
Setelah tuan Hans pergi bersama Raffa, Gavin pun pamit bersama Hana.
"Bu Restu kita pamit pulang ya. Semoga bu Restu kembali pulih." Sari memegang telapak tangan Hana dengan erat. Walaupun Sari tak tega meninggalkan Hana di rumah sakit, tapi Sari mempunyai kewajiban untuk mengajar yang dulu rencananya akan diberikan pada Hana.
"Iya terimakasih teh Sari kang Gavin." Hana pun membalas memegang erat tangan Sari. Rasanya mereka seperti saudara saling mengeratkan perhatian dan kasih sayang.
"Iya bu Restu. Jangan khawatir nanti malam Raffa akan kembali kesini untuk menemani kalian." Gavin melirik pada Steve dan Dokter Alvian.
"Iya, Terima kasih atas bantuan kalian." Steve tersenyum bahagia seperti menemukan keluarga. Walaupun pertemuannya baru, tapi rasanya mereka begitu hangat dan ramah.
"Iya mari, Assalamualaikum." Gavin dan Sari pun keluar ruangan setelah mereka berpamitan. Yang laki-laki saling berjabat tangan sedangkan Sari mengeratkan pegangannya pada tangan sebagai tanda perpisahan dengan Hana.
"Dokter Alvian." Hana memanggil dokter Alvian dengan suara tidak terlalu tinggi. Ya badannya sepertinya masih lemas. Tapi sekarang sedikit bertenaga dibanding ketika Hana masih di ICU. Mungkin karena pasokan obat dan makan sudah bisa masuk dengan baik ke tubuh Hana, menambah kekuatan bagi tubuh Hana.
"Iya Hana." Mata Dokter Alvian melebar begitu Hana memanggilnya. Dokter Alvian duduk di pinggir ranjang Hana.
"Dokter... maaf ya!" Tiba-tiba ucapan itu ke luar dari bibir Hana. Wajahnya begitu imut dan manja seperti anak kecil yang menggemaskan. Ya mungkin pikiran Hana masih sepeti dulu ketika dia manja, dan masih bergelayut pada dokter Alvian. Waktu itu Hana berusia 17 tahun ya seumuran anak SMA ketika dia pertama kali bertemu dengan dokter Alvian.
"Maaf?" Mata dokter Alvian berkerling sesaat, lalu pandangannya kembali pada Hana.
"Dokter gak marah kan sama aku? Waktu itu aku gak pernah membalas surat-surat dokter." Hana merasa bersalah. Sekian banyak kebaikan dokter Alvian padanya waktu itu, tapi Hana belum sempat membalas kebaikannya.
"Mmm.. " Dokter Alvian malah mengernyit dahinya dan telunjuknya ikut bermain di wajahnya.
"Ih dokter!" Suara Hana kembali bermanja ketika melihat sikap dokter Alvian.
"Iya, aku maafkan tapi ada syaratnya!" Dokter Alvian terlihat senang, dihati kecilnya dia sedang ingin menghibur Hana. Pastinya Hana akan terpukul jika mengetahui dirinya lumpuh.
"Apa syaratnya?" Hana menajamkan pandangan pada manik bola mata dokter Alvian.
"Kamu, cepet sembuh ya! Jangan sakit lagi! Biar kamu panjang umur dan bisa membalas kebaikan orang-orang yang sudah berbuat baik pada kamu." Dokter Alvian rupanya sedang menyemangati Hana agar Hana semangatnya bertambah.
"Baik dokter. Aku ingin sembuh dan tak ingin terlihat sakit lagi!" Hana seperti mendapatkan booster. Wajahnya nampak sekali bersemangat, matanya terlihat berbinar.
"Bagus! Dokter Alvian mengacungkan dua jempolnya.
"Tapi dokter.. " Hana menyipitkan matanya wajahnya dengan cepat berubah menjadi terlihat tak bersemangat.
"Iya ada apa?" Dokter Alvian mencemaskan sesuatu.
"Hhh... badanku pegal sekali. Semenjak pindah aku tak bisa menggerakkan badanku sedikitpun. Apalagi mengangkat kakiku. Kenapa dokter?" Hana terlihat cemas merasa badannya begitu tak bertenaga.
"Biar aku yang bantu dokter Alvian." Steve yang ranjangnya tak jauh dari Hana turun dari ranjangnya. Keadaannya sudah lebih baik dari sebelumnya. Asam lambung yang menderanya semakin membaik. Depresi yang menimpanya menimbulkan asam lambung Steve naik. Karena pertemuannya dengan Hana juga ingatan Hana yang menghilang membuat Steve merasa beban bersalahnya semakin berkurang.
