Cinta CS

Cinta CS
44.Jadian 2 tempat (2)


__ADS_3

🍃🍃🍃🍃


“Jadi Rose nggak mau kalau pelakunya dihukum”


“Iya”


“Dibalik sifatnya yang keras ternyata ia punya sisi malaikat”


“Dia terlalu baik”


Di RS 🏥🏥🏥🏥🏥


“Nona..... Kita datang”


“Bawa apa kalian ? “


“Bawa buah yang mahal,,,, “


“Sombongnya minta ampun”


“Iya dong, kan diajarin sama Nona”


“Aku nggak pernah ajarin kalian kayak gitu btw ada yang jadian ya”


Saling pandang....


“Siapa ? “ (Bersamaan)


“Yang jawab samaan pastinya”


“Hahhh mana ada, kebetulan” Dalam hati padahal Rose sudah tahu kejadianya dan dari cerita semut-semut didinding.


“Terserah kalau mau nggak jujur nanti aku bikin peraturan baru”


“Peraturan apa Nona”


“Nggak boleh pacaran dengan teman di tempat kerja”


“Yahhh Nona kok gitu sih”


“Nahhh kan jadi ketahuan “


“Aku nggak ngomong apa-apa kok”


“Eeehhh sudahlah”


“Nona ini bubur ayam yang Nona minta “ Dika datang dari luar dengan tas tangannya.


“Iya.... Makasih” ucap Rose dengan tertunduk.


Di dalam benak Rose, dengan kejadian dia hari lalu ia belum siap untuk jadian dengan Dika disini.


Tapi ia belum berani mengutarakan apa yang ada didalam pikirannya.


“Nona... Aku mau pulang dulu ya”


“Iya... Makasih”


“Okey.... Jo, Janet... Aku pulang duluan ya”


“Iya Dika.... Hati-hati”


Setelah 4 hari dirumah sakit Rose akhirnya pulang dan ia belum kerja selama seminggu untuk masa pemulihan, memang lukanya tidak dalam tapi lumayan sakit dan nyeri.


Dika sering mengunjungi Rose saat ia pulang kerja.


Dika bahagia karna tinggal menunggu Rose pulih saja dan ia akan jadian untuk kedua kalinya.


Awo wkwkwk.... Agak lucu sih tapi memang kenyataannya seperti itu.


“Sruuuttttt Dika menyeruput teh manis sambil memperhatikan tingkah Rose yang agak berbeda semenjak kejadian di tusuk oleh Diana”


Apakah Rose ragu dengan dirinya ?


“Rose ada yang mengganggu pikiranmu kah ? “


“Tidak Dika, aku hanya merasa kurang sehat saja”


“Masih sakit ya”


“Sedikit”


“Apa ada yang harus aku lakukan untukmu ? “


“Tidak ada Dika, jika kamu tidak keberatan, aku ingin istirahat “


“Baiklah, kamu memang butuh istirahat yang cukup”


“Iya” ucap Rose lemah dan ragu


Malam harinya....


“Rose... Papa tahu ini terlalu cepat buat kamu tapi Papa mau bulan depan ini kamu tunangan”


“Bulan depan Pa..... Apa nggak terlalu cepat”


“Tidak Rose, Papa ingin kamu mendapatkan rasa aman”


“Pahh... Masak gara-gara kejadian itu Papa berubah pikiran”


“Bukan karna itu saja Rose tapi Papa memang maunya kayak gitu”


“Baik jika itu yang terbaik”


“Tentu dan jangan keras kepala “


“Baik”


📞


“Dika... Apa bisa kita ketemu ? “


“Ada apa Rose.... Ada yang ingin kamu bicarakan ? “


“Ya.... Dan ini sangat penting”


“Baiklah kita ketemu dimana ? “


“Di cafe x aja ya”


“Iya... Aku mandi dulu ya”


“Ya... “


Rumah Anggara......


