Cinta Berakhir Di Lampu Merah

Cinta Berakhir Di Lampu Merah
Tidak Yakin


__ADS_3

Hana terdiam. Sedang mencerna apa yang baru saja dia tanyakan. Dalam pikirannya sekarang sedang bergelut apakah dia pun wajib menjaga pandangan? Tapi kenapa Sari malah menjawab menutup aurat itu wajib bagi muslimah. Lalu apa hubungannya dengan pertanyaan dan jawaban Sari barusan. Apakah ada hubungannya?


Sari tidak melanjutkan jawabannya. Dia akan menyampaikan sedikit-sedikit pada Hana apa yang mesti disampaikannya. Dia berpikir, kalau bicara langsung khawatir Hana belum betul tentang islam.


Terlihat isi piring diantara keduanya sudah terlihat kosong. Sari pun menyudahinya dengan bedoa dengan pelan. Hana hanya mengamati apa yang dilakukan Sari.


Dan tak lama kemudian Art nya menghampiri Sari.


"Maaf teh, kamar yang baru sudah siap." Dia melaporkan apa yang sudah dilakukannya pada Sari.


"Oh iya, Terima kasih!" Setelah melaporkan hasil kerjanya, Art Sari kembali kebelakang sambil membereskan sisa makanan yang ada di meja.


"Hana mungkin lelah dan mau istirahat! Mari saya antarkan ke kamar kost an!" Sari bangkit dari duduknya.


"Iya teh, Terima kasih atas jamuannya!" Hana tak lupa mengucapkan Terima kasih atas kebaikan Sari yang telah menjamunya.


"Iya sama-sama!" Sari tersenyum lalu menurunkan kembali cadarnya. Mereka berdua berjalan ke area belakang rumah Sari menuju tempat kost-kostan yang dimilikinya.


"Ini kamarnya Hana. Mudah-mudahan kamu suka dan betah disini." Sari menunjukan kamar yang masih kosong yang baru saja dibereskan. Di dalam kost-kostan sudah lengkap isi dan perabotan. Diantaranya kasur, lemari dan sebuah karpet kecil juga meja.


"Iya teh. Eh ngomong-ngomong ini harganya berapa perbulan teh?" Hana menanyakan harga kamar kostan agar dia bisa membayarnya dimuka.


"Harganya 700 ribu perbulan. Untuk listrik silahkan isi sendiri karena tiap kamar ada meteran." Jelas Sari menerangkan harga kamarnya.


"Oh iya baik teh, saya akan membayarnya sekarang." Hana mengeluarkan uang seratus ribuan sebanyak tujuh lembar dan memberikan pada Sari.


"Iya terimakasih. Semoga uangnya berkah ya." Sari menerima uang pemberian Hana sambil mengucap harap keberkahan yang akan diterimanya.


"Aamiin." Hana menjawab dengan doa berharap doa itu pun dikabulkan oleh yang Maha Kuasa.


"Baiklah kalau begitu selamat beristirahat ya Hana! Kalau ada apa-apa langsung bicara aja ya!" Sari memberikan kesempatan pada Hana untuk beristirahat.


"Terimakasih teh Sari!" Sari pun berlalu masuk kembali ke dalam rumahnya. Sementara Hana meletakkan tas yang berisi beberapa baju saja. Dia melih untuk membaringkan terlebih dahulu badannya. Pandangannya kini sedang mengamati sekeliling kamar.


"Adem juga walau tanpa AC. Sepertinya aku akan betah berlama-lama disini. Apalagi teh Sari terlihat baik. Semoga aku bisa bekerja dengan baik dengan mereka." Hana bergumam sendiri dalam hatinya.


Sari yang telah masuk ke dalam rumahnya, dia mencari keberadaan suaminya. Terlihat dia sedang di ruang kerja berkutat di depan laptopnya mengerjakan beberapa pekerjaan yang di lembaga bimbel juga beberapa pekerjaan lainnya berhubungan dengan kampus dia tempat mengajar pula.


"Assalamu'alaikum, kang!" Sari memberi salam ketika dia masuk ke dalam ruang kerja suaminya.


"Waalaikumsalam." Gavin melihat ke arah pintu masuk. Dilihat istrinya membuka cadar dengan leluasa. Dia menghampiri suaminya dan duduk di kursi menghadap suaminya.


