
Kuputuskan untuk tidak langsung kembali kerumah, lebih baik aku ke tempat biasaku…pikirku. Ku pacu motorku agak cepat, agar aku tidak terlalu sore tiba disana dan banyak waktu untuk nikmati kesendirianku.
Kupesan segelas kopi panas untuk kubawa ke bebatuan tempatku duduk menikmati laut. Kunyalakan rokokku . Kembali Sang Surya dan Garis horizon itu menyapaku. Ada sedikit rasa sakit di relung hatiku, tapi entah itu apa, kalo soal cinta…aku sangat percaya cinta yang Ririn punya, namun laki laki itu…? Ahhh…mungkin sakitku ini adalah rasa cemburu. Sebuah rasa yang dimiliki dua insan yang sedang memadu asmara, dan rasa cemburu adalah sebagai implementasi rasa takut kehilangan.
Kuambil telpon genggamku dari saku celanaku, untuk mengambil beberapa foto surya yang akan tenggelam dibatas horizon sana, juga camar camar laut yang berseliweran kesana kemari dengan celoteh berisiknya. Ku lihat ada beberapa pesan masuk, mungkin karena aku memacu motorku agak cepat tadi, aku tak mendengar ada bunyi pesan masuk di telpon genggamku.
PESAN 1 : “KAMU DIMANA? KATA HENDRA KAMU BELUM SAMPAI RUMAH?”
PESAN 2 :”KENAPA GA JAWAB PESANKU? KAMU KEMANA? KETEMPAT BIASAMU KAH?”
PESAN 3:”KAMU MARAH? BESOK KITA KETEMU DAN BICARA YA?”
Ririn mengirim beberapa pesan untukku, aku tidak langsung menjawabnya, aku lebih memilih menlanjutkan
menikmati kopi panas dan rokokku sambil melihat surya yang benar benar menghilang dari pandanganku.
Sebelum aku naiki motorku, kubalas pesan Ririn sebelum aku melaju dan pulang.
“GA ADA ALASAN UNTUK MARAH…YA AKU KE TEMPAT BIASA…SEBENTAR LAGI PULANG”
__ADS_1
Hari minggu kali ini akan kuhabiskan dengan tidur dan bermalas malasan ,batinku. Kumatikan juga telpon
genggamku agar tidak mengganggu istirahatku diweek end ini. Apalagi semalam aku baru tiudr jam 3 dini hari, karena menonton siaran langsung sepak bola ditelevisi.
Mataku sulit kubuka, aku seperti setengah sadar dan bermimpi, ada tangan hangat wanita memeluk pinggangku dan ku cium wangi parfum seperti yang kukenal, parfum yang sering dipakai Ririn, ah mimpiku kali ini begitu kelihatan seperti nyata. Namun betapa terkejutnya aku saat kubuka sedikit kelopak mataku, ada sepasang mata menatapku …tak berucap,…..hanya menatap…
“Ririn…? Sejak kapan kamu disini? Kok ga bangunin aku ?” ucapku kaget.
“Tidurmu pulas sekali, ga tega bangunin kamu….memang kamu tidur jam berapa sih?” ujarnya
“Jam 3 pagi….ada siaran langsung sepak bola….” Jawabku sambil menguap.
“Maaf untuk apa? Kan sudah kubilang aku yang salah….datang ga bilang-bilang…” imbuhku lagi
“farid….dia adalah teman ku semasa kuliah selepas SMA dulu, orang tuanya dan papa mamaku saling mengenal
baik…dan kemarin yag kamu lihat diteras adalah sebagian keluarganya….” Ririn langsung menjelaskan kepadaku yang masih diserang rasa kantuk.
“Oh ok….” Jawabku pendek
__ADS_1
“Farid sering datang kerumah…tapi jarang bertemu denganku…dia hanya bertemu mama atau papa…aku lebih pilih ketemu kamu…” ujar Ririn lagi
Walau masih diserang rasa kantuk yang amat sangat, aku tahu kemana arah pembicaraan Ririn dan apa maksud dari penjelasan Ririn.Aku bangkit dari kasurku dan duduk ditepi tempat tidur disamping Ririn.
“Ok..aku mengerti maksudmu Rin…” ucapku
“Megerti apa?” Tanya Ririn lagi
“Mengerti kalau orang tuamu inginkan Farid …untuk kamu…” lanjutku sambil ku tundukkan kepalaku
“Tapi yang kuinginkan kamu…..yang aku cinta kamu…..ga mau yang lain” ucap Ririn dengan suara sedikit bergetar
“Iya Rin…tapi….” Ucapku lagi
“Ga ada tapi…..kamu cinta pertamaku dan terakhirku…titik…” kembali Ririn berucap dengan suara bergetar
namun tegas.
“Beri aku waktu untuk jelaskan semuanya ke keluargaku…” ujar Ririn lagi.
__ADS_1
“Iya….” Jawabku sambil kuanggukan kepalaku dan menatapnya lembut.