
“Emm... Maaf aku hanya lewat saja, aku permisi dulu” Memegang tangan Karsi.
“Aku tahu selama ini kau sering lewat disini, kau memata matai keluarga aku ? “
“Tidak Albert, aku memang bekerja di sekitar sini”
“Karsi... Ikut denganku”
“Maaf Albert aku harus bekerja”
“Baik”
Karsi mempercepat langkahnya agar terhindar dari Albert.
Terlalu sakit untuk diingat.
“Yey Bibik sudah pulang”
“Iya... Nih kue kesukaan kamu sudah bibik beliin”
“Makasi bibik”
“Sama-sama Nonaku”
“Duh ada yang makan sendiri ini”
“Mama mau ? “
“Mau dong”
Keluarga Rose sangat harmonis saat itu adalah awal mula Papa Rose memegang bisnis keluarganya.
Papa Rose banyak menghabiskan waktu di pabrik untuk belajar dan memahami semuanya. Namun Papa Rose tidak pernah lupa pada Rose dan Mamanya yang selalu mensupport dirinya.
Setelah Rose SMP Mama Rose mulai menunjukkan gejala sakit yang tidak biasa, sakitnya termasuk penyakit langka.
Rose yang tadinya manja dan selalu minta ini itu, mulai menyadari semuanya. Air mata yang biasa tumpah saat menjenguk Mamanya dirumah sakit mulai agak mengering seiring berjalannya waktu.
“Aduh...!!! “
“Sorry ya... Aku nggak sengaja”
“Iya... Lain kali hati-hati ya”
“Kamu bawa prakarya buat siapa”
“Buat Mama aku”
“Mana Mama kamu ? “
“Mama aku lagi sakit”
“Ohh gitu”
“Kalau kamu ngapain disini ? “
“Aku dan keluarga lagi jenguk teman Mama aku, kata Mama dia punya dedek bayi”
Berlanjut lah kedua anak SMP itu bermain, mereka berjalan-jalan di lobi rumah sakit dan bercanda dibelakang taman sambil tertawa lepas hingga orang tua anak laki-laki mulai bingung mencari anak mereka.
“Ehh dia sampai disana tuhhh” ucap orang tua si anak laki-laki
“Mama” ucapnya sambil melambaikan tangannya
“Aku balik dulu ya”
“Iya”
Si anak perempuan kembali ke ruang Mamanya dirawat dan menyerahkan prakaryanya untuk Mamanya.
Tapi satu hal yang di sesalkan Rose adalah ia tak menanyakan nama anak tersebut begitu pula sebaliknya.
__ADS_1
Semuanya tersapu oleh waktu yang terus berjalan.
Namun ada satu hal yang tidak pernah dilupakan Anak laki-laki tersebut adalah Rose berbagi sebuah rumah-rumahan yang terbuat dari stik es krim.
Semua ingatan itu Sama-sama karna Rose masih kelas satu SMP, bayang-bayang wajah pun tidak terbersit sama sekali dalam pikiran keduanya karna itu hanyalah pertemuan sekali dan bisa dibilang terakhir kalinya.
“Jadi bagaimana keadaaan istri kamu “
“Iya begini saja Albert, aku berdoa yang terbaik untuk dia saja”
“Rose bagaimana ? “
“Dia baik sejauh ini”
Albert dan Papa Rose saling kenal namun Albert tidak diizinkan oleh istrinya untuk mempublish anak mereka hingga tamat SMA nanti karna Istri Albert tidak mau ada yang tahu soal hubungan mereka yang sudah tidak harmonis dan diambang perceraian.
Albert yang bijak dan sabar setuju dengan keputusan dari Istrinya karna ia tahu dirinya salah dan lagipula Papa Rose adalah orang yang tidak kepo dengan kehidupan orang lain.
“Rey.... kamu mau ambil model apa ? “
“Menurut kamu mana yang bagus ? “
“Ini sih cocok buat kantor kamu”
“Okey”
“Reyyy.... kamu sudah selesai “ seorang gadis mengahambur ke Rey dan bergelayut dengan manja
“Aku masih milih and bisa nggak kamu jangan gitu”
“Ohh iya kelepasan, sorry ya”
“Iya”
Hati Rose memanas, meskipun hubungan mereka sudah lama padam namun rasa tidak bisa dibohongin.
Gadis itu mulai mengobrol dengan Rey, sudah nampak ia sangat menyukai Rey.
“Oh iya... Hari ini aku cukup ini 20 orang dulu yang aku ukur, besok aku datang lagi ya” ucap Rose agar menghindari pemandangan yang menyesakkan dadanya.
