Cinta CS

Cinta CS
16.Anggara Pov


__ADS_3

Anggara pov


Aku adalah Anggara anak dari seorang pengusaha, hidupku sangat berkecukupan, apa saja yang aku inginkan pasti tercapai.


Aku adalah seorang petualang cinta, banyak cewek yang sudah aku jadikan pacarku.


Namun seorang cewek yang begitu imut telah membutakan hatiku.


Dia


Menolakku mentah-mentah


Aku ....


DITOLAK


Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku ditolak dan kini aku ketahui alasannya, dia sudah memiliki pacar, ya sudahlah.


Tetapi kenapa semakin aku melihatnya bersama pacarnya, aku semakin menderita, padahal banyak cewek cantik diluar sana yang menginginkan aku, apa hebatnya pacarnya.


Nothing....


Rasa suka padanya menjadi-jadi setiap harinya. Namun tidak pernah kudapatkan karna kembali lagi, dia sudah punya pacar.


Hingga upacara kelulusan, bukannya tersenyum karna mendapat peringkat 3 besar namun ia malah menangis di pojokan.


Setelah aku teliti ternyata mereka putus, yesss seharusnya aku senang kan, tapi tidak... Hatiku hancur melihatnya menangis seperti itu.


Aku tak ingin mendekatinya, bisa-bisa aku di usir seperti biasa.


Aku memilih menjauh dan memperhatikannya.


Setahuku dia tidak memiliki bestie cewek namun dia selalu ramah dan baik kepada siapapun.


Andai saja aku bisa menghiburmu, kesan anak bengal memang sudah tersemat padaku dari dulu, tapi kenapa saat melihat dia, aku ingin berubah.


“Pah... Aku jadi kuliah jurusan administrasi “


“Hahhh.... Papa nggak salah dengar kan, katanya kamu mau ke kapal pesiar, sana aja deh”


“Tidak, Pa aku yakin pilihan Papa yang terbaik”


Papa malah kaget seakan melihat kembaranku yang seakan berbicara seperti itu.


Saat ini pengambilan rapot dan ijazah, aku sudah tidak bisa melihatnya lagi dan kabarnya ia sudah sekolah di luar negri.


Author pov


“Hey kau tidak cerita bagian yang itu”


“Hahahahaha kan kalian sudah tahu”


“Cerita Anggara”


“Tidak”


“😤😤😤😤”


Semakin hari, aku memikirkan dia dan aku tidak bisa tidur, aku mulai membenahi diri, kuliah sesuai keinginan Papa dan berubah menjadi penurut.


Hingga akhirnya, aku diberi kepercayaan memimpikan perusahaan Papa.


Grosir kain terbesar di Mataram.


“Kali ini kita pakai jas Pa”


“Iya, ini kan acara resmi “


“Baik”


Aku kembali melihatnya di acara ini, dia masih saja imut seperti dulu, tapi jangankan bicara denganya, menatap saja aku sudah tak mampu.


Anggara di mata Rose....

__ADS_1


Aku sama sekali tidak tertarik padanya dari awal, dia tidak pintar tidak ikut organisasi dan kelebihannya adalah tukang pembuat onar.


Banyak cewek yang bilang ia tampan,,, iyuuhhhh tampan dari mana, dari sedotan yah liatnya.


Aku sangat malas jika berpapasan dengannya.


Dia pasti akan menatapku dengan matanya yang tajam dan bulat itu.


Hemmm apalagi saat ini duniaku sedang berbunga, aku memiliki pacar yang sangat tampan dan mempunyai jiwa bisnis, percaya atau tidak aku bahkan memiliki apartemen bersama dia dari hasil usahaku.


Dia memang menyebalkan.


Anggaran POV


Tidak menyerah mengejarnya, aku menelusuri kemana ia pergi.


Tetapi sia-sia karna ia sekarang sudah tidak di sini lagi, setelah tamat ia kuliah di luar negri dan di luar kota, harapanku tipis namun aku tidak pernah terlewat satu info tentang dia karna aku punya semua teman yang bisa mengakses meskipun ia pergi ke negri wakanda.


Mengejarmu adalah prioritas utama ku tapi aku juga tak akan lupa bahwa aku Anggara adalah penerus dari usaha Papaku dan aku adalah anak pertamanya. Jadi aku tidak akan mengecewakan Papaku.


Sekitar enam tahun aku menunggu dia dan akhirnya ia pun pulang.