“Bisa-bisanya dia terus keluar sama CS sialan itu, apa bagusnya dia, hanya modal tampang doang, aku yakin Rose pasti di porotin sama dia”


“Bos... Mungkin memang dia anaknya baik”


“Bosmu dia apa aku !!! “hardik Anggara


“Maaf Bos”


“Setiap aku ajak dia keluar selalu saja ada alasannya, tapi pas aku intai, dia malah keluar sama CS itu lagi”


“Sabar Bos”


“Lebih parahnya lagi, dia sudah dijodohkan “


“Tapi kenapa Bos masih mau mengejar dia”


“Aku tidak tahu, aku begitu mencintai dia, dari awal aku sudah diberitahu jika Rose sudah dijodohkan, tapi aku masih berharap dia berubah pikiran”


“cinta nggak bisa dipaksa Bos”


“Aku baru kali ini serius mencintai seseorang dan rasanya sungguh sakit melihat dia bahagia bersama si CS itu”


“Iya Bos, aku paham rasanya”


Cafe X


“Jadi Rose mau bicara apa ? “


“Aku emmm.... Bulan depan acara perjodohan aku”


“Wah.... Siapa cowok beruntung itu”


“Bisa jadi aku yang beruntung Dika”


“Nggaklah... Dia yang beruntung pastinya”


“Jadi Dika... Apa kau mau lanjut atau gimana ? “


“Rose dari awal kan aku sudah bilang padamu “


“Iya... Aku juga begitu Dika”


“Jangan sedih begitu dong”


“Gimana aku nggak sedih”


“Heyyy.... Jalani saja dulu ya”


“Iya”


“Kali ini... Aku akan serius ketemu sama dia Dika”


“Emangnya dari awal kamu nggak pernah ketemu sama dia ? “


“Nggak... aku minta tolong sama Janet”


“Owhhhh”


“Terus potonya ngga ada ? “


“Nggak ada .... Papa bilang biar aku langsung ketemu dengan orangnya”


“Emang berapa kali Rose janjian dengannya ? “


“Empat kali”


“Jadi selama itu, Rose nyuruh orang lain buat ketemuan gitu”


“Iya” jawab Rose dengan kalem


“Hebat dong “


“Iyahhh”


“Ayo makan dulu” ucap Dika saat pesanan milik Rose dan Dika sudah diantar


Memang nikmat makanan mereka saat itu, namun semuanya terasa tercekat di tenggorokan Rose karna pikirannya yang kemana-mana.

__ADS_1


Waktu yang ditentukan tiba, Rose agak deg degan karna kali ini dia serius akan ketemuan langsung dengan Nervian.


Rose yang selama ini lalai dengan tidak meminta poto pada Janet, mulai merasa agak was was.


Akhirnya dengan sisa waktu yang mepet, ia mencoba me watsapp Janet dan meminta poto Nervian.


Untung saja Janet cepat membalasnya dan mengirim sebuah poto yang diambil diam-diam.


“Arrrghhhhh”


Flashback episode 1


Kasar


“Mana sih yang namanya Nervian kencan aja udah telat kelihatan banget orangnya tidak disiplin waktu dan, kenapa Papa begitu ribet”


Rose nampak kesal dengan orang yang terlambat ini.


“Hai .... Nona Rose”


“Ehh Dika, kamu lagi ngapain ? “


“Aku mau ketemu sama Nona”


“Maksud kamu, aku”


“Iya” (gelagapan)


“Aku mau kencan hari ini”


“Iya.... Aku pasangan kamu”


“Aku mau ketemu dengan Nervian, ini fotonya”


“Itu orang yang aku suruh buat jadi aku”


“Lahhhh serius kamu”


“Apa wajahku kurang meyakinkan”


“Daripada Nona, nyuruh Janet buat jadi Nona”


“Diam”


Rose merasa tubuhnya lemas dan oleng.


“Nona Rose”


“Dika.... Jangan bercanda terus”


“Nona... Aku mencintaimu”


Rose dan Dika menikmati makan malam itu Nona yang biasanya jutek, galak dan berdamage itu kini terlihat kikuk di dekat Dika.


Dia bingung ingin memulai percakapan dari mana.


