
Ku ikuti mobil Reyni sampai kami
memasuki daerah Joglo Jakarta barat, diperjalanan aku sempat menelpon Ita bahwa
setelah pertemuan mendadak harus melayat ke rumah Reyni teman kerjaku.
Kulihat didepan rumah sudah
terpasang benera kuning, dan beberapa kursi dihalaman rumah Reyni yang
berukuran sedang. Kehadiran Reyni disambut dua putrinya yang pertama berusia
sekitar 19 tahun dan yang satu lagi sekitar 5 tahun. Mereka berlari dan memeluk
Reyni….”Mamaaaaa….” ucap kedua anak itu sambil menangis dan memeluk tubuh
Reyni.
Reyni masuk kedalam rumah, dan
diruang tamu , tubuh suaminya terbujur kaku dan sudah ditutupi kain, terdengar
alunan suara ayat ayat suci Al-Quran yang dibaca para kerabat dan juga para
tetangga, yang duduk bersila disisi jenazah suami Reyni.
Reyni terlihat tabah, mungkin
karena dia sudah tahu kondisi suaminya dan juga vonis yang di dengar dari
Dokter sejak lama. Dia terlihat tengah berembuk dengan sebagian anggota
keluarga besarnya. Selang 15 menit kemudian, kulihat ambulan datang dan
diparkir di depan rumah.
“Mau dimakamkan kapan dan dimana
Rey..? “ ucapku ketika Reyni duduk disebelahku.
“Kata keluarga mas Adi, mereka
ingin mas Adi di bawa ke semarang dan dimakamkan disana…” ujar Reyni
“Jadi Almarhum …kamu dan anak
anak serta keluarga akan berangkat malam ini juga?” tanyaku, dan dijawab dengan
anggukan kepalanya.
“Tapi kalo aku boleh saran, minta
salah satu keluargamu yang laki yang setir mobilmu ya? Jangan kamu yang
bawa…kamu sudah lelah dan banyak pikiran..” ujarku lagi
Tak lama berselang, Bernard…Vijay
dan beberapa staff datang , tadi begitu tiba aku sempat hubungi Bernard lewat
whatsapp dan share location rumah Reyni.
Sekitar jam 10 malam, rombongan
keluarga Reyni dan ambulan berangkat ke Semarang.
Proses perubahan direksi
perusahaan dengan masuknya Investor baru Mr.Sanjeev dan Mrs.Devi berjalan
lancar, semua berkas telah ditanda tangani dihadapan Notaris termasuk juga
perjanjian sewa menyewa Pabrik dan perusahaan dengan Mrs.Neesha sebagai Janda
dari Mr.Jimmy.
Reyni mengambil cuti kurang lebih
5 hari untuk masa berkabung di Semarang, aku mengabarkannya via whatsapp kalau
semua proses perubahan direksi dan masuknya Sanjeev ke perusahaan berjalan
tanpa hambatan.
ADRIAN…PULANG KERJA BISA MAMPIR
KERUMAHKU SEBENTAR? ADA YANG MAU AKU OBROLIN…AKU BARU SAMPAI DARI SEMARANG TADI
PAGI…Isi pesan dari Reyni masuk ke telpon genggamku, disaat aku baru saja
menyelesaikan beberapa urusan di kantor bea cukai rawamangun.
“AKU BARU SELESAI DI BEA CUKAI
RAWAMANGUN REY…KALAU KAMU MAU, AKU BISA KESANA SEKARANG” balasku sambil menuju
__ADS_1
area parkir mobil.
“OKE ADRIAN…AKU TUNGGU” balas
Reyni
Saat aku tiba dirumahnya, suasana
tampak sepi, Reyni membukakan pintu, raut wajah lelahnya terlihat belum hilang.
“Kamu baru sampai….ga capek?
Kenapa ga istirahat dulu? Kan masih ada besok…izin cuti mu masih dua hari lagi
kan Rey?” ucapku sambil duduk dikursi tamu
Tiba tiba Rey menubruk dan
memeluk tubuhku lalu terdengar tangisnya, anaknya yang paling besar tidak
terlihat sedang kan si bungsu tengah tertidur lelap setelah perjalanan jauh.
“Kenapa Rey..? kamu belum Ikhlas
dengan kepergian suamimu..?” ujarku
Rey menggeleng di
pelukanku…”Bukan itu Adrian…kaka….” Rey terbata bata…kaka adalah sebutan untuk
anak pertamanya.
“Ya…kenapa dengan kaka? Dimana
dia? Aku ga lihat dia dari tadi…” balasku
“Dia ke rumah bibinya di
Bintaro…..” ucap Rey masih terisak…
“Ok..lalu kenapa kamu menangis
seperti ini…?” ujarku penasaran
“Setelah pemakaman suamiku…kaka
bercerita …kalau dia…” kembali Reyni terbata bata memberi penjelasan kepadaku,
membuat aku makin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi
ujarku lagi
“Dia hamil oleh pacarnya
Adrian….aku sudah gagal menjadi seorang ibu….” Tangis Reyni meledak dan terisak
di dadaku.
