
“Nona kok wajahnya pucat”
“Aku nervous nih Dika”
“Tenang aja kok, pasti semua berjalan lancar Nona, ini buat Nona “ Ujar Dika sambil memberikan Rose kopi
“Aku nggak ngopi loo”
“Hehe maaf aku nggak tahu “
“Gpp kok”
“Nona semua modelnya sudah siap”
“Ohh iya, aku periksa dulu ya”
“Baik Nona”
Rose melihat dari balik tirai, jam sudah menunjukkan pukul 20.00 tapi suasana masih sepi, belum ada tamu yang datang.
Rose mulai panik karna takut jika tidak ada yang datang.
Namun beberapa menit kemudian ada yang datang dan satu persatu bangku mulai terisi.
“Tuhkan Nona pasti ada yang datang”
“Iya”
Setelah memberi sambutan acara pun dimulai.
Semua model menampilkan karya Rose yang sudah ia buat selama dua minggu ini.
Banyak penonton yang terpukau, saat acara berlangsung Mr. Roland datang bersama beberapa orang yang Rose tak kenal.
“Rose”
“Iya Mr”
“Aku bawakan uang untukmu”
“Maksudnya ? “
“Ini investor yang menaungi aku “
“Serius”
“Iya”
Setelah dua jam acara fashion show pun selesai, semua berjalan dengan lancar tanpa kurang suatu apapun, banyak penonton yang tercengang karna desain Rose memang luar biasa dan menginovasi
Sebagian tidak menyangka karna Rose masih terbilang muda, tapi itulah Rose saat ia sedang serius.
Papa Rose sangat bangga pada Rose dan papanya yakin jika Mama Rose masih hidup, ia juga merasakan hal yang sama.
Di penghujung acara Mr. Roland naik ke panggung sebagai guru dari Rose .
“99 mawar untuk muridku yang luar biasa”
“Makasih Mr. “ucap Rose sembari menghirup aroma bunga yang sama dengan namanya itu
“Rose”
“Anggara, aku pikir kamu tidak datang”
“Datang dong “ucapnya sambil memberikan bucket mawar padanya.
Tak mau kalah dengan Mr. Roland Anggara membawa money bucket atas nama PT nya.
Orang yang tidak disangka datang adalah Rey sama dengan yang lain ia membawa bucket mawar , seakan film drama ketiganya sangat paham tentang apa yang disukai oleh Rose.
“Makasi ya Rey”
“Seperti yang dulu ya Rose”
Sepuluh tangkai bunga mawar yang berbeda warna adalah kesukaan Rose.
Dulu membeli mawar ini adalah hal yang sulit bagi Rose karna tempatnya yang jauh dan dia masih duduk dibangku SMA, sekarang mudah untuk membeli namun kasih sayang yang dia dapat dari mawar itu akan berbeda maknanya.
Tak lupa Papa Rose selalu owner batik naik juga ke panggung membawa bucket bunga dan boneka.
__ADS_1
“Rose adalah anugrah terindah yang saat ia saya miliki, bahkan disaat terpuruk ialah yang membangun segalanya, seharusnya ia yang belajar dari saya tapi sayalah yang belajar dari dia”
Rose hanya mampu menyimpan rasa gembiranya lewat air mata bahagia ia tak menyangka bisa ada di titik ini, Rose yang awalnya malas untuk belajar tentang batik, apalagi ia tak berfikir akan menjadi desainer, sesuatu yang dulu ia kerjakan setengah hati kini menjadi masa depannya yang terbilang gemilang.
Di belakang panggung Rose meletakkan semuan bucket tanpa Rose sadari Dika datang dari samping.
“Nona”
“Iya”
“Aku nggak bisa kasi apapun tapi ini buat Nona”
“Kamu repot banget sih”
“Aku tahu Nona suka jadi aku sempatin beli “
“Ini kan limited dan hanya ada hari ini, uhhh pasti kamu antri deh ya”
“Emm gpp kok Nona”
“Makasih loo Dika”
“Sama-sama Nona”
Rose melupakan lelahnya dan fokus pada hapenya, semua investor baru datang dengan bantuan Mr. Roland dan sekarang Rose berjanji tidak akan malas lagi.
Enam bulan kemudian pabrik sudah kembali mengepulkan asap lilin yang akan mencipta sebuah karya seni baru dari masa ke masa.
