Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Bermimpilah


__ADS_3

"Apa kau mau bertemu dengan mereka Hana?" Tuan Hans tersenyum melihat wajah Hana yang terlihat lebih baik.


"Baik, ayah. Aku senang mereka ada disini, aku juga ingin mengenal mereka." Wajahnya begitu berbinar mendengar ada seorang wanita yang disebut ibu, juga saudara perempuan yang disebut adik. Rasanya buat Hana seperti bermimpi mempunyai keluarga lengkap lagi.


"Sebentar ayah panggilkan." Tuan Hans tersenyum, lalu dia berjalan ke luar mencari anak dan istrinya setelah sebelumnya menitipkan Hana pada Wei.


Wei mendekati Hana, hatinya terasa berdebar-debar, sulit untuk diartikan.


"Hana, Bagaimana keadaanmu sekarang?" Wei dengan perasaan tidak karuan, memberanikan diri berbicara pada Hana.


Hana tersipu malu, ketika Wei berusaha mendekatinya. Entah darimana datangnya desiran-desiran aneh yang terasa di sekujur tubuhnya. Padahal dia baru saja didekati apalagi disentuh. Bahkan degupan jantungnya terasa berbunyi kian keras seiring hatinya ikut berdebar pula.


"Baik kak Wei." Hana tertunduk malu sambil memainkan ujung jarinya.


"Hhmm." Wei sedang berpikir kira-kira topik apa yang pantas dibicarakan dengan Hana.


Rasa kecanggungan mulai menyerang keduanya. Suasana menjadi hening, memendam perasaan yang aneh.


"Kak Wei tidak bekerja?" Hana mencoba melepaskan keheningan. Karena di hari kerja mana mungkin Wei bisa sesantai itu. Hana memperhatikan pakaian yang sedang dipakai Wei.


Bayangan masa lalu ketika Wei masih SMA. Ya wajahnya yang tampan, dan gayanya yang cool masih jelas di ingatannya.


Kerinduan yang sudah lama dipendam seolah kini terobati. Rasa itu hadir sejak dia menyatakan rasa sukanya terlebih dahulu. Tanpa tahu alasannya, kenapa dan bagaimana Wei bisa hadir di depannya sekarang.


Apakah dia mengalami amnesia? Hana berganti pada ingatan masa lalu sebelum kecelakaan.


Hana begitu mengagumi sosok laki-laki yang sekarang ada dihadapannya. Wei yang ada dihadapannya terlihat matang dan dewasa, tentunya lebih mempesona dibanding dulu ketika waktu sekolah.


Pakaian kemeja katun motif dasar biru dongker dipadu dengan stelan celana bahan yang model menggantung di atas mata kaki, dan rambut blonde terlihat mirip oppa-oppa Korea.


"Aku sengaja cuti untuk menjenguk kamu Hana." Wei menatap Hana dengan mata bulat sempurna, berdecak kagum pada Hana walau tanpa polesan make up.


Ah ada apa dengan diriku? Tak pernah aku merasakan perasaan seperti ini pada Hana sebelumnya, bahkan ketika aku menyentuhnya. Aku melihatnya seperti Hana yang dulu, bukan Hana yang kemarin.


"Ohh." Hana mengangguk. Pandangannya tak berani diangkat. Dia terlalu malu berhadapan dengan Wei secara langsung. Apalagi dengan kondisinya yang sekarang, mengalami kelumpuhan.


"Apa yang sekarang terasa? Ada yang sakit?" Wei mencoba berbasa-basi supaya ada topik yang bisa dibicarakan dengan Hana.


"Tidak kak Wei, hanya.. "Wajah Hana kian menunduk. Jarinya meremas ujung selimut merasa tidak percaya diri.


Rupanya Wei membaca ketidaknyamanan Hana. Dia mengelus lembut kaki Hana yang sudah tertutupi selimut. Tetapi di luar dugaannya, Hana menipiskan tangan Wei agar tidak menyentuhnya. Wajahnya terlihat murung tidak senang kalau Wei tahu kelemahannya.


"Maaf... jika kamu tak nyaman dengan sikapku barusan." Wei kembali menatap Hana meminta maaf.