"Baik saya akan membantumu. Kamu juga masih pasien Steve. Jangan memaksakan diri!" Dokter Alvian sebagai pendamping psikolognya mengingatkan Steve.
"Iya dok!" Steve mengiyakan apa yang menjadi kekhawatiran dokter Alvian.
"Hana ingin duduk?" Steve mendekatkan wajahnya pada Hana berbicara lembut.
"Iya kak. Saya ingin duduk. Badan saya terasa pegal sekali." Hana mengungkapkan keinginannya.
Kedua pria itu saling membantu mengubah posisi Hana, sehingga Hana bisa duduk dengan nyaman. Tak lupa mereka mengubah stelan kasur pasien agar bisa menyangga tubuh Hana dengan baik.
"Kakak, kenapa kakiku tak bisa diangkat ya?" Hana tak berhenti bertanya mengenai keluhannya.
"Mmm.. " Steve tak berani menjawab begitu pun dokter Alvian.
"Lihatlah kak! Hana menatap kakinya, seluruh kekuatannya sedang dikerahkan untuk mengangkat kakinya agar bisa diangkat. Jangankan untuk diangkat digerakkan pun nyaris tak bisa.
"Hana pegal kakinya?" Dokter Alvian tidak membiarkan Hana untuk stress memikirkan hal yang barusan dikeluhkan.
"Iya, aku pegel dokter!" Perhatian Hana sejenak teralihkan. Dia melihat ke arah dokter Alvian.
"Baik, aku bawakan bantal ya! Biar Kaki Hana bisa diangkat lebih tinggi. Dan peredaran darahnya pun bisa lancar." Dokter Alvian berdiri membawa cadangan bantal yang ada di lemari. Lalu menaruhnya dibawah kaki Hana.
__ADS_1
"Mau aku pijat kaki nya?" Tawar dokter Alvian pada Hana.
"Biarkan aku saja dok!" Steve segera memotong niat dokter Alvian.
Ih kenapa dengan Steve? Hhh apa dia cemburu? Matanya terlihat tidak senang aku membantu Hana. Jangan-jangan dia menaruh hati sama Hana. Ah mana mungkin? Bukankah mereka bersaudara?
Dokter Alvian menatap curiga dengan sikap Steve seperti cemburu bahkan dibilang posesif.
"Baiklah. Kamu kan kakaknya? Bukan kekasihnya." Nada sinis dilontarkan dokter Alvian pada Steve karena dia merasa Steve terlalu berlebihan menanggapinya.
Dokter Alvian hanya duduk melihat interaksi Steve dan Hana. Dokter Alvian duduk di sofa sambil memainkan handphonenya memeriksa beberapa notifikasi.
"Dokter... " Hana kembali memanggilnya.
Dokter Alvian pun kembali mendekat.
"Iya, ada apa Hana?" Dokter Alvian menatap Hana, pastinya ada yang mau dibicarakannya.
"Ehhh... Saya pengen ke toilet." Rona merah di pipi Hana jelas terlihat, ada perasaan malu dihati Hana untuk mengatakannya.
"Aku minta izin untuk menggendongnya. Kamu bisa panggilkan perawat perempuan untuk membantunya di dalam?" Dokter Alvian meminta izin pada Steve, dia tak ingin Steve salah paham. Dia tahu Steve masih belum fit betul untuk mengangkat beban tubuh Hana. Dia sendiri masih dalam perawatan.
Steve berdiri tanpa menolak. Di memanggil salah satu perawat perempuan untuk menemani Hana di toilet. Sebetulnya bisa saja Hana memakai alat bantu agar tidak repot ke toilet. Tapi dia terlalu malu, dan ingin pergi ke toilet untuk membuang hajatnya.
"Hana pegangan ya! Aku akan menggendong kamu sampai toilet. Nanti perawat akan membantumu di dalam." Dokter Alvian segera memangku Hana dan Hana melingkarkan tangannya di leher dokter Alvian.
Setelah kepentingan Hana selesai, dokter Alvian kembali menggendongnya dan mengembalikan Hana ke kasur.
"Maaf jadi merepotkan!" Hana merasa sungkan pada dokter Alvian. Wajahnya terlihat malu.
