CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
UJIAN UNTUK LILY


__ADS_3

“Pak Bernard…..Adrian….tolong


kalian atur dengan pihak kurator atau juru sita, penjualan asset asset


perusahaan dan pabrik, Sepertinya pihak pengacara dari Bapak Budi sudah menang


dipengadilan Niaga Jakarta dan diputuskan bahwa perusahaan kita telah “PAILIT”…”


ucap Pak Hendri Direktur perusahaan ku dengan tatapan kosong dan raut wajah


yang teramat terpukul.


“Dan atur semua untuk membayar


gaji dan pesangon para karyawan…” lanjut Pak Hendri lagi


“Baik Pak…” jawab Bernard , aku


hanya terdiam karena aku hormati posisi Pak Bernard sebagai manajer personalia


diperusahaan


“Dan kamu Adrian…walau saya tahu


kondisi akan sulit, tolong sesekali kamu datang kerumah untuk tengok ibu Lily


dan anak anak ya? Saya belum tahu kapan saya akan bebas dan berapa lama saya disini..”


ucap Pak Hendri lagi, karena dia tahu aku sudah ikut belasan tahun dan sudah


sering kerumahnya baik itu urusan kantor mapun urusan pribadi.


“Baik pak….” Ucapku, aku tahu


keadaanku juga akan mengalami kesulitan, tapi aku sudah pernah alami dan rasakan


kondisi dan dibawah…lalu sampai posisi seperti sekarang, dan aku juga masih


bisa mencari pekerjaan lain serta Ita pasti akan mengerti semua hal , karena


dari dulu bagi Ita materi memang penting tapi bukan segalanya. Tapi Istri dan


anak anak pak Hendri? Pasti mereka akan shock dan kaget dengan kondisi yang


tiba tiba berubah drastis, dan pak Hendri tidak dapat berbuat apa-apa karena


harus mendekam dipenjara sementara waktu.


Malam itu kuceritakan semua yang


terjadi dengan perusahaan tempatku bekerja dengan  Ita, disaat Clara dan Calista sudah tertidur


nyenyak.


“Gak apa  Ayah….semua sudah jalannya seperti itu,


mungkin memang sudah saatnya kamu hijrah dan berganti pekerjaan atau


perusahaan…” ucap Ita


“Iya….aku masih bisa coba melamar


ke perusahaan perusahaan lain, yang penting aku dan manajer yang lain  bereskan dulu urusan para pekerja di Pabrik


….Pak Hendri juga minta aku sesekali tengok keluarganya…kasihan…pasti istri dan


anak anaknya kaget dengan kondisi yang berubah cepat dan drastis..” ujarku


“Iya…aku tahu kamu sudah lama


ikut Pak Hendri….sudah pasti dekat dengan keluarganya, ya kamu lakukan pesan


pak Hendry….hingga dia akan tahu…kalo kamu ga ikut dia disaat senang aja…”


lanjut Ita


“Wah…Istriku semakin bijak ya…?


Keren …” ucapku sambil tertawa, Ita tersenyum lucu lalu mencubit pinggangku.


Tiga bulan berlalu,Proses


penjualan asset asset perusahaan dan pabrik berjalan lancar, walau Pak Bernard


sempat kewalahan dengan sebagian pekerja yang membawa spanduk maupun kertas


kertas karton atau pamflet, tapi akhirnya dapat diselesaikan dengan baik


perihal gaji dan pesangon para pekerja.


Aku sudah mendapat panggilan


kerja dari lamaran yang kukirimkan lewat email, sebuah perusahaan perawatan dan


perbaikan pesawat terbang , namun aku minta waktu kurang lebih satu bulan untuk


membereskan segala urusan diperusahaan lama. Aku bersyukur , pengalamanku


selama belasan tahun di bidang shipping , Export dan Import ternyata berguna


dan dibutuhkan banyak perusahaan.


Aku sudah berniat, sepulang dari


kantor dan saling berpamitan dengan seluruh karyawan/karyawati, aku akan


kerumah Pak Hendri melihat keadaan istrinya Ibu Lily, dan kedua anaknya Robbi


dan Nazwa.


Lumayan macet perjalananku ke


rumah Pak Hendri, apalagi sekarang aku mengendarai mobil , dalam kondisi


Jakarta disaat sore, memang lebih enak seperti dahulu…pakai sepeda motorku .