"Bagaimana dengan bu Restu?" Gavin menanyakan kabar tentang Hana pada Istrinya.


"Mas sewaktu menerima lamaran sudah teliti membaca identitas Hana?" Sari menanyakan pada Gavin, karena dia rasa ada beberapa ganjalan yang mesti ditanyakan pada Gavin.


"Iya. Memang kenapa?" Gavin menatap wanita cantik yang selalu mempesona ketika dilihatnya.


"Ade kaget aja kang. Ternyata Hana banyak kejutannya." Sari masih merenung bagaimana bisa guru baru yang baru saja diterimanya begitu banyak kejutan akan identitas dirinya.


"Maksud ade bagaimana? Terus siapa Hana?" Gavin masih belum mengerti siapa nama yang baru saja disebutkan istrinya.


"Iya kang tadi sempet ngobrol sebentar. Katanya kan Bu Restu hilang ingatan karena kecelakaan. Terus nama aslinya berbeda dengan identitas dirinya. Nama aslinya Hana. Dan yang lebih mengejutkan Hana sepertinya asing pada agamanya sendiri." Sari mengerutkan dahi


"Maksud asing pada agamanya sendiri?" Gavin tak kalah kaget.


"Ya gitu kang. Apa yang hilang ingatan kalu dia beragama Islam, lupa juga gitu..?" Sari menatap wajah suaminya hendak mencari jawaban.


"Akang sih kurang tahu. Harus ditanyakan sama ahlinya." Gavin terdiam, padahal pikirannya mulai memutar memikirkan apa yang baru saja diceritakan istrinya. Sari kemudian duduk, Sama-sama termenung.

__ADS_1


"Biar akang telpon Raffa." Gavin lalu menekan tombol handphone nya sedang menghubungi Raffa.


"Assalamu'alaikum." Diseberang sana telah mendahului mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam warahmatullahi." Gavin belum melanjutkan bicaranya tapi Raffa sudah mendahuluinya.


"Kang saya sudah ada depan rumah." Raffa yang sudah berdiri di depan pintu sebenarnya cukup kaget juga, kenapa Gavin menelponnya?


Kaya yang sehati saja. Eh tapi ada apa ya? Janagan-jangan ada maslah dengan Bu Hana?


"Kang?" Raffa kembali menyapa.


"Iya.. kata kamu kan sudah ada di depan? Ini akang ke depan." Gavin yang tahu Raffa sudah ada di depan rumahnya, langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu.


"Assalamu'alaikum.. panjang umur." Raffa yang biasa cengengehan seperti biasa menggoda kaka sepupunya juga.


"Qodarullah khoir." Gavin merasa senang. Orang yang sedang dia telpon ternyata persekian detik sudah ada di depan rumah nya.


"Kang... laper." Dengan bibir manjanya Raffa memelas. Ya keakraban diantara mereka memang sudah lama terjalin. Walau jarang ketemu mereka cukup baik dan juga akrab.


"Sebentar akang minta bantuan teh Sari ya buat nyiapin yang kelaperan." Gavin berjalan mendahului Raffa. Raffa mengekor seperti anak kecil.


"Wah.. yang diomongin ternyata sudah sulap." Sari yang melihat Raffa terdengar sumuringah. Dia kembali memakai cadarnya.


"Lah teh Sari pasti ada maunya ya?" Raffa duduk di meja makan. Sari kembalienghidangkan sisa makanan yang tadi sudah dibereskan.


"Lah tau aja! Bukannya kamu juga ada maunya?" Menyiduk nasi dan lauk pauk untuk Raffa yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri. Gavin menemani Raffa dimeja makan sambil sesekali membuka handphone nya.


"Ma kasih teh.." Raffa berdoa terlebih dahulu lalu menyuap isi piring yang sudah ada di depannya.


"Kenapa kamu balik kesini Raf?" Gavin sepertinya sudah tidak sabar menanyakan kedatangan Raffa. Padahal tadi sudah bertemu di tempat bimbel.


"Modus! Kali ingin bertemu bu Restu." Gavin menebak niat kedatangan Raffa.


"Wah akang selalu pengertian saja. Eh dimana sekarang bu Restu?" Raffa mengedarkan pandangannya.