Aku tidak akan menemuinya dulu, aku akan bertemu dengan Papanya dulu hebat kan.


Anggara gitu lohh...


Dia masih sama, tetap tidak peduli padaku tapi aku tidak akan menyerah begitu saja.


“Sudah jam 12.00 , ayo kita makan”


“Boleh”


Rose berjalan ke stand makanan sambil memilih menu.


“Aku mau nasi geprek ya”


“Oke, aku juga sama”


“Lahh.... Aku juga suka, kenapa kamu liat aku dengan wajah seperti itu”


“Nggak apa kak, kan sehati sama pacarnya” ucap penjaga stand itu dengan wajah tanpa dosa setelah mencampuri urusan pelanggan.


“Maaf Kak dia “


Anggara dengan cepat menarik Rose agar menjauh dari situ.


“Kenapa !!! “


“Aku nggak sanggup kalau kamu bilang, aku bukan pacar kamu”


“Aku memang mau bilang begitu “ ucap Rose dan bangun dari tempat duduknya


“Hehh kamu mau kemana” Anggara heran


“Aku mau bilang sama mb itu kalau aku bukan pacar kamu”


“Ya ampun Rose biarin aja kenapa sih, kamu kayak nggak Terima gitu, padahal aku biasa aja kok”


“Jelas kamu biasa aja, kamu seneng kan”


“Apaan sih Rose”(dalam hati ngarep)


“Sudah yuk kita tunggu makanannya dan lupain yang tadi”


Rose tidak menanggapi dan sibuk dengan ponselnya.


“Kamu lagi apa ? “


“Beli tas”


“Owhhh”


“Kamu tau nggak Anggara, tas ini kayak investasi buat kaum cewek”

__ADS_1


“Investasi buat cantik gitu”


“Bukanlah memang disamping itu benar yang kamu katakan tapi ini kan kalau mahal bisa kita jual lagi, siapa tau tidak banyak diproduksi “


“Oww kamu pintar juga ya”


“Bukan pintar tapi aku juga melihat dunia Anggara”


“Terus kenapa nggak inves emas aja Rose”


“Emas aku sudah banyak kok”


Anggara meneliti setiap tubuh Rose, tapi tidak melihat ada emas disana.


“Heyy... Apa yang kamu perhatikan dasar cabul”


“Tapi aku nggak liat ada emas disana”


“Aku nggak pake lah sekarang, bisa-bisa kamu rampok aku”


“Haaa.... Aku.... Ngerampok kamu”


“Mana tau kan, ingat kejahatan bukan hanya karna ada niat pelakunya tapi karna ada kesempatan... Waspadalah !!! “


“Anjayyy” Anggara tertawa mendengar ucapan Rose yang tumben agak lucu, biasanya kaku.


Ayam geprek pun tersedia, Rose langsung menikmatinya dengan lahap seolah dia sedang makan dirumah.


Ngga ada sedikitpun rasa malu atau jaga image didepan Anggara.


Bukannya risih Anggara malah tertawa kecil, dia memang menyukai orang yang unik.


“Huffttt andai saja Papa nggak maksa nyuruh jalan sama kamu, aku pasti akan menolak dengan kasar “


“Astaga Rose, nikmati saja dulu “


“Hahhh”


Setelah selesai makan dan berbelanja beberpa barang seni untuk dipajang dirumah Rose mulai mengantuk dan mengajak Anggara untuk pulang.


Di mobil Rose sibuk dengan ponselnya sambil sesekali menguap tanpa melihat kearah mana Anggara berjalan.


Anggara kemudian menepi membuat Rose melihat sekeliling yang jalan itu nampak sepi.


“Rose”


“Apa ? “


“Kapan kamu bisa nerima aku”


“Aku tidak menyukaimu Anggara”


“Sampai kapan, aku harus menunggu”


“Kamu tidak perlu menunggu “


“Apa kamu hanya mencintai Rey”


“Tau apa kamu soal dia” Rose malas mengorek kuburan masa lalunya bersama Rey.


“Sekarang umurmu sudah lumayan Rose”


“Jika aku tidak menikahpun bukan urusanmu Anggara”


“Kenapa, kita tidak coba dulu”


“Aku takut kau menyesal “


“Aku ikhlas yang penting kamu mau denganku”


“Entahlah”


Anggara kembali memacu mobilnya, tidak ada harapan lagi.

__ADS_1


__ADS_2