
“Adrian….boleh aku
bertemu?....”Suara Lily di telpon terdengar parau seperti habis menangis.
“Kamu kenapa…?” balasku penuh
tanda tanya
“Nanti aku cerita….kita ketemu di
Cibubur Junction ya?” Ujar Lily
“Baik …jam 15.00 aku sudah
disana…” balasku
Aku tiba di Mall Cibubur Junction
lima belas menit lebih awal, aku langsung masuk kedalam sebuah café tempat dulu
kami biasa bertemu, tempat nya diujung mall, dan tidak terlalu banyak
pengunjung ataupun orang yang hilir mudik berjalan jalan berkeliling mall.
Ku ambil tempat duduk di sudut
café, dan ku pesan secangkir kopi sambil menunggu Lily datang, setengah jam
kemudian kulihat Lily masuk ke dalam café dan melihat sekeliling. Kulambaikan
tanganku dan diapun tersenyum seraya menghampiriku.
“Maaf agak lama….aku antar Nazwa
dulu ke rumah eyang nya sebelum kesini…”
ucap Lily
“It’s ok….ga apa apa kok….”
Jawabku sambil tersenyum
Lily duduk disebelahku, aku
memanggil pelayan café dan bertanya pada Lily
“Kamu mau pesan apa? Sudah
makan?” ucapku
“Minum saja….aku sudah makan….”
Ujar Lily
“Juice Sirsak saja ya mas?” ucap
Lily ramah kepada pelayan laki laki di depan kami.
“Ada apa denganmu?” ujarku seraya
memandang wajah cantik Lily.
“Dharmawan…..dia….” lalu Lily
mulai terisak dan merebahkan kepalanya didadaku
Aku membelai lembut rambutnya, “
Kenapa dengan Dharmawan Ly?” lanjutku
“Dia sering memukulku
Adrian…..dia….dia juga mengidap kelainan seks….aku sering disuruhnya berbuat
yang aneh aneh dan juga disakiti atau paksaan sebelum berhubungan…” Lily
terisak dan air matanya mulai melelh membasahi pipinya. Lily berusaha menghapus
air matanya disaat pelayan datang membawa minuman pesanannya.
“Astaga….kamu sudah ceritakan hal
ini ke papa dan mamamu?” ujarku terkejut ,setelah pelayan itu pergi
Lily menggeleng…”Belum
Adrian….adat keluargaku, seperti apapun suami kita…kita tidak boleh mengeluh
dan harus manut atau menuruti semua
permintaan suami”
“Iya…itu betul…tapi permintaan
seperti apa dulu yang diminta….dan seperti apa sikap suami ke kamu….ga kayak
gini…sakiti kamu dengan kekerasan….KDRT bisa dilaporkan ke polisi Ly…” ucapku
agak sewot.
“Jangan Adrian…..nama baik
keluarga besarku dan juga keluarga besar Dharmawan sebagai orang terpandang
akan rusak…dan pasti ujungnya aku yang akan disalahkan…” imbuh Lily .
“Lalu…? Kamu akan tetap terima
semua perlakuan Dharmawan ke kamu?” tanyaku sedikit emosi, kulihat warna biru
dicelah kerah baju Lily, dengan penuh rasa penasaran…ku tarik sedikit kerah
__ADS_1
bajunya…dan garis biru memanjang sampai kebelakang punggungnya jelas terlihat.
“Ini perbuatan Dharmawan..?”
tanyaku agak keras, hampir saja pelayan dan seluruh pengunjung café mendengar
ucapanku.
Lily mengangguk dan kembali
menangis.
“Aku bingung Adrian….tujuanku
mencari figur seorang ayah bagi Nazwa
dan Robbi,tapi apa iya aku harus seperti ini Adrian…?” lanjut Lily disela
tangisnya
“Niat kamu bagus…..tapi kamu juga
ga seharusnya diperlakukan seperti ini, masih banyak figure ayah yang lebih
baik untuk anak anakmu, dan cepat atau lambat, hal ini harus dibicarakan dengan
papa mama atau keluargamu, aku yakin….walau bagaimanapun …ngga ada orang tua
yang rela anaknya diperlakukan seperti ini Ly…” jelasku
“Jujur…figure yang aku inginkan
ada semua di kamu….tapi aku juga itu ga mungkin…..itu kenapa aku terima usulan
papa dan lamaran Dharmawan…..aku mencintaimu Adrian….” Tangis Lily meledak
didadaku, kupeluk erat tubuhnya.
Kubiarkan Lily menumpahkan semua
isi hatinya….resahnya….tanpa kami sadar , sepasang mata mengawasi kami dari
tadi.
“Aku juga mencintaimu Ly…..tapi
semua yang kamu katakana saat meninggalkanku dan putuskan hidup dengan
Dharmawan seluruhnya benar….tapi melihat kamu seperti ini sekarang…aku ikut
merasa sakit….dan yang lebih membuatku sedih…aku tak berdaya…dan ga bisa
lakukan apapun, andai saja aku bisa membawamu dan anak anakmu pergi…” ujarku
Tiba tiba telpon genggam Lily
berbunyi, Lily memperlihatkan layar telponnya kepadaku..”DHARMAWAN”
“Iya Pi…?” ucap Lily berbicara
“Kamu dimana sih Mi..? mau kabur
lu ya?” balas Dharmawan, Lily sengaja menyetel loudspeaker telponnya sehingga
aku dapat mendengar pembicaraannya.
