
Jam sudah menunjukan jam tujuh pagi, Hana sudah terbangun dari tempat tidur losmen yang disewanya semalam. Bayangan Steve yang telah mengusir Hana tadi malam masihlah membekas. Tapi Hana merasakan bukannya sakit hati lagi sekarang, malah ada rasa rindu membersamai. Kehangatannya, kebaikannya masih dirasakan dihatinya.
Ketika pergi dari rumah itu Hana tak membawa apapun termasuk baju ganti. Terpaksa setelah mandi dia memakai bajunya kembali yang menempel ketika pergi.
Hari ini Hana memutuskan untuk mencari kostan. Dia pun tak berniat berangkat ke sekolah. Hari ini akan dia menikmati sekaligus mencari tempat tinggal sementara.
Setelah mendapatkan kostan Hana berbelanja beberapa potong baju juga makanan untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Hari ini, hari pertama memulai hidupnya tanpa bantuan orang lain. Dia bertekad menjadi dirinya yang baru. Memulai sesuatu tanpa terbebani. Hana berinisiatif mengganti nomor handphonenya agar terbebas dari masalahnya.
Dalam kamarnya yang baru, Hana merenung menatap tembok-tembok yang bersih tanpa hiasan dinding. Mengenang masa-masa kebelakang ketika dia baru pulang dari rumah sakit. Dia tersenyum,m sedang mengingat beberapa hal yang lucu bersama Steve, Sandi, juga Wei. Tak lama kemudian matanya berkaca-kaca teringat beberapa kejadian yang membuatnya bersedih.
*Sampai kapanpun aku akan tetap menyayangimu... maafkan aku.. yang sudah banyak merepotkan*mu Steve. Aku rindu
Dilain tempat Steve sudah memakai stelan jas hitam dan dasi hitam untuk berangkat ke makam ibunya. Seperti tahun-tahun sebelumnya dia akan pergi ke sana bersama ayahnya juga ibu sambungnya.
Pikiran Steve yang dirundung mendung seolah tak bersemangat menatap pagi yang cerah. Separuh jiwanya seperti pergi meninggal dirinya.
Steve berangkat ke pemakaman bersama kedua orangtuanya. Hatinya dipenuhi kabut kesedihan. Pengusiran Hana sebenarnya sangat menyayat hatinya. Dua bulan cukup mengisi hatinya dengan kehangatan sekarang terganti dengan luka.
Dari sekian banyak wanita yang bernama Hana, kenapa harus dia?
Hana... aku rindu... tapi aku tak ingin terluka.
Apakah kamu baik-baik saja?
Dimana sekarang kamu tinggal?
Apa kamu sudah makan?
Ah... aku tak sanggup ditinggalkan
Kenapa kamu tak menolak sedikitpun? Itu membuat hatiku sakit Hana...seolah engkau memang ingin pergi..Aku hanya tak ingin engkau jadi adikku, sungguh aku tak siap menerimamu. Tapi taqdir berkata lain.
"Steve... kamu baik-baik saja?" Ayahnya menepuk bahu Steve. Terdengar isak Steve di depan makam ibunya.
Steve hanya mengangguk.
Sebetulnya kesedihan yang dirasa Steve sekarang bukan menangisi ibunya, melainkan menangisi kejamnya dia sudah mengusir Hana, padahal dia sangat menyayanginya.
"Steve... kamu ada masalah apa? Ayo cerita pada ayah!" Ayahnya merasa Steve sedang tidak baik-baik saja. Semenjak tadi bertemu di pemakaman wajahnya seperti kosong.
"Ayah... " Steve merangkul ayahnya dengan erat. Steve menangis sesenggukan meluapkan kesedihannya. Rasanya dia ingin merangkul seseorang yang dia sayangi, tapi dia sudah menyakitinya.
Ayahnya Steve balas merangkulnya, mengelus punggungnya memberikan kekuatan pada putranya yang kini sedang rapuh. Walaupun Steve belum menceritakan masalahnya, tapi insting orangtua sangat kuat.
"Aku tak sanggup hidup tanpa dia ayah... " tiba-tiba Steve berkata lirih.
"Sabarlah anakku.. ibu sudah tenang disana. Doakanlah yang terbaik buatnya!" Ayah Steve menyangka Steve menangisi ibunya.
