
“Pak Bernard…..Adrian….tolong
kalian atur dengan pihak kurator atau juru sita, penjualan asset asset
perusahaan dan pabrik, Sepertinya pihak pengacara dari Bapak Budi sudah menang
dipengadilan Niaga Jakarta dan diputuskan bahwa perusahaan kita telah “PAILIT”…”
ucap Pak Hendri Direktur perusahaan ku dengan tatapan kosong dan raut wajah
yang teramat terpukul.
“Dan atur semua untuk membayar
gaji dan pesangon para karyawan…” lanjut Pak Hendri lagi
“Baik Pak…” jawab Bernard , aku
hanya terdiam karena aku hormati posisi Pak Bernard sebagai manajer personalia
diperusahaan
“Dan kamu Adrian…walau saya tahu
kondisi akan sulit, tolong sesekali kamu datang kerumah untuk tengok ibu Lily
dan anak anak ya? Saya belum tahu kapan saya akan bebas dan berapa lama saya disini..”
ucap Pak Hendri lagi, karena dia tahu aku sudah ikut belasan tahun dan sudah
sering kerumahnya baik itu urusan kantor mapun urusan pribadi.
“Baik pak….” Ucapku, aku tahu
keadaanku juga akan mengalami kesulitan, tapi aku sudah pernah alami dan rasakan
kondisi dan dibawah…lalu sampai posisi seperti sekarang, dan aku juga masih
bisa mencari pekerjaan lain serta Ita pasti akan mengerti semua hal , karena
dari dulu bagi Ita materi memang penting tapi bukan segalanya. Tapi Istri dan
anak anak pak Hendri? Pasti mereka akan shock dan kaget dengan kondisi yang
tiba tiba berubah drastis, dan pak Hendri tidak dapat berbuat apa-apa karena
harus mendekam dipenjara sementara waktu.
Malam itu kuceritakan semua yang
terjadi dengan perusahaan tempatku bekerja dengan Ita, disaat Clara dan Calista sudah tertidur
nyenyak.
“Gak apa Ayah….semua sudah jalannya seperti itu,
mungkin memang sudah saatnya kamu hijrah dan berganti pekerjaan atau
perusahaan…” ucap Ita
“Iya….aku masih bisa coba melamar
ke perusahaan perusahaan lain, yang penting aku dan manajer yang lain bereskan dulu urusan para pekerja di Pabrik
….Pak Hendri juga minta aku sesekali tengok keluarganya…kasihan…pasti istri dan
anak anaknya kaget dengan kondisi yang berubah cepat dan drastis..” ujarku
“Iya…aku tahu kamu sudah lama
ikut Pak Hendri….sudah pasti dekat dengan keluarganya, ya kamu lakukan pesan
pak Hendry….hingga dia akan tahu…kalo kamu ga ikut dia disaat senang aja…”
lanjut Ita
“Wah…Istriku semakin bijak ya…?
Keren …” ucapku sambil tertawa, Ita tersenyum lucu lalu mencubit pinggangku.
Tiga bulan berlalu,Proses
penjualan asset asset perusahaan dan pabrik berjalan lancar, walau Pak Bernard
sempat kewalahan dengan sebagian pekerja yang membawa spanduk maupun kertas
kertas karton atau pamflet, tapi akhirnya dapat diselesaikan dengan baik
perihal gaji dan pesangon para pekerja.
Aku sudah mendapat panggilan
kerja dari lamaran yang kukirimkan lewat email, sebuah perusahaan perawatan dan
perbaikan pesawat terbang , namun aku minta waktu kurang lebih satu bulan untuk
membereskan segala urusan diperusahaan lama. Aku bersyukur , pengalamanku
selama belasan tahun di bidang shipping , Export dan Import ternyata berguna
dan dibutuhkan banyak perusahaan.
Aku sudah berniat, sepulang dari
kantor dan saling berpamitan dengan seluruh karyawan/karyawati, aku akan
kerumah Pak Hendri melihat keadaan istrinya Ibu Lily, dan kedua anaknya Robbi
dan Nazwa.
Lumayan macet perjalananku ke
rumah Pak Hendri, apalagi sekarang aku mengendarai mobil , dalam kondisi
Jakarta disaat sore, memang lebih enak seperti dahulu…pakai sepeda motorku .
