
Setiap minggu Rose selalu mampir ke pusara Rey dan berdoa disana sembari ziarah ke pusara Mamanya juga.
Rose selalu menceritakan kepada Rey tentang harinya yang terjadi.
Rose terlihat bahagia saat bercerita dengan pusara Rey kadang ia tertawa teringat sesuatu yang lucu.
Jauh dari tempat Rose ada seseorang yang selalu mengawasinya.
Ia melihat Rose datang dan pergi di setiap minggunya dan ia pun selalu menambahkan setangkai bunga .
Lambat laun Rose mulai jarang kesana karna ia sibuk dengan sekolah desainya yang sempat tertunda karna sedih ditinggal Rey untuk selamanya.
Sekarang ia kembali pada rutinitasnya, namun yang kurang dan ia lupakan adalah Dika apalagi calon suaminya Nervian, ia sudah tak peduli lagi akan hal itu.
🗣️
“Serius bro jadi dia masih teringat pada mantan pacarnya yang sudah meninggal”
“ia baru saja meninggal “
“Wajar jika ia sedih”
“Iya sih tapi aku ingin Nona bahagia seperti dulu”
“Kau harus berjuang lebih keras dari awal cerita, karna sainganmu adalah orang yang sudah meninggal”menepuk bahu Dika
“Yahhh... Aku rasa aku tak akan mendapat Nona, semuanya terasa jauh saat Nona dalam kondisi ini”
“Kau harus menunggu “
“Tidak... Aku yang akan mengobatinya “
“Berjuanglah temanku “
“Ya pastinya”
Di sudut lain...
“Aku khawatir dengan kondisi Rose “
“Aku takut mau berkata apa pada Rose”
“Aku juga lebih khawatir tentang perjodohannya “
“Aku minta maaf tentang Rey”
“Dia tidak salah, Rey laki-laki yang baik”
“Baiklah aku harus ke luar negri lagi”
“Selalu saja sibuk”
“Iya... Mau bagaimana lagi”
Papa Rose menyudahi percakapannya dengan Bik Karsi dan berjalan menuju kamar.
Bik Karsi merasa sangat sedih kehilangan putra satu-satunya ia tak mampu mengekspresikan perasaannya saat ini dan bagaimana ia akan bercerita tentang Rey pada Rose.
Di kantin pabrik
“Nona”
“Ada apa Janet ? “
“Nona sudah baikan, tumben makan di kantin”
“Iya.... Emangnya aku kenapa selama ini”
“Nggak apa sih Cuma Nona jarang makan di kantin semenjak Nona Vakum di pabrik”
“Aku nggak apa kok dahlah jangan khawatir amat “
“Iyadeh, emmm selama Nona pergi ada menu baru loo di kantin kita”
“Apa ? “
“Nasi belut.... Taraaaa”sambil menunjuk banner disana”
“Wawww kesukaan member NCT”
“Nahhh kan semangat lagi Bos aku”
“Pesenin aku dong, kamu juga satu “
“Aku ditraktir “
“Iya... Kan dah capek jadi Nona Edelweis “
“Hahahaahaaa”
Baru kali ini Rose tertawa lagi dan semenjak Rose terpukul, Papanya tidak pernah membahas tentang Nervian lagi.
“Nona”
Rose mendongak mendengar suara yang sudah lama tak didengar oleh nya itu.
“Dika.... Ada apa ? “
“Ini buat Nona”
“Makasi, aku hampir lupa syukur deh kalau kamu inget “
“Sama-sama Nona”
“Duduk disini”
Untuk saat ini Dika sadar, ia akan tetap menyukai Nona nya walaupun kemungkinan akan dibalas tidak ada lagi setidaknya saat ia melihat Nona nya tersenyum lagi, ia merasa bersyukur.
Janet yang paham akan Dika, pergi saat selesai makan dengan alasan ia mau ke toilet.