“Ngga Pi….aku sedang antar Nazwa
main kerumah eyang….” Balas Lily dengan nada suara ketakutan
“Segera lu pulang….layani gua…
pelacur….!!!” Bentak Dharmawan seraya menutup telponnya.
Mendengarnya, aku geram…darah
laki laki ku menggelegak….ku kepalkan tanganku
“Setiap hari dia seperi ini
Ly….kamu mengetahui semuanya kapan?” ucapku dengan suara bergetar menahan
amarah
“Seminggu setelah pernikahan
Adrian…” jawab Lily menundukkan kepalanya.
“Adrian….aku harus pulang sekarang…dan
mau jemput Nazwa, kalau tidak….Dharmawan akan lebih kasar lagi nanti….” Ujar
Lily
“Baiklah Ly….saranku…cepat atau
lambat kamu ahrus bicarakan hal ini dengan orang tuamu…dan jika Dharmawan sudah
sangat kelewatan…walau sebenarnya yang dia lakukan sekarang ini sudah
keterlaluan….kamu segera hubungiku…kamu mau aku antar?” balasku sambil sama
sama berdiri dari tempat kami duduk.
“Ngga usah Adrian…aku bawa
kendaraan sendiri….terima kasih mau luangkan waktu bertemu…” ucap Lily sambil
manatapku sendu.
Lily segera berlari kecil
__ADS_1
meninggalkan café, sangat terlihat raut wajahnya yang tertekan dan penuh
ketakutan yang luar biasa. Ah lily….andai saja aku bisa berbuat sesuatu….aku
hanya dapat menghela nafas panjang melihat sosoknya yang berlalu dan lama lama
hilang dari hadapanku.
Aku dikejutkan dengan tepuk
tangan seseorang dibelakangku…
“Hebat…bravo…..ternyata pak
Adrian ini seorang Casanova sejati ya?” ucap seorang wanita sambil bertepuk
tangan . Aku terkejut bukan main….Reyni….si jutek sedang apa disini?
“Hei…Bu Reyni…sedang apa disini?
Kok kebetulan sekali?” ucapku sedikit gugup
“Ga kebetulan juga sih ….di
kantor sedang tidak ada pekerjaan, saat mau keluar area pabrik saya lihat mobil
kamu juga akan keluar….jadi iseng saja saya ikuti …” ucap Reyni santai
“Sial,….iseng amat wanita ini…”
aku mengumpat dalam hati.
“ Kamu bukannya kemarin bilang
sama saya sudah punya Istri dan dua anak? Lalu wanita tadi? Siapa?..” Reyni
mengatakannya sambil menatap tajam ke arahku dan tersenyum sinis.
“Teman….sahabatku…” balasku
menggelak…
“Ohh….teman…saya mendengar semua
percakapan kamu Adrian….baru saya tahu kalo sesama teman ada kata kata AKU
MENCINTAIMU…”lanjut Reyni masih dengan senyum sinisnya.
“Kurang ajar….gawat…ternyata
wanita ini mengikuti sampai didalam café tadi…” gerutuku
“Hmmm….ok…ternyata kamu suka
mendengar percakapan orang lain ya Rey? Fine…wanita tadi mantan pacar
saya….puas ?” ujarku lagi dengan wajah sedikit sewot.
Wanita ini tertawa , seolah
bahagia merasa menang dan merasa aku ada di genggamannya.
“ Tenang Adrian….saya ga akan
campuri kehidupan pribadi mu, apalagi bilang ke orang orang yang kamu
kenal….Cuma ada sedikit permintaan….” Ucap Reyni
“Apa…? Uang…?” tanyaku
“Hahahahaha Adrian….saya bukan
type wanita pemeras, karir dan penghasilan saya juga cukup untuk kehidupan
saya….” Lanjut Reny lagi
“Lalu apa?” tanyaku penasaran
“Kamu bersedia temani
saya…..luangkan waktu untuk saya..kapanpun saya mau….” Ujar Reyni dengan
tatapan tajam dan sekaligus aneh bagiku
“ Maksudmu…? Temani…? Kencan?...”
jawabku
“Yup….ternyata benar dugaan
saya….kamu adalah seorang yang pandai dan sangat mengerti wanita…” balas Reyni
sambil tertawa kecil.
“Gila kamu Rey…..!!...saya sudah
berkeluarga…..kamu juga kan…?” ucapku berusaha menolak
“Ya…saya tahu dan sadar soal
itu…..kamu punya Istri dan anak anak…begitupun saya…punya suami yang sakit
sakitan dan juga dua orang anak….” Balas Reyni santai
Aku kehabisan kata kata dan tidak
athu harus ucapkan kata apa lagi agar bisa menolak permintaan Reyni ini.
“Jadi bagaimana? Kamu terima permintaan
saya? Kalau ga mau ga apa apa juga…Cuma kamu pasti sangat faham soal
__ADS_1
wanita…..mulut seorang wanita bisa berakibat fatal untuk ratusan bahkan ribuan
orang…” Ujar Reyni lagi dengan tatapan sinisnya