"Tuh kan beneran yang dicarinya bu Restu? Ghudul Bashor!" Gavin mengingatkan Raffa yang suka becanda. Diantara keluarga Raffa terbilang memang agak tidak patuh.


"Gak usah! Kan orangnya juga gak ada." Raffa kembali menyantap makanan.


"Eh Raff.. boleh gak akang nanya-nanya soal bu Restu?" Gavin mendekatkan kursinya pada Raffa.


"Teh Sari... ini kang Gavin nakal... katanya mau nikah lagi... " Raffa berteriak memanggil Sari yang kebetulan tadi pergi ke dapur setelah menyiapkan makan buat Raffa. Raffa yang di mana-mana suka becanda memang tidak sungkan menggoda Gavin.


"Raffaa!" Gavin agak sedikit membentak.


"He he... gak pa-pa kan teh Sari ridlo kalau Kang Gavin nikah lagi. Tapi gak boleh sama bu Restu! Dia sudah ada yang punya. Gue suruh jagain bisi ada yang ganggu termasuk kang Gavin."


"Ih kamu becanda suka kelewatan deh!" Gavin selalu orang dewasa selalu mengingatkan Raffa jika becandanya kelewatan.


"Aku mau naya serius sama kamu Raffa, kamu jangan becanda! Ingat ini serius!" Gavin selalu menekankan serius kalau bicara sama Raffa. Karena kalau tidak Raffa agak sulit dikondisikan untuk serius. Bawaannya memang selalu becanda.


"Baik, brother. Apa yang akan akang tanyakan?" Raffa menoleh ke Gavin.


"Kamu kan sudah lama kenal sama bu Restu?" Gavin menatap Raffa, sedang menilai apakah Raffa berbicara jujur atau sebaliknya.


" Yup!"


"Menurut kamu bagaimana karakter bu Restu?"

__ADS_1


"Baik."


Gavin melihat manik Raffa. "Baik menurut versi kamu tuh gimana Raff?" Gavin sedang mengorsk lebih detail mengenai bu Restu.


"Iya baiklah. Buat aku bu Restu itu... " Raffa berhenti bicara. Dia sedang memikirkan bagaimana menerjemahkan sikap baik bu Redti selama ini. Mata Raffa sedang mengingat sesuatu agar tidak salah mengucapkan.


"Baik tuh kan banyak Raff... maksud akang kamu pernah inten gak sama bu Restu atau ya biasa-biasa aja?"


"Lebih dari inten." Tak disangka Raffa menjawab dengan polosnya ketika diajukan pertanyaan tentang inten. Ya inten pun bisa jadi salah paham buat seseorang yang notabene Gavin yang selalu terjaga pandangannya.


"Maksud lu Raff?" Mata Gavin agak melebar menatap tajam wajah Raffa yang malah terlihat biasa.


Jangan-jangan anak ini sudah melakukan sesuatu? Waduh gawat, ini harus serius. Kalau bisa Raffa jangan lama-lama pacaran. Bahaya!


Pikiran Gavin sedikit parno mendengar kata 'inten' dari Raffa.


"Ah kang Gavin.. pasti parno deh. Maksud aku tuh gimana ya.. aku deket banget sama bu Restu." Belum juga selesai Gavin memotong pembicaraan Raffa.


"Eh kamu beneran sedeket itu? Ayo nikah aja daripada jadi fitnah!" Gavin jadi sewot menanggapi pembicaraan Raffa.


'Waduh kang Gavin! Ih parnoan gitu. Emang aku ngemong apa?" Wajah Raffa sedikit menekuk, merasa kesal dengan negative thinking nya Gavin.


"Apaan lagi ngemong?" Gavin bertambah lagi dosis parnonya.


"Kang Gavin... please deh jangan parno!" Nada suara Raffa yang biasa oktaf rendah tiba-tiba meninggi.


"Iya.. iya jelasin dong biar akang tidak parno!"


"Lagian juga baru ngomong dikit akang sudah negative thingking." Baru kali ini Raffa terlihat cemberut marah. Biasa becanda jadi aneh melihat wajah Raffa menekuk begitu.


