Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Perpisahan


__ADS_3

"Semua data yang diperlukan ada disitu." Sandi kembali mengunyah roti.


"Kapan kamu mengumpulkan data ini?" Hana sibuk melihat semua data yang ada di tablet. Amazing semuanya lengkap. Mulai data guru, murid, juga data semua nilai.


"Tak perlu tau!" Sandi dengan datar dan dingin menjawab.


Hana mengalihkan perhatian, menatap Sandi dengan seksama.


Kenapa bocah ini mendadak jutek begini? Apa lagi PMS?


"Jangan bilang kalau kamu mengaskes data di komputer ku! Hana menekuk wajah. Dia merasa privasinya telah dilanggar.


"Kalau sudah tahu kenapa nanya?" Sandi menjawab ketus. Sandi agak ilfil pagi ini.


"Hei... itu... pelanggaran! Apa kamu mau kena sangsi?" Hana mengingatkan. Tapi yang diingatkan gak pernah takut apapun. Apalagi yang diretas selevel komputer Hana. Dia terlihat santai-santai saja.


"Kapan kita mau berangkat? Kamu perlu kerja cepat. Semua orang yang ada disekolah pasti kebingungan karena absen terlalu lama. Sebentar lagi kelulusan. Pasti pekerjaanmu akan bertumpuk." Sandi menatap Hana dengan serius. Mengingatkan Hana yang masih cemberut pada Sandi.


"Baiklah! Tapi... janji. Jangan ada yang tahu tentang amnesia ku! Pura-pura lah seperti biasa. Aku tak ingin menambah masalah." Hana meminta Sandi merahasiakan penyakitnya. Dia tak ingin dapat masalah baru disebabkan penyakitnya.


"Baik. Terserah gimana baiknya." Sandi berdiri dan berjalan keluar lebih dulu.


Hana kembali membuka tablet pemberian Sandi. Dia mencoba menghafal satu persatu nama guru dan mengingat-ingat wajahnya. Dirinya akan ketahuan kalau tak bisa menghapal nya dengan baik. Tentu penyakitnya mudah ketahuan jika Hana tak mengenalinya dengan baik.


Sandi mengantar Hana ke sekolah. Di samping Hana, Sandi menyetir mobil sesekali meliriknya. Pandangan matanya seakan tak ingin lepas dari Hana.


Tak lama kemudian mobil Sandi sampai depan sekolah. Tapi Hana masih asik membuka tablet yang tadi diberikan Sandi.


"Sudah sampai. Kamu gak mau turun?" Sandi mengingatkan Hana yang asik dengan tabletnya.


"Ya? ya.. sebentar! Hana merapihkan pakaiannya dan memasukkan tablet itu ke tas.


"Perlu ku antar?" Sandi menawarkan diri.


"Tidak! Aku bisa sendiri." Hana membuka pintu, turun dari mobil.


Sandi bergerak ikut turun. Dia berubah pikiran.


"Sebaiknya aku mengantarmu. Kalau tidak, kau akan ketahuan." Sandi khawatir Hana tak bisa mengenali ruangan-ruangan yang akan didatanginya.


Hana terdiam. Memang ada benarnya juga apa yang dikatakan Sandi.


Sandi dan Hana jalan beriringan, mereka menjaga jarak untuk menghindari kecurigaan. Sesampainya mereka di gedung khusus administrasi, Sandi menghentikan langkah.


"Sekarang yang akan dikunjungi ruang apa dulu? Kepala sekolah atau ruangan guru?" Dia menoleh ke arah Hana.


"Hhmm sebaiknya aku ke ruang guru dulu. Setelah selesai urusan, aku akan ke ruang kepala sekolah."


"Baik! Itu ruang guru. Mejamu ada dijajaran ketiga dari kanan. Nah yang itu ruang kepala sekolah. Disana kan ada tulisannya juga, termasuk mejamu juga ada."


"Ya baik. Aku pergi sekarang." Hana melangkah menuju ruangan guru setelah mendapatkan petunjuk.


Sementara Sandi menunggu di lapangan basket yang letaknya tak jauh dari gedung administrasi. Terlihat dia sibuk menelpon seseorang.


"Gimana kamu sudah mengikutinya?"


"Sudah! ini sudah depan gedungnya."


"Sekarang kamu masuk dan cari informasi di sana!" Sandi terdengar mengarahkan orang yang diseberang telponnya.