“Dika.... kamu serius tentang yang kamu katakan padaku”


“Iya... “


“Tapi kamu nggak ngada-ngada kan”


“Nggak lahhh”


Rose dan Dika kembali melanjutkan makan tanpa tahu harus bicara apa lagi hanya suara denting renyah dari piring makan yang sedang berpaut di meja.


“Hehhh cs sial luu”


Seseorang menarik kerah baju dari Dika.


“Ada apa ini”


“Ini pilihan Papa kamu Rose dan dia mencampakkan aku, aku ini cowok kaya loo tidak sebanding dengan cs ini”


“Cukup Anggara, aku sama sekali tidak suka padamu”


“Cihhh dasar sombong lihat bagaimana aku menjatuhkan kamu nanti”


“Aku tidak takut padamu”


“Hahhh dasar iblis wanita, kamu hanyalah seorang Bos yang sembunyi dibalik ketiak Papamu tanpa Papamu kamu hanyalah seorang wanita bodoh”


Dika yang dari tadi geram langsung menghajar mulut kasar dari Anggara.


Anggara sangat terkejut dan melihat darah segar di pinggir bibirnya.


Dika yang walau seorang CS memiliki badan yang cukup kekar karna ia selalu rutin nge gym.


“Beraninya kau... “


“Aku tidak ingin ribut disini, aku masih punya harga diri”


“Hahhhh beraninya CS sepertimu bicara tentang harga diri”


“Tolong keluar dari sini”


“Apa... aku tidak dengar”


“Keluar dari sini, dengan baik-baik atau aku bisa pakai cara lain”


“Jangan belagu deh kamu, emangnya Cafe ini punya kamu”


“Tidak peduli cafe ini milik siapa, tapi ini adalah tempat usaha”


Beberapa pelanggan mulai ketakutan dan keluar dari cafe itu.


Rose yang biasanya pemberani saat ini malah nampak takut.


“Rose ikut denganku dan anggap saja tidak terjadi apapun”


Anggara menarik tangan Rose.


Emosi Dika sudah memuncak dan ia tak lagi dapat menahan rasa kesal didadanya.


“Berani sekali kamu menyentuh Nona Edelweis !!! “


Perkelahian itu berlanjut hingga ke belakang Cafe.


Rose yang ingin melerai malah terdorong oleh Anggara.


Dika sudah tak mampu membendung emosi saat melihat Rose terjatuh.


Anggara ternyata membawa koloninya dan Dika yang memiliki badan kekar itu pun tumbang.


Rose menjerit histeris.


Saat itu jalan sedang sepi dan memang Anggara sengaja memilih tempat yang jauh dari keramaian.


“Rose.... Tunggu giliranmu”


“Kau pengecut yang hanya berani keroyokan saja”


Rose menendang Anggara hingga tersungkur.


“Aku tidak akan marah padamu sayangku Rose”


“Lawan aku”


“Mana bisa aku melawan calon istriku”


“Najissss”


“Lihat betapa tidak sopannya mulutmu yang manis itu, aku.... tidak sabar melukai mulutmu yang tajam itu dengan mulutku juga”


Rose tidak peduli pada Anggara lagi dan menolong Dika.


Rose yang ingin menghubungi Papanya dicegah oleh Dika.


“Ada apa Dika, kamu sudah babak belur begini”


“Bawa saja aku ke Cafe Rose”


“Apa..... Kedalam Cafe, mereka pasti ngusir kita looh”


“Turuti saja apa yang aku katakan Rose”


“Baik”


Rose memapah Dika yang sudah lemas.


Pegawai Cafe yang tadinya santai nampak panik dan menghampiri Dika.


“Bos Dika.... Apa yang terjadi “


Rose sama sekali tidak menyimak apa yang dikatakan oleh pegawai cafe itu dan fokus pada Dika.


Rose menutup rasa angkuhnya dan meneteskan air mata.


“Nona ayo kita bawa Bos Dika ke RS”


“Baik” ucap Rose sambil menyapu air matanya.


Di rumah sakit


“Mana Dika.... “


Seorang lelaki berumur sekitar 50 tahunan nampak tergopoh-gopoh menghampiri Dika yang tertidur.


