
“Kamu yakin tempatnya sama”
“Yakin banget, dia itu saingan kita harus kita ancam”
“Aku sih ngikut aja”
“Iya yang penting dukung aku saja, disana itu pasti ramai”
Sebuah mobil mewah melaju diantara malam dan menebas kabut dengan sorot lampunya.
Ultah pabrik pun tiba, Rose dan Papanya melaju menuju Vila yang biasa dipakai untuk ultah pabrik setiap tahunnya dan diksinya yang ke 25,Rose baru menginjakkan kakinya disana.
Amazing.....
Anak sendiri tidak tahu aset Papanya.
Suasana sangat ramai dan mata Rose tertuju pada Dika.
Dia tampil beda hari ini, dengan stelan jas biru dan celana yang senada.
Dika nampak berfoto dengan beberapa pegawai disana.
Ya Rose akui
Dia berdamage
Rose mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Okey....
Tenang dan lupakan sejenak Dika. 😔😔😔
Rose mulai dikenalkan oleh beberapa orang yang berpengaruh pada perusahaannya.
Rose hanya menggangguku karna bosan dan matanya kembali fokus pada Dika yang sedang tertawa dengan Janet dan Jo.
“Aissshhh kenapa aku ngeliatin dia terus, mata oh mata”
Pembukaan acara pun dimulai, Papa Rose memberi salam dan wejangan untuk seluruh karyawan pabrik dan nantinya juga akan ada doorprize untuk yang beruntung.
Rose memilih keluar dari sana dan melihat pemandangan yang ada disekitar vila itu.
Nice”gumam Rose sambil menghirup udara.
“Aku ingin punya rumah di tempat seperti ini” seolah tidak sadar Vila ini milik siapa.
“Nona “ suara itu membuat Rose menoleh.
“Ada apa ? “
“Sudah makan ? “
“Aku masih kenyang, kamu sendiri ? “
“Sudah kok”
“Semoga pabrik makin sukses ya”
“Iya.... Makasih Dika, gimana kuliahmu ? “
“Lancar Nona”
“Bagus kalau begitu”
“Tapi”
“Tapi apa ❓”
“Hubunganku yang enggak lancar”
“Iya hubungan kan kadang baik kadang juga enggak, itu hal biasa”
“Benar Nona”
“Nona, apa aku boleh bertanya ❓”
“Iya”
“Nona masih single ❓”
“Masih”
“Owhhh, emang belum ada niat buat cari pacar gitu ? “
“Belum”
“Aku pikir cowok yang biasa ke pabrik itu pacar Nona”
“Bukan”
“OOwhhh, Nona aku gabung ya”
Rose menangguk dan akhirnya Dika bersebelahan dengan Rose.
Jika aku diberi satu kesempatan untuk berbicara pada dia, aku akan katakan bahwa aku masih menginginkan dia tetapi takdir berkata lain dan kini aku seperti perahu yang kehilangan layarnya, terkatung-katung tanpa tujuan yang jelas.
Uang memang perlu tapi jika ada seseorang yang memberimu semangat setiap harinya, bukannya itu menjadi lebih baik.
Aku baru mengakui bahwa memang hidup itu butuh yang namanya cinta dan kasih sayang.
“Rose ternyata kamu disini”
“Iya... Pah”
“Eh.... Ada Dika juga, makasih sudah datang ya”
“Iya.... Big Papa”
“Lanjut ya, nikmati acaranya”
“Dika.... Aku mau masuk dulu ya”
__ADS_1
“Baik Nona, aku juga mau masuk agak dingin”
Pesta masih berlangsung meriah di iringi lantunan music slow dari penyanyi lokal.
Rose berjalan diantara lorong kamar untuk istirahat.
Rose tidak sadar bahwa ada seseorang yang mengikutinya dari semenjak masuk kedalam Vila.
Rose menoleh kebelakang namun ia tidak melihat siapapun.
“Mungkin hanya perasaanku saja” ungkapnya.
“Diam !!! “
Rose sangat terkejut karna ia diancam sesorang yang tidak ia kenal.
“Ada apa ini ? Tanya Rose dengan nada gemetar.
Apa tidak ada yang melihatnya.
“Diam dan masuk”
Rose berusaha memberontak namun ternyata orang itu berdua.
Rose mengikuti perintahnya.
“Hemmm...... Cantik juga anaknya Edelweis”
Rose melihat orang itu dengan seksama namun ia menggunakan topeng.
Terlihat jelas bibirnya yang merah dan ranum.
Sial......!!! Kenapa malah memperhatikan hal lain.
“Nona Rose, baru kali ini kau dikenalkan ke dunia luar ya”
Rose hanya diam
Dikamar itu Rose hanya mematung, Rose yang biasanya bisa melawan tiba-tiba melemah karna melihat pistol yang ada di tangan orang itu.
Rose belum mau mati konyol.
Tangan Rose mulai diikat.
Sialllllll.... Apa ini penculikan !!! Apa aku diculik, gila...... Dia pikir siapa yang diculik.
Aku Rose, Rose Edelweis !!!
“Emmm Pak penculik, apa kau tahu aku siapa ? “
Orang itu tidak merespon dan diam saja sembari duduk di sofa.
