CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
Episode 34


__ADS_3

Hari hariku bersama Debby bebebrapa bulan ini buatku lupakan semua bingkai rasa sakit dan luka yang


kusimpan di kisi hati, Debby pun begitu. Kami semakin dekat, namun tidak ada bahasa hati apalagi CINTA….karena kami berdua tahu, cinta sering berujung luka.


Aku ditugaskan ke kota Semarang selama tiga hari dari perusahaanku, untuk survey langsung proses pemasukan


barang impor dari luar negeri melalui pelabuhan Tanjung Mas Semarang. Aku menaiki pesawat agar tidak terlalu lelah akibat perjalanan jauh jika membawa mobil kendaraan kantor. Baru satu hari disana, aku merasa seperti ada yang hilang, biasanya setiap pulang kerja aku pasti mampir ke apartemen Debby atau kadang menginap jika asisten rumah tangganya pulang, Debby paling takut sendirian. Dan biasanya setiap aku datang, Debby selalu menanyakan apa saja yang etrjadi dikantor dan obrolan obrolan seru lainnya, bercanda dan tertawa bersama sampai kami seringkali terpingkal-pingkal.


“Adrian….berapa lama kamu di semarang?” ucap Debby di seberang sana melalui telpon genggamnya.


“Three Days….kenapa Debb…?” tanyaku


“My company at Hongkong called….aku harus ke Palembang besok …lihat dan survey langsung pabrik disana…kamu masih dua hari lagi di Semarang….jadi besok aku pergi sendiri saja ya?” ucap Debby


Aku tahu Debby berharap aku menemaninya, namun aku juga tidak bisa abaikan dan tinggalkan pekerjaanku.

__ADS_1


“Ga bisa tunggu pekerjaanku di Semarang selesai ? lalu aku temani kamu kesana?” balasku


“Can not Adrian….My Boss sudah arrange pertemuan dengan pihak Direksi mereka besok…aku disana kira-kira 2 hari…” Ujar Debby lagi


“Oh…OK…gini aja…kalau pekerjaanku sudah selesai dan kamu masih disana….tell me..aku akan susul kamu kesana? Gimana?” balasku


“Ok….thank you Adrian…” ujar Debby seraya menutup telponnya.


Hari ini terakhir aku disemarang untuk menuntaskan pekerjaanku, aku sedang memasukan pakaian dan barang barangku kedalam koper, sambil menunggu telpon dari Debby , apa aku kembali ke Jakarta atau menyusul dia ke Palembang sana. Tak lama kemudian telpon genggamku berbunyi, ini pasi Debby pikirku sambil segera aku ambil telpon genggamku. Kulihat nama Debby muncul di layar telpon namun aku heran karena yang berbicara


“Selamat siang …ini dengan Pak Adrian…?” ucap laki laki itu diseberang sana


“Ya betul…ini dengan siapa?” tanyaku masih terheran heran


“Kami dari klien bu Debby di Palembang…tadi saat berkeliling pabrik, tiba tiba bu Debby terjatuh dan

__ADS_1


pingsan, sampai sekarang beliau masih belum sadarkan diri…kami sudah bawa ke rumah sakit terdekat, di kontak telpon hanya nama pak Adrian sepertinya yang orang Indonesia, maka kami menghubungi Bapak” ucap laki laki itu lagi memberi penjelasan.


Jantungku berdegup tidak karuan, aku menjadi sedikit panik


“Sebutkan nama rumah sakitnya pak…saya sedang disemarang…akan langsung terbang kesana, jika ada perkembangan lebih lanjut tolong kabari saya…” balasku smabil tergesa gesa keluar dari kamar hotel


sambil membawa tas koperku. Laki laki itu menyebutkan nama rumah sakit tempat Debby dibawa, dan aku langsung memesan tiket online pesawat lewat telpon genggamku.


Pesawat yang ku tumpangi terasa berjalan lambat, sepanjang perjalanan aku gelisah dan ingin segera tiba di


Palembang.


Setibanya di bandara Sultan Mahmud Badarudin, aku segera berlari menuju pintu keluar dan langsung ku


hentikan taksi yang melintas setelah menurunkan penumpang. Dan segera kusebutkan nama rumah sakit yang disebutkan laki laki yang menelponku saat aku disemarang tadi.

__ADS_1


“Agak cepat ya pak?” ucapku dengan wajah panik


__ADS_2