CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
PUTUS ASA


__ADS_3

Aku kembali ke kehidupan nyataku,


fokus ke usaha yang kumiliki dan mencoba curahkan seluruh perhatianku pada buah


hatiku Clara dan Calista, tak terasa sudah hampir sebulan sejak pertemuan


terakhirku dengan Meihwa, biasanya dalam setiap minggu dia menghubungi via


telpon atau whatsapp setiap dua hari sekali, namun sejak kami bertemu waktu


itu, tak komunikasi darinya, dan aku juga tidak menghubunginya lebih dulu


karena tidak mau mengganggu aktivitasnya apalagi aku yang meminta Meihwa


mencoba menuruti kemauan putra dan putrinya.


Baru saja aku melangkah keluar


area pemakaman, sehabis berziarah ke makam Ita, telpon genggamku berbunyi, “ Om


Adrian….ini Vivi….disini juga ada Koko Daniel dan juga Cici Devi….kami ingin


ucapkan terima kasih sama om….mami tidak marah pada kami dan mami mau menemui


papi bersama kami, sekarang kami mencoba menjadi sebuah keluarga lagi, papi


sudah kembali ke rumah mami….sekali lagi terima kasih om….” Ucap Vivi putri


bungsu Meihwa diseberang sana


“Ya…..tapi kalau om boleh


pesan….walaupun mami dan papi kalian sudah kembali bersatu, kalian harus sering


sering luangkan waktu kalian untu jenguk papi dan mami….ini komitmen kalian dan


keinginan kalian kan? Ingin kembali menjadi keluarga yang utuh seperti dulu..?


janji ya Vi…?” balasku


“Iya om…ini Vivi pasang


loudspeaker di handphone…koko Daniel dan Cici Devi juga dengar….iya om..kami


berjanji….” Ucap Vivi


Awan gelap bergelayut di langit,


sebentar lagi sepertinya hujan lebat akan turun…kupercepat langkahku menuju


mobilku…kuhempaskan tubuhku di jok mobil….aku menghela nafas panjang….ga pernah


rasa sepi hinggap di hatiku tiba tiba seperti ini….aku benar benar merasa


sendirian…aku memang harus jujur…aku tidak mencintai Meihwa, walau tadinya aku


berpikir dengan menikah dengannya pelan pelan aku akan terbiasa dan saling


jatuh cinta dan tidak hanya sekedar dua insan yang dilanda kesepian. Tapi kini


sebelum semuanya terwujud, semua kembali terbang bagai camar laut yang hanya


hinggap dalam hitungan detik dipermukaan laut untuk memakan ikan ikan kecil penuhi


rasa lapar mereka.


Namun seperti pesan Alm papaku


dulu….hidup itu tak boleh berhenti di satu titik, and the show must go on…aku


mencoba mengukir senyum di bibirku…aku ga boleh terhanyut oleh sepi dan galau


hati…aku sudah terbiasa lewati dan hadapi rasa sakit….aku pasti bisa lewati


ini….batinku coba kuatkan seluruh jiwaku.


Baru saja aku tiba di kantor dan


masuk ruanganku, kembali telponku berbunyi ….” Mas Adrian…? Ini aku


Ranti…..adik mbak Reyni…..” terdengar suara Ranti yang panik dan terbata bata


“Iya Ranti…..kamu kenapa..? kok


suaranya panik begitu….?”


“Meysa telpon aku…katanya papa


mamanya ribut besar…lalu Mas Herman meminum belasan butir pil tidur sampai over


dosis…dan Mbak Reyni mencoba mengakhiri hidupnya dengan memotong urat


dipergelangan tangannya mas….aku dan suami serta bapak dan ibu sedang bersiap


berangkat ke jepara…belum lama aku dengar dari Mbak reyni kalo Mas Herman


bilang pernah temui Mas Adrian di Jakarta…” Ujar Ranti


“Oke…Mas segera kesana….tolong

__ADS_1


kamu WA alamat Reyni di Jepara…”


“Ba…baik mas….matur suwun mas…”


lalu Ranti menutup telponnya


Aku bersyukur sekarang rute


menuju semarang bahkan sampai surabaya bisa dilalui dengan jalan tol sejak aku


beragkat dari Jakarta, jadi aku rasa aku bisa memacu mobilku lebih cepat dan


tidak perlu bermacet macet seperti dulu , sebagian harus keluar dan melalui


jalur pantura lama.


Aku segera menelpon mamanya Ita,


untuk titip anak anakku karena aku harus berangkat ke Jepara saat ini juga.


Setelah mengisi penuh bahan bakar


mobilku dan juga E-Toll ku, ku pacu mobilku di jalan tol cikampek lalu


berlanjut dengan jalan tol Cipali, hari libur saja jalan tol Cipali tak terlalu


ramai, apalagi dihari kerja seperti ini, sangat sepi dari kendaraan kendaraan


yang lewat.


Dalam waktu kurang lebih 4 jam


saja aku sudah sampai di area Brebes, kuputuskan untuk mampir ke rest area


sebentar, untuk minum kopi dan mengembalikan kosentrasiku, karena aku menyetir


dengan kecepatan tinggi.


