
Semua orang sedang mengantarkan jenazah Daniel ke tempat peristirahatannya yang terakhir tak terkecuali Hana.
Ibunya Daniel nampak menangis tersedu-sedu menangisi pusara anaknya. Deraian airmata yang tak berhenti membuat matanya bengkak. Dia bersimpuh luruh di gundukkan tanah.
Serangkaian acara satu persatu sudah selesai. Setiap orang dari teman juga kolega Daniel mengucapkan berbela sungkawa pada ibunya Daniel juga Hana dan keluarga. Dan satu persatu para pelayat kini telah meninggalkan tempat peristirahatan Daniel yang berada di sebuah bukit tinggi dengan pemandangan yang begitu tenang dan ditumbuhi tetumbuhan hijau dan bunga-bunga bermekaran yang menghampar luas.
"Maaf nyonya waktu berkabung sudah selesai. Anda harus kembali ke kantor polisi." Dua menjaga segera mengapit ibunya Daniel. Mereka kembali membawa ibunya Daniel ke sebuah mobil rutan yang tadi telah membawanya.
"Hana mari kita pergi. Daniel kini sudah tenang beristirahat di tempat yang indah juga damai." Wei mengajak Hana untuk meninggalkan pemakaman.
"Kak Daniel.. aku pulang dulu. Beristirahatlah dengan damai. Aku akan menengokmu setelah ini. Sekarang kami pulang." Hana berbicara dengan pusara Daniel.
"Hana.. mari." Tuan Hans memegang kedua bahunya.
Hana menganggukkan kepala.
Wei, Steve beserta keluarga kini meninggalkan tempat pemakaman Daniel menuju rumah kang Gavin.
Sari dan Gavin telah menyediakan rumahnya sebagainrumah duka untuk menerima tamu sebagai permohonan berbela sungkawa dari beberapa teman juga dan para koleganya Daniel yang belum sempat tadi mengikuti acara kremasi.
"Hana istirahatlah! Biar aku dan Steve yang akan menyambut para tamu. Kamu jangan sampai kelelahan." Wei menatap sendu wajah Hana yang penuh kesedihan paska ditinggalkan Daniel.
"Baiklah."
"Maaf Pak ada tamu dari Jakarta. Katanya dari perusahaan dan tim pengacara." Seorang Satpam memberitahu Wei juga Steve.
"Oh baiklah. Bagaimana Steve? Apakah kamu akan menyambutnya?" Wei melihat ke arah Steve.
"Baik saya akan ke sana!Mungkin ini ada hubungannya dengan perusahaan Hana dan Daniel." Steve menerka-nerka.
"Baik. Aku tunggu disini! Masih banyak tamu yang berdatangan." Wei menyambut para kolega yang ingin mengucapkan berbela sungkawa pada Daniel dan keluarga.
Hana yang terlihat lelah sudah dibawa masuk oleh tuan Hans. Sedangkan Maria dan Caterina membantu di belakang menyiapkan makanan untuk dibawa ke tenda-tenda menyuguhi para pelayad.
Steve mengikuti satpam menemui tamu yang tadi dibicarakannya.
"Selamat Siang Pak Steve. Saya pengacara keluarga tuan Roy almarhum, ayahnya Hana dan ayah tirinya tuan Daniel. Saya mengucapkan berbela sungkawa atas meninggalnya tuan Daniel." Laki-laki paruh baya itu agak membungkukkan kepalanya memberi hormat pada Steve.
"Iya selamat siang. Saya Steve kakak kandungnya Hana. Silahkan tuan masuk ke dalam. Biar kita bicara di dalam." Steve membawa masuk ke ruangan tamu yang ada di rumahnya kang Gavin.
"Baik.Oh iya ini saya juga datang bersama beberapa dewan direksi yang ada di perusahaan. Pengacara itu pun mengenalkan satu persatu nama dan jabatannya di perusahaan.
"Oh iya saya ucapkan banyak terimakasih atas kedatangan anda semuanya di kota B. Mari kita masuk!" Steve berjalan mendahului para tamu menunjukkan tempat yang sudah disediakan
"Mari silahkan duduk!" Steve mempersilahkan duduk pada semua tamunya. Lalu pembantu yang ada di rumah itu menyajikan air juga cemilan untuk tamu yang baru saja di Terima Steve.
