CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
Episode 14


__ADS_3

Sehari menjelang hari lamaran Hendra, dirumahku cukup ramai dengan kehadiran keluarga besarku, menyiapkan beberapa bingkisan yang akan dibawa rombongan keluarga kerumah Tika. Sedikit ada rasa sedih hinggap dihatiku, mengingat saat aku melamar sampai menikah di KUA dengan Ita, semua kulakukan sendirian dan tanpa kehadiran teman apalagi keluarga.Namun segera ku usir rasa sedih itu dan ku coba ikut bahagia dengan rencana adikku yang akan membuka lembar baru dalam kehidupannya.


Acara lamaran Hendra dan Tika berlangsung lancer dan meriah, kedua keluargapun sudah menentukan tanggal


pernikahan yang sepakat akan diadakan dikediaman Tika. Aku menuju kursi kosong yang terletak agak jauh dan terpisah dari keramaian keluargaku dan keluarga Tika. Seperti biasa ku nyalakan rokok kesukaanku sambil meminum kopi yang disediakan keluarga Tika.


“Kamu sedih ya Adrian…?” ucap Ririn tiba tiba sudah duduk disebelahku


Aku hanya tersenyum dan menjawab “ Sok tahu kamu…kayak paranormal aja….”


“ Ga sok tau kok….lama lama aku jadi hafal kamu Adrian…” balas Ririn pelan sambil tersenyum.


“Ah udah ah….ini hari bahagia Hendra dan Tika, apapun alasannya….semua …termasuk aku…harus ikut bahagia…”balasku sambil ikut tersenyum.


“Aku kagum denganmu Adrian…kau kerahkan apa yang kamu bisa…bantu biaya dan  hal hal lainnya, aku tahu itu….tapi diluar itu…kamu hadapi sendiri saat proses kamu menikah dulu…bahkan hingga kini kamu proses perceraianmu…” ucap Ririrn setengah berbisik.

__ADS_1


“Ga ada yang istimewa Rin….aku hanya jalankan peranku dan skenario hidup yang diberikan Tuhan untukku…”


balasku


Dua minggu setelah acara lamaran, acara resepsi pernikahanpun digelar, meriah dan begitu banyak tamu yang


berdatangan, aku support segala keperluan yang dibutuhkan Hendra untuk membantu keluarga Tika dalam menyelenggarakan resepsi pernikahan tersebut. Dari jauh aku liat Hendra dan Tika duduk dipelaminan, didampingi papa mama dan orang tua Tika. Aku tersenyum melihat semuanya berjalan lancar dan tanpa kendala.


Telpon genggamku berbunyi tanda ada pesan yang masuk, ku baca ada SMS dari nomor yang tak kukenal


Kuhempaskan tubuhku ke sandaran kursi kerjaku, kunyalakan rokokku dan kutatap langit langit ruangan kerjaku. Kupikirkan kata kata apa yang harus ku ketik membalas SMS Sisca….hingga sepuluh menit kemudian..


SUDAH BANYAK YANG TERJADI SEJAK KAMU PERGI….KINI AKUPUN SUDAH MENIKAH DAN PUNYA SEORANG ANAK….KAMU TIDAK PERLU MERASA BERSALAH LAGI…LANJUTKAN HIDUPMU DAN JALANI  SAJA LEMBAR HIDUP YANG SUDAH KAU PILIH"


Handphoneku kembali berbunyi…

__ADS_1


OH SYUKURLAH KALAU BEGITU….WALAUPUN BEGITU…JIKA AKU KE JAKARTA, BOLEH AKU KETEMU?”


Aku tak segera membalas SMS tersebut, kulanjutkan pekerjaanku, sampai sesaat sebelum aku naik ke motor untuk pulang , ku balas singkat SMS Sisca “LIHAT SAJA NANTI…JIKA MEMANG ADA WAKTUNYA…”


Jujur aku enggan dan tak menginginkan bertemu Sisca, aku tidak mau lagi membuka luka yang sudah ku balut


rapat bertahun tahun, permasalahan hidupku saja sudah cukup rumit untuk kuhadapi, aku tak ingin lagi  Menambahnya dengan hadirnya sosok masa lalu dan luka hati.


Beberapa hari lagi sidang putusan akhir proses perceraianku, dan beberapa hari lagi aku dan Ita harus menerima


kenyataan bahwa kami sudah resmi berpisah dan tak lagi merajut mimpi bersama. Tapi seuntai kalimat dari wanita asing di waktu lalu sedikit tenangkan gusarku,


bahwa jika Tuhan inginkan kamu tetap bersama, entah bagaimana caranya….entah


kapan…pasti kamu bersama lagi…kata kata Debby Lam saat itu.

__ADS_1


__ADS_2