Aku sampai di area perumahan di daerah sekitar Kalibata, kuparkir mobilku
didepan rumah Pak Hendri
Sepi….biasanya jika ada mobil
atau tamu yang datang, salah satu pembantu nya akan tergopoh-gopoh lari keluar,
mungkin dengan keadaan sekarang, Ibu Lily tidak bisa memakai pembantu lagi. Aku
__ADS_1
mengucapkan salam sambil mengetuk pintu pagar dengan kunci mobilku. Tak ada
jawaban dari dalam rumah. Apa mungkin Ibu Lily dan anak anaknya sedang pergi?
Ibu Lily adalah wanita suku jawa
yang cantik,usianya kira kira dua tahun diatasku, masih kepala tiga… tutur
katanya lembut jika berbicara, aku dan para karyawan hormat dan kagum atas
kecantikan, kelembutan dan kebaikannya…..tapi sering juga teman teman kerjaku
berkelakar..”Bu Lily pilih Pak Hendri ..karena apanya ya? Hitam…jelas lebih
tua…..ga ganteng…” …aku suka tersenyum mendengarnya…dan kadang suka menimpali “
karena DIREKTUR nya lah….kalo pilih kalian…walau ganteng…apa dia harus makan
tempe orek lauk warteg yang biasa kalian beli saat makan siang?” celotehku
diiringi tawa teman teman kerjaku.
“Sepertinya bu Lily pergi…..”
gumamku…kuputar balik tubuhku untuk kembali ke mobil, tiba tiba suara anak
kecil seusia Clara memanggilku….”Om Adrian…..tolong mami om…” ternyata suara
Nazwa anak kedua dari bu Lily
Aku segera berlari membuka pintu
pagar dan masuk kedalam rumah mengikuti Nazwa, kulihat Bu Lily sedang berusaha
bangkit dari lantai disamping tempat tidurnya, aku rasa dia terjatuh.
“Ya ampun ibu….kenapa?” ucapku
sambil memegang bahu bu Lily dan membantunya kembali ke tempat tidur, kutumpuk
beberapa bantal sebagai sandaran punggungnya.
“Kepala saya agak pusing
Adrian….tadi niatnya mau ambil minum ke dapur, tapi pandangan saya jadi gelap
dan terjatuh…” ucap bu Lily pelan.
“Nazwa…kamu temani mami ya? Om
Adrian mau ambil minum buat mami ke dapur…” ucapku…anak kecil itu mengangguk.
Kuberikan minuman didalam gelas
pada bu Lily, wajahnya terlihat pucat….
“Robbi kemana Bu…?” tanyaku
“Pulang Kuliah dia langsung
kerumah eyang nya, kampusnya ga jauh
dari situ….hanya sesekali Robbi pulang Adrian….” Balas Bu Lily. Aku cukup
mengerti, dalam keadaan begini , memang lebih baik begitu, menghemat ongkos
“Ibu sudah ke Dokter?” ujarku
lagi
Wanita itu menggeleng
lemah…”Sudah minum obat yang saya beli dari toko didepan …nanti juga sembuh “
jawab bu Lily pelan.
“Ibu sudah berapa lama sakit
kayak gini..?” tanyaku lagi sambil membantu meletakkan gelas minuman di meja
rias kamarnya.
“Baru 3 hari Adrian….” Jawabnya
“Tiga hari sudah lama
bu….sekarang kita ke Dokter terdekat ya? Nazwa…tau jaket mami dimana? Nazwa
tolong ambilin ya?” ucapku kepada Bu Lily dan juga Nazwa.
“Ga usah Adrian…sebentar lagi
juga saya baikan…” ucap Bu Lily lemah.
Aku mengerti, pasti di pikiran bu
Lily sekarang adalah masalah biaya.
“Bu…sudah…kita ke Dokter
sekarang…soal yang lainnya biar urusan saya…” ujarku lembut, dengan bahasa
halus, bahwa aku yang akan menanggung biaya pengobatannya.
“Tekanan darrah tinggi Nyonya
Lily tinggi , mungkin disebabkan terlalu lelah dan stress….saya sarankan untuk
istirahat total dirumah selama beberapa hari…” ucap Dokter kepadaku sambil
menuliskan resep obat obatan yang harus ditebus di Apotik.
“Baik Dok…” jawabku
“Denger ya Bu ? apa kata Dokter…Istirahat….”
Ucapku pada bu Lily yang sedang memakai kembali Jaket hangatnya. Bu Lily hanya
tersenyum sambil menganggukan kepala.