Aku sampai di area perumahan di daerah sekitar Kalibata, kuparkir mobilku


didepan rumah Pak Hendri


Sepi….biasanya jika ada mobil


atau tamu yang datang, salah satu pembantu nya akan tergopoh-gopoh lari keluar,


mungkin dengan keadaan sekarang, Ibu Lily tidak bisa memakai pembantu lagi. Aku

__ADS_1


mengucapkan salam sambil mengetuk pintu pagar dengan kunci mobilku. Tak ada


jawaban dari dalam rumah. Apa mungkin Ibu Lily dan anak anaknya sedang pergi?


Ibu Lily adalah wanita suku jawa


yang cantik,usianya kira kira dua tahun diatasku, masih kepala tiga… tutur


katanya lembut jika berbicara, aku dan para karyawan hormat dan kagum atas


kecantikan, kelembutan dan kebaikannya…..tapi sering juga teman teman kerjaku


berkelakar..”Bu Lily pilih Pak Hendri ..karena apanya ya? Hitam…jelas lebih


tua…..ga ganteng…” …aku suka tersenyum mendengarnya…dan kadang suka menimpali “


karena DIREKTUR nya lah….kalo pilih kalian…walau ganteng…apa dia harus makan


tempe orek lauk warteg yang biasa kalian beli saat makan siang?” celotehku


diiringi tawa teman teman kerjaku.


“Sepertinya bu Lily pergi…..”


gumamku…kuputar balik tubuhku untuk kembali ke mobil, tiba tiba suara anak


kecil seusia Clara memanggilku….”Om Adrian…..tolong mami om…” ternyata suara


Nazwa anak kedua dari bu Lily


Aku segera berlari membuka pintu


pagar dan masuk kedalam rumah mengikuti Nazwa, kulihat Bu Lily sedang berusaha


bangkit dari lantai disamping tempat tidurnya, aku rasa dia terjatuh.


“Ya ampun ibu….kenapa?” ucapku


sambil memegang bahu bu Lily dan membantunya kembali ke tempat tidur, kutumpuk


beberapa bantal sebagai sandaran punggungnya.


“Kepala saya agak pusing


Adrian….tadi niatnya mau ambil minum ke dapur, tapi pandangan saya jadi gelap


dan terjatuh…” ucap bu Lily pelan.


“Nazwa…kamu temani mami ya? Om


Adrian mau ambil minum buat mami ke dapur…” ucapku…anak kecil itu mengangguk.


Kuberikan minuman didalam gelas


pada bu Lily, wajahnya terlihat pucat….


“Robbi kemana Bu…?” tanyaku


“Pulang Kuliah dia langsung


kerumah  eyang nya, kampusnya ga jauh


dari situ….hanya sesekali Robbi pulang Adrian….” Balas Bu Lily. Aku cukup


mengerti, dalam keadaan begini , memang lebih baik begitu, menghemat ongkos


“Ibu sudah ke Dokter?” ujarku


lagi


Wanita itu menggeleng


lemah…”Sudah minum obat yang saya beli dari toko didepan …nanti juga sembuh “


jawab bu Lily  pelan.


“Ibu sudah berapa lama sakit


kayak gini..?” tanyaku lagi sambil membantu meletakkan gelas minuman di meja


rias kamarnya.


“Baru 3 hari Adrian….” Jawabnya


“Tiga hari sudah lama


bu….sekarang kita ke Dokter terdekat ya? Nazwa…tau jaket mami dimana? Nazwa


tolong ambilin ya?” ucapku kepada Bu Lily dan juga Nazwa.


“Ga usah Adrian…sebentar lagi


juga saya baikan…” ucap Bu Lily lemah.


Aku mengerti, pasti di pikiran bu


Lily sekarang adalah masalah biaya.


“Bu…sudah…kita ke Dokter


sekarang…soal yang lainnya biar urusan saya…” ujarku lembut, dengan bahasa


halus, bahwa aku yang akan menanggung biaya pengobatannya.


“Tekanan darrah tinggi Nyonya


Lily tinggi , mungkin disebabkan terlalu lelah dan stress….saya sarankan untuk


istirahat total dirumah selama beberapa hari…” ucap Dokter kepadaku sambil


menuliskan resep obat obatan yang harus ditebus di Apotik.


“Baik Dok…” jawabku


“Denger ya Bu ? apa kata Dokter…Istirahat….”


Ucapku pada bu Lily yang sedang memakai kembali Jaket hangatnya. Bu Lily hanya


tersenyum sambil menganggukan kepala.