“Rose”
“Iya Pah”
“Besok jadwal kamu ketemu sama calo tunanganmu”
“Aku kira Papa cuma bercanda”
“Buat apa Papa bercanda, lagipula almarhum Mama kamu juga sudah setuju”
“Baik Pa”
📱
“Namanya Dika Nervian”
🍴🍴🍴
“Ini orangnya “
“Kamu serius ini orangnya “
“Iya Nona dan kamu bilang kan kalau kamu itu aku”
“Iya... Awalnya agak susah dan kenapa Papa Nona nggak ngasi foto atau kontak sih “
“Sudah jangan dibahas nanti nambah bonus buat kamu ya”
“Rose kamu sudah ketemu sama Nervian ? “
“Sudah Pa”
“Menurut kamu gimana orangnya “
“Biasa aja Pa”
Disini Papa Rose merasa aneh karna Rose bersikap biasa saja.
Namun setelah lama karna sibuk dengan urusan pabrik, Papa Rose mulai tidak menyibukkan tentang perjodohan itu lagi.
Setiap bulan Papa Rose selalu mengatur jadwal dengan Dika Nervian dan setiap itu juga Rose selalu menyuruh Janet untuk datang.
Rose memang bertukar nomor untuk memastikan Papanya tidak curiga padanya.
Tapi ia sama sekali tidak pernah menelpon atau chating dengan Nervian.
Dika...
Rose menscrol status di w. A dan melihat foto Dika.
Dika... Apa aku suka padamu ? Cuma karna kopi yang bahkan kamu tidak tahu aku tidak minum kopi atau karna makanan limited ala Korea yang kau belikan padaku.
__ADS_1
Dika... Aku tidak tahu harus bilang apa lagi sepertinya aku jatuh cinta padamu.
Di kampus.
“Jadi kau suka sama boss mu gitu”
“Iya”
“Jadi ini kayak mimpi diatas mimpi gitu loo bro”
“Aku tahu kok”
“Coba aja sih kalau bisa aku dukung aja asal elu suka”
“Tapi masalahnya cuma satu”
“Apa ? “
“Aku sudah punya tunangan”
“Itu urusan nantilah Dika yang penting kamu kejar dulu bosmu itu ya”
“Siappp”
Setiap pagi saat jadwal Dika pagi ia selalu membuatkan teh hijau untuk Nona dan itu menjadi kewajiban Dika saat ini, ia telah jatuh cinta pada Nona nya.
Meski ibaratnya ingin memeluk gunung apa daya tangan tak sampai Dika berusaha untuk mengejar cinta Rose.
“Nona”
“Iya”
“Apa ada waktu malam ini ? “
“Ada, emangnya kenapa ? “
“Aku ingin ajak jalan bisa nggak ? “
“Bisa sih kok tumben ? “ Rose pura-pura bingung padahal aslinya girang.
“Lagi pengen ajak Nona aja tapi nhahka apa kalau Nona nggak mau”
“Mau kok, emm maksudku aku emang nggak sibuk sih “
“Baik kalau gitu”
“Yessss”ungkap Dika dalam hati
“Jadi.... Dika dan Rose ya... Sungguh menarik, apa iya aku kalah menarik dengan CS itu”
Malam harinya
“Nona malam ini mau kemana ? “
“Kemana aja sih yang penting ke tempat yang bagus “
“Baik”
“Nona nggak apa kan pakai motor ? “
“Emangnya kenapa, apa aku aneh kalau naik motor ? “
“ Nggak juga sih”
Rose agak aneh karna tumben keluar menggunakan motor.
“Ternyata udara malam dengan motor jadi lebih dingin, “Rose bergidik ia memang sama sekali tidak pernah memakai motor karna fasilitas dari Papanya.
“Nona dingin ya, Nona nggak biasa maaf ya”
“Enggak kok “
Dika dan Rose tiba di sebuah tempat makan yang ada sungainya, lampion menghiasi seluruh aliran sungai yang ada disana, warnanya cantik dan membuat kesan romantis bertambah pada malam itu.
“Pintar ya kamu nyari tempat”
“Iya dong”
Sebenarnya Rose belum paham maksud dari Dika mengajaknya untuk keluar karna Rose berfikir wajar aja Dika ngajak dia, ibarat Joe yang sering ajak dia untuk weekend di sela waktu libur tapi kali ini mungkin tidak karna ia mengingat kejadian saat di villa itu, hiiiii bisa saja tapi hiii Rose tak ingin membayangkannya.
__ADS_1