“Maafkan saya Pak, ini salah saya”


“Sudah Nona Rose, tidak apa kok”


“Saya menyesal Pak”


“Nona jangan seperti ini” ucap lelaki itu dan membangunkan Rose yang sujud di kakinya.


Lelaki itu nampak khawatir dan melihat terus ke arah Dika.


“bagaimana keadaan Dika ? “


Suara keras dan berkharisma itu tak lain adalah Papa dari Rose.


“Pahhh Dika nggak sadar Pah”


“Anggara yang lakukan ini Rose”


“Iya Pah”


Papa Rose menarik nafas panjang dan mendehem pelan.


“Tunggu saja nanti kau Anggara”


Di luar kamar Papa Rose dan lelaki tadi itu yang ternyata adalah Papa dari Dika sedang duduk mengobrol sambil menikmati segelas kopi.

__ADS_1


“Jadi.... Bagaimana langkah kita selanjutnya ? “


“Aku tak ingin mencari masalah dengan keluarga Anggara, mereka terlalu licik”


“Kau tega melihat anakmu seperti itu”


“Yang penting Rose selamat kan dan lagipula sudah tugas Dika melindungi Rose”


“Kau memang sahabat yang luar biasa”


“Hahh kau selalu saja menyanjungku dan lihatlah aku hampir saja terbang ke awang-awang”


“Bisa saja kau melawak di situasi seperti ini”


“Jangan terlalu tegang”


“Bagaimana aku tidak tegang melihat kondisi Dika dan kau sebagai Papanya malah tenang saja”


“Dika kuat kok”( coba saja dia lihat saat aku datang tadi)


“Terima kasih sudah melindungi Nona ku “


“Sama-sama”


Rose masih menangis disamping tempat tidur Dika.


Dika belum membuka matanya dan pasti dia sedang sakit nampak sesekali ia meringis.


Hati Rose yang terkenal beku ini mulai mencair dan memiliki rasa iba pada Dika, bukan sifat sesungguhnya.


“Dika bangunlah, aku sangat khawatir”


Tanpa sadar Rose menggenggam tangan Dika.


“Dika, aku minta maaf atas sikapku selama ini yang mungkin nyakitin kamu Dika”


Mata Dika mulai bergerak dan terbuka secara perlahan, Rose menghapus air matanya agar tak terlihat oleh Dika, turun harga minyak goreng dipasar kalau di tau Rose nangis karna dirinya.


“Nona.... apa itu kau”


“Kenapa kau panggil aku Nona lagi”


“Kenapa memangnya ? “


“Tadi kau dah panggil aku Rose, sekarang Nona”


“Aku lupa, bisa minta tolong ambilin aku minum “


“Tentu”


Rose mengambil gelas dan memberikannya pada Dika.


Dika terdiam saat Rose menyodorkan gelas.


“Kamu nggak jadi minum”


Dika hanya menarik nafas panjang.


Dia pikir Rose akan meminumkan air itu padanya, nyatanya tidak.


Dika mengambil air itu dari tangan Rose. “ Apa dia tidak mengerti sedikitpun ya”


Pintu kamar Dika terbuka dan nampak Papa-papa (sugar daddy kata Rose dalam hati)


Memasuki kamar Dika.


“Kamu sudah enakan Dika ? “


“Sudah Big Boss”


“Bagus.... Terima kasih sudah melindungi Rose”


“Sudah kewajiban saya sebagai laki-laki Big Boss”


“Rose tolong kamu beli makanan”


Rose terbelalak mendengar apa yang dikatakan oleh Papanya.


“Papa nyuruh Rose”


“Kamu pikir aku menyuruh siapa ? “


“Kok aku”


“Tinggal jalan sebentar saja”


“Baiklah” Dengan wajah cemberut


Dijalan Rose mengedarkan pandangan untuk mencari makanan.


Seorang Rose.... mencari makanan untuk bawahannya.


Sejarah yang harus dicatat di rekor MURI.


Sumpah....


Turun deh semua harga besok kalau terus begini.


Setelah Rose selesai membeli makanan.


