CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
HANYUT DAN TAK SEMESTINYA


__ADS_3

Ku ambil jalur jalan tol untuk


pulang kerumah, karena rumah Bu Lily yang sekarang di tempati adalah berada


diarea Cibubur pinggiran Jakarta, sehiingga rute tersingkat ke rumahku adalah


memang melalui jalan bebas hambatan tersebut. Jalanan begitu lenggang di sabtu


malam itu...sambil menyetir didadaku berkecamuk berbagai macam perasaan. Bu


Lily ….wanita cantik ,lembut dan dikagumi hampir seluruh karyawan dan karywati


perusahaan suaminya, tadi memelukku. Tatapan matanya…ahhh…pasti semua laki laki


yang diperlakukan seperti itu olehnya akan lupa sesaat dengan kehidupan


nyatanya.


Namun segera aku berusaha tepis


semua rasaku dan tidak mau kegeeran dan hanyut, ku katakan dalam hati….Bu Lily  seperti itu karena kondisi hatinya yang sedang


rapuh dan walau bagaimanapun dia seorang wanita yang butuh laki laki untuk


bersandar dan redakan galau dihatinya, aku tidak boleh mengambil kesempatan


dengan apa yang menimpanya. Ucapku dalam hati


Aku bangun agak siang, kurasakan


lumayan pegal disekujur tubuhku, baru terasa setelah kemarin membantu membawa


barang barang pindahan bu Lily, ku dengar dari kamar, celoteh Clara bercanda


dengan kakek dan neneknya, rupanya papa mama Ita sudah datang pagi tadi untuk


menengok kami dan cucunya.


“Ayah sudah bangun? Capek ya..? “


Ucap Ita sambil merapikan kamar


“Iya…lumayan pegel nih Bunda…ada


papa dan mamamu ya?.” Jawabku sambil merenggangkan kaki dan tanganku yang pegal


pegal


“Oh…kamu ga usah masak Bun….kita


makan diluar aja…ajak papa dan mama….aku mandi dulu..” lanjutku lagi sambil


bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi didalam kamar tidurku.


Setelah makan di salah satu mall


yang tak jauh dari tempat tinggalku, kami menemani Clara danCalista yang masih


baru belajar berjalan ke tempat permainan anak anak.  Ku ambil foto dengan kamera telpon genggamku


untuk mengambil momen keceriaan mereka saat bermain mandi bola. Saat kulihat


hasil fotoku, kubaca ada pesan yang masuk. Dari bu Lily


“ADRIAN…TERIMA KASIH SEMUA


BANTUAN DAN PERHATIANMU..


DAN MAAFKAN SOAL SEMALAM JIKA


MENURUTMU AKU BERLEBIHAN..


TAPI HANYA KAMU YANG AKU PERCAYA


BISA RASAKAN DAN TAHU SEMUA KONDISIKU


KARENA AKU SUDAH MENGENALMU CUKUP


LAMA


ENTAH APA JADINYA JIKA GA ADA


KAMU…


JUJUR ….AKU MEMANG BUTUH


KEHADIRANMU UNTUK KUATKANKU”


Kubalas pesan whatsapp Bu Lily :


“ SAYA MENGERTI BU….DAN SAYA AKAN


BERUSAHA SEMAMPU YANG SAYA BISA, HINGGA BADAI IBU BERLALU…”


Diperusahaan tempat bekerjaku


yang baru, waktuku tidak seleluasa seperti saat aku bekerja di perusahaan milik


Pak Hendri dan mungkin juga karena aku masih terhitung karyawan baru ditempat


tersebut, hingga aku masih mengikuti aturan aturan standar yang berlaku.

__ADS_1


Sudah hampir seminggu aku tidak


berkabar dengan Bu Lily via telpon maupun bisa datang mampir kerumah baru nya.


Hari ini pekerjaanku tidak


terlalu banyak, aku berniat sepulang kerja mampir kerumah Bu Lily  untk melihat keadaannya dan juga Nazwa.


Saat aku sedang merencankan


niatku, telpon genggamku berbunyi tanda ada pesan yang masuk


“ADRIAN….NAZWA NANYAIN KAMU….”


Isi pesan Bu Lily


“IYA BU…SAYA MEMANG NIATNYA


MEMANG SORE INI MAU KESANA…NAZWA TAHU AJA…” balas pesanku sambil kuberika emoji


senyum pada pesan Whatsapp-ku


“OH…TERIMA KASIH YA? OK …AKU DAN


NAZWA TUNGGU..” kembali pesan masuk darinya


Kulihat Nazwa berlari


menghampiriku dari dalam rumah saat aku turun dari mobil dan membawa makanan


Pizza untuknya.


“Horeee…Om Adrian datang….ini


Pizza buatku ya om?” celoteh Nazwa dengan mimic wajah lucunya


“Iya….Nazwa suka ga?” jawabku


sambil berjongkok dihadapannya didepan pintu rumah


“Suka banget om….dulu Papi sering


bawain Nazwa…” sahut anak kecil itu lagi dengan polosnya, aku terenyuh


mendengar jawabannya, makanan yang biasanya dia bisa makan setiap waktu, kini


tidak bisa dia temui tiap hari.