"Tak apa-apa." Dokter Alvian tak banyak bicara. Tatapan Steve seperti sedang mengintimidasi.
"Baiklah Hana, karena sudah malam. Kamu istirahat ya! Aku akan tidur di sofa. Jika kamu membutuhkanku tinggal memanggil saja. Disini juga ada kakakmu, jadi jangan khawatir! Kamu segera tidur!" Dokter Alvian menyuruh Hana segera istirahat. Karena waktu sudah menunjukan jam 9.
Dokter Alvian segera berbaring di sofa ruangan itu. Dan tak lama kemudian dia terlelap.
Kenapa dengan tubuhku ini? Apa aku mengalami kelumpuhan? Selemes-lemasnya orang sakit ga gini amat!
Hana mengeluh dalam hati. Dia heran kenapa anggota tubuh dari pinggang ke bawah sulit untuk digerakkan. Terlihat Hana dengan sekuat tenaga mau mengangkat kakinya. Nafasnya terlihat terengah-engah seperti maraton.
"Ahhh... " Suara itu ahirnya keluar. Hana merasa lelah sekali setelah mengerahkan seluruh kekuatannya hanya untuk mengangkat kakinya saja. Rasa kecewa, marah bercampur.
"Hana, kamu belum tidur?" Steve yang mendengar suara keluhan yang agak keras terbangun dari tidurnya. Kebetulan ranjangnya tidak terlalu jauh dari Hana. Dia turun dari ranjang mendekati Hana.
"Kakak..." Hana menangis.
Steve melihat Hana menangis hatinya merasa sakit. Dia langsung memeluknya erat. Menenangkan Hana. Walau dia sendiri tidak tahu penyebab Hana menangis.
"Tak apa-apa kakak disini Hana." Steve mengusap lembut rambut Hana yang terurai. Baru kali ini Steve memeluk Hana. Walau pikirannya sudah mengerti bahwa Hana sekarang adalah adiknya tapi hatinya belum siap sepenuhnya tentang kenyataan bahwa mereka berdua Bersaudara.
Dokter Alvian sayup-sayup mendengar Steve berbicara untuk menenangkan Hana. Dia bangun lalu mengucek matanya. Dia melihat ke arah ranjang pasien dengan menyipitkan mata. Karena lampu ruangan sudah dimatikan tinggal lampu tidur temaram menyala.
Dokter Alvian bangkit lalu berjalan mendekati Steve dan ranjang Hana.
"Apa yang terjadi?" Di menatap lekat pada dua saudara yang sedang saling berpelukan.
Steve melonggarkan pelukannya dan menoleh ke arah Dokter Alvian.
"Dokter.. " Hanya itu yang diucapkannya.
"Apa yang terjadi dengan Hana?" Dokter Alvian kian menajamkan matanya pada Hana. Matanya yang sembab terlihat.
"Kenapa kamu menangis?" Dokter Alvian memperhatikan dua orang saudara itu.
"Dokter, apakah saya lumpuh? Sejak tadi saya sudah berusaha untuk menggerakkan kedua kaki tapi tak sedikitpun bergerak." Hana yang sejak siang sudah menyatakan keluhannya belum juga bisa terjawab.
__ADS_1
"Hana sekarang istirahatlah! Besok pagi bisa ditanyakan pada dokter Aldi ya! Kalau kamu kurang istirahat akan mempengaruhi pada tubuh kamu. Kamu kan baru sadar, mungkin tubuh kamu butuh terapi untuk merangsang syaraf-syaraf yang lemah." Dokter Alvian harus menyampaikan dengan sehalus mungkin agar Hana bisa menerima kenyataan besok hari dari dokter Aldi.
"Iya Hana, tidurlah! Kakak akan menjagamu disini! Steve yang sudah kondisi Hana, sebenarnya tidak enak juga jika harus menyampaikan kenyataan yang terjadi. Untung dokter Alvian bangun dan bisa menjelaskan walaupun hanya sedikit.
Hana mulai tenang. Steve mengusap lembut pucuk kepalanya dan Hana pun sedikit demi sedikit mengantuk akhirnya terlelap.
"Dokter ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Steve menoleh pada dokter Alvian yang masih berdiri di pinggir kasur Hana.
"Bicaralah!" Dokter Alvian tanpa ragu mempersilahkan.
"Tapi jangan disini. Saya khawatir Hana mendengarkannya."
"Baik. Kita duduk di ruang tamu." Keduanya berjalan dan duduk saling berhadapan di sofa yang tersedia di ruang VVIP.
