
Aku kembali ke kehidupan nyataku,
fokus ke usaha yang kumiliki dan mencoba curahkan seluruh perhatianku pada buah
hatiku Clara dan Calista, tak terasa sudah hampir sebulan sejak pertemuan
terakhirku dengan Meihwa, biasanya dalam setiap minggu dia menghubungi via
telpon atau whatsapp setiap dua hari sekali, namun sejak kami bertemu waktu
itu, tak komunikasi darinya, dan aku juga tidak menghubunginya lebih dulu
karena tidak mau mengganggu aktivitasnya apalagi aku yang meminta Meihwa
mencoba menuruti kemauan putra dan putrinya.
Baru saja aku melangkah keluar
area pemakaman, sehabis berziarah ke makam Ita, telpon genggamku berbunyi, “ Om
Adrian….ini Vivi….disini juga ada Koko Daniel dan juga Cici Devi….kami ingin
ucapkan terima kasih sama om….mami tidak marah pada kami dan mami mau menemui
papi bersama kami, sekarang kami mencoba menjadi sebuah keluarga lagi, papi
sudah kembali ke rumah mami….sekali lagi terima kasih om….” Ucap Vivi putri
bungsu Meihwa diseberang sana
“Ya…..tapi kalau om boleh
pesan….walaupun mami dan papi kalian sudah kembali bersatu, kalian harus sering
sering luangkan waktu kalian untu jenguk papi dan mami….ini komitmen kalian dan
keinginan kalian kan? Ingin kembali menjadi keluarga yang utuh seperti dulu..?
janji ya Vi…?” balasku
“Iya om…ini Vivi pasang
loudspeaker di handphone…koko Daniel dan Cici Devi juga dengar….iya om..kami
berjanji….” Ucap Vivi
Awan gelap bergelayut di langit,
sebentar lagi sepertinya hujan lebat akan turun…kupercepat langkahku menuju
mobilku…kuhempaskan tubuhku di jok mobil….aku menghela nafas panjang….ga pernah
rasa sepi hinggap di hatiku tiba tiba seperti ini….aku benar benar merasa
sendirian…aku memang harus jujur…aku tidak mencintai Meihwa, walau tadinya aku
berpikir dengan menikah dengannya pelan pelan aku akan terbiasa dan saling
jatuh cinta dan tidak hanya sekedar dua insan yang dilanda kesepian. Tapi kini
sebelum semuanya terwujud, semua kembali terbang bagai camar laut yang hanya
hinggap dalam hitungan detik dipermukaan laut untuk memakan ikan ikan kecil penuhi
rasa lapar mereka.
Namun seperti pesan Alm papaku
dulu….hidup itu tak boleh berhenti di satu titik, and the show must go on…aku
mencoba mengukir senyum di bibirku…aku ga boleh terhanyut oleh sepi dan galau
hati…aku sudah terbiasa lewati dan hadapi rasa sakit….aku pasti bisa lewati
ini….batinku coba kuatkan seluruh jiwaku.
Baru saja aku tiba di kantor dan
masuk ruanganku, kembali telponku berbunyi ….” Mas Adrian…? Ini aku
Ranti…..adik mbak Reyni…..” terdengar suara Ranti yang panik dan terbata bata
“Iya Ranti…..kamu kenapa..? kok
suaranya panik begitu….?”
“Meysa telpon aku…katanya papa
mamanya ribut besar…lalu Mas Herman meminum belasan butir pil tidur sampai over
dosis…dan Mbak Reyni mencoba mengakhiri hidupnya dengan memotong urat
dipergelangan tangannya mas….aku dan suami serta bapak dan ibu sedang bersiap
berangkat ke jepara…belum lama aku dengar dari Mbak reyni kalo Mas Herman
bilang pernah temui Mas Adrian di Jakarta…” Ujar Ranti
“Oke…Mas segera kesana….tolong
__ADS_1
kamu WA alamat Reyni di Jepara…”
“Ba…baik mas….matur suwun mas…”
lalu Ranti menutup telponnya
Aku bersyukur sekarang rute
menuju semarang bahkan sampai surabaya bisa dilalui dengan jalan tol sejak aku
beragkat dari Jakarta, jadi aku rasa aku bisa memacu mobilku lebih cepat dan
tidak perlu bermacet macet seperti dulu , sebagian harus keluar dan melalui
jalur pantura lama.
Aku segera menelpon mamanya Ita,
untuk titip anak anakku karena aku harus berangkat ke Jepara saat ini juga.
Setelah mengisi penuh bahan bakar
mobilku dan juga E-Toll ku, ku pacu mobilku di jalan tol cikampek lalu
berlanjut dengan jalan tol Cipali, hari libur saja jalan tol Cipali tak terlalu
ramai, apalagi dihari kerja seperti ini, sangat sepi dari kendaraan kendaraan
yang lewat.
Dalam waktu kurang lebih 4 jam
saja aku sudah sampai di area Brebes, kuputuskan untuk mampir ke rest area
sebentar, untuk minum kopi dan mengembalikan kosentrasiku, karena aku menyetir
dengan kecepatan tinggi.