"Silahkan bapak-bapak dicicipi!" Steve mempersilahkan para tamunya untuk mencicipi jamuan.
Mereka pun mengambil gelas masing-masing dan menyesap air yang sudah disuguhkan.
"Saya ucapkan terimakasih atas kedatangan bapak-bapak semua di tempat ini. Dan saya sebagai perwakilan keluarga mengucapkan beribu maaf jika tuan Daniel ada kesalahan selama dia kenal dengan bapak-bapak disini." Steve berbasa-basi menyambut para tetamu kolega yang tak lain adalah dewan direksi perusahaan.
Salah satu dari Dewan direksi yang bernama pak Harlan berbicara.
"Sama-sama tuan Steve. Kami datang kemari. ingin mengucapkan berbela sungkawa atas meninggalnya pak Daniel. Kami pun merasa kehilangan beliau apalagi di usia muda ini. Beliau sangat berjasa pada kami. Kami pun secara pribadi ingin meminta maaf jika selama ini ada salah sikap kepadanya." Ucap Pak Harlan mewakili mereka yang datang sebagai perwakilan direksi.
"Baik tuan Steve. Kami juga mohon maaf dalam waktu yang tidak tepat ini izinkan kami membicarakan tentang perusahaan. Kami sangat mengerti sekali akan keadaan keluarga yang masih berduka. Tetapi perusahaan tidak bisa dibiarkan dalam kekosongan terlalu lama. Kami harus segera mengangkat pimpinan baru untuk mengatur semua bisnis yang sudah sejak lama keluarga Roy bangun. Untuk itu kami mohon pertimbannya. Besok kalau bisa nona Hana bisa hadir dalam rapat dewan direksi. Kami mohon maaf jika terlalu lancang berbicara." Ucap pak Harlan.
__ADS_1
"Baik. Saya mengerti. Nanti kami akan diskusikan kembali dengan Hana ya pak. Semoga beliau bisa berangkat dan diizinkan oleh dokternya." Steve hanya sebatas sampai sana berbicara. Tak bisa memutuskan lebih yang dia bisa. Karena semuanya adalah kewenangan Hana.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dahulu. Kami mohon undur diri." Pak Harlan berdiri bersama tamu-tamu yang lainnya untuk berpamitan setelah mereka berbicara mengenai niatnya datang ke kota B.
"Baik. Saya ucapkan terimakasih." Lalu Steve pun berjabat tangan dengan semua tamu dan mengantarkan mereka sampai gerbang depan rumah kang Gavin.
Steve berjalan mendekati Wei.
"Bagaimana Steve?" Wei melihat Steve. Wajahnya nampak terlihat banyak pikiran. Steve menoleh ke arah Wei.
"Besok Hana diminta datang ke Jakarta. Katanya harus datang ke perusahaan. Hela Steve.
"Mmmhh. Sudahlah! Kita selesaikan dahulu urusan disini. Nanti kalau sudah selesai kita akan berbicara lagi. Biar kita urus satu-satu." Wei memberi saran agar Steve membereskan dahulu menyambut tamu.
"Iya."
Malam datang menyelimuti para penghuni bumi. Semua orang tengah beristirahat melepaskan lelah. Kang Gavin sedang mengisi ceramahnya di mushola. Beberapa orang khusyu mendengarkan ceramahnya.
"Setiap manusia akan diuji dari beberapa hal."
1.Rasa ketakutan.
2.Rasa kelaparan.
3.Kekurangan Harta
4.Atas diri sendiri
5.Dengan kekurangan buah-buahan
"Tujuan Allah menguji semua itu agar manusia bisa bersabar. Dan bagi orang yang bersabar ketika diuji atau ditimpa musibah mereka akan berkata innalillahi wainnailaihi rojiun. Sesungguhnya segalanya datang dari Allah dan akan kembali berpulang kepada Allah. Sesungguhnya orang berani menerima ujian dengan hati yang sabar itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."
