
“Andai aku bisa membantu Nona” Ucap Dika dengan perlahan
Rose selalu pulang malam dan menghabiskan waktunya di pabrik.
Tapi ia berusaha untuk tidak menangis, hingga suatu hari. Dika yang selalu mengamati Rose semenjak Rose sering lembur di pabrik akhirnya memberanikan dirinya untuk menyapanya.
Dika mengumpulkan seluruh tenaga dan keberaniannya.
Bahkan ia berlatih bicara agar ia tidak gugup.
“Nona”
“Kamu belum pulang Dika ? “
“belum, Aku kepikiran Nona, Nona mau susu”
“Makasih Dika”
“Nona jangan terlalu lelah ya”
“Nggak lelah kok Dika”
“Aku boleh nunggu sampai Nona pulang”
“Kamu nggak capek emangnya ? “
“Enggak kok”
“Aku belum tahu kapan mau memperkerjakan lagi karyawanku”
“Sabar Nona”
“Makasi Dika”
Dika menunggu Rose dengan sabar, ia tak tega meninggalkan Rose sendirian.
“Nona aku beli makan dulu ya, Nona mau makan apa”
“Apa ya”ucap Rose sambil melirik jam yang sudah menunjuk pukul sembilan malam
“Bubur ayam mau nggak ? “
“Bisa deh, enak yang hangat-hangat”
“Tunggu ya aku beliin diujung gang ini”
“Oke”
Saat Dika kembali Rose sudah tertidur di sofa kantornya.
“Yahhh Nona malah tidur “
“Nona.... Nona”
Rose tidak bergeming, Dika memperhatikan Rose dari atas cukup lama, namun ia menepis dirinya sendiri.
“Ya ampun apa yang aku lakukan”karna tidak tahu apa yang harus dikerjakan Dika main hape hingga pukul 12.00 Rose baru terbangun.
“Ya ampunnn !!! Aku ketiduran yah” Dika mengangguk mengiyakan.
Rose melirik jam dinding”mana aku belum makan lagi”
“Buburnya sudah dingin Nona, aku hangatkan dulu ya”ucap Dika
“Nggak ngerepotin kan”
“Nggak, Cuma bentar aja kok”
Dika tersenyum simpul dan setelah selesai hangat hangatkan Rose dan Dika makan bersama, makan dijam 12.00 Malam.
“Kayaknya aku mau nginap aja deh Dika”
“Nona berani sendirian ? “
“Kan ada satpam”
“Mending pulang aja deh Nona”
“Papa aja nggak ada nelpon aku Dika”
“Big Papa butuh waktu untuk menerima semua ini Nona “
Rose akhirnya mengikuti kata Dika untuk pulang, Rose bergidik saat dinginya malam membelai tubuhnya.
Dika yang melihat merasa iba pada Nona nya, semua seakan mimpi belaka tapi ini nyata dalam sekejap semua aset Pabrik hilang.
Keesokannya...
“Kamu sepagi ini kesini ada apa ? “
“Kamu nggak cerita kalau ada masalah “
“Penting buat aku cerita ke kamu “
“Jangan kayak gitu Rose meski kamu nolak aku ribuan kalipun aku pasti bantuin kamu kok”
“Aku nggak butuh, buktinya lagi sebentar galeri aku sudah jadi”
“Aku sudah tf ya dan jangan bilang kau tidak butuh bantuan, aku inves” ucap Anggara
Rose tak mampu lagi menahan sesak didadanya selama ini dan ia melihat foto di hape Anggara yang membuatnya tambah sesak, yaitu Anggara mensuplai kain untuk pabrik Rose.
Anggara memeluk Rose dan Rose hanya diam, ya yang ia butuhkan saat ini adalah support yang kuat agar ia mampu berdiri lagi.
Dika yang pagi itu juga ingin bertemu Rose sangat terkejut melihat Anggara dan Rose, Dika kemudian meletakkan bubur ayam dimeja tamu dan pergi.
__ADS_1
Rose melepaskan pelukan Anggara yang sudah siap nyosor pada Rose.
“Hey ... “
“Bercanda kok”
“Aku balik dulu ya, masih ada urusan”
“Oke”
Anggara merasa menang saat ini, namun tanpa Rose ketahui Dika sudah bergerak mencari pelakunya, ya... Pelaku yang membakar galeri Rose.
“Pahhh”
“Iya Rose”
“Papa sudah makan ? “
“Sudah”
“Sampai kapan, Papa mengurung diri”
“Papa merasa gagal Rose”
“Jangan gitu Pa, ayo kita berjuang bersama”
“Papa merasa malu padamu”
“Sudahlah Pa, untuk apa malu pada anak sendiri “
“Rose”
Rose kemudian masuk kekamar Papanya dan melihat Papanya yang lebih kurus dari biasanya.
Rose mengambil posisi duduk di samping Papanya.
“Apa Papa tahu jika semua semangat Rose berasal dari Papa dan kalau Papa seperti ini, bagaimana pabrik kita Pa”
“Papa tahu Rose tapi, bagaimanapun ini terlalu singkat, kita lelah membangunnya”
“Pah... Mr. Roland sudah inves, Anggara juga dan aku sudah menjual semua tas dan barang brandedku jadi sekarang galeri sudah setengah jadinya Pa, walaupun tidak sebesar dulu tapi ini cukup untuk awalan kita Pa”
Papa Rose merasa hari dengan perjuangan putri semata wayangnya dan dia apa, dia malah mengurung diri mirip orang sakit jiwa.