"Iya deh akang minta maaf! Ayo cerita deh.. akang gak menyela lagi!" Gavin malah terlihat tersenyum melihat Raffa cemberut. Wajahnya malah terlihat jadi lucu melihat wajah Raffa marah. Maklumlah Raffa memang jarang sekali marah. Dia selalu ceria dan jarang sekali marah.


"Jadi begini kang. Bu Restu orangnya totalitas. Ketika dulu mengajar di Sma, dia tuh bener-bener perhatian sama anak-anak. Gak jarang dia ngabsen anak sampai rumahnya kalau memang tidak sekolah. Dia juga gak risih ngurusin anak-anak nakal di kantor polisi sampai dia gak ada waktu kali buat week and, bener-bener berkorban waktu dan tenaga. Sama Anak-anak tuh deket banget, termasuk sama gue. Gue ngerasa dia banyak jasanya. Semua Anak-anak merasa seperti sama ibunya sendiri. Gue sangat sedih banget kang pas dia menjadi orang asing setelah kecelakaan. Bu Restu kehilangan ingatannya dan seolah dia menjadi orang lain bagi kita semua murid-murid nya. Dan yang gue khawatirkan.. bu Restu sekarang hidupnya terancam kang." Raffa menatap Gavin dengan mata yang mengandung makna.


"Maksudmu?" Gavin menatap lamat-lamat.


"Iya kang. Saya kurang tahu permasalahan detailnya. Cuman kita tahu nya bu Restu selalu dikuntit mau dibunuh. Kita juga agak sulit menanyakan apa yang terjadi pada bu Restu karena hilang ingatan. Cuman ada beberapa bukti tentang masa lalu bu Restu yang pernah di masukan ke dalam rumah sakit jiwa oleh orang yang ingin membunuhnya. Cuman bu Restu berhasil melarikan diri dengan bantuan seseorang. Nama aslinya sih Hana kang, cuman dia berubah identitas menjadi Restu semenjak melarikan diri." Raffa menjelaskan sesuai dengan apa yang diketahuinya.


"Oh gitu ya Raff?" Nada bicara Gavin terdengar melemah. Lemas juga mendengar kisah Hana. Dia tak habis pikir orang yang baru dia terima kerja begitu banyak misteri, juga dalam keadaan bahaya. Tapi Gavin selaku orang asing tetap saja harus waspada. Karena Raffa pun sama-sama orang yang belum dewasa yang mungkin saja keterangannya belum bisa dipercayai seratus persen.


"Iya kang. Sebenarnya gue mau minta tolong juga sih sama akang. Kalau bisa bu Restu jangan mengajar di kantor bimbel kang! Bisa gak yang privat-privat aja? Biar aku yang nganter pake mobil ke tempat. Biar datanya gak ada di kantor. Gue takut kalau ada orang yang nguntit sampai sini." Raffa mengajukan pada Gavin demi keselamatan Hana.


"Rencana sih memang buat ganti teh Sari privat. Tapi akang mau tanya Raff? Hana sebenarnya dalam ibadahnya gimana? Akang pengen jelas dulu, apa Hana suka shalat tidak? Atau bisa ngaji? Akang pengen semua pengajar di lembaga terbina dengan baik akhlaknya juga ibadahnya." Gavin sedang menggali informasi tentang Hana.


Raffa terdiam. Alisnya berkerut, memikirkan pa yang selama ini dia amati tentang Hana.


"Aku tidak tahu kang." Raffa tak tahu harus menjawab apa, karena selama ini dia tidak melihat Hana melakukan sesuatu yang menurutnya sama dengan keyakinannya. Dan dia juga tak pernah mempertanyakannya.


Gavin hanya menatap Raffa dengan seribu pertanyaan.


Katanya deket. Tapi anehnya dia tidak tahu apapun. Bagaimana mereka selama ini berhubungan.


"Tapi sebentar ya kang. Aku mau menghubungi temanku. Kali aja dia tahu." Raffa memilah nomor Sandi yang baru. Semenjak kepindahannya ke Australia dia memakai nomor baru.


"Halo San. Ini gue San."


"Iya, ada apa? Mau ngabarin Hana ke gue?"


"Yah elu.. iya. Eh San gue mau tanya, sebenarnya bu Restu agamanya apa sih?" Raffa menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan jawaban Sandi, begitu pun dengan Gavin.

__ADS_1


__ADS_2