CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
CASANOVA


__ADS_3

“Adrian….boleh aku


bertemu?....”Suara Lily di telpon terdengar parau seperti habis menangis.


“Kamu kenapa…?” balasku penuh


tanda tanya


“Nanti aku cerita….kita ketemu di


Cibubur Junction ya?” Ujar Lily


“Baik …jam 15.00 aku sudah


disana…” balasku


Aku tiba di Mall Cibubur Junction


lima belas menit lebih awal, aku langsung masuk kedalam sebuah café tempat dulu


kami biasa bertemu, tempat nya diujung mall, dan tidak terlalu banyak


pengunjung ataupun orang yang hilir mudik berjalan jalan berkeliling mall.


Ku ambil tempat duduk di sudut


café, dan ku pesan secangkir kopi sambil menunggu Lily datang, setengah jam


kemudian kulihat Lily masuk ke dalam café dan melihat sekeliling. Kulambaikan


tanganku dan diapun tersenyum seraya menghampiriku.


“Maaf agak lama….aku antar Nazwa


dulu ke rumah eyang nya  sebelum kesini…”


ucap Lily


“It’s ok….ga apa apa kok….”


Jawabku sambil tersenyum


Lily duduk disebelahku, aku


memanggil pelayan café dan bertanya pada Lily


“Kamu mau pesan apa? Sudah


makan?” ucapku


“Minum saja….aku sudah makan….”


Ujar Lily


“Juice Sirsak saja ya mas?” ucap


Lily ramah kepada pelayan laki laki di depan kami.


“Ada apa denganmu?” ujarku seraya


memandang wajah cantik Lily.


“Dharmawan…..dia….” lalu Lily


mulai terisak dan merebahkan kepalanya didadaku


Aku membelai lembut rambutnya, “


Kenapa dengan Dharmawan Ly?” lanjutku


“Dia sering memukulku


Adrian…..dia….dia juga mengidap kelainan seks….aku sering disuruhnya berbuat


yang aneh aneh dan juga disakiti atau paksaan sebelum berhubungan…” Lily


terisak dan air matanya mulai melelh membasahi pipinya. Lily berusaha menghapus


air matanya disaat pelayan datang membawa minuman pesanannya.


“Astaga….kamu sudah ceritakan hal


ini ke papa dan mamamu?” ujarku terkejut ,setelah pelayan itu pergi


Lily menggeleng…”Belum


Adrian….adat keluargaku, seperti apapun suami kita…kita tidak boleh mengeluh


dan harus manut atau  menuruti semua


permintaan suami”


“Iya…itu betul…tapi permintaan


seperti apa dulu yang diminta….dan seperti apa sikap suami ke kamu….ga kayak


gini…sakiti kamu dengan kekerasan….KDRT bisa dilaporkan ke polisi Ly…” ucapku


agak sewot.


“Jangan Adrian…..nama baik


keluarga besarku dan juga keluarga besar Dharmawan sebagai orang terpandang


akan rusak…dan pasti ujungnya aku yang akan disalahkan…” imbuh Lily .


“Lalu…? Kamu akan tetap terima


semua perlakuan Dharmawan ke kamu?” tanyaku sedikit emosi, kulihat warna biru


dicelah kerah baju Lily, dengan penuh rasa penasaran…ku tarik sedikit kerah

__ADS_1


bajunya…dan garis biru memanjang sampai kebelakang punggungnya jelas terlihat.


“Ini perbuatan Dharmawan..?”


tanyaku agak keras, hampir saja pelayan dan seluruh pengunjung café mendengar


ucapanku.


Lily mengangguk dan kembali


menangis.


“Aku bingung Adrian….tujuanku


mencari figur seorang ayah bagi  Nazwa


dan Robbi,tapi apa iya aku harus seperti ini Adrian…?” lanjut Lily disela


tangisnya


“Niat kamu bagus…..tapi kamu juga


ga seharusnya diperlakukan seperti ini, masih banyak figure ayah yang lebih


baik untuk anak anakmu, dan cepat atau lambat, hal ini harus dibicarakan dengan


papa mama atau keluargamu, aku yakin….walau bagaimanapun …ngga ada orang tua


yang rela anaknya diperlakukan seperti ini Ly…” jelasku


“Jujur…figure yang aku inginkan


ada semua di kamu….tapi aku juga itu ga mungkin…..itu kenapa aku terima usulan


papa dan lamaran Dharmawan…..aku mencintaimu Adrian….” Tangis Lily meledak


didadaku, kupeluk erat tubuhnya.


Kubiarkan Lily menumpahkan semua


isi hatinya….resahnya….tanpa kami sadar , sepasang mata mengawasi kami dari


tadi.


“Aku juga mencintaimu Ly…..tapi


semua yang kamu katakana saat meninggalkanku dan putuskan hidup dengan


Dharmawan seluruhnya benar….tapi melihat kamu seperti ini sekarang…aku ikut


merasa sakit….dan yang lebih membuatku sedih…aku tak berdaya…dan ga bisa


lakukan apapun, andai saja aku bisa membawamu dan anak anakmu pergi…” ujarku


Tiba tiba telpon genggam Lily


berbunyi, Lily memperlihatkan layar telponnya kepadaku..”DHARMAWAN”


“Iya Pi…?” ucap Lily berbicara


“Kamu dimana sih Mi..? mau kabur


lu ya?” balas Dharmawan, Lily sengaja menyetel loudspeaker telponnya sehingga


aku dapat mendengar pembicaraannya.