"Mulai sekarang aku akan ikut dengan ayah.. " Steve sudah tak sanggup lagi tinggal di Indonesia. Hatinya sekarang sedang hancur berkeping-keping menjadi serpihan kesedihan yang menyayat hatinya.
Ayah Steve melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah puteranya yang beruraian air mata. Ibu jarinya menghapus buliran air mata Steve dengan lembut.
"Ya.. ayah juga rindu kita berkumpul, akan lebih baik jika kamu kembali ke Perancis menata hidup baru di sana." Ayah Steve menepuk bahu putranya.
"Mama juga sangat senang jika kamu kembali nak.. Caterina pastinya senang jika kakaknya kembali ke Perancis." Ibunya Caterina mengelus punggung Steve.
"Terima kasih, yah mam..! Aku akan kembali bersama kalian." Sekarang giliran Steve merangkul ke pelukan ibu sambungnya. Dia adalah sosok ibu yang baik juga istri yang setia. Steve sudah merasa sangat dekat, walaupun dia bukan lahir dari rahimnya.
"Sudahlah, malam ini kita akan pulang ke villa. Sudah lama ayah sama mama tidak mengunjungimu nak... "
"Baik ayah.. "
__ADS_1
Sepanjang perjalanan matanya hanya memandang kosong. Jiwanya seperti hampa. Terlalu sakit memang menerima kenyataan orang yang mulai mengisi hatinya malah harus terusir dari hidupnya. Karena dendam masa lalu yang menganggap kehadiran Hana menyebabkan ibunya terpisah dari Steve. Sampai kapan pun hatinya belum menerima kehilangan ibunya yang sangat dicintainya.
Dengan langkah gontai Steve masuk ke dalam rumah, diiringi kedua orang tuanya.
"Ayah, aku masuk dulu ke kamar, mau istirahat." Steve meminta izin untuk menenangkan hatinya di kamar. Hatinya terlalu lelah pikirannya sedang tak baik-baik saja.
"Baik, istirahatlah! Ayah juga mau menyimpan barang-barang ayah dulu dikamar."
Tanpa disadari bahwa kamar yang biasa dipakai orang tuanya kemarin dipakai oleh Hana. Dan kamar itu belum sempat dibereskan. Karena sepeninggal Hana tadi malam para pelayan pun sudah beristirahat. Dan di pagi hari Steve sudah menyuruh beberapa pelayan Wei untuk kembali ke mansionnya.
"Apa ini?" Ayah Steve mematung.Terlihat berderet sepanjang lemari baju-baju perempuan berbaris dengan rapih. Ayah Steve merasa aneh, kenapa lemarinya dipenuhi baju wanita. Dia mengamati satu persatu baju-baju yang berderet rapih juga tumpukan kaos-kaos dan celana yang ada di lemari.
"Aneh, kenapa lemari ini jadi penuh baju wanita? Dan modelnya mirip anak muda?" Ayah Steve berkata lirih.
"Ada apa suamiku? Kok melamun begitu?" Istrinya yang baru masuk ke kamar mengamati tingkah suaminya yang menatap baju-baju di lemari seperti melihat keanehan.
"Sini ma! Menurut mama aneh gak, melihat baju-baju ini?" Ayah Steve mengajak istrinya untuk mengamati baju-baju yang berderet di sepanjang lemari. Keduanya menatap ke dalam lemari yang sudah dipenuhi baju-baju asing.
"Iya yah. Apa ada yang tinggal disini selama kita tidak ada?" Istrinya menatap ke arah ayahnya Steve memikirkan keanehan.
"Coba ma, lihat itu di meja rias!" Sejenak ayahnya Steve melirik ke depan meja rias. Di sana masih berjejer alat-alat kosmetik perempuan. Keduanya berjalan mendekati meja itu.
"Yah... ini!" Istrinya mendapati kartu ATM yang tergeletak di atas meja rias bersamaan sepucuk surat.
Ayah Steve mengambil amplop yang isinya secarik surat yang ditujukan untuk Steve.
*Teruntuk Steve
Aku tak tahu harus mulai dari mana untuk berkata. Tadi malam sebenarnya ada banyak yang ingin aku tanyakan kepadamu, tapi apa boleh buat... mungkin kamu sedang tidak enak hati padaku.