“Terima kasih Adrian….untung ada
kamu yang datang…..sudah jarang yang mau datang kesini sejak Bapak didalam…”
ucap bu Lily setelah kami kembali kerumahnya . Wanita itu berkata sambil
__ADS_1
menatap kosong langit langit kamarnya.
“Bapak sudah bicara ke saya saat
saya jenguk kesana….untuk sesekali lihat
keadaan Ibu dan anak anak…dan kebetulan memang dari pagi saya berniat kesini
setelah saling berpamitan dengan karyawan di pabrik bu….” Ujarku
“Tapi urusan perusahaan dengan
karyawan sudah beres Adrian….?” Ucap Bu Lily
“Sudah bu….setelah 3 bulan, hasl
penjualan asset sudah diberikan pihak kurator, untuk menyelesaikan masalah gaji
dan juga pesangon karyawan…” Jelasku
“Oh Syukurlah…..semuanya sudah
beres..” lanjut bu Lily
“Adrian….saya bisa minta tolong
?” kembali Bu Lily berucap padaku
“Boleh bu….minta tolong apa bu?”
jawabku
“Seminggu lagi rumah ini akan
disita bank, karena dulu Bapak sudah agunkan ke Bank….saya minta tolong untuk
bantu saya atur kepindahan saya dan Nazwa ke rumah yang lebih kecil bisa?” ucap
Bu Lily sambil menatap sendu kearahku.
“Oh baik bu….saya atur nanti….ibu
hubungi saya aja lewat telpon atau whatsapp ya bu?” jawabku sambil tersenyum.
Ada sebersit rasa iba melihat wanita ini….dia yang biasa dengan
kemewahan…bergelimang materi…kalangan terpandang di antara teman teman dan juga
ibu ibu satu komplek, kini harus terbaring sakit, dengan wajah pucat dan beban
berat yang harus dipikulnya.
“Sekali lagi terima kasih
Adrian….kamu tetap perhatian dengan kami , walau perusahaan sudah bubar dan
kondisi bapak yang sedang jatuh…” ucap Bu Lily, matanya berkaca kaca dan tak
kuasa menahan air matanya yang berlinang turun di kedua pipinya.
“Jangan begitu bu….saya ikut
Bapak dan Ibu sejak saya masih muda…sudah belasan tahun…perusahaan bapak sudah
saya anggap sebagai tempat saya menimba ilmu dan keluarga….dan saya juga ga
akan lupa budi baik bapak juga bu ani….” Ujarku smabil memberikan secarik
tissue kepada Bu Lily
“Lalu hidup kamu sendiri
bagaimana..? kamu perhatikan hidup bapak dan saya, tapi bagaimana dengan hidup
kamu Adrian? Kamu juga punya anak istri dirumah…” imbuh bu Lily
“Bu…saya sudah diterima bekerja
di sebuah perusahaan asing perbaikan pesawat terbang….hanya saya minta waktu
hingga urusan di pabrik beres….saya diterima dan dibutuhkan perusahaan lain
karena ilmu yang saya dapat dari perusahaan bapak bu….jadi ibu tidak usah
khawatir mengenai saya, bapak di
dalam….andai nanti bebas seperti saya,
bapak seorang laki-laki…pasti dia juga ga akan tinggal diam seperti saya bu…”
jelasku lagi
Ada wajah lega di wanita itu
mendengar penjelasanku, Bu Lily pun bisa tersenyum…”Oh syukurlah…hebat kamu
Adrian,,,ga salah kalo bapak selalu cerita …kamu itu pintar dan ga mau
menyerah….”
“Ah Bapak terlalu melebih
lebihkan bu….buktinya saya sering kok dulu dulu diomelin bapak kalo kerjanya ga
becus..” ucapku sambil tertawa, Ibu Lily pun kini ikut tertawa kecil bersamaku.
Aku senang bisa mengurangi beban wanita ini.
Aku melirik jam tanganku…sudah
hampir pukul 21.00 malam, jarak ke rumahku cukup lumayan jauh, kuputuskan untuk
berpamitan.
“Bu…saya pulang sekarang ya?
Jangan lupa obatnya diminum dan istirahat ya? Nanti minggu depan saya atur soal
angkut barang dari sini…ibu sudah ada no tlp dan wa saya kan bu?” ucapku
“Iya..Adrian…..terima kasih ya?”
jawabnya lembut.
Akupun berlalu dari rumah bu Lily
__ADS_1
dan melaju pulang dengan mobilku.