“Ngga Pi….aku sedang antar Nazwa


main kerumah eyang….” Balas Lily dengan nada suara ketakutan


“Segera lu pulang….layani gua…


pelacur….!!!” Bentak Dharmawan seraya menutup telponnya.


Mendengarnya, aku geram…darah


laki laki ku menggelegak….ku kepalkan tanganku


“Setiap hari dia seperi ini


Ly….kamu mengetahui semuanya kapan?” ucapku dengan suara bergetar menahan


amarah


“Seminggu setelah pernikahan


Adrian…” jawab Lily menundukkan kepalanya.


“Adrian….aku harus pulang sekarang…dan


mau jemput Nazwa, kalau tidak….Dharmawan akan lebih kasar lagi nanti….” Ujar


Lily


“Baiklah Ly….saranku…cepat atau


lambat kamu ahrus bicarakan hal ini dengan orang tuamu…dan jika Dharmawan sudah


sangat kelewatan…walau sebenarnya yang dia lakukan sekarang ini sudah


keterlaluan….kamu segera hubungiku…kamu mau aku antar?” balasku sambil sama


sama berdiri dari tempat kami duduk.


“Ngga usah Adrian…aku bawa


kendaraan sendiri….terima kasih mau luangkan waktu bertemu…” ucap Lily sambil


manatapku sendu.


Lily segera berlari kecil

__ADS_1


meninggalkan café, sangat terlihat raut wajahnya yang tertekan dan penuh


ketakutan yang luar biasa. Ah lily….andai saja aku bisa berbuat sesuatu….aku


hanya dapat menghela nafas panjang melihat sosoknya yang berlalu dan lama lama


hilang dari hadapanku.


Aku dikejutkan dengan tepuk


tangan seseorang dibelakangku…


“Hebat…bravo…..ternyata pak


Adrian ini seorang Casanova sejati ya?” ucap seorang wanita sambil bertepuk


tangan . Aku terkejut bukan main….Reyni….si jutek sedang apa disini?


“Hei…Bu Reyni…sedang apa disini?


Kok kebetulan sekali?” ucapku sedikit gugup


“Ga kebetulan juga sih ….di


kantor sedang tidak ada pekerjaan, saat mau keluar area pabrik saya lihat mobil


kamu juga akan keluar….jadi iseng saja saya ikuti …” ucap Reyni santai


“Sial,….iseng amat wanita ini…”


aku mengumpat dalam hati.


“ Kamu bukannya kemarin bilang


sama saya sudah punya Istri dan dua anak? Lalu wanita tadi? Siapa?..” Reyni


mengatakannya sambil menatap tajam ke arahku dan tersenyum sinis.


“Teman….sahabatku…” balasku


menggelak…


“Ohh….teman…saya mendengar semua


percakapan kamu Adrian….baru saya tahu kalo sesama teman ada kata kata AKU


MENCINTAIMU…”lanjut Reyni masih dengan senyum sinisnya.


“Kurang ajar….gawat…ternyata


wanita ini mengikuti sampai didalam café tadi…” gerutuku


“Hmmm….ok…ternyata kamu suka


mendengar percakapan orang lain ya Rey? Fine…wanita tadi mantan pacar


saya….puas ?” ujarku lagi dengan wajah sedikit sewot.


Wanita ini tertawa , seolah


bahagia merasa menang dan merasa aku ada di genggamannya.


“ Tenang Adrian….saya ga akan


campuri kehidupan pribadi mu, apalagi bilang ke orang orang yang kamu


kenal….Cuma ada sedikit permintaan….” Ucap Reyni


“Apa…? Uang…?” tanyaku


“Hahahahaha Adrian….saya bukan


type wanita pemeras, karir dan penghasilan saya juga cukup untuk kehidupan


saya….” Lanjut Reny lagi


“Lalu apa?” tanyaku penasaran


“Kamu bersedia temani


saya…..luangkan waktu untuk saya..kapanpun saya mau….” Ujar Reyni dengan


tatapan tajam dan sekaligus aneh bagiku


“ Maksudmu…? Temani…? Kencan?...”


jawabku


“Yup….ternyata benar dugaan


saya….kamu adalah seorang yang pandai dan sangat mengerti wanita…” balas Reyni


sambil tertawa kecil.


“Gila kamu Rey…..!!...saya sudah


berkeluarga…..kamu juga kan…?” ucapku berusaha menolak


“Ya…saya tahu dan sadar soal


itu…..kamu punya Istri dan anak anak…begitupun saya…punya suami yang sakit


sakitan dan juga dua orang anak….” Balas Reyni santai


Aku kehabisan kata kata dan tidak


athu harus ucapkan kata apa lagi agar bisa menolak permintaan Reyni ini.


“Jadi bagaimana? Kamu terima permintaan


saya? Kalau ga mau ga apa apa juga…Cuma kamu pasti sangat faham soal

__ADS_1


wanita…..mulut seorang wanita bisa berakibat fatal untuk ratusan bahkan ribuan


orang…” Ujar Reyni lagi dengan tatapan sinisnya


__ADS_2