“Tenang Rey….kamu bukan
gagal...kamu ibu yang baik…yang bekerja keras untuk menghidupi keluarga, juga
mengasuh kedua anakmu sejak suami sakit….kamu hanya sedang mendapat
musibah…ujian…tenang..lebih baik kita cari jalan keluarnay daripada menyalahkan
diri sendiri atau menyesali yang sudha terjadi…” ucapku berusaha
menenangkannya.
“Pacarnya mau bertanggung jawab?
“ ujarku smabil membelai rambutnya
“Kata kaka iya…Cuma kalo
keluarganya belum tahu…mereka masih sangat muda Adrian….” Imbuh Reyni
“Tapi mereka berdua sudah lulus
SMU kan? Dan sudah diatas 17 tahun kan?....sekarang gini…kamu ga usaa marah
dengan anakmu….dia juga ga mau semua terjadi seperti ini, panggil dia
pulang…bicara baik baik…bilang kamu akan menemui keluarga pacarnya, nanti aku
temani dan bantu bicara…” ucapku
“Baik Adrian….aku nurut kamu….aku
lelah dan ga bisa berpikir jernih lagi Adrian,….” Balas Reyni
Kulepaskan pelukannya dan
kusandarkan tubuhnya di sofa, “ Sekarang kamu telpon atau WA kaka…sampaikan
__ADS_1
baik baik yang aku bilang tadi…minta dia juga bicara sama pacarnya, kapan kita
bisa kerumah nya…” ucapku lagi
Reyni mengangguk dan mengambil
telpon genggamnya, lalu mengirimkan pesan ke putrinya.
“Sudah….kata kaka…nanti malam dia
pulang dan dia akan hubungi pacarnya kapan aku dan kamu bisa ke rumahnya…” ucap
Reyni pelan.
“Syukurlah…sekarang kamu tidur…istirahat….lihat
tuh dikaca…wajahmu kelihatan lelah banget…” ujarku
“ Masih siang ah…..aku masih mau
ngobrol sama kamu….” Ucap Reyni dengan gaya manja yang jarang sekali aku lihat.
“Iya…tau….tapi kamu lelah
neng….harus istirahat….” Ucapku sambil tersenyum dan mencubit pelan pipinya
merasa sedikit lucu dengan gaya manjanya, sangat berbeda dengan sosok Reyni
yang ku kenal sehari hari di keseharian dan lingkungna kerja.
“ Ya udah…kalo gitu aku istirahat
…pinjam paha kamu ya? “ balasnya sambil merebahkan kepala nya di pahaku….
“Dasar kamu….” Ucapku seraya
tertawa dan menaruh bantal sofa diatas paha ku
Sesaat kami berdua membisu, Reyni
menatapku …seolah ingin masuk dan selami hatiku….aku menjadi salah tingkah….ku
palingkan wajahku dan memandang ke arah jendela rumah…namun Reyni memegang
daguku agar aku kembali bertatapan dengannya…
“Terima kasih Adrian….terima
kasih….” Ucap nya sambil terus menatapku
“Terima kasih apa sih? Aku belum
lakukan apa-apa…sudah…sekarang pejamkan matamu dan tidurlah walau sejenak….” Balasku
sambil membelai rambutnya.
Tiba-tiba Rey meraih leherku
sehingga membuatku tertunduk dan ciuman Rey mendarat dibibirku…
“Reeey….” Bisikku….
Reyni kembali menatapku…lagi lagi
dia daratkan ciumannya kembali….aku seharusnya menolak…aku harusnya menghindar
dan pergi…tapi aku tetap disitu…aku tetap membalas ciumannya dan membelai
rambutnya….saat bersama Rey, aku mudah sekali terhanyut dan sulit menolak semua
permintaannya.
“Sudah Rey…..sekarang kamu tidur
ya? Aku tetap disini temani kamu….” Bisikku lagi
Reyni mengangguk dan tersenyum
manis…beberapa menit kemudian dia terlelap dipangkuanku, ku tatap wajah nya
saat tertidur pulas, baru ku sadari kalau Reyni juga cantik…tak kalah cantiknya
dengan Lily, hanya berbeda karakter…Lily tipe lembut sedangkan Reyni Tipe
agresif , berani dan blak blak an.
Aku tak tahu seperti apa nanti
semua alur cerita yang kujalani, aku hanya ikut mengalir bersama waktu…ku
pasrahkan tubuh lemahku pada ombak yang ombang ambingkan kemana dia suka…kemana
dia akan membawaku….entah itu ujungnya akan membentur karang tajam, atau
mungkin membawaku ke tepian pasir yang lembut.
__ADS_1