"Dokter, apakah kondisi Hana terpengaruh dari hasil operasinya?" Steve memulai bicara. Dia pikir dia lebih leluasa berbicara pada malam hari.
"Hhhmm. Dokter Aldi lebih tahu kondisinya. Tapi sepengetahuanku Hana kondisi lemah semenjak mereka memasukan obat-obatan itu. Syaraf-syaraf memang menjadi lemah. Ditambah kondisi paska kecelakaan membuat Hana kini terbaring lemah."
"Apakah Hana bisa sembuh?" Steve penasaran.
"Bisa saja! Tak ada yang tak mungkin buat Tuhan untuk menyembuhkannya. Tapi analis dokter pun perlu diperhatikan. Mungkin bisa sembuh tapi membutuhkan waktu yang tak sebentar."
"Kamu sendiri Steve apakah sudah lebih baik?"
"Iya dok! Kondisi saya jauh lebih baik, apalagi setelah bertemu Hana. Mungkin ini saatnya saya menebus kesalahan saya." Steve menunduk.
"Syukurlah! Lebih baik kamu istirahat juga! Besok kita dengarkan apa yang akan dikatakan dokter Aldi."
"Baik dok!" Steve beranjak dari kursi sofa lalu berjalan menuju ranjangnya.
Dokter Alvian pun melanjutkan tidurnya di sofa.
Keesokan harinya seperti aktifitas biasanya di rumah sakit pagi-pagi semua ruangan akan dibersihkan dan pasien-pasien biasanya dianjurkan untuk membersihkan badannya. Tak terkecuali Hana yang terbaring di kasur karena kelumpuhannya. Dua orang perawat mendekatinya, lalu berkata;
"Maaaf nona, kami akan membantu untuk membersihkan badan anda jika anda sudah siap." Mereka dengan ramah bicara pada para pasiennya.
"Aku? Mandi? Disini?" Dengan nada sinis, rupanya dia keberatan.
"Oh tidak! Aku ingin pergi ke kamar mandi dan biarkan aku membersihkan diri. Hana berusaha menolak layanan perawat untuk membersihkan tubuhnya.
"Baik nona, saya akan siapkan air hangat di kamar mandinya." Para perawat tidak memaksakan Hana untuk mandi diwaslap ditempat. Jika pasien berkeberatan para perawatan bisa saja menyiapkannya di kamar mandi.
"Hana mau ke kamar mandi?" Steve yang sudah bersih mendengarkan percakapan antara Hana dan para perawat dari tadi.
"Iya kak." Hana menatap manja pada Steve. Entahlah setelah tahu laki-laki itu saudaranya Hana seperti ada tempat untuk bermanja.
"Baik.Tapi kita tunggu sebentar ya. Kakak belum bisa menggendongmu sekarang. Kita tunggu dokter Alvian." Steve menghubungi nomor dokter Alvian. Rupanya setelah menunaikan shalat shubuh dokter Alvian pergi berganti pakaian ke rumah ayahnya.
"Tidak dijawab. Bagaimana kalau kakak angkat bersama para perawat ke kursi roda. Nanti kalau sudah kakak bantu kembali?" Steve yang tenaganya belum pulih harus dibantu untuk mengangkat Hana, walau tubuh Hana ramping dan ringan.
"Iya kak." Hana melingkarkan tangannya dan para perawat membantu mengangkatnya ke kursi roda. Hana kini ada di kamar mandi.
Sepuluh menit berlalu. Para perawat membersihkan tempat tidur Hana juga memeriksa laporan untuk kunjungan dokter sebentar lagi.Tapi tiba-tiba terdengar jeritan dan tangisan dari dalam kamar mandi yang sontak membuat para perawat dan juga Steve mendekat ke kamar mandi.
"Periksa ke dalam! Aku menunggu di luar." Para perawat pun tak menunggu langsung menerobos ke kamar mandi dan memeriksa Hana.
"Maaf tuan, nona Hana... " Salah satu perawat ke luar memberitahu Steve.
"Ada apa?"
"Nona Hana melukai kakinya."
Steve langsung masuk ke kamar mandi. Matanya langsung menatap Hana. Kaget
"Tutupi badannya!" Steve langsung memalingkan muka melihat kondisi Hana yang tak mungkin dia lihat telanjang.
__ADS_1
"Baik!" Dua perawat langsung memakaikan handuk kimono. membungkus Hana.