CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
Episode 8


__ADS_3

“Baik…Adrian  akan pikirkan nanti pa…sekarang sudah malam dan lelah….Adrian mau istirahat dulu” ucapku pelan sambil berdiri dari kursi tamu dan beralu dari hadapan seluruh keluargaku menuju kamarku.


Kurebahkan tubuh penatkukepemba ringan, sambil kutatap langit-langit kamarku….tubuhku sangat lelah namun


mataku tak bisa terpejam, aku merasa berada di persimpangan jalan dan merasa


dilemma jalan mana yang harus kupilih. Sepintas terbayang wajah tulus Ita


istriku dan juga sekilas bayangan kedua orang tuaku.


Haruskah ku runtuhkan keputusan yang telah aku ambil? Pantaskah aku hancurkan sendiri istana kecil yang


perlahan sedang ku bangun? Terlebih lagi di kandungan Ita akan hadir seorang anak darah dagingku sendiri. Gelap dan gelap naungi benakku malam itu, semua jalan keluar yang kucoba cari selalu terbentur dinding dan buntu.


Aku enggan utk bekerja hari itu,sampai telinagku ada suara berbisik “ Hei pemalas….bangun …sudah siang…”


Ku buka perlahan mataku sambil sesekali menguap, disamping ku sudah ada Ririn …sedikit terkejut aku bangun dan duduk ditepi tempat tidur. “ Eh…kok kamu sudah ada disini?” ucapku.


"Pintu kamarmu terbuka, kata mama tadi dia sudah coba bangunkanmu, tapi kamu tetap ga bangiun dan tetap tertidur pulas” balasnya sambil tersenyum.


“Kamu ga kerja?” balasku sambil menguap karena rasa kantukku yang belum hilang.


“Aku izin….bilang sama kantor ada yang sakit?” ucapnya lagi


“Siapa yang sakit ?keluargamu?...” tanyaku lagi


“Kamu…..” balasnya sambil tertawa keci ….

__ADS_1


”aku..? aku ga sakit kok” sahutku


“Sakit jiwa….” Ucapnya sambil tertawa


“Enak aja….aku masih waras….”Balasku sewot.


“Iya lah sakit jiwa….putuskan diam diam menikah sendirian….coba simpan semua masalah sendirian…padahal itu


adalah hal terbesar dalam hidup seseorang…” balasnya lagi.


“Aku punya alasan untuk itu Rin…”jawabku


“ Ya…aku tahu…kamu bukan seseorang yang lakukan sesuatu tanpa alasan dan pertimbangan….ditambah lagi aku juga tahu keluargamu juga sedang diterpa masalah….jadi kamu ga mau membuat


beban papa mama makin berat kan? Bener begitu?” ucapnya lagi seraya tersenyum.


kecerdasannya dalam berpikir dan selalu bisa menerka kemana arah pembicaraan atau perbuatan seseorang dengan logika normalnya.


Dan Ririrn juga seorang wanita yang pandai menyimpan perasaannya , hampir sama sepertiku. Namun dia lebih


tangguh ketimbang diriku, aku begitu mengetahu dulu Sisca menikah, hatiku luluh lantak dan sikapkupun berubah 180 derajat, menjadi pendiam bahkan pemurung.


Tapi Ririn walau pernah ungkapkan rasa sukanya kepadaku, mendengar aku menikahi Ita, dia tetap datang menemui dan bisa tersenyum.


Ah, tapi mungkin karena dia masih baru taraf suka sedangkan aku sudah dalam tingkat cinta yang mendalam,


sanggahku mencari pembenaran diri.

__ADS_1


Sejak itu Ririn makin sering datang kerumah , aku tetap sempatkan pulang ke kontrakanku dan Ita, tapi tidak


menginap karena menjaga agar papa mama tetap merasa tenang karena aku mendengar mereka.


Ririn tidak pernah menyinggung masalah pribadi apalagi bicara soal perasaannya, hanya obrolan obrolan biasa


tentang berbagai hal, aku pun mengganggap dirinya sebagai teman yang asyik diajak bicara karena dia adalah wanita smart dan juga wawasannya luas. Dan pengetahuan religi atau soal agamanya juga lumayan buat ku kagum.


Pernah dalam obrolan aku bertanya “ Rin…andai dalam suatu waktu, kamu bagaikan di ujung jalan yang bercabang, dan kamu dihadapkan dalam dilema pilihan yang sulit…apa yang kamu lakukan?”


“Sholat …minta petunjuk sama Tuhan…lebih tepatnya sholat Istikharah…” jelas Ririn waktu itu.


Aku hanya mengangguk pelan setuju atas jawabannya. Walau aku akui pengetahuan agamaku sedikit bahkan


mungkin bisa dibilang jauh dari baik.


Sejak kejadian keluargaku berkumpul malam itu, semua kembali berjalan normal, Ita pun mengerti kenapa aku


tidak bisa sering tinggal dan menginap dikontrakan sementara waktu, mungkin dari sekian banyak wanita ….seorang Istri….hanya wanita yang mau mengerti alasanku. Lain hal jika aku seperti laki laki lain yang melakukan poligami.


Sampai malam itu handphone ku berbunyi saat aku masih di kantor menuntaskan pekerjaanku. “Adrian…segera


pulang…papa…Hendra dan Satria… mereka rebut besar dengan keluarga Ita…sekarang sedang di damaikan di kantor polisi…” ucap mama dengan nada panik.


Kepalaku sedikit berputar….tubuhku gemetar….”Ada apa lagi ini…” batinku


Tak lama kemudian handphone ku kembali berdering “ Adrian…papa…” ucap Ita diseberang sana

__ADS_1


“Ya aku tahu….aku kesana sekarang…”


__ADS_2