"Adakalanya kita harus mendengarkan masalah orang, bukan karena ingin kepo, bukan ingin menyebarkan aibnya, bukan ingin lebih menjatuhkannya. Semata-mata agar kita bisa dilatih, bisa terlatih, bisa lebih bersyukur, lebih dekat sama Allah Swt."
Ceramah Gavin malam itu seperti obat buat Hana. Walau Hana berbeda keyakinan, tapi hati kecilnya membenarkan apa yang dikatakan Gavin.
Samar-samar ceramah Gavin terdengar sampai kamar yang sedang ditempati Hana bersama Caterina yang ada di lantai 1 rumah Gavin. Setelah acara pemakaman memang Hana memilih untuk tinggal di rumah Gavin bersama tuan Hans, Maria, Steve dan Caterina. Sedangkan Wei lebih memilih di hotel terdekat jaraknya dengan rumah Gavin.
"Damai rasanya." Hana berkata pelan tapi masih terdengar oleh Caterina.
"Ada pa kak Hana?" Caterina bangun dari sofanya melihat Hana yang sedang duduk di depan jendela yang langsung berhadapan dengan mushola.
"Sudah sekian lama kakak tak merasakan suasana ini. Dulu kakak kuliah di kota B. Sering kalau jam segini mendengarkan ceramah dari mesjid-mesjid dekat kost an kakak." Wajahnya tersenyum mengingat masa kebelakang yang dialami Hana sewaktu duduk di bangku kuliah.
"Wah? Kakak dulu lama tinggal di kota ini?" Caterina mendekati Hana lalu duduk di kursi yang tempatnya di samping kursi roda Hana.
"Lumayan lima tahun. Kakak dulu sering denger ceramah karena pengeras mesjid nya kencang sekali sampai terdengar jarak lumayan jauh. Kakak kok jadi kangen ya.. " Hana melihat ke samping.
"Wah kakak beruntung. Kalau aku sih.. baru sekarang. Tapi aku juga seneng juga sih kak. Rasanya adem. Malah kemarin aku suka ikut ke mushola juga lho kak dengerin ceramah sama baca quran. Wah suaranya itu merdu.. gak bisa dibayangin.. pokoknya merasa damai aja hati Caterina. Kaya ketagihan malah." Terang Caterina menceritakan pengalamannya selama tinggal di rumah Gavin.
"Hhmm. Memang tinggal di kota B ini masih lekat sekali religinya. Kakak juga bersyukur bisa keluar dari rumah sakit dan bisa tinggal disini bersama teh Sari. Kakak merasa nyaman lingkungannya." Hana mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya.
"Oh ya kak.. apa kakak berniat tinggal lebih lam disini?" Tiba-tiba Caterina penasaran dengan langkah yang akan diambil Hana.
"Hhhmm tan tahu dek. Pengennya sih tinggal dulu disini sambil terapi. Kakak bosen tinggal di Jakarta panas." Keluh Hana.
"He he.. kalau kakak ikut ke Perancis gimana kak?" Caterina mencoba memancing Hana.
__ADS_1
"Mmhh.. tak tahu. Kakak belum pernah ke sana. Tapi kakak juga penasaran bagaimana rasanya kalau kakak datang kesana." Hana kembali melihat Caterina.
Tok
Tok
Tok
Suara pintu terdengar diketuk.
"Masuk!" Hana mempersilahkan masuk.
"Hei lagi ngapain kalian?" Steve tersenyum melihat Hana dan Caterina terlihat akrab.
"Lagi ngobrol aja kak.. kangen sama kak Hana." Caterina memeluk punggung tangan Hana sambil memejamkan matanya merasai bermanja-manja.
"Ih manjanya.. adik kakak." Steve mengacak-acak rambut Caterina.
"He he.. biarin syirik aja!" Caterina menjulurkan lidahnya pada Steve.
"Eh Hana.. maaf aku ada yang mau dibicarakan sama kamu." Steve menarik kursi kecil yang ada di kamar itu lalu duduk berhadapan dengan Hana.
"Bicaralah kak! " Hana menatap wajah tampan Steve yang sekarang menjadi kakaknya.
"Begini Hana... Tadi kakak sudah bertemu pengacara ayahmu juga para direksi di perusahaan Daniel. Mereka datang sengaja kesini ingin menemui mu. Tapi tadi kakak tidak mengizinkan karena kamu butuh istirahat." Steve menghela nafas untuk jeda melanjutkan bicaranya.
"Hana... seperti yang kamu ketahui bahwa ayahmu tuan Roy beserta keluarganya telah merintis usahanya dari kecil sampai sebesar sekarang ini tentu dengan perjuangan yang tidak mudah. Perusahaan ayahmu turun temurun diwariskan pada generasi berikutnya. Tapi Hana semenjak ibunya Daniel menguasai perusahaan itu, kamu secara tidak langsung disingkirkan dari perusahaan. Dan kini setelah kematian Daniel dan ibunya dipenjarakan apa yang menjadi hal kamu akan kembali seperti seharusnya." Steve tiba-tiba menarik tangan Hana mengelus lembut tangannya agar bisa memberikan kekuatan pada Hana untuk pembicaraan selanjutnya.
"Jadi begini Hana. Tadi para dewan direksi menginginkan kamu untuk kembali ke Jakarta dan datang ke Perusahaan untuk rapat dewan direksi juga para pemegang saham lainnya. Untuk itu kakak akan menyerah sepenuhnya pada kamu Hana. Apakah kamu besok siap untuk datang ke Jakarta?" Steve menatap netra Hana sambil memegang tangannya.
Sesaat ruangan itu hening. Sampai Hana bederhem dan berbicara.
"Kak.. sejak kecil aku tak diarahkan untuk menjadi pebisnis. Begituoun sekarang aku tak memiliki bakat untuk berbisnis." Hana terdiam.
"Iya kakak tahu itu Hana. Tapi bagaimana pun kamu punya tanggungjawab jawab dengan apa yang telah ditinggalkan keluarga mu. Pasti nya kamu tak bisa mengelak atau pun menghindar." Terang Steve.
"Iya kak. Hana juga menyadari itu. Menurut kakak sebaiknya aku harus bagaimana?" Hana meminta pendapat pada Steve.
"Menurut aku sih kamu harus datang dulu ke Jakarta. Mungkin selanjutnya kamu bisa meminta bantuan pada pengacara ataupun pada orang kepercayaan ayahmu untuk membantumu." Saran Steve pada Hana.
"Iya baiklah kak. Tapi aku ada syaratnya kak." Hana menatap Steve serius.
"Maksudnya?" Steve mengernyitkan dahi.
"Aku ingin ditemani kakak. Aku ingin kakak saja yang menjalankan perusahaan. Kak Steve kan pengalaman menjadi asisten kak Wei. Pasti kak Steve tahu betul bagaimana menjalankan perusahaan dengan baik. Aku akan mempercayakan semuanya pada kakak. Kalau kakak berjanji mau jadi pengganti ku, aku baru mau ke datang ke Jakarta." Terang pada Steve. Memang alasan Hana masuk akal juga. Karena memimpin perusahaan tak semudah membalikkan telapak tangan tapi harus ditangani oleh yang profesional.
"Tapi.. gimana Hana. Aku.. kan.. yah kamu sendiri tahu. Kamu sendiri pewarisnya. Kakak tidak berhak menerima hal itu.
" Iya kak. Aku tahu. Tapi aku tak bisa menjalankan karena tidak ada ilmunya. Sedangkan perusahaan membutuhkan orang hebat dan profesional. Kalau tidak bagaimana nasib para karyawan?" Hana meyakinkan Steve untuk mau menerima tawaran nya.
"Baiklah besok kita berangkat bersama. Kita hadapi bagaimana esok saja. Setidaknya kakak akan ada di sisimu Hana. Kamu diharapkan menyiapkan diri. Dan dekat lebih baik kalian tidur lebih awal. Agar besok kita lebih segar ketika berangkat ke Jakarta." Saran Steve silih berganti menatap kedua adiknya.
"Wah kita ke Jakarta besok kak?"
"Iya. Kamu istirahat! Jangan kisruh tidur nya! Apalagi meresahkan kak Hana!"
"Asik besok aku boleh ikut ke perusahaan kak Hana kak?"
__ADS_1
"Kamu tinggal saja di villa bersama ayah dan mama! Bukan mau piknik berangkat ke perusahaan. Tapi kerja!"