“Hmmm... Nona”
“Iya... “
“Weekend keluar yuk”
“Kemana ? “
__ADS_1
“Kemana aja yang Nona mau”
“Aku lagi pengen istirahat sih”
“Owhh gitu”
“Iya”
“Baiklah kalau begitu”
“Maaf ya”
“Nggak apa kok Nona”
Dika yang tadinya semangat ngajak Rose kini dadanya agak sesak karna ditolak.
Ia hanya mampu menggigit bibir bawahnya dengan perlahan.
Berusaha jadi obat apakah harus seluka ini “batin Dika.
Ya.... Rose sudah benar-benar lupa tentang perasaan Dika dan dengan kondisi Rose saat ini, mendekatpun ia tidak bisa.
Dirumah
“Papa... Mau pergi lagi”
“Iya”
“Hisshh aku sendiri dong “
“Suruh aja Nervian kesini”
“Nggak perlu”ucap Rose ketus
“Ya deh nggak usah”
“Papa kan keluar Negeri bukan untuk main, tapi demi pabrik batik kita”
“Iya”
“Bik Karsi kan ada”
“Iya”
“Oiya Nona, Bibik mau ke store dulu ya, belanja bulanan, Nona mau ikut ? “
“Nggak deh Bik, lagi nggak mood”
“Ya deh si paling nggak mood”
“Oiya Rose nanti tukang AC datang, tolong kamu bukakan pintu ya, semua AC sudah kotor”
“Iya”
Setelah Papa Rose pergi, ia kemudian menonton televisi hingga suara dari luar tak didengar oleh Rose.
Setelah ketokan pintu yang lembut karna takut menganggu kini bel pintu akhirnya dipencet oleh seseorang di luar dengan tidak sabar, Rose akhirnya terlonjak dari atas sofa nya.
Rose membuka pintu dan ia agak heran melihat Dika .
“Laahhh Dika.... Kamu ada perlu apa ? “
“Kamu ? “
“Iya... Emangnya ada yang salah ? “
“Nggak sih, emang kamu kuliah jurusan bersihkn AC, aku belum pernah dengar jurusan kayak gitu”
“Nggaklah Nona, aku hanya bantu aja kebetulan teman aku ada usaha service AC”
“Kamu rajin banget ya”
“Harus dong”
Dengan cekatan Dika membersihkan seluruh AC yang ada di kamar dan diawasi juga oleh Rose, dan sekarang tinggal AC kamar Rose yang akan dibersihkan.
Rasa berdegup di jantung Dija, saat akan memasuki kamar Rose.
Kamar Rose nampak sederhana dengan furnitur berwarna soft pink dan ungu muda, di temboknya terpasang foto dia dan Papanya serta almarhum Ibunya.
Di sisi lain ada juga poster Idol k-pop kesukaan Rose yang sering dia ceritakan pada Dika, sejauh ini Rose masih termasuk anak yang biasa karna hobbynya ini ,namun jika sudah berhubungan dengan desain baju emmm jangan harap deh bakal liat dia se alay saat ngomongin event idolnya yang ada di resto siap saji.
“Nah hampir selesai Nona”
“Okey... Kamu tunggu bentar ya, aku ambil minum dulu”
“Baik”
Rose datang dari dapur dengan sebotol air mineral.
Tanpa sengaja Rose menutup pintu kamarnya yang kuncinya masih tergantung di luar, karna pintu itu berbeda jadi jika di tutup dari luar dengan posisi kunci menggantung, artinya pintunya terkunci.
“Gawat” batin Rose dengan mata yang terbelalak
“Ada apa Nona ? “tanya Dika yang melihat Rose mematung di depan pintunya cukup lama.
“Dika... Kamu minum dulu”ucap Rose dan tidak bilang bahwa mereka terkunci.
“Baik”
“Emm.... Kamu istirahat aja dulu disana”tunjuk Rose pada sebuah kursi yang ada di sudut ruangan.
