
Sesampainya di rumah sakit, kulihat Hendra sedang berdiri di samping pintu UGD, “Bagaimana Papa..?” ujarku.
“Sedang ditangani dokter, didalam ada Mama,Satria dan Asty “ jawab Hendra.
Aku dan Ririn bergegas masuk ke ruang UGD, kulihat papa terbarung tak sadarkan diri, dan pernafasannya dibantu
dengan selang oksigen. Asty adik perempuanku yang bungsu mengusap rambut papa sambil matