aku sudah me time melulu." Hana bicara sendiri disepanjang perjalanan dalam kereta api menuju kota B. Matanya memandang ke arah jendela melihat objek sepanjang perjalanan yang sedang dilaluinya dalam kereta api.


Hana memilih perjalanan menggunakan kereta api karena menurutnya, kendaraan ini aman dari macet. Selain itu, ya menurutnya sih itung-itung liburan. Karena entah sejak kapan dia melupakan alat transportasi ini. Karena sejak kecil dia selalu menggunakan mobil mewah yang dimiliki keluarganya. Dan setelah melarikan diri dari rumah sakit Hana baru merasakan yang namanya alat tranformasi umum. Cuman sayang saat ini Hana memang tidak mengingat masa itu, karena amnesianya.


Hana tersenyum bahagia. Senyum manisnya terkadang tersungging tipis ketika melihat objek yang dilihatnya dari balik jendela kaca kereta api.


Dalam keasikan Hana yang sedang menikmati perjalanan, ternyata ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya dalam kereta. Selain tempat duduknya agak dekat, posisi duduknya juga memungkinkan pandangannya tertuju pada Hana.


Tak lama kemudian kereta berhenti di kota tujuan. Satu persatu penumpang turun dengan barang bawaannya. Begitu pun dengan Hana yang membawa satu tas kecil yang isinya hanya membawa tiga stel baju juga ijazah sekolah. Ya terbilang ringan karena Hana tidak mempunyai baju lebih selain yang terakhir dibelinya. Ya karena amnesianya, Hana tidak tahu dimana dia tinggal sebelumnya. Tapi yang jelas sekarang dia tak mau ambil pusing dengan semua masa lalunya. Menurut pikirannya, yang terpenting sekarang adalah ijazah di tangan cukup buat dia bekal mencari kerja dan melanjutkan kembali kuliah.


Hana masih termangu di depan stasiun sambil menyeruput minuman dingin yang dibelinya waktu keluar stasiun kereta api. Ya Hana merasakan kebebasan saat ini setelah beberapa waktu yang lalu melalui masa sulit akan ketidakstabilan emosinya paska amnesia. Mungkin sekarang dirinya sudah belajar adaptasi dengan keadaanya.


"Anda sedang menunggu dijemput?" Seorang laki-laki tiba-tiba mengajaknya bicara.


Hana menoleh ke arah suara yang baru saja terdengar bertanya.


Hana menunjuk telunjuk pada arah wajahnya sendiri sambil menyeruput minuman. Maksud isyaratnya 'apakah anda bertanya pada saya?' Karena Hana merasa dia adalah orang asing yang baru dikenalinya.


"Ya, saya bertanya pada anda nona." jawab laki-laki bertubuh atletis ramah. Kalau dilihat dari wajah dan penampilannya sih dia tidak terlihat sangar, malah terlihat friendly. Tapi Hana merasa tetap waspada pada orang asing yang baru saja ditemuinya walau mereka terlihat ramah.


Hana melepaskan sedotan minuman dari mulutnya untuk menjawab pertanyaan laki-laki tersebut.


"Tidak" jawab Hana pendek. Lalu Hana mengalihkan pandangannya pada layar handphonenya pura-pura sibuk.


"Hhmm. Apa anda sedang menunggu seseorang?" Laki-laki itu kembali bertanya. Semenjak melihat Hana di kereta api rupanya laki-laki berusaha mendekatinya karena dia pernah mengenalinya di masa lalu.


"Tidak." Hana menjawab dingin sambil pandangannya tetap pada layar handphone, berharap laki-laki itu tidak bertanya lagi setelah Hana berusaha mengabaikannya.


Apa dia tidak mengenaliku sama sekali?


Laki-laki yang di samping Hana mengerutkan keningnya sambil berpikir heran. Semenjak dia duduk di bangku kereta api selama perjalanan, pandangannya tidak terlepas dari wajah Hana. Karena laki-laki itu yakin dia pernah mengenali wajah Hana di masa lalu, tepatnya ketika di bangku kuliah di kota B. Pikirannya kini sedang bergelut, kenapa wanita di sampingnya tidak mengenalinya sama sekali, sedangkan dia yakin bahwa dia adalah temannya sewaktu kuliah. Selupa-lupanya kalau pernah akrab dan dekat pasti suka ada bayangan. Tapi dia merasa wanita di sampingnya seperti orang asing yang baru saja bertemu.


"Kenalkan saya Haris." Laki-laki itu menjulurkan tangannya ke arah Hana mengajaknya berkenalan. Walau dia merasa yakin bahwa dia mengenalinya, tapi dia mencoba berkenalan seperti orang asing. Dengan harapan wanita yang di sampingnya bisa mengenalinya.


Hana menatap tangan yang sedang menjulur mengarah padanya. Pikirannya sedang bermain sekarang, apakah dia harus menerima uluran tangan itu atau malah sebaliknya. Lalu sebentar kemudian Hana menggerakkan bibirnya.


"Maaf, saya ada urusan lain." Hana segera melangkahkan kakinya meninggalkan laki-laki itu dalam keheranan. Hana berpikir lebih baik menghindar daripada kembali terkena masalah.


Hana segera mendekati sebuah taxi yang sedang terparkir di depan stasiun dan membuka pintunya lalu duduk sebagai penumpang.


"Pak tolong antarkan saya ke alamat xxx!" Pinta Hana pada supir taxi yang sudah siap menarik penumpang.


"Baik neng!" Tak lama kemudian taxi pun melaju menuju alamat yang diminta.


Aman... Hah.. baru saja tenang sudah ada saja yang mau mengusik.


Hana berbicara sendiri. Pandangannya menatap ke depan. Mengamati sepanjang perjalanan di dalam taxi. Ada yang begitu menarik perhatiannya. Sepanjang perjalanan yang dilaluinya banyak pohon-pohon juga suasana yang pernah dikenalinya. Ya serasa tidak asing. Tiba-tiba Hana merasakan ketenangan melihat suasana kota B yang baru saja didatanginya. Rasanya adem, dan tidak terlalu banyak orang seperti di kota Jakarta yang hiruk pikuk.

__ADS_1


Mobil taxi melambat dan akhirnya berhenti.


"Sudah sampai neng!" Suara supir taxi membuyarkan lamunan Hana. Rupanya alamat yang dituju sudah sampai.


"Oh iya. Berapa pak argonya?" Hana mengamati mesin argo yang ada di samping supir.


"Empat tiga ribu neng!" jawab supir taxi sambil menatap ke belakang menjawab penumpangnya.


"Oh, iya sebentar pak!" Hana merogoh dompet yang ada dalam tas kecil yang sejak awal sudah menyelempang di pinggangnya. Dia mengeluarkan selembar uang kertas lima puluh ribu rupiah dan memberikan pada supir taxi.


"Ini pak, ambil saja kembaliannya!" Hana tidak mengambil uang sisa argo sengaja dia berikan untuk tips supir taxi.


"Duh Terima kasih neng, semoga Allah membalas kebaikan neng!" Wajah supir taxi terlihat sangat senang. Walau tips nya tidak besar, tapi dia terlihat sangat bahagia ketika penumpangnya dengan rela memberikan uang kelebihan ongkos padanya.


"Aamiin." Hana menjawab doa yang baru saja diucapkan supir taxi.


Taxi pun berlalu dari hadapan Hana setelah transaksi selesai. Hana berdiri di depan sebuah bangunan. Dia menatap lamat-lamat sambil membaca spanduk yang sengaja di pasang di depan sebuah bangunan yang kini sedang berdiri di hadapannya. Setelah yakin bahwa alamat yang dituju benar, Hana melangkahkan kaki ke dalam bangunan itu.


Bangunan tempat bimbel itu memang tidak semegah sekolah. Tapi cukup terlihat rapih dan bersih. Setelah membuka pintu dengan permisi Hana melangkahkan kakinya menuju meja resepsionis yang ada dalam bangunan tempat bimbel.


"Selamat siang mbak, saya mau bertemu pak Gavin." Terang Hana pada resepsionis. Wanita dengan penutup kepala atau bisa disebut juga kerudung sudah tersenyum ramah sejak Hana membuka pintu.


