
Ku ambil jalur jalan tol untuk
pulang kerumah, karena rumah Bu Lily yang sekarang di tempati adalah berada
diarea Cibubur pinggiran Jakarta, sehiingga rute tersingkat ke rumahku adalah
memang melalui jalan bebas hambatan tersebut. Jalanan begitu lenggang di sabtu
malam itu...sambil menyetir didadaku berkecamuk berbagai macam perasaan. Bu
Lily ….wanita cantik ,lembut dan dikagumi hampir seluruh karyawan dan karywati
perusahaan suaminya, tadi memelukku. Tatapan matanya…ahhh…pasti semua laki laki
yang diperlakukan seperti itu olehnya akan lupa sesaat dengan kehidupan
nyatanya.
Namun segera aku berusaha tepis
semua rasaku dan tidak mau kegeeran dan hanyut, ku katakan dalam hati….Bu Lily seperti itu karena kondisi hatinya yang sedang
rapuh dan walau bagaimanapun dia seorang wanita yang butuh laki laki untuk
bersandar dan redakan galau dihatinya, aku tidak boleh mengambil kesempatan
dengan apa yang menimpanya. Ucapku dalam hati
Aku bangun agak siang, kurasakan
lumayan pegal disekujur tubuhku, baru terasa setelah kemarin membantu membawa
barang barang pindahan bu Lily, ku dengar dari kamar, celoteh Clara bercanda
dengan kakek dan neneknya, rupanya papa mama Ita sudah datang pagi tadi untuk
menengok kami dan cucunya.
“Ayah sudah bangun? Capek ya..? “
Ucap Ita sambil merapikan kamar
“Iya…lumayan pegel nih Bunda…ada
papa dan mamamu ya?.” Jawabku sambil merenggangkan kaki dan tanganku yang pegal
pegal
“Oh…kamu ga usah masak Bun….kita
makan diluar aja…ajak papa dan mama….aku mandi dulu..” lanjutku lagi sambil
bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi didalam kamar tidurku.
Setelah makan di salah satu mall
yang tak jauh dari tempat tinggalku, kami menemani Clara danCalista yang masih
baru belajar berjalan ke tempat permainan anak anak. Ku ambil foto dengan kamera telpon genggamku
untuk mengambil momen keceriaan mereka saat bermain mandi bola. Saat kulihat
hasil fotoku, kubaca ada pesan yang masuk. Dari bu Lily
“ADRIAN…TERIMA KASIH SEMUA
BANTUAN DAN PERHATIANMU..
DAN MAAFKAN SOAL SEMALAM JIKA
MENURUTMU AKU BERLEBIHAN..
TAPI HANYA KAMU YANG AKU PERCAYA
BISA RASAKAN DAN TAHU SEMUA KONDISIKU
KARENA AKU SUDAH MENGENALMU CUKUP
LAMA
ENTAH APA JADINYA JIKA GA ADA
KAMU…
JUJUR ….AKU MEMANG BUTUH
KEHADIRANMU UNTUK KUATKANKU”
Kubalas pesan whatsapp Bu Lily :
“ SAYA MENGERTI BU….DAN SAYA AKAN
BERUSAHA SEMAMPU YANG SAYA BISA, HINGGA BADAI IBU BERLALU…”
Diperusahaan tempat bekerjaku
yang baru, waktuku tidak seleluasa seperti saat aku bekerja di perusahaan milik
Pak Hendri dan mungkin juga karena aku masih terhitung karyawan baru ditempat
tersebut, hingga aku masih mengikuti aturan aturan standar yang berlaku.
__ADS_1
Sudah hampir seminggu aku tidak
berkabar dengan Bu Lily via telpon maupun bisa datang mampir kerumah baru nya.
Hari ini pekerjaanku tidak
terlalu banyak, aku berniat sepulang kerja mampir kerumah Bu Lily untk melihat keadaannya dan juga Nazwa.
Saat aku sedang merencankan
niatku, telpon genggamku berbunyi tanda ada pesan yang masuk
“ADRIAN….NAZWA NANYAIN KAMU….”
Isi pesan Bu Lily
“IYA BU…SAYA MEMANG NIATNYA
MEMANG SORE INI MAU KESANA…NAZWA TAHU AJA…” balas pesanku sambil kuberika emoji
senyum pada pesan Whatsapp-ku
“OH…TERIMA KASIH YA? OK …AKU DAN
NAZWA TUNGGU..” kembali pesan masuk darinya
Kulihat Nazwa berlari
menghampiriku dari dalam rumah saat aku turun dari mobil dan membawa makanan
Pizza untuknya.
“Horeee…Om Adrian datang….ini
Pizza buatku ya om?” celoteh Nazwa dengan mimic wajah lucunya
“Iya….Nazwa suka ga?” jawabku
sambil berjongkok dihadapannya didepan pintu rumah
“Suka banget om….dulu Papi sering
bawain Nazwa…” sahut anak kecil itu lagi dengan polosnya, aku terenyuh
mendengar jawabannya, makanan yang biasanya dia bisa makan setiap waktu, kini
tidak bisa dia temui tiap hari.