Dua jam kemudian aku sudah keluar
tol semarang dan mengambil jalur biasa arah Demak untuk masuk ke kabupaten
Jepara, Jepara kota kecil terletak di tepi laut , saat aku memasuki kota Jepara
hujan deras mengguyur kota tersebut, tadi saat di rest area Ranti sempat
mengirimkan WA nama rumah sakit serta share lokasi tempat Reyni dan suaminya
dibawa untuk di ambil tindakan.
Aku berlari ditengah hujan yang
dan cemas terlihat di para anggota keluarga Reyni dan Herman, Mama Reyni hanya
bisa menangis dan menangis, Papanya walau mencoba menenangkannya , tetap tak
bisa menghilangkan raut wajah cemas dan paniknya.
Di tempat tidur perawatan lainnya
kulihat Herman yang sudah mulai siuman, para perawat tak henti hentinya
meminumkan susu ke mulutya agar menetralisir obat obatan yang sudah di
telannya.
Sedang kan Reyni masih tak
sadarkan diri , darah begitu banyak keluar dari pergelangannya, dia harus di
transfuse darah…jika tidak dia kan kehabisan darah dan tak tertolong….aku hanya
berdiri menatap Reyni dibelakang Ranti adiknya…sambil melihat Dokter dan para
perawat bertindak menyelamatkan nyawa Reyni.
“Stok kantong darah kami hanya
ini yang tersisa ….bu Reyni harus mendapat 1 atau 2 kantong darah lagi…Jepara
kota kecil…sulit dalam waktu singkat mendapatkan darah yang bisa ditransfusi ke
ibu Reyni…apa diantara Mas atau Mbak ada yang golongan darahnya O…golongan
darah yang dapat masuk dan ditransfusi ke semua golongan darah? Kalau bapak
sama ibu tidak bisa ya? Karena sudah sepuh atau lanjut usia…sangat beresiko
bagi pendonor” ku dengar Dokter berkata di depan anggota keluarga Reyni.
“Duh gimana dok…golongan darah
saya AB…dan suami A….” ucap Ranti panik
“Ambil darah saya dok….golongan
darah saya O…” aku maju selangkah dan berdiri disamping Ranti, Ranti baru
menyadari kehadiranku dan menyalamiku
__ADS_1
diikuti suaminya….
“Baik Mas…ikuti saya….” Ucap
salah satu perawat wanita kepadaku, kuikuti langkahnya menuju ruang transfuse
darah…beberapa perawat lainnya merapihkan alat alat infus dan lainnya lalu
mendorong tempat tidur tempat Reyni terbaring menuju ruang transfusi.
Perawat itu memasukan jarum yang
lumayan panjang dan tajam ke lenganku…lalu perlahan darahku keluar dan masuk
kedalam selang…disebelahku..kulihat wajah cantik Reyni yang masih tak sadarkan
diri, perlahan melalui mesin transfuse darahku mengalir ke dalam tubuhnya
melalui selang yang terpasang.
Proses transfuse berlagsung
kurang lebih setengah jam, tubuhku terasa sangat lemas, apalagi aku baru saja
menempuh perjalanan jauh…tapi aku kuatkan hatiku….aku tahan semua letih…lemas
dan sakitku…”kamu harus sadar rey…harus…..” ucapku tanpa sadar kea rah wajah
pucat Reyni yang masih tak sadarkan diri.
Setelah proses transfuse,
seorang perawat mengantarkan makanan
bubur kacang hijau padaku
“Dimakan ya pak? Agar kondisi
bapak kembali pulih dan tidak terlalu lemas setelah melakukan transfuse ke bu
Reyni….” Ucapnya
Aku hanya menjawab dengan
anggukan lemah dan mencoba menyendok bubur itu dengan sebelah tanganku dan
segera menghabiskannya.
Setelah makan bubur kacang hijau
tadi dan berbaring kurang lebih satu jam
lamanya, tubuhku tak merasa terlalu lemas seperti tadi…aku mencoba bangun dari
tempat tidur….kepalaku sedikit pusing, namun aku tahan dan mencoba
berjalan….reyni masih juga belum siuman….aku keluar ruangan dan mencoba menemui
Herman.
“Pak…” ucapku sambil menatap
Herman yang tengah melihat langit langit ruangan rumah sakit dengan tatapan
kosong.
Laki laki itu menoleh…” Mas
Adrian……terima kasih sudah datang….maaf kan saya Adrian…..Reyni seperti ini
karena saya…..” ucap laki laki ittu dengan mata berkaca kaca
“Sudahlah pak…ga ada gunanya
saling menyalahkan….Reyni wanita tangguh….dia pasti bisa lewati masa
kritisnya…..begitu juga dengan Bapak…..harus kembali sehat dan lanjutkan hidup
ya pak…” ucapku pelan
“Saya begitu putus asa
Adrian…..saya juga ga sangka Reyni ikut berbuat nekat…saya mau bertemu Reyni
dan lihat kondisinya ” ujar Herman dengan suara parau dan berusaha bangkit dari
tempat tidurnya.
“Nanti saja pak….Reyni habis
lakukan transfuse darah…dia belum siuman…tapi kata dokter Insya Allah kondisi nya
akan pulih kembali…..nanti jika sudah siuman…pasti bapak bisa temui
Reyni…sekarang bapak juga harus segera pulihkan kondisi bapak ya…?” aku tak
sadar beberapa pasang mata memperhatikanku dan dengan seksama mendengar semua
ucapanku
__ADS_1