"Oh iya, kamu mau mencoba makanan yang tadi Raffa bawa?" Wei berusaha selembut mungkin agar Hana tidak tersinggung. Wei berdiri lalu membuka tas yang berisi makanan dan membawanya ke hadapan Hana.


"Wah, sepertinya temanmu itu baik ya Hana. Lihatlah! Ada puding, cake juga ada sup. Kamu mau makan yang mana?" Tawar Wei sambil membuka satu persatu wadah yang ada di dalam tas kain. Dia membawanya dan memperlihatkan pada Hana.


Sejenak perhatian Hana pun teralihkan dengan makanan yang baru diperlihatkan Wei. Tapi belum juga menjawab, pintu sudah diketuk.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" Wei mempersilahkan masuk. Kedua pasang mata kini menatap ke arah pintu.


"Wah rupanya Hana mau makan ya?" Tuan Hans masuk ke ruangan diikuti istrinya, Caterina juga Steve.


"Iya paman. Baru mau. Ini sedang memperlihatkan pada Hana apa yang dibawa oleh Raffa." Terang Wei sambil kembali menaruh wadah-wadah di atas nakas. Wei berdiri memberi ruang untuk keluarga Steve yang baru saja datang.

__ADS_1


Netra Hana menatap jelas pada orang-orang yang baru saja datang terutama pada Caterina dan ibunya.


"Nih ayah kenalin, ini istri ayah namanya Maria dan ini adiknya Steve namanya Caterina."


"Saya Hana" Hana sedikit mencondongkan badan memberi hormat pada Maria, lalu beralih pada gadis yang umurnya di bawah Hana yaitu Caterina. Hana terkagum melihat wajah dua perempuan yang ada dihadapannya. Mereka benar-benar cantik.


"Halo nak apa kabar?" Maria mendekat dan memeluk Hana dengan erat. Pelukannya begitu terasa hangat seperti pelukan kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Sepersekian menit mereka melonggarkan pelukannya. Maria menatap netra Hana dengan penuh kasih sayang, lalu mencium ubun-ubun Hana dengan penuh kelembutan.


"Baik ma!" Hana menjawab pelan. Hana merasa tersentuh dengan sikap Maria yang lemah lembut. Juga merasakan damai melihat wajah teduh Maria.


"Mama senang melihatmu nak! Mama seperti kejatuhan malaikat lagi nih!" Canda Maria sambil mengusap rambut Hana. Tanpa terasa bulir-bulir air mata sudah berkumpul di sudut matanya yang siap-siap jatuh menunggu izin pemiliknya.


"Aku juga senang ma. Akhirnya aku punya mama lagi." Kini Hana memeluk Maria dengan erat dan menjatuhkan kepalanya di bahu Maria seolah menumpahkan segala beban selama ini pada sosok keibuan Maria. Hana yang terharu terisak menangis menahan rasa bahagia yang selama ini telah lama kosong. Setelah kematian ibunya, Hana merasa kesepian. Maria yang sejak tadi sudah terharu akhirnya menumpahkan air matanya. Tangan Maria mengusap bahu Hana selayaknya pada putrinya sendiri.


"Mama juga bahagia nak. Mama senang bisa melihatmu." Keduanya saling melepaskan pelukan lalu tangan lentik itu menghapus air mata Hana yang mengalir di atas pipi.


"Kakak.. aku juga pengen meluk kakak.. " Caterina yang sejak tadi melihat ibunya juga Hana saling berpelukan, tak tahan melihat drama keluarga. Akhirnya dia membentang tangannya lalu memeluk Hana. Hana membalas pelukan itu dengan penuh kasih. Caterina pun tak kuasa menahan keharuannya setelah dia merasakan bahagianya mempunyai kakak perempuan.


Butiran-butiran bening jatuh tak bisa ditahan pemiliknya. Kedua gadis itu saling memeluk dan menangis bersama.


Pertemuan yang sungguh mengharukan. Dimana Hana sudah lama merasa kesepian, kini tiba-tiba tanpa bermimpi sudah mempunyai keluarga lengkap.


Tuhan telah mengganti keluarganya yang hilang dengan keluarga yang lengkap. Ada ayah, ibu, kakak dan adiknya.