Dua jam kemudian aku sudah keluar


tol semarang dan mengambil jalur biasa arah Demak untuk masuk ke kabupaten


Jepara, Jepara kota kecil terletak di tepi laut , saat aku memasuki kota Jepara


hujan deras mengguyur kota tersebut, tadi saat di rest area Ranti sempat


mengirimkan WA nama rumah sakit serta share lokasi tempat Reyni dan suaminya


dibawa untuk di ambil tindakan.


Aku berlari ditengah hujan yang


dan cemas terlihat di para anggota keluarga Reyni dan Herman, Mama Reyni hanya


bisa menangis dan menangis, Papanya walau mencoba menenangkannya , tetap tak


bisa menghilangkan raut wajah cemas dan paniknya.


Di tempat tidur perawatan lainnya


kulihat Herman yang sudah mulai siuman, para perawat tak henti hentinya


meminumkan susu ke mulutya agar menetralisir obat obatan yang sudah di


telannya.


Sedang kan Reyni masih tak


sadarkan diri , darah begitu banyak keluar dari pergelangannya, dia harus di


transfuse darah…jika tidak dia kan kehabisan darah dan tak tertolong….aku hanya


berdiri menatap Reyni dibelakang Ranti adiknya…sambil melihat Dokter dan para


perawat bertindak menyelamatkan nyawa Reyni.


“Stok kantong darah kami hanya


ini yang tersisa ….bu Reyni harus mendapat 1 atau 2 kantong darah lagi…Jepara


kota kecil…sulit dalam waktu singkat mendapatkan darah yang bisa ditransfusi ke


ibu Reyni…apa diantara Mas atau Mbak ada yang golongan darahnya O…golongan


darah yang dapat masuk dan ditransfusi ke semua golongan darah? Kalau bapak


sama ibu tidak bisa ya? Karena sudah sepuh atau lanjut usia…sangat beresiko


bagi pendonor” ku dengar Dokter berkata di depan anggota keluarga Reyni.


“Duh gimana dok…golongan darah


saya AB…dan suami A….” ucap Ranti panik


“Ambil darah saya dok….golongan


darah saya O…” aku maju selangkah dan berdiri disamping Ranti, Ranti baru


menyadari  kehadiranku dan menyalamiku

__ADS_1


diikuti suaminya….


“Baik Mas…ikuti saya….” Ucap


salah satu perawat wanita kepadaku, kuikuti langkahnya menuju ruang transfuse


darah…beberapa perawat lainnya merapihkan alat alat infus dan lainnya lalu


mendorong tempat tidur tempat Reyni terbaring menuju ruang transfusi.


Perawat itu memasukan jarum yang


lumayan panjang dan tajam ke lenganku…lalu perlahan darahku keluar dan masuk


kedalam selang…disebelahku..kulihat wajah cantik Reyni yang masih tak sadarkan


diri, perlahan melalui mesin transfuse darahku mengalir ke dalam tubuhnya


melalui selang yang terpasang.


Proses transfuse berlagsung


kurang lebih setengah jam, tubuhku terasa sangat lemas, apalagi aku baru saja


menempuh perjalanan jauh…tapi aku kuatkan hatiku….aku tahan semua letih…lemas


dan sakitku…”kamu harus sadar rey…harus…..” ucapku tanpa sadar kea rah wajah


pucat Reyni yang masih tak sadarkan diri.


Setelah proses transfuse,


seorang  perawat mengantarkan makanan


bubur kacang hijau padaku


“Dimakan ya pak? Agar kondisi


bapak kembali pulih dan tidak terlalu lemas setelah melakukan transfuse ke bu


Reyni….” Ucapnya


Aku hanya menjawab dengan


anggukan lemah dan mencoba menyendok bubur itu dengan sebelah tanganku dan


segera menghabiskannya.


Setelah makan bubur kacang hijau


tadi dan berbaring  kurang lebih satu jam


lamanya, tubuhku tak merasa terlalu lemas seperti tadi…aku mencoba bangun dari


tempat tidur….kepalaku sedikit pusing, namun aku tahan dan mencoba


berjalan….reyni masih juga belum siuman….aku keluar ruangan dan mencoba menemui


Herman.


“Pak…” ucapku sambil menatap


Herman yang tengah melihat langit langit ruangan rumah sakit dengan tatapan


kosong.


Laki laki itu menoleh…” Mas


Adrian……terima kasih sudah datang….maaf kan saya Adrian…..Reyni seperti ini


karena saya…..” ucap laki laki ittu dengan mata berkaca kaca


“Sudahlah pak…ga ada gunanya


saling menyalahkan….Reyni wanita tangguh….dia pasti bisa lewati masa


kritisnya…..begitu juga dengan Bapak…..harus kembali sehat dan lanjutkan hidup


ya pak…” ucapku pelan


“Saya begitu putus asa


Adrian…..saya juga ga sangka Reyni ikut berbuat nekat…saya mau bertemu Reyni


dan lihat kondisinya ” ujar Herman dengan suara parau dan berusaha bangkit dari


tempat tidurnya.


“Nanti saja pak….Reyni habis


lakukan transfuse darah…dia belum siuman…tapi kata dokter Insya Allah kondisi nya


akan pulih kembali…..nanti jika sudah siuman…pasti bapak bisa temui


Reyni…sekarang bapak juga harus segera pulihkan kondisi bapak ya…?” aku tak


sadar beberapa pasang mata memperhatikanku dan dengan seksama mendengar semua


ucapanku

__ADS_1


__ADS_2