“Maafkan Papa Rose kamu jadi berjuang sendirian”
“Papa bicara apa sih”
“Ayo kita keluar jalan-jalan Rose “
“Ayo”
Dika yang sedang memantau puing-puing sisa kebakaran melihat dari arah samping pabrik.
“Hehhhh panggil aku Dika disini”
“Iya Dika”
“Apa ? “
“Ini milik siapa “
Dika memperhatikan sebuah gelang dengan bandrul nama Janet tersemat.
“Janet, kenapa bisa ada disekitar sini”
Dika kemudian mengirim pesan pada Rose.
Keesokan harinya.
“Ada apa ya Nona kumpulin kita kayak gini ? “
“Entahlah aku juga belum paham”
“Maaf nunggu ya”
“Iya nggak apa-apa kok Nona”
“Janet gelangmu nggak pernah dipakai lagi ya”
“Iya Nona sudah lama hilang padahal aku taruh nya dimeja kamar mandi”
Menaruh sesuatu di meja kantor
“Nona dapat dimana ? “gugup
“Aku dapat ini di galeri ku yang terbakar”
Janet terdiam
“Kok bisa disana ya Nona”
“akupun bertanya hal yang sama”
“Fashion show ku tinggal menghitung hari aku tidak mau semuanya sia-sia”
“Jujurlah padaku”
“Aku tidak tahu Nona sumpah”ujar Janet dengan terbata-bata
“Nona bukannya kebakarannya karna konslet” tanya Evy
“masak ? Aku pernah cerita ya”
Evy menunduk “cinta membuat kita bahagia namun terkadang cinta membuat kita bodoh ya kan Evy.
__ADS_1
“Ucap Rose lalu memberikan gelang Janet padanya.
“Maksud Nona apa ? “
“Nggak ada aku hanya ingin memberikan pada pemiliknya saja”
“Ini kan punya Janet Nona”
“Tapi kamu yang taruh kan”
“Dari mana Nona tahu, jangan asal nuduh ya”
“Aku nggak nuduh hanya saja aku bicara sesuai data”
Rose melempar sebuah prinant isi chating Evy dan seseorang yang pernah hadir dalam hidup Rose.
Diana....
“Aku dan Rey”
“Cukup ya Nona, aku tidak mau lagi jadi bayang-bayangmu”
“Maksud kamu apa sih, aku dan Rey sudah berteman saat ini”
“Berteman tapi Rey tidak bisa melupakanmu”
“Itu kan urusanmu dengan Rey kenapa mesti aku yang kamu salahkan”
“Aku capek saat ia selalu menyembunyikan hapenya dariku, atau mungkin Nona yang masih berharap pada Rey ? “
“Aku berharap dengan Rey ? Lucu sekali “
“Evy jika kau mau jujur, aku tak akan menjebloskanmu dan Diana kepenjara karna menyabotase galeri ku”
Janet dan Joe menganga mendengar ucapan dari Nona mereka.
“Nona bicara apa, aku tidak paham”
“Apa perlu aku bongkar semua kelakuan busukmu didepan Janet dan Joe dan jika Rey tahu, apa dia akan maafin kamu nantinya”
Prok prok prok
Rose menepuk kedua tangannya dan polisi sudah ada disan bersama dengan Rey.
Evy nampak terkejut...
“Aku dan kau sangat akrab pada awalnya Evy dan saat aku pura-pura jadi anak baru, kau juga selalu ngajarin aku tentang semuanya, aku percaya padamu tapi sekali kau memercikkan sebuah getah, kau tahu akibatnya”
Ucap Rose dengan bibir yang bergetar
Suasana kantor Rose berubah menjadi isak tangis Janet yang kecewa dengan Evy.
Bagaimanapun ia tidak menyangka bahwa Evy menyimpan dendam pada Nona dan ia sama sekali tidak menyangka bahwa Evy yang membakar Galeri Nona nya, bukannya nasib semua orang ada pada Galeri dan pabrik batik ini, ada keluarga yang harus dihidupi dan ada yang setiap hari berharap dari pabrik ini.
“Janet dan Joe”
“Iya Nona”
“Jika kalian ingin mencari pekerjaan lain silahkan karna dalam kurun waktu setengah tahun pun pabrik ini belum tentu bisa berdiri lagi”
“Tidak Nona aku akan tetap disini membantu Nona”ujar Janet
“Sama akupun begitu, kita bersama dan kita akan kuat”
“Makasih dan untuk hari ini kalian bisa pulang”
Rose menutup pintu kantor namun Anggara sudah datang tanpa berkabar.
“Rose mau kemana ? “
“Mau pulang “
Anggara memberi sebuah pelukan pada Rose yang kembali terisak-isak.
“Sabar Rose jangan kayak gini dong, ini kayak bukan kamu saja deh”
“Aku kira aku kuat tapi “
“Ayo masuk ke kantor”ajak Anggara
“Kamu sudah sejauh ini, kenapa menangis”
“Aku lelah Anggara”
“Aku tahu kamu lelah tapi jangan menangis lagi”
“Iya... “
Anggara mulai duduk disamping Rose berusaha untuk menenangkan gadis ini.
Gadis jutek dan angkuh itu kini berubah drastis membuat Anggara agak terluka dengan sikap Rose yang jauh dari biasanya.
Kembali lagi dia hanya seorang perempuan.
“Kamu mau pergi nggak “
“Kemana ? “
“Kemanapun asal kamu senyum”
“Aku nggak pergi hari ini banyak kerjaan”
“Ohh gitu, jangan maksain diri ya nanti jika kamu butuh bantuan, aku akan datang untukmu”
“Baik”
__ADS_1