"Baik! Sekarang aku masuk. Jangan dulu telpon! sampai aku telpon sendiri."


"Baik. Ingat jangan ceroboh!"


"Iya, aku tahu. Bawel!"


"Sial" Sandi merutuk


Sandi harap-harap cemas. Dia menyewa Tono dan kawan-kawan nya untuk mengintai dan mencari informasi tentang Steve dan Wei. Dia harus tahu kebenarannya. Siapa tahu Hana ditipu mereka. Tapi kalau pun ditipu, apa yang mereka cari?


Deg.


Sandi mengingat sesuatu. Apa ini ada hubungannya dengan kotak surat yang ditemukan di rumah susun Hana? Sandi bergumam sendiri.


Sandi buru-buru mengetik sesuatu yang dikirim ke Hana. "Kalau urusanmu sudah beres, jangan dulu pergi sebelum aku datang menjemput! Aku ada urusan sebentar." Sandi bergegas menuju mobil. Dia mengarahkan stir menuju rumah susun Hana.


Sementara Hana sedang mengetuk pintu.

__ADS_1


tok.. tok.. tok...


"Bu Restu... " Seorang wanita bernama Emilia menghambur ke arah Hana. Orang-orang dalam ruangan spontan melihat ke arah pintu. Orang yang selama dua bulan ini jadi top perbincangan akhirnya muncul juga. Hana menjadi perhatian.


Emilia memeluk Hana dengan erat. Hana masih kaget, dia tak bisa menolak pelukan erat Emilia. Dia membalas dengan ragu pelukannya.


"Kamu kemana sih... masa menghilang?" Emilia segera melepaskan pelukannya. Menatap Hana dengan intens.


"He.. " Hana hanya tersenyum kecil. Dia tak bisa membalas pertanyaan Emilia segera.


"Ayo masuk!" Emilia mengajak Hana duduk di kursi penerima tamu. Dia duduk bersebelahan. Seperti sebelum-sebelumnya Emilia akrab dengan semua guru. Selain sifatnya ramah, dia mempunyai kewenangan di dalam sekolah.


"Kemana saja bu Restu, ko ga berkabar? Kita udah beberapa kali menghubungi handphone nya bu Restu tapi ga aktif terus." Emilia sangat penasaran dengan kabar Hana yang menghilang tanpa kabar.


"Iya.. hhh.. saya mohon maaf! Ceritanya panjang bu." Hana sedang mengingat-mengingat nama orang yang di depannya. Dia berusaha menutupi agar tidak ketahuan.


"Bu Emilia... jangan dulu ditanya! Kasian bu Restu baru dateng." Seorang guru laki-laki menyodorkan air teh ke hadapan Hana. Dia tersenyum ramah melihat Hana.


"Oh iya. Lupa. Terimakasih pak Yusuf tehnya!" Guru yang dipanggil Emilia tersenyum.


"Ayo cerita! Kemana aja selama ini? atau jangan-jangan nikah ya?" matanya sedikit membesar sambil tertawa kecil menggoda Hana.


"Bukan bu Emilia... saya kecelakaan."


"Apa kecelakaan?" Suara bu Emilia jelas terdengar oleh seisi ruangan. Dia kaget mendengar Hana kecelakaan.Spontan orang-orang yang ada di ruangan itu menatap Hana sama halnya kaget seperti Emilia.


"Iya. handphone saya juga hilang, jadi gak bisa berkabar. Saya juga sempet mendapat operasi dan perawatan cukup lama. Jadi mohon maaf saya baru datang sekarang!" Hana merendahkan diri sambil melipat tangannya di depan dada.


"Oh pantesan saja." Emilia tertunduk mencoba memahami apa yang baru saja dikatakan Hana. Kepalanya mengangguk mengerti dengan kondisi Hana.


"Iya. Sekarang saya datang untuk menyelesaikan sisa tanggung jawab saya bu Emilia." Hana mencoba menjelaskan kedatangannya.


"Oh iya... baik. Mumpung masih ada waktu ya bu Restu, kan sebentar lagi anak-anak mau dibagi ijazah dan perpisahan." Emilia melirik pada Hana, mengingat tenggat waktu perpisahan yang sebentar kagi.


"Iya bu. Saya mohon maaf sebelumnya sudah membuat khawatir semuanya." Hana kembali melipatkan tangan di dada.