Hana PoV


Ya, aku terbangun seperti baru saja tertidur pulas. Tapi... kenapa sepertinya seseorang menangisiku? Kulihat seorang laki-laki yang sedang memegang erat tanganku masih menyisakan buliran air matanya di pipi.


Aku menatap sekelilingku, "aku di rumah sakit?"


Aku menatap orang-orang yang ada di sekelilingku.


"Dokter Alvian." Aku memanggilnya, karena dia satu-satunya orang yang kukenal di ruangan ini. Dia menghampiriku, tersenyum manis seperti dulu.


Aku linglung.


Mereka membaca kebingunganku dan mulai menjelaskan apa yang terjadi.


Aku merasa senang. Tiba-tiba aku mempunyai Kakak, sepertinya dia orang baik. Tapi bagaimana ceritanya dia menjadi kakakku? Itu dia.


Steve, namanya. Dia menceritakan masa kecil kami yang pernah bertemu.


Ah ya, aku ingat. Dia yang menghiburku ketika aku dulu menangis di sekolah lalu memberikan sepotong coklat miliknya agar aku berhenti menangis. Dan semenjak pertemuan itu dia selalu membawakan aku kue coklat buatan ibunya. Ko mirip buatan mama ya? Pantesan saja mirip, karena mama kita sama.


Ah kalau dulu tahu itu kakak, mungkin hidupku tak akan serumit ini kak.


Kalau mengingat kejadian itu, aku pasti sedih. Tapi kenapa harus menyesali hal yang sudah. Yang penting kita sudah berkumpul, apalagi sekarang aku mempunyai ayah, suami mama yang dulu. Dia juga terlihat baik.


Ya ternyata aku mengalami penggumpalan di area otak dan pecah, sehingga menyebabkan pendarahan. itulah sebabnya kenapa aku dioperasi dan terbaring di ruangan ICU.


Aku takut dengan namanya rumah sakit. Tapi berkat kakakku yang setia menemaniku, aku menjadi tenang.


Sungguh, aku senang dikelilingi orang-orang baik. Ada teh Sari, kang Gavin juga dokter Alvian dan tak lupa muridku yang suka kocak, Raffa.


Sebenarnya aku juga masih bingung. Kenapa dia ada disini? Tidak sekolah? Mana Vania dan Sandi? Biasanya mereka bertiga seperti permen karet.


Dan anehnya, Raffa merengut ketika aku menanyakan tentang sekolah. Dan katanya mereka sudah kuliah.


Oh my God.. apa aku amnesia? Lupa apa yang terjadi sebelumnya.


Kadang aku melihat tatapan kakakku agak sedikit aneh, katanya kakak tapi kakak serasa pacar.. he he.. abis dia posesif banget sama dokter Alvian.

__ADS_1


Dokter Alvian emang dari dulu suka perhatian, jadi aku juga gak canggung kalau sekarang dia perhatian juga. Ah serba salah... ini maksudnya apa ya? Ko Dokter Aldi kaya mak comblang gitu sih.


Aku merasa badanku pegal tak bisa digerakkan. Kalau lemas sih wajar aja. Tapi ini malah gak bisa bergerak sama sekali. Sampai tadi malam penasaran ingin aku menggerakkan kakiku sedikit saja. Tapi ya ampun aslinya tidak bergerak sama sekali.


Aku penasaran, ketika suster menawarkan untuk mengurusku di atas kasur, aku menolak. Aku ingin pergi ke kamar mandi dan ingin tahu bagaimana reaksi tubuhku. Apakah aku mati rasa?


Dan benar saja mereka mendudukkan aku di atas toilet tempat buang air besar. Aku membuka baju perlahan, mencurahkan air di atas badan dan di atas kakiku. Dan shower yang kupegang segaja kutekan pada bagian tubuh yang terasa kaku.


"Ah... Kenapa begini? Kenapa dengan kaki-kakiku?Aku memukul kakiku sambil berteriak kencang.


"Aku lumpuh.... "


Suara gedoran dari pintu aku dengar keras. Tapi tak lama kemudian seorang perawat masuk. aku melihat perawat perempuan itu menatap


Aku yang masih telanjang dan kakiku lebam akibat aku memukulnya dengan shower.