“Rose Papa perlu bicara denganmu”


Rose sepertinya tahu apa yang akan dibicarakan oleh Papanya.


Disana ada Pak Dito yang sedang duduk juga.


“Kami sudah tahu, kalau kalian tidak pernah bertemu saat Papa suruh”


“Aku minta maaf Pa”


“Tapi karna kalian dekat,Papa pikir memang kalian sudah pernah bertemu, hahhhhhh.... Aku tak habis pikir, menyuruh orang lain untuk jadi kamu, begitu pula dengan Dika”


“Kenapa juga Papa nggak bilang bahwa namanya Dika”


“Rose... Kita sudah sepakat sebelum kalian tunangan, nama Dika tidak akan disebut Nervian di depan publik”


“Itu kan Papa yang merepotkan aku”


“Apa yang Papa repotkan, kalian berdua yang tidak jujur”


“Iya... Aku salah”


“Rose... Kita juga salah karna dari awal tidak menemani kalian dan langsung bicara tentang semua ini”


“Papa niatnya kan buat kejutan, tapi, malah Papa yang terkejut, malah Papa kira cowok yang sedang dekat denganmu adalah orang lain, nyatanya itu Dika atau Nervian”


“Iya, Pa... Jujur saja aku dan Dika memang dekat “


“Papa bersyukur, memang ini sudah garis jodoh kamu Rose “


“ Pak Dito, aku minta maaf” tutur Rose sambil memandang Pak Dito


“Tidak apa, Dika juga salah”


“Tapi, Pak kenapa Dika tidak pernah cerita soal Bapak kepadaku”


“Oh... Aku memang sengaja Rose, agar dia tidak mengandalkan aku dalam pekerjaan”


“Bagus juga sih, malah aku agak terkejut bahwa Pak Dito adalah Papa Dika”


“Kenapa... Apa wajah kita berbeda ya”


“Kalau boleh jujur, iya”


“Nervian memang mirip dengan Ibunya “


Rose merasa lega, jika dari awal ia bertemu dengan Nervian, mungkin tidak akan serumit ini dan Nervian sendiri adalah Dika yang selama ini bersamanya.


Jadi semuanya agak wowwww.... Woowww....


Dika terlihat tertidur di ranjang RS, Rose mendekatinya.


“Kamu sudah makan Rose”


“Sudah kok, gimana apanya yang masih sakit”


“Ngga ada... Kalau kamu yang tanyain”


“Jadi kita jadian kedua dimana ? “


“Kamu masih mikirin itu “


“Habisnya kamu kayak ragu sama aku”


“Iya memang aku sempat ragu, saat Diana menusukku, ucap Rose sambil memegangi perutnya, bekas tusukan Diana”


“Rose... Aku janji bakal melindungi kamu”


“Aku percaya soal itu Dika, tapi Diana itu sangat nekat orangnya”


Di pintu bangsal rumah sakit


“maaf... Bapak-bapak saya mau masuk”


“oiya maaf suster”


Suster itu menggelengkan kepalanya karna tingkah laku dia Bapak-Bapak yang mirip anak-anak itu.


Bagaimana tidak, kedua orang tua itu mengintip pembicaraan kedua anaknya dari pintu bangsal, seakan mereka seorang penguntit.


“Aku sayang kamu, mau kan jadi pacar aku ? “


“Kita akan tunangan Dika”


“Itu kan keluarga kita, aku mau yang benar tulus dari dasar hatimu”


“Iya... Aku mau”


“Jangan ada keraguan lagi Rose, aku tidak mau kehilangan kamu”


“Iya Dika”


“Yeyyyyyyy”


Terdengar teriakan dari luar dan membuat suster yang tadi marah.


“Pak jika kalian ingin ribut, diluar saja, ini rumah sakit !!! “


“Maaf, maaf” sambil membungkuk


Rose.... Aku mendapatkanmu dan bahkan calon tunangan aku adalah kamu, kalau tahu dari awal, aku nggak akan nyuruh orang lain datang, maafkan aku Rose.


__ADS_1


Batik Sasambo


__ADS_2