
Pagi itu suasana hati Rose sedang tidak baik-baik saja, entah apa yang mengganggu tidurnya semalam.
Kemarin Malam
“Maaf ya Rose karna macet sampai malam begini”
“Iya aku nggak apa kok”
“Aku bodoh ya, sudah nggak jadi ajak kamu refresing malah pulangnya malam lagi”
“Sudahlah aku biasa aja kok”
“Aku ngerasa nyesel aja Rose”
“Mungkin lain kali kita bisa jalan”
Rey menjaga sikap dan bicaranya pada Rose karna sekarang dia dan Rose bukanlah pasangan seperti dulu.
Rose tiba didepan rumah yang masih nampak lengang, dirasa Rose Papanya belum pulamg kerumah.
“Kamu mau masuk Rey ? “
“Nggak usah, makasi ya”
“Baik”
Rey menunggu hingga punggung Rose tidak nampak lagi dari pandangan Rey.
💬 Evy
Rey kamu dimana ?
📩 Rey
Aku baru saja mengantar Rose pulang
💬
Owhh
📩
Aku akan ke rumah mu besok...
💬
Apa aku tidak salah baca
📩
Tidak..
Evy menutup wajahnya karna gembira, es sudah mencair.
Tunggu tapi aku nggak boleh terlalu senang tapi ya Tuhan terimakasih.
Keesokan harinya...
Sore
“Hai Evy maaf aku menggangu kamu”
“nggak ganggu kok Rey”
Rey tersenyum simpul jadi sebenarnya Rey sudah memikirkan hal ini karna ia tahu Rose tidak akan bisa kembali pada dia akhirnya ia memutuskan untuk membuka hati pada Evy, ia tahu sikapnya pada Evy kurang baik namun ia juga tidak bisa untuk ber pura-pura, mencoba untuk menoreh lembaran baru, apa salahnya kan ?.
“Kamu mau minum apa ? “
“Kopi aja”
“Oke bapak Rey”
“Lahh kok gitu”
“Kopi untuk Bapak-Bapak”
“Yaelah”
Setelah menyajikan kopi Rey mengobrol ngalor ngidul bersama dengan Evy, kalian bisa tahu kan bagaimana perasaan Evy kali ini.
“Jadi kamu sudah lama kerja di pabrik”
“Iya lumayan lama lah Rey”
“Nggak ada pikiran buat nyari kerjaan lain ? “
“Ngga ada kok, aku sudah nyaman”
“Bagus kalau begitu”
“Aku boleh izin ke kamar kecil Evy”
“Boleh”sambil menunjuk wc khusus tamu yang ada di samping rumah Evy
Tak lama kemudian hape Rey menyala karna ada pesan masuk dan mata Evy tertumbuk dengan wallpaper hape Rey.
__ADS_1
“Masih Rose”
Evy menghela nafas panjang”apa dia menyukai Rose juga tapi Nonaku adalah seorang bos yang pastinya pemilih atau Rey hanya ngefans sama dia.
“Arggghhh” saat Evy tengah berperang dengan perasaannya Rey datang dan melihat tingkah laku Evy yang mengacak rambutnya.
“Kamu kenapa ? “
“Akuu kepalaku gatal”
“ohhh” tapi saat Rey membuka hape dan melihat ada pesan Rey tahu jawabannya, Rey lupa untuk mengganti wallpaper hapenya.
“Bodoh “umpat Rey sendiri pada dirinya
“Kenangan kamu terlalu kuat untuk dilepaskan “batin Rey
Rumah Rose
“Aku suka dengan desain bajumu Rose”
“Syukur kalau Mr. Roland suka dengan desain ku”
“Aku banyak mengajar murid namun aku rasa kamu berbeda dengan yang lainnya”
“Saya merasa tersanjung dengan pujian Mr”
“Iya memang sudah seharusnya saya berbicara apa adanya, saya tidak melebihkan “ ucap Mr. Roland sambil meminum kopinya”
Rose mengamati Mr. Roland dengan seksama betapa besar dan berurat lengannya, Rose ikut meneguk teh hangatnya sembari mencuri pandang pada Mr. Roland.
“Aku yakin kamu akan menjadi seorang desainer fashion yang terkenal”
“Terima kasih Mr. Roland “
Tak lama terdengar mobil dari Papa Rose, Rose meliirik jam” tumben Papa sudah pulang”batin Rose
“Wah owner sudah pulang ya”
“Iya Mr”
Papa Rose berdiri diambang pintu dengan action film Korea yang diperlambat dengan durasi 3 menit dan diulang ulang agar terlihat aktor tampannya.
Rose memicingkan matanya kesal karna Papanya berdiri cukup lama disana.
“Paaaaaa duduklah..... “
“Hehe Papa keren kah”
“Keren.... Yang ada aku malah kesal melihat Papa berdiri di depan pintu “
“Kamu ini nggak bisa apa bilang Iya gitu, supaya debit kamu Papa tambah “
“Rosee”
“Iya Papa”
“Nggak jadi”
“Ihhhh Papa “
Papa Rose tertawa kecil dan memandang Mr. Roland “ lanjut ya pelajarannya Mr.Roland soalnya Rose itu pemalas.
“Papa... !!! “
“Baik” ucap Mr. Roland sambil menahan tawa dengan tingkah laku owner batik itu.
Setelah selesai kelas desain Rose melihat jadwalnya besok.
*mengukur baju untuk kantor Rey.
“Besok aku akan mengajak Evy saja deh biar aku ada teman”batin Rose dan segera menutup matanya.