“Aku ini orang miskin, kenapa anda menculik orang miskin”
“Diam !!! “
Rose sangat terkejut bukan kepalang, betapa kerasnya mulut orang ini, apa dia makan amplas tadi.
“Gilaaaa.... Ini kayaknya bukan prank atau semacamnya, ini nyata”
Rose ingin mengambil ponselnya, namun ia kembali berfikir, nanti pasti direbut oleh si penculik ini.
“Nah Nona...... “
“Apa !!! “
“Kamu tahu kenapa kamu disini ? “
“Ya aku sedang melaksanakan pesta dan kalian yang menyeret ku kesini”
“Bagus” sambil bertepuk tangan ✋🖐👋✋🖐👋✋🖐👋
Rose membuang muka karna kesal.
“Berapa ya kira-kira Edelweis berani bayar buat gadis seperti kamu”
Rose masih terdiam
Orang itu dengan berani menyentuh Rose.
Rose menepis tangannya.
“Heyyyyyy !!! Sudah baik ya, aku nggak iket kamu macam binatang”
“Sabar sabar dan lihat habis ini apa kamu mampu sombong dan kasar lagi”
Mata Rose terbelalak dan ia ingin menangis.
Rose pasrah melawan juga tidak ada guna.
“Brakkkkk !!! Pintu kamar terbuka paksa dan tergantung keras”
Semua orang yang ada didalamnya terkejut.
Dika.....
Mata Dika menyala karna amarah yang luar biasa meletup didalam dadanya.
Dika dengan garang menghabisi kedua orang itu sementara Rose diselamatkan oleh Papanya dan staf lainnya.
“Are u Okey baby”
Rose mengangguk sambil meneteskan air mata.
“Papa selesaikan dulu ya, Dika !!! Dika !!! Sudah cukup”
“Dika ajak Rose kedepan ya, aku ingin mengurus kedua bedebah yang dengan luar biasa berani menyentuh Edelweis kecilku”
“Baik Big Papa”
“Ayo Nona”
__ADS_1
Dika memapah Rose dan hanya mereka yang tahu kejadian ini.
Jadi pesta masih berlangsung tanpa ada masalah sedikitpun.
“Beraninya kalian ya”
“Kami benci kau Edelweis, semenjak kau ikut membuka galeri dan fashion kami jadi tersaingi “
“Hey !!! Ada harga ada rupa jangan bersaing dengan cara kotor seperti ini”
“Terus seperti apa haaaa, kau benar-benar lintah Edelweis “
Sementara itu Rose meringkuk diatas kasur.
Matanya sembab
Yaaa ini sebuah kejadian tak terduga dan baru kali ini Rose menangis.
Rose yang kuat, jutek dan keras kepala menangis.
Dika masih disana bersama beberapa staf keamanan Papanya.
Dika tidak tahu harus berbuat apa mendekati pun ia takut.
“Dika..... “
“Iya Nona”
“Aku haus”
“Aku akan ambilkan, Dika disini saja” ucap salah seorang staf
“Terima kasih Pak”
Staf itu kembali dengan air mineral ditangannya.
Dika pikir staf itu akan memberikan langsung kepada Nona, namun ia menyodorkan pada Dika.
“Berikan kepada Nona”
“Aku ? “ Dika menengok hingga kebelakang seakan ada orang lain di belakangnya.
“Iya.... siapa lagi”
Dika berjalan dengan kaki bergetar.
“Ini Nona”
“Trims”
Dika tak sanggup melihat Nonanya
Matanya yang bengkak dan wajahnya yang sangat terpukul.
“Aku ingin istirahat, kalian semua bisa keluar”
“Baik Nona”
“Jika Nona perluas apa-apa hubungi kami ya”
“Iya”
Ternyata menjadi orang kalangan atas pun tantangannya berat, lihat saja kejadian barusan , benar-benar menakutkan.
Dika yakin Nona akan trauma dengan kejadian ini.
Dika pulang setelah pesta usai dan villa nampak lengang.
“Dika !!! “
“Emmm eh iya Boss ada apa ? “
“Kamu tidak ingin menginap”
“Tidak Boss aku pulang saja”
“Baik, Hati-hati ya malam sudah sangat larut”
“Iya Boss”
Dika berjalan menuju parkiran dan berapa terkejutnya Dika karna ban motornya kempes.
“Lahhhh perasaan tadi baik-baik saja”
Dika bingung apalagi sudah malam begini.
Dika kemudian duduk di teras Villa.
“Aduhhh gimana nihh, masak iya aku masuk lagi “ Dika menggerutu sendiri.
“Ada apa Dika ? “
Dika menoleh
“Emmm gini Boss, motorku bannya kempes.
“Menginap saja disini, hubungi orang tuamu”
“Baik”
Setelah menelepon orang tuanya Dika kemudian masuk kedalam villa lagi.
“Nikmati malammu Dika, aku mau melihat keadaan Rose dulu”
“Baik Boss”
Dika merasa tidak nyaman tidur di Villa, dia bolak balik dan Krasak krusuk dikamar Villa.
Sesekali ia memandang layar ponselnya yang kosong.
Yaaa pacarnya Diana, masih marah dengannya.
__ADS_1
Dika berusaha menghubungi beberapa kali namun tidak ada balasan.
Dika berfikir besok ia akan mengunjungi nnya setelah pulang dari Villa.