Aku... ucapkan terimakasih kasih banyak padamu.. atas kebaikanmu selama ini yang belum bisa aku balas, mungkin selama disini aku terlalu banyak merepotkan... aku mohon maaf sebesar-besarnya. Dan ini kartu debit nya aku kembalikan, aku belum pernah memakainya sama sekali. Doaku semoga kamu tetap sehat selalu... salam buat Wei... aku ucapkan terimakasih banyak telah menyelamatkan ku juga merawat ku dengan baik. Semoga lain waktu kita akan bertemu kembali
Salam. Hana
"Ayah kenal dengan orangnya?"Ibunya Caterina memandang wajah suaminya dengan serius.
Ayah Steve menghela nafas, lalu mengeluarkannya dengan kasar, " Aku tidak tau mam."
Ayahnya Steve melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Lalu terdiam sejenak di dalam. Matanya menatap kosong pada cermin yang ada di kamar mandi.
Ya Tuhan apa yang terjadi dengan anakku? Apa ada kaitannya dengan pertanyaannya kemarin? Ah.. aku berharap dia tidak jatuh cinta pada orang yang salah...Maafkan aku Sarah... aku tak bisa menjaga anakmu dengan baik. Kalau taqdir mempertemukan mereka, jadikan mereka saling menyayangi dalam kadar saudara bukan jatuh cinta. Aku tak ingin kebenciannya terlalu lama dan menyakitkan...
Ayahnya Steve mengamati sekeliling kamar mandi juga bathtub.
"Oh my god... disini juga penuh dengan peralatan kewanitaan. Sejak kapan mereka bertemu dan serumah?" Dia berkata dalam hati. Ayahnya Steve duduk termenung, dalam hatinya dia seperti menyalahkan dirinya sendiri yang tak mampu menjaga Steve dengan baik. Membiarkan dia hidup sendiri di Indonesia dalam kenangan ibunya.
Maafkan aku. Sarah... Besok aku akan mengajaknya ke Perancis. Biarkan dia hidup bersama kami di sana.
Dia menghela nafas, lalu ke luar kamar mandi.
"Tunggu disini! Ayah ke kamar Steve dulu!"
Ibunya Caterina menganggukkan kepala.
Ayah Steve berniat untuk menemui Steve dan memberikan kartu debit bersama surat itu. Dia berharap Steve bisa bicara terus terang.
Tok.. tok.. tok..
Pintu kamar diketuk ayahnya Steve.
Sementara di dalam kamar Steve membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia menatap pada tas yang masih teronggok dekat sofa miliknya, tak lain milik Sandi yang belum dia ambil. Steve sedang membayangkan ketika mereka tinggal bersama satu kamar. Di balik rasa jengkelnya pada Sandi sebenarnya dia merasa terhibur dengan sikap Sandi yang kekanak-kanakan. Kadang dia mengingatkannya masa-masa dia masih di bangku SMA.
__ADS_1
Steve tersenyum tipis, mengingat kemarin-kemarin ketika dia pulang ke rumah ada orang yang menemaninya, bahkan di kamar ini dia selalu menggodanya. Begitu pun ketika berangkat ke kantor, dia semangat untuk sarapan pagi karena meja itu tak lagi sendiri tapi bertiga.
Ah... kalian. Kenapa kalian datang dan pergi begitu saja. Bahkan aku sudah terbiasa dengan keberadaan kalian berdua. Hari ini kembali sepi seperti semula.
Suara ketukan membuyarkan lamunannya. Mata Steve melihat ke arah pintu.
"Masuklah!" Steve agak malas membukakan pintu, alih-alih dia membukanya, dia lebih baik menyuruhnya masuk. Karena rumahnya sekarang hanya ada ayah dan ibu sambungnya.
Tak lama kemudian ayahnya Steve muncul dari balik pintu.
"Ayah.. ada apa?" Steve bergerak menegakkan badannya pada sandaran ranjang. Setelah tahu ayahnya mendekati.
"Tidak.. ayah hanya ingin ngobrol saja." Ayahnya Steve duduk di pinggiran ranjang.
"Nih! Ayah temukan di atas meja rias." Ayahnya Steve menyodorkan kartu ATM dan sebuah amplop yang berisi surat.