Bu Lily ikut datang menyambutku, ah cantik sekali
wanita ini…dengan kaos dan celana panjang bahannya…serta rambutnya yang
dibiarkan tergerai sebahu…membuat aku sempat termangu dan terpanan beberapa
“Hei….malah bengong…ayo masuk…”
ucap Bu Lily seraya tertawa melihat ekspresi wajahku.
Aku sangat malu saat itu, dan
menjadi salah tingkah.
“Eh iya….” Jawabku sambil ikut
tertawa untuk menghilangkan rasa grogi dan salah tingkahku.
‘Mau minum apa Adrian?” tanya Bu
Lily lembut
“Apa aja bu….” Sahutku sambil
tersenyum melihat Nazwa yang sedang memakan Pizza yang kubawa dengan lahapnya.
Beberapa menit kemudian Bu Lily datang
membawa segelas minuman dingin.
“Maaf saya baru bisa datang
bu…soalnya maklum lah…saya masih terhitung baru diperusahaan yang sekarang…”
ucapku membuka obrolan
“Iya Adrian….aku maklum…..” jawab
Bu Lily, Mendengar ucapannya dengan kata “aku” buat ku sedikit merasa canggung
dan sesaat kembali menjadi salah tingkah.
“Gimana rencana bisnis catering
nya bu?...” ucapku untuk menghilangkan kecanggunganku dan mencoba menguasai
keadaan.
“Aku sudah hubungi beberapa
teman…dan hasilnya bagus…mulai minggu depan mereka minta aku mulai siapkan
catering ke kantor kantor mereka untuk makan siang para staff kantornya” jawab
__ADS_1
Bu Lily
“Oh ya Adrian….usia kamu berapa
sih sekarang…” tiba tiba saja Bu Lily menanyakan usiaku
“32 Tahun bu….kenapa bu? Kalo ibu
ga percaya..sebentar saya ambil KTP saya…” ucapku sambil tertawa dan pura pura
akan mengambil dompet dari saku celanaku.
Ibu Lily ikut tertawa mendengarnya, aku suka
melihatnya, raut wajah sedih dan seakan menanggung sejuta beban yang kulihat
seminggu lalu, kini seakan sirna tersapu angina dengan tawa renyahnya.
“Usiaku 34 Adrian, kita ga
berbeda jauh,….jangan panggil ibu lagi ya? Kalo dulu kan kamu masih karyawan
bapak…sedangkan kamu sekarang adalah teman dari aku dan bapak….” Ujar Bu Lily lagi.
“Oh baik bu…eh Lily….” Sahutku
seraya tertawa kecil.
“Istri dan anak anakmu sehat
Adrian…?” ucap Lily lagi
“Alhamdulilah sehat Ly….Oh
ya…kuliah Robbi gimana ?” balasku
“Kuliah Robbi lancar, kalo ga ada
halangan tahun depan dia sudah mulai tahap membuat skripsi…” jelas Lily lagi
Kami mengobrol ngalor ngidul,
juga bercerita jalan hidup masing sejak saat sama sama masih sekolah. Kulihat
Nazwa tertidur dikarpet lantai , mungkin kekenyangan setelah memakan beberapa
pizza yang kubawa tadi.
“Nazwa….biar aku bawa ke kamar
ya?” ucapku sambil menunjuk Nazwa yang tertidur
Aku menggendong Nazwa sambil
mengikuti Lily didepanku, dia rapihkan tempat tidurnya lalu kuletakkan perlahan
anak kecil itu ke kasur agar tidak terbangun.
Aku melangkah keluar kamar dan
dibelakangku Lily menutup pelan pelan pintu kamar Nazwa.
Aku kembali duduk dan meminum
minuman dingin yang tadi disediakan Lily beberapa saat setelah aku datang tadi.
Wanita itu duduk disebelahku .
“Adrian…..” ucapan Lily terhenti
sambil menatapku …seolah ragu untuk lanjutkan kata katanya
“Ya Ly…?” ucapku pelan
“Boleh aku peluk kamu lagi?” ucap
Lily sambil menundukkan kepalanya
Aku tak menjawab, hanya diam dan
menatap wanita cantik ini
Kurengkuh tubuhnya dan kupeluk
tubuh Lily
“Maafkan aku Adrian…..aku tahu
semua kondisinya….tapi aku butuh kamu saat ini….” Ucap Lily sambil membalas pelukanku dan bersandar
didadaku.
“Iya…aku mengerti…..” hanya itu
yang bisa kukatakan.
Ku pegang dagu wanita berparas
ayu dan cantik ini…kutatap mata indahnya….entah siapa yang memulai…sedetik
kemudian aku sudah mencium lembut bibir tipisnya.
__ADS_1
Untuk sesaat kami hanyut dan
larut dengan getar getar aneh yang tak semestinya kami berdua rasakan.