“Terima kasih Adrian….untung ada


kamu yang datang…..sudah jarang yang mau datang kesini sejak Bapak didalam…”


ucap bu Lily setelah kami kembali kerumahnya . Wanita itu berkata sambil

__ADS_1


menatap kosong langit langit kamarnya.


“Bapak sudah bicara ke saya saat


saya jenguk kesana….untuk  sesekali lihat


keadaan Ibu dan anak anak…dan kebetulan memang dari pagi saya berniat kesini


setelah saling berpamitan dengan karyawan di pabrik bu….” Ujarku


“Tapi urusan perusahaan dengan


karyawan sudah beres Adrian….?” Ucap Bu Lily


“Sudah bu….setelah 3 bulan, hasl


penjualan asset sudah diberikan pihak kurator, untuk menyelesaikan masalah gaji


dan juga pesangon karyawan…” Jelasku


“Oh Syukurlah…..semuanya sudah


beres..” lanjut bu Lily


“Adrian….saya bisa minta tolong


?” kembali Bu Lily  berucap padaku


“Boleh bu….minta tolong apa bu?”


jawabku


“Seminggu lagi rumah ini akan


disita bank, karena dulu Bapak sudah agunkan ke Bank….saya minta tolong untuk


bantu saya atur kepindahan saya dan Nazwa ke rumah yang lebih kecil bisa?” ucap


Bu Lily sambil menatap sendu kearahku.


“Oh baik bu….saya atur nanti….ibu


hubungi saya aja lewat telpon atau whatsapp ya bu?” jawabku sambil tersenyum.


Ada sebersit rasa iba melihat wanita ini….dia yang biasa dengan


kemewahan…bergelimang materi…kalangan terpandang di antara teman teman dan juga


ibu ibu satu komplek, kini harus terbaring sakit, dengan wajah pucat dan beban


berat yang harus dipikulnya.


“Sekali lagi terima kasih


Adrian….kamu tetap perhatian dengan kami , walau perusahaan sudah bubar dan


kondisi bapak yang sedang jatuh…” ucap Bu Lily, matanya berkaca kaca dan tak


kuasa menahan air matanya yang berlinang turun di kedua pipinya.


“Jangan begitu bu….saya ikut


Bapak dan Ibu sejak saya masih muda…sudah belasan tahun…perusahaan bapak sudah


saya anggap sebagai tempat saya menimba ilmu dan keluarga….dan saya juga ga


akan lupa budi baik bapak juga bu ani….” Ujarku smabil memberikan secarik


tissue kepada Bu Lily


“Lalu hidup kamu sendiri


bagaimana..? kamu perhatikan hidup bapak dan saya, tapi bagaimana dengan hidup


kamu Adrian? Kamu juga punya anak istri dirumah…” imbuh  bu Lily


“Bu…saya sudah diterima bekerja


di sebuah perusahaan asing perbaikan pesawat terbang….hanya saya minta waktu


hingga urusan di pabrik beres….saya diterima dan dibutuhkan perusahaan lain


karena ilmu yang saya dapat dari perusahaan bapak bu….jadi ibu tidak usah


khawatir mengenai saya,  bapak di


dalam….andai nanti  bebas seperti saya,


bapak seorang laki-laki…pasti dia juga ga akan tinggal diam seperti saya bu…”


jelasku lagi


Ada wajah lega di wanita itu


mendengar penjelasanku, Bu Lily pun bisa tersenyum…”Oh syukurlah…hebat kamu


Adrian,,,ga salah kalo bapak selalu cerita …kamu itu pintar dan ga mau


menyerah….”


“Ah Bapak terlalu melebih


lebihkan bu….buktinya saya sering kok dulu dulu diomelin bapak kalo kerjanya ga


becus..” ucapku sambil tertawa, Ibu Lily pun kini ikut tertawa kecil bersamaku.


Aku senang bisa mengurangi beban wanita ini.


Aku melirik jam tanganku…sudah


hampir pukul 21.00 malam, jarak ke rumahku cukup lumayan jauh, kuputuskan untuk


berpamitan.


“Bu…saya pulang sekarang ya?


Jangan lupa obatnya diminum dan istirahat ya? Nanti minggu depan saya atur soal


angkut barang dari sini…ibu sudah ada no tlp dan wa saya kan bu?” ucapku


“Iya..Adrian…..terima kasih ya?”


jawabnya lembut.


Akupun berlalu dari rumah bu Lily

__ADS_1


dan melaju pulang dengan mobilku.


__ADS_2