“Sama-sama Rey”
Dengan hati yang sesak dan terluka Rose keluar dari kantor tempat Rey bekerja ternyata ia masih tidak sanggup melihat Rey dengan yang lain.
Ohh Rose apa yang kamu lakukan.... Kenapa kamu begitu egois.
Rose tidak langsung pulang hari itu, ia memilih untuk santai di sebuah coffee shop untuk menenangkan dirinya.
Rose yakin, Rey pasti sudah banyak berhubungan dengan cewek lain, apalagi Rey bukan cowok yang jelek-jelek amatlah dan jika dikumpulkan Rey, Anggara dan Dika bisa membentuk boyband.
Argggggghhh sial !!!
Rose mengecek kembali semua ukuran dan nama-nama dari teman-teman Rey.
Sebaiknya aku mulai mengerjakannya dari sekarang good luck Rose kamu pasti bisa, lohhh bukannya itu Rey kenapa dia cepat banget sampe disini.
Rose sengaja agak menunduk agar tidak terlihat oleh Rey, Rose menghadap kearah kaca.
“Boleh aku duduk disini ? “
“Iya bisaaa” Rose menganga saat melihat Rey ada disana didepan matanya.
“Aduh masih aja sibuk, kan bisa besok” ujar Rey sambil menutup buku milik Rose
“Apaan sih bukan urusanmu”
“Iya memang sih tapi masak mau makan tapi masih urus kerjaan”
“Aku sudah biasa kok”
“Ayo makan dulu Rose”
__ADS_1
“Makasi tapi aku mau pulang “ ucap Rose sambil membereskan semua peralatannya.
Rey tidak mampu mencegah Rose karna ia tahu dirinya bukan siapa-siapa lagi, ia hanya melihat Rose berlalu dengan langkah yang dipercepat seakan Rose sangat tidak menginginkan Rey ada disekitarnya.
Rose apa yang kamu lakukan, kenapa kamu tidak bisa mengatur emosimu”Rose terus membenturkan kepalanya di setir mobilnya.
“Aku harus kuat , tapi nanti semasih orderan baju ini aku akan tetap bertemu dengan Rey, oh Tuhan”
Waktu menunjukkan pukul enam dan Rose sudah ada dirumah.
“Bagaimana hari ini Rose”
“Lancar Pa”
“Rose besok kamu ikut beli bahan ya”
“Iya Pa”
“Kita ke Jawa buat beli bahan”
“Ke Jawa Pa ? “
“Iya”
“Apa nggak bisa disini aja belinya”
“Nggak bisa Rose, ini beda bahannya dan ini yang biasa Papa beli di Jawa kamu juga harus paham dan tahu”
“Iya Pa”jawab Rose dengan letih
“Oiya Papa dah masak ayam balado kesukaan kamu”
“Serius Papa yang masak”
“Iya, tapi mungkin rasanya beda dengan masakan Mama kamu”
“Gpp Pa, Rose suka kok dan terimakasih sudah repot demi Rose “
“Kamu bilang apa, Papa nggak pernah merasa direpotin sama kamu”
Rose tersenyum dan berdendang kecil, baginya dengan Papa saja sudah cukup membuatnya bahagia.
Rey no baru 📩
Rose maaf aku menganggu kamu
Tapi aku masih ingin bertemu denganmu
Atau bicara denganmu meskipun bukan
Sebagai pasangan lagi
I miss u 😔😔😔
Rose tidak membalas pesan dari Rey karna takutnya berlanjut lagi.
“maafkan aku Rey”
Mr. Roland 📩
Rose kamu masih ingat daun yang sudah kamu kumpulkan ?
Buatkan aku desain baju dari daun tersebut...
💬
Baik Mr. Roland
Tanpa banyak basa basi Rose mulai mendesain dengan cekatan, mudah baginya hanya untuk mendesain, tangan terampil Rose memang menurun dari Mamanya yang juga pernah menggeluti bidang seperti ini walau hanya sebentar.
Rose mengeluarkan sebuah buku dari lacinya, ia menimang buku itu tersemat nama Mamanya Rose menghembuskan nafas panjang.
__ADS_1
Terlihat jelas goresan tangan Mamanya disana, Mama yang mendesain pakaian bayi untuknya dan baju baju yang sudah di ukir inisial dari Rose.
Kenangan ini begitu menusuk hati Rose, jika ada kesempatan Rose ingin sekali memeluk Mamanya untuk selamanya.