"Oh iya gak pa- pa bu Restu, kebetulan pak Fikri sudah input data juga. Ya, jaga-jaga kalau bu Restu lama tak kembali. Jadi bu Restu sekarang tinggal periksa aja, takutnya ada yang salah." Emilia menerangkan dengan baik pada Hana.


"Oh iya baik kalau begitu, tapi.. saya mohon izin mau menemui kepala sekolah dulu."


"Oh, bapak kebetulan lagi ke luar kota ada seminar. Kemarin sudah memandatkan pada saya segala urusan sekolah selama bapak tidak ada, bisa lewat saya bu Restu." Emilia senyum ramah.


"Oh iya silahkan! Eh, sebentar bu Restu... kita ke ruangan bapak aja dulu sebentar. Ada yang mesti dibicarakan." Emilia terlihat serius menatap Hana, dia mengingat sesuatu yang penting yang sudah lama ingin dibicarakan dengan Hana.


"Oh baik." Hana mengikuti langkah Emilia menuju ruang kepala sekolah. Yang Hana ingat dalam data yang Sandi berikan, bu Emilia ini jabatannya wakil kepala sekolah. Jadi dia tanpa canggung menggunakan ruangan itu.


"Begini bu Restu... Saya harus mulai darimana ya?" Dia terlihat bingung. "Bu Restu tau kan nama murid ibu yang bernama Sandi?" Matanya menatap serius pada Hana. Berharap Hana bisa mengerti dengan apa yang dibicarakannya.


"Iya bu. Ada apa dengan Sandi?" Hana penasaran.


"Anak itu... ga bisa lulus tahun sekarang."


Deg.


Jantung Hana seolah berhenti. Ada rasa khawatir, apalagi berkaitan dengan Sandi.


"Kenapa bisa tidak lulus bu?" Hana menatap Emilia dengan sangat perhatian. Belum mengetahui sebab Sandi bisa tak lulus.


"Dia tidak ikut ujian bu."


"Apa??? Hana spontan meninggikan suara. Kaget dengan berita itu. Tak menyangka Sandi tidak lulus karena tidak ikut ujian nasional. Hana benar-benar lupa sebabnya.


"Iya bu. Kepala sekolah masih bisa toleransi atas kenakanlan nya. Tapi... kalau ga ikut ujian itu datanya ga bisa masuk ke pusat bu. Ini ujian nasional. Jadi bagaimana ya bu, untuk bisa memberitahukan pada orang tuanya? Ibu sendiri hafal betul siapa orang tuanya." Raut wajah Emilia terlihat bingung tentang masalah ini.


"Baik... nanti saya akan bicara pada orang tuanya, apa baiknya Ikut ujian persetaraan atau mengikuti ujian tahun depan."


"Baik bu kalau begitu. Tapi kalau bisa ya bu... ibu lebih hati-hati! Soalnya... kalau salah menyampaikan kita semua bakalan dapat dampaknya." Emilia memberi saran dengan hati-hati. Maklumlah, orang yang akan diajak bicara orang sekelas pejabat tinggi yang sedang memerintah. Alih-alih dapat menerima, bisa jadi pihak sekolah kena imbas.


"Oh iya bu, saya akan kembali ke meja saya, kalau tak ada yang dibicarakan lagi." Hana izin untuk kembali kerja.


"Oh iya baik bu Restu... silahkan!"


Hana bergerak dari ruangan kepala sekolah. Beberapa meter di depan Hana sudah berdiri seseorang. Dia sudah menunggunya sejak kabar kedatangan Hana tadi ramai dibicarakan diantara grup medsos sekolah. Dia menanti dengan hati berbunga-bunga.


"Bu Restu... " Dia tersenyum matanya tersirat kerinduan.


"Eh pak... Fikri." Hana masih menatap datar.

__ADS_1


Keduanya saling menatap, sepertinya salah tingkah di depan Hana.


"Oh iya Pak, saya mau ke dalam dulu. Ada yang mau saya kerjakan." Hana berjalan ke ruangan guru.


"Oh iya.. " Fikri menjawab dengan gagap.


Dia masih berdiri di depan pintu dengan setumpuk kertasnya. Awalnya dia berniat memberi kan kertas-kertas itu pada Hana untuk keperluan ijazah anak-anak yang akan lulus tahun ini. Dia baru tersadar ketika bu Emilia mendekat.