"Oh maaf dengan mbak siapa ya?" Manik matanya yang teduh menatap Hana dengan penuh hormat.


"Saya Restu. Saya sudah mengirimkan email lamaran untuk menjadi pengajar. Dan saya sudah mendapatkan kembali jawaban bahwa saya diterima di lembaga ini. Terang Hana dengan detail.


"Oh baik mbak Restu. Silahkan duduk dulu di tuang tunggu. Kebetulan pak Gavin sedang mengisi pengajian dulu. Sebentar lagi juga beres." Terang seorang resepsionis yang tertera namanya Syifa.


Terlihat Syifa menghubungi Pak Gavin lewat saluran telpon yang ada di meja kerjanya.


"Mohon maaf mbak Restu harus menunggu, sebentar saya akan mengambilkan minuman untuk anda. Anda mau minum teh atau air mineral?" Syifa kembali menghampiri Hana yang sedang menunggu dan menawarkan air minum.


"Air mineral saja. Terimakasih." Hana membalas dengan senyuman.


Syifa menyodorkan air mineral di meja. "Silahkan mbak Restu." Lalu kembali ke meja kerjanya.


"Iya terimakasih!" Hana mengambil air lalu meneguk air yang sudah disediakan. Hana mengamati sekeliling ruangan tempat bimbel. Ruangannya cukup asri. Walau tidak besar tapi ditata rapih dan sejuk karena ada beberapa pot yang sengaja disimpan di beberapa tempat untuk menambah kesan lebih alami.


Tidak lama kemudian, pintu di samping resepsionis terbuka lalu keluar beberapa orang laki-laki dan disusul beberapa perempuan dengan penutup wajah atau orang bilang niqob.


Hana agak terperangah kaget melihat beberapa orang yang baru saja keluar dari pintu itu.


Aku tidak salah masuk tempat kan? Ini tempat bimbel atau sejenis... ah kenapa pikiranku jadi parno begini setelah melihat gaya penampilan mereka. Aku baru kali ini bertemu langsung dengan orang-orang dengan penampilan niqob, apa mereka belajar disini juga? Ah sudahlah... sebelum bertemu pemiliknya aku tak mau berburuk sangka.


Tak lama kemudian ada seorang laki-laki dengan penampilan sederhana, wajahnya bersih dan sedikit berjanggut. Dia menghampiri Hana yang sedang menunggu di ruang tunggu yang sedari tadi dilewati beberapa orang yang sudah keluar dari balik pintu.


"Assalamu'alaikum." Dia mendekat dan menarik kursi yang ada di ruang tunggu.


"Waalaikumsalam." Hana menjawab lalu dia berdiri memberi hormat.

__ADS_1


"Silahkan duduk!" Laki-laki itu mempersilahkan Hana kembali duduk. Matanya yang bulat dan alisnya yang cukup tebal manik matanya tertuju pada meja. Walau dia ada di depan Hana matanya sama sekali tidak menatap ke arah Hana.


"Perkenalkan saya Gavin. Anda bu Restu?" Laki-laki dihadapan Hana memperkenalkan diri. Pandangannya masih tertuju di meja.


"Iya saya Restu." Hana tak berani menjulurkan tangannya seperti kebiasaannya jika berkenalan. Dia pikir laki-laki tadi juga tidak menjulurkan tangannya.


"Baik, saya panggil bu Restu ya! Saya sudah membaca surat lamaran Anda, dan pihak kami atau lembaga bimbel sudah kembali mengirim surat balasan pada anda."


"Saya kira anda sudah menyetujui semua persyaratan yang dilampirkan di email kami ya?"


"Kalau boleh tahu kenapa anda melamar di lembaga kami?" Gavin menghentikan bicaranya. Pandangannya tetap pada meja. Sekarang dia sedang serius mendengarkan jawaban Hana.


"Ya saya ingin mencoba mengajar di lembaga, agar waktunya bisa fleksibel. Karena selama ini saya mengajar di sekolah. Tentu buat saya ini pengalaman saya yang pertama pak Gavin mohon bimbingannya!"