“Aku mau keluar aja Nona”
“Eh.... kamu nggak mau duduk dulu”
“Enggak enak lah, mending kita ngobrol di luar aja”ucap Dika sembari beranjak dari kursinya dan membuka pintu kamar Rose.
“Lohhhh.... Pintunya kenapa Nona ? “
“Anu... Tadi aku nutup pintunya terlalu keras dan kita terkunci” ucap Rose dengan nada pelan.
“Hahhhhh”
“Maaf ya tapi kita bisa nunggu bibik datang dari belanja kok and kamu nggak akan kelaparan , ada stok makanan juga”
“Bukan itu sih masalahnya Nona “
__ADS_1
“Ada kamar mandi kalau mau poop”
“Nona.... “
“Iya deh aku telepon bibik dulu ya”
Rose mencari hapenya namun belum ketemu.
“Sudah ada belum hapenya Nona ? “
“Tadi sih disini”
Rose memucat saat ia ingat bahwa hapenya ada didapur.
“hehehe”
“Ya udah mau gimana lagi” ucap Dika sambil mengacak rambutnya yang baru ia potong.
“Maaf ya”
“Mau gimana lagi ? “
“Kamu nggak bawa hape ? “
“hapeku ada di ruang tamu didalam tas” ucap Dika dengan tatapan tanpa harapan.
“Tenang bibik juga pasti pulang kok, lagipula aku nggak jelek kok buat terkurung bareng kamu”
Dika tersipu mendengar ucapan Rose yang polos.
“Aku kalah dalam soal ini Nona”
“Oiya... Apa nggak ada alarm gitu buat ke pos satpam ? “
“Ngga ada lah, buat apaan juga”
“Ya buat kalau ada orang ceroboh yang ngunciin dirinya dari dalam”
“Hehhhh”
Rose dan Dika saling tertawa karna kelakuan dari Rose yang sangat ceroboh.
“Oiya daripada bosan kita nonton film aja”
“Bisa juga sih”
“Mau nonton apa ? “
“Upin ipin aja deh”
“Okey”
Rose tertawa karna Dika yang masih suka kartun Upin ipin, padahal dia juga sama.
Waktu terus berputar hingga Rose mulai bosan dan memilih untuk nonton acara tivi biasa.
“Hemmm... “
“Ada apa Nona ? “
“Aku tiba-tiba keinget sama Rey”
“Nona sabar ya, Rey akan sedih jika Nona terus sedih”
“Iya aku tahu sih Dika dan tidak pantas sebenarnya aku bahas Rey didepan kamu”
“Tidak apa kok lagipula jika itu membuat Nona lega, bahas aja”
“Makasi Dika, kamu baik banget”
“Iya.... Aku tahu bagaimana perasaan Nona saat ini tapi Nona harus maju dan berjuang ya”
“Iya... Pasti”
Dengan sadar Rose bersandar pada bahu Dika.
“Dika.... Kapan bibik datang “
“Aku juga nggak tahu Nona”
“Dika..... Maaf tentang perasaan kamu padaku ya”
“Iya... Nona tidak perlu menjawab apapun kok”
“Aku hanya takut jika masih terbayang Rey, saat aku bersamamu, aku tak mau kau jadi bayangan Rey”
“Iya.... Nona tenangkan saja dirinya biar benar-benar sembuh aku nggak apa-apa kok”
“Makasih Dika “
“Dika... Jika aku bilang sayang juga padamu, apa boleh”
“Tolong katakan sekali lagi Nona”
“Aku sayang padamu”
“Aku juga sayang Nona”
Dika tersenyum dengan jawaban dari Rose.
“Nona biarkan aku menjadi obatmu”
“Kau adalah obat yang tak mampu aku beli”
Rose mendahului Dika mencium pipi Dika dan Dika membalasnya juga.
“Tunggu Nona, ini adalah kesalahan”
“Kenapa ? “
“Ini kamarmu loo”
“Terus ? “
“Apa iya kita disini”
“Heyy Dika otakmu benar-benar ya”
__ADS_1
“Hehehehe”