Dia cepat menutup seluruh badanku dengan handuk. Dan aku tak sadar siapa yang telah menggendongku ke atas ranjang pasien.


Aku begitu tak siap menerima keadaanku yang kini lumpuh... rasanya aku ingin mati saja daripada lumpuh seperti ini.


Kakakku menutupi seluruh badanku takut badanku yang belum memakai pakaian terlihat. Dan dia sempat menahan dengan memelukku erat, agar tanganku bisa diikat ke pinggiran kasur.


Aku menangis sejadi-jadinya. Aku belum bisa menerima keadaanku seperti ini. Walau dokter Aldi dan keluargaku tak memberi tahu. Tapi aku menduga mereka sudah tahu tapi berusaha menyembunyikannya.


Sampai akhirnya aku tersadar dengan perkataan dokter Alvian.


"Kamu tahu? Di luar sana, di alam kubur orang mati memohon-mohon untuk bisa hidup lagi pada Tuhan walau barang sebentar, hanya ingin bisa hidup dan berbuat baik. Kamu sudah diberi kesempatan hidup kembali malah ingin mati. Kamu sadar? Kamu menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan sama kamu. Kamu tidak bersyukur Hana! Bahkan ada pasien yang sama sampai koma berbulan-bulan semua orang berharap bisa sadar tapi malah mati."


Perkataan itu menyadarkanku. Aku merenung dan terdiam.


"Ya Tuhan... maafkan aku yang sudah khilaf menyia-nyiakan kesempatan darimu."


Semenjak dokter Alvian mengatakan itu. Aku lebih banyak merenung. Mungkin taqdir Tuhan yang Dia berikan padaku adalah yang terbaik. Buktinya aku sekarang mempunyai keluarga lengkap.


Ada ayah, ada mama, ada kaka, ada adik... dan satu lagi ada kak Wei....


Aku sungguh bahagia sekali pertama melihat kak Wei. Wajahnya itu ya ampuunn ko tambah ganteng... Aku masih benar tak percaya. Laki-laki yang selama ini aku sukai ternyata datang dengan wajahnya yang super ganteng..


Ko bisa kak Wei ada disini? Heran


ini bukan mimpi kan?


Ayah keluar untuk memanggil istrinya juga anaknya. Aku berdua bersama kak Wei. Dia menatapku lalu menggeser kursinya.


Dia mengajukan beberapa pertanyaan, tapi anehnya terdengar seperti rayuan buatku. Bikin aku ge-er tak enak rasa.


Kami diam sejenak, dan aku memberanikan diri bertanya; "Kak Wei tidak bekerja?" Aku menilai pakaiannya lebih ke santai.


Katanya dia sengaja ingin menjenguk. "Duh ini hati kesem-kesem gitu ya.. kaya ditengokin gebetan saja.


Duh jantung... kamu kan masih disitu? Jangan lepas sembarangan ya! Kenapa badanku kaya kesetrum gitu ketika dia berusaha mengelus kakiku. Aku segera menepisnya berusaha menjauhkan kegerogianku. Dan satu lagi aku tak percaya diri dengan kelumpuhanku.


Lalu dia mengalihkan kekakuan kami dengan menawarkan makanan yang dibawa Raffa.


"Wah temanmu baik ya. Lihatlah! Ada puding, cake juga sop. Kamu mau yang mana?" Dia tersenyum menggoda dan matanya hampir saja melayangkan panah asmara yang hampir saja membuatku pingsan.


Untung saja drama berhallu berakhir sampai pintu diketuk. Aku melihat ayah membawa dua perempuan cantik juga ada kakak Steve.


Inikah keluarga ayah?


Aku menatap dua perempuan cantik di depanku. Dia sungguh cantik.

__ADS_1


Ayah mengenalkan istrinya bernama Maria, dan adiknya Steve bernama Caterina.


Mama lalu menanyakan kabarku, lalu mendekat dan memelukku dengan erat. Aku merasakan ketulusan mama dan juga kasih sayang. Tanpa terasa aku tersentuh dan terharu sampai menangis di bahunya. Sudah lama sekali aku tak bisa memeluk ibuku sendiri merasakan rindu padanya.


__ADS_2