"Mmm baik. Saya akan terangkan sedikit mengenai beberpa pengajar disinibdan aturannya ya bu Restu. Pertama semua pengajar wajib datang tepat waktu sesuai jadwalnya. Kedua semua pengajar mendapatkan pembinaan rohani selama mereka mengajar disini. Ketiga pengajar disini dibagi dua ya. Ada yang mengajar di dalam lembaga ada juga pengajar yang mendapatkan kontrak mengunjungi rumah. Nah ini silahkan anda baca dulu untuk rinciannya. Anda bisa memilih mana yang menurut anda sanggup. Dan yang terakhir semua pengajar wajib mematuhi semua aturan yang ada di lembaga ini termasuk jika pengajar melanggar aturan maka pihak lembaga akan mengeluarkan pengajar dari lembaga. Saya rasa sebagian sudah saya kirimkan point- point penting di email kemarin.


Untuk gaji kami akan membayar setiap pengajar perjam yang berbeda sesuai kontrak."


Tiba-tiba pak Gavin menghentikan bicaranya. Terdengar dia mengambil nafas.


"Bu Restu dari Jakarta?" Pak Gavin mengubah duduknya sambil bertanya.


"Iya pak."Jawab Hana pendek.


"Sudah dapat tempat tinggal?" Pak Gavin melihat tas yang Hana simpan dipinggir kursi.


"Kebetulan belum pak! Saya baru datang langsung ke sini." Hana agak malu mungkin pak Gavin sudah mengiranya karena tas yang dibawanya.


"Sebelumnya pernah mengenal kota ini?" Tatapannya tetap ke bawah. Ada perasaan yang dikhawatirkan oleh pak Gavin.


"Belum pak!" Rupanya Hana melupakan sesuatu.


"Belum?" Kening pak Gavin terlihat berkerut. Dia membuka kembali lembaran yang diambilnya yang isinya Portofolio Hana.


"Tapi disini anda pernah kuliah di universitas xxx." Pak Gavin kembali pandangannya mengarah ke meja. Dia sedang menunggu jawaban Hana.


"Betul. Tapi setelah kecelakaan beberapa waktu yang lalu saya kehilangan ingatan tentang masa lalu. Jadi saya tidak mengingatnya pak!" Hana terpaksa terus terang daripada pak Gavin tidak percaya atas fakta yang ada, pikirnya saat ini akan susah kembali mencari kerja dengan riwayatnya.


"Subhanallah. Saya mohon maaf!" Pak Gavin terlihat simpati dengan apa yang menimpa Hana. Terbersit untuk membantu Hana yang saat ini mungkin akan kesulitan mencari tempat tinggal di kota yang baru saja dikunjunginya.


"Tidak apa-apa pak, saya akan berusaha mandiri agar terbiasa dengan keadaan saat ini." Hana menangkap bahwa pak Gavin sepertinya orang baik. Dari cara bicaranya yang sopan dan sikapnya yang tidak jelalatan melihat penampilan Hana.


"Sebentar, kalau begitu anda mau tidak tinggal di tempat saya, kebetulan ada kontrakan yang masih kosong? Kalau bu Restu tidak keberatan anda bisa menggantikan istri saya mengajar privat. Karena sebentar lagi istri saya akan melahirkan." Pak Gavin yang kebetulan mempunyai lembaga bimbel dia juga mempunyai usaha lain yaitu beberapa kamar kontrakan yang kebetulan posisinya dekat rumahnya. Dia sengaja menawarkan pada Hana karena merasa kasihan


"Terima kasih pak atas kebaikan bapak. Saya dengan senang hati menerima tawaran bapak." Hana menyambut tawaran pak Gavin dengan senang. Karena terus terang Hana masih kebingungan untuk mencari tempat tinggal.


"Baik saya akan telpon istri saya dulu. Biar sekalian pulangnya kita bisa berbarengan."


"Iya pak!" Hana menjawab pendek.

__ADS_1


Sementara itu pak Gavin menelpon. Seseorang keluar dari balik pintu.


"Bu Restu.. " Seseorang menyapa Hana.


__ADS_2