Steve menerimanya. Tangannya agak gemetar menerima kartu itu. Dalam hatinya dia sudah tahu pasti ini kartu yang pernah dia berikan pada Hana waktu itu.
"Kenapa tidak membukanya?" Ayah Steve yang memperhatikan gerak-gerik anaknya, heran. Kenapa Steve tidak membuka amplop surat itu.
"Iya yah nanti!" Steve tidak mau ayahnya akan bertanya tentang isi surat itu.
"Baiklah! Ayah mau bicara sama kamu." Ayah Steve memasang wajah serius. Steve tertunduk tidak berani mengangkat wajahnya.
"Besok ayah akan kembali ke Perancis. Ayah harap kamu kemasi barang-barang kamu! Sudah waktunya kamu membantu ayah mengelola hotel. Ayah sudah tua, ayah harap kamu tidak bekerja lagi bersama Wei. Tapi belajarlah mengelola usaha ayah agar nanti kamu bisa melanjutkannya."
"Bagaimana?" Ayahnya Steve menepuk kaki anaknya yang sedang menunduk.
"Baik ayah!" Steve tidak berani menolak lagi, tidak seperti dahulu ketika ayahnya mengajak ke Perancis untuk bekerja di sana.
"Bagus! Sudah saatnya kamu dewasa dan mencari jodoh di sana. Ayah sama mama sudah kangen berkumpul."
Steve hanya mengangguk. Tak ada yang Steve lakukan di saat hatinya galau seperti sekarang. Dia lebih banyak menurut dan tak berani membantah ayahnya lagi.
"Kalau begitu, ayah mau masak dulu. Nanti kalau sudah siap keluarlah ya! Kita akan makan bersama." Ayah Steve kembali menepuk kaki Steve. Lalu berdiri meninggalkan Steve yang masih duduk di atas kasurnya. Dia berjalan menuju dapur.
Ternyata istrinya sudah lebih dahulu ada di dapur sedang mengeluarkan isi kulkas.
"Dikira mama masih di kamar." Ayah Steve melihat punggung istrinya yang sedang sibuk memilah aneka bahan masakan yang baru saja dikeluarkan dari dalam kulkas.
"Mama mau bantu ayah memasak. Kalian pasti lapar juga kan?" Sambung ibunya Caterina.
"Iya. Ayah berniat memasak." Ayahnya Steve yang basic nya Cheff sudah terbiasa memasak di dapur. Tanpa diminta pun dia akan menyiapkan makanan dengan senang hati.
"Tumben banyak sekali bahan masakan. Biasanya stok nya cuman frozen food." Ayahnya heran melihat bahan masakan yang cukup banyak yang baru dikeluarkan istrinya dari dalam kulkas.
"Yah.. apa ada masalah serius dengan Steve?" Ibunya Caterina penasaran dengan keadaan Steve.
"Tidak tahu!" Ayahnya menjawab pendek.
"Kok gak tahu yah? Bukannya barusan ayah dari kamar Steve?" Mata istrinya melongo seolah tak percaya.
"Ayah hanya mengajaknya besok pulang ke Perancis. Mulai besok dia akan tinggal bersama kita. Mama tidak keberatan kan?" Ayahnya Steve yang sedang memilah bahan masakan sejenak melihat wajah istrinya.
"Wah mama malah senang. Bukannya Steve sudah lama tidak berkumpul dengan kita? Selain itu Caterina pasti senang jika kakaknya akan berkumpul lagi." Wajah istrinya terlihat sumeringah.
Mereka asik memasak dengan dibarengi obrolan kecil. Tak menunggu lama semua masakan siap saji. Mama Caterina segera menyiapkan hidangan di meja.
"Coba panggilkan Steve, suruh dia datang ke meja!" Ayah Steve menyuruh istrinya memanggilkannya.
"Baik." Tanpa menunggu lama istrinya melangkah menuju kamar Steve.
__ADS_1
tok.. tok.. tok..
"Steve.. " Ibu sambungnya tak segera membuka pintu, dia lebih memilih menunggu. Setelah menunggu beberapa saat tak ada jawaban, dia kembali mengetuk pintunya. Lalu dia memanggil kembali nama Steve, tapi tak ada jawaban juga.