Just in giveup
Just in give up
Sudah dia kali alarm Rose berbunyi ia masih belum bangun hingga matahari mulai merayap ke sela-sela kamarnya.
Rose mengucek matanya dengan penuh rasa malas.
“ugghhh ... Jam berapa ini ? “
“Ya ampunnnn !!! pekikk Rose segera bangun dari kasurnya
Rose menyambar handuk yang tergantung didepan kamar mandinya kemudian mengguyur tubuhnya dengan kasar, biasanya dia butuh waktu sekitar 30 menit untuk membersihkan diri namun kali ini ia hanya butuh waktu sepuluh menit saja.
Rose adalah pribadi yang disiplin meski ia seorang pimpinan, ia sama sekali tidak pernah telat ke pabrik dan jika ia telat itupun karna ada keperluan dan ia selalu mengabari Evy atau Janet.
Sembari menyetir ia memikirkan mimpinya semalam.
“Ughhh kenapa jauh banget sih mimpi aku”ucap Rose memukul kepalanya.
Di pabrik
“ Rose.... “
__ADS_1
“Iya Pa”
“Kami belum ke kantor Rey ? “
“Belum Pah “
“Kenapa kamu lambat sekali, nanti jika tidak selesai sampai hari H , bagaimana ? “
“Jadi kok Pa, lagian deadlinenya masih jauh Pa”
“Jauh gimana, jangan buang-buang waktu dong kamu ini”
“Iya Pah sabar”
“Lohhh kamu kok jawab kayak begitu, ini pesanan baju loo Rose kamu juga baru belajar seharusnya kamu lebih gesit”
“Gesit kayak gimana maksud Papa ??? apa selama ini aku kurang cepat, apa selama ini aku tidak menurut pada Papa ?
Apapun aku lakukan demi Papa, bahkan aku tak pernah mengeluh Pa, jika aku bilang aku tidak mau mengurus Pabrik, Papa mau bilang apa ?
“Papa pikir aku tidak lelah, aku hanya manusia biasa Pa... Gadis seumuran aku mungkin masih sibuk dengan dunianya sendiri, punya teman yang satu circle dengan hoby mereka masing-masing, sedangkan aku.... Setiap hari harus sesak melihat target dan target pabrik.
“hidupku penuh dengan perhitungan yang bahkan anak seumuran aku pasti sedang scroll hape dan rebahan setelah pulamg bekerja “
“Kamu....!!! Sudah pintar bicara ya”sahut Papa Rose mendengar celoteh panjangnya dari Rose
“Tapi semua yang aku bilang itu benar Pa”
“Papa lakukan ini demi masa depan kamu, Papa tidak mau kamu direndahkan oleh siapapun meskipun kamu seorang perempuan, apa kamu paham”
“Terserah Papa aja”
“Kenapa kamu masih berdiri disitu”
Rose menyambar tasnya dan berlalu menuju mobilnya, tujuannya adalah kantor Rey.
“Evy... Kamu ikut aku ya bantu aku ngukur karyawan di tempat kerja Rey”
Mendengar nama Rey disebut Evy sumringah.
“Baik Nona”
“dan aku butuh Jo juga buat nyetir, aku agak lelah”
“Baik Nona “ ucap Jo yang memang satu ruangan dengan Evy.
Rose merasa sesak karna omelan Papanya, tak biasa Papanya seperti ini tadi malam saja ia masih bercanda bersamanya dan Rose menyesali perbuatannya karna melawan pendapat Papanya.
Rose yang memang pendiam tampakk lebih sangar saat ini, Evy dan Jo pun ikut diam membisu.
Jadilah perjalanan kali ini penuh dengan pantomim dan Rose adalah pemeran utama.
Rose ingin menjadi gadis lain, bermain dan bekerja tanpa merasa beban, ia tahu semua ini memang harus ia lakukan tetapi dalam keadaan tertekan seperti ini rasanya sungguh melelahkan.
📩
Mr. Roland
Rose aku butuh 20 desain dan pertemuan berikutnya aku akan cek
Trims...
Rose menengadahkan kepalanya dan menahan air matanya, ia sudah tak sanggup mendengar semuanya.
Di kantor Rey...
“Hai Nona Rose...selamat pagi”sapa seorang wanita yang terlihat rapi dan cantik
“Iya selamat pagi “ ucap Rose, entah mengapa ia berubah tadi di mobil dadanya penuh dengan sesak sekarang ia sudah berdiri layaknya seorang yang tidak memiliki beban apapun.
“Maaf... Anda sudah siapkan ruangan untuk saya”
“Sudah Nona dan Nona silahkan minum dulu”
“Baik”
Rose mengambil posisi di kursi yang sudah disediakan oleh kantor Rey.
Rose menoleh pada Evy yang nampak gelisah, entah apa yang dipikirkannya.
Sedangkan Joe, sibuk memperhatikan wanita tadi,,, ya ampun.
Setelah berbincang cukup lama dengan wanita itu, Rose melihat Rey yang melangkah dari dalam ruangan yang ada di pojok.
“Sudah lama Rose”
“Ehemmm” ucap Rose
“Maaf Nona Rose”
“Tidak kok, aku merasa nyaman berbincang dengan temanmu ini”
“Dia leader kami Nona”
“Owhh, jadi apa aku bisa mulai sekarang”
__ADS_1
“Bisa”
Saat Rose berjalan menuju ruangan, nampak Evy dengan segarnya menatap Rey dan dibalas pula dengan Rey.