Bu Lily  ikut datang menyambutku, ah cantik sekali


wanita ini…dengan kaos dan celana panjang bahannya…serta rambutnya yang


dibiarkan tergerai sebahu…membuat aku sempat termangu dan terpanan beberapa


“Hei….malah bengong…ayo masuk…”


ucap Bu Lily seraya tertawa melihat ekspresi wajahku.


Aku sangat malu saat itu, dan


menjadi salah tingkah.


“Eh iya….” Jawabku sambil ikut


tertawa untuk menghilangkan rasa grogi dan salah tingkahku.


‘Mau minum apa Adrian?” tanya Bu


Lily lembut


“Apa aja bu….” Sahutku sambil


tersenyum melihat Nazwa yang sedang memakan Pizza yang kubawa dengan lahapnya.


Beberapa menit kemudian Bu Lily datang


membawa segelas minuman dingin.


“Maaf saya baru bisa datang


bu…soalnya maklum lah…saya masih terhitung baru diperusahaan yang sekarang…”


ucapku membuka obrolan


“Iya Adrian….aku maklum…..” jawab


Bu Lily, Mendengar ucapannya dengan kata “aku” buat ku sedikit merasa canggung


dan sesaat kembali menjadi salah tingkah.


“Gimana rencana bisnis catering


nya bu?...” ucapku untuk menghilangkan kecanggunganku dan mencoba menguasai


keadaan.


“Aku sudah hubungi beberapa


teman…dan hasilnya bagus…mulai minggu depan mereka minta aku mulai siapkan


catering ke kantor kantor mereka untuk makan siang para staff kantornya” jawab

__ADS_1


Bu Lily


“Oh ya Adrian….usia kamu berapa


sih sekarang…” tiba tiba saja Bu Lily menanyakan usiaku


“32 Tahun bu….kenapa bu? Kalo ibu


ga percaya..sebentar saya ambil KTP saya…” ucapku sambil tertawa dan pura pura


akan mengambil dompet dari saku celanaku.


Ibu Lily  ikut tertawa mendengarnya, aku suka


melihatnya, raut wajah sedih dan seakan menanggung sejuta beban yang kulihat


seminggu lalu, kini seakan sirna tersapu angina dengan tawa renyahnya.


“Usiaku 34 Adrian, kita ga


berbeda jauh,….jangan panggil ibu lagi ya? Kalo dulu kan kamu masih karyawan


bapak…sedangkan kamu sekarang adalah teman dari aku dan bapak….” Ujar Bu Lily lagi.


“Oh baik bu…eh Lily….” Sahutku


seraya tertawa kecil.


“Istri dan anak anakmu sehat


Adrian…?” ucap Lily lagi


“Alhamdulilah sehat Ly….Oh


ya…kuliah  Robbi gimana ?” balasku


“Kuliah Robbi lancar, kalo ga ada


halangan tahun depan dia sudah mulai tahap membuat skripsi…” jelas Lily lagi


Kami mengobrol ngalor ngidul,


juga bercerita jalan hidup masing sejak saat sama sama masih sekolah. Kulihat


Nazwa tertidur dikarpet lantai , mungkin kekenyangan setelah memakan beberapa


pizza yang kubawa tadi.


“Nazwa….biar aku bawa ke kamar


ya?” ucapku sambil menunjuk Nazwa yang tertidur


Aku menggendong Nazwa sambil


mengikuti Lily didepanku, dia rapihkan tempat tidurnya lalu kuletakkan perlahan


anak kecil itu ke kasur agar tidak terbangun.


Aku melangkah keluar kamar dan


dibelakangku Lily menutup pelan pelan pintu kamar Nazwa.


Aku kembali duduk dan meminum


minuman dingin yang tadi disediakan Lily beberapa saat setelah aku datang tadi.


Wanita itu duduk disebelahku .


“Adrian…..” ucapan Lily terhenti


sambil menatapku …seolah ragu untuk lanjutkan kata katanya


“Ya Ly…?” ucapku pelan


“Boleh aku peluk kamu lagi?” ucap


Lily sambil menundukkan kepalanya


Aku tak menjawab, hanya diam dan


menatap wanita cantik ini


Kurengkuh tubuhnya dan kupeluk


tubuh Lily


“Maafkan aku Adrian…..aku tahu


semua kondisinya….tapi aku butuh kamu saat ini….” Ucap Lily  sambil membalas pelukanku dan bersandar


didadaku.


“Iya…aku mengerti…..” hanya itu


yang bisa kukatakan.


Ku pegang dagu wanita berparas


ayu dan cantik ini…kutatap mata indahnya….entah siapa yang memulai…sedetik


kemudian aku sudah mencium lembut bibir tipisnya.

__ADS_1


Untuk sesaat kami hanyut dan


larut dengan getar getar aneh yang tak semestinya kami berdua rasakan.


__ADS_2