"Ko melamun pak! Ehem.. kaget ya orangnya dateng?" Emilia tersenyum kecil menertawakan pak Fikri yang masih mematung.


"Eh bu.. eh iya. euh saya... ini bu... " Fikri bicara tak jelas pikiran dan hatinya tak menentu melihat Hana kembali.


Fikri mendekat ke meja Hana.


"Bu Restu... hhh... ini... eh... " Fikri kembali tergagap lagi.


"Iya Pak Fikri?" Hana mendongak.


"Ini berkas sudah saya kumpulkan. Hhh... juga sudah saya salinkan untuk persiapan raport dan ijazahnya.. hhh... ibu bisa periksa kembali."


"Aduh Pak Fikri... terimakasih kasih banget. Maaf ya sudah merepotkan!" Hana melipatkan tangan di dada juga mengangguk-angguk kepala sebagai wujud terima kasih. Hana begitu senang pekerjaannya jadi ringan. Ternyata selama dia tak ada, pekerjaan nya sudah dihandle oleh pak Fikri.


"He he iya bu... kalau ada kesulitan jangan sungkan minta bantuan." Fikri terlihat malu-malu.


"Iya pak terimakasih! Untuk sementara belum ada. Saya akan menyelesaikan sisanya." Hana bermaksud mengakhiri pembicaraannya. Agar bisa fokus mengerjakan tugas.


Sementara di lain tempat Sandi masuk rumah rusun milik Hana. Dia bergegas mencari kotak yang waktu itu ditemukan. Ya letaknya masih sama. Dia segera mengeluarkan semua isi kotak itu dan dimasukkan ke tas ransel.


Sandi terdiam. Sejenak berfikir barangkali dia perlu menggeledah semua barang-barang Hana, mungkin ada sesuatu yang perlu diamankannya. Kecurigaan Sandi bukan tanpa alasan. Semata-mata hanya ingin mengumpulkan bukti-bukti.


Sandi mulai memeriksa satu-persatu semua barang yang dianggap mencurigakan. Mulai lemari, laci, nakas, dan tas-tas. Semua barang di kamar kembali dirapihkan. Tapi tak menemukan barang yang mencurigakan lagi.


Sandi bergerak ke ruang tengah dia mulai mengobrak-abrik satu-persatu barang. Dan pandangannya tiba-tiba teralihkan pada satu pintu. Letaknya ada di samping kamar mandi. Selama Sandi berkunjung tak pernah satu kali pun pintu itu terbuka.


klek.. klek.. klek


"Terkunci."


Sandi melangkah ke dapur. Mencari alat yang bisa digunakan untuk membongkar pintu.


Pintu dibongkar paksa.


Brak... akhirnya terbuka.


Gelap, apek dan debu seolah memadat di ruangan itu. Sandi mencari tombol penerangan.


Satu persatu Sandi membongkar barang yang ada di ruangan itu. Ya mirip gudang penyimpanan barang yang sudah tidak layak guna.


Terakhir Sandi menatap ada satu kotak yang tertindih barang-barang. Matanya fokus melihat kotak itu. Dia mendekati kotak dan menurunkan barang-barang yang menindihnya.


"uhuk.. uhuk.. uhuk.. "


Nafasnya terganggu oleh debu-debu yang berterbangan.


"Hah pengap." Sandi melanjutkan membongkar kotak.


"Apa ini? Foto-foto. Diary. ada sebuah kalung. Sandi penasaran membuka diary dan membacanya dengan teliti.


"Hah.... " Dia menutup mulutnya. Terdiam seribu bahasa. Masih tak percaya apa yang baru saja dia baca. Ini ada hubungannya dengan surat-surat itu.


Apa yang harus dilakukannya? Dia menunduk melipatkan kakinya. Mengusap kasar wajahnya. Raut wajahnya nampak gusar. Seberat inikah cobaan Hana selama ini? Dia masih termangu di ruang kotor penuh debu.


Kring... kring.. kring..


Suara handphone terdengar dari saku celananya. Dia merogoh dengan malas.


"Iya halo.. "


"San... lu dimana?"


"hhmmm"


"Elu ga ke sekolah?"


"hhhmmm"


"Ya Elah.. di telpon ehem ehem aja.. lu masih tidur?" Suara Raffa bertambah nyaring.

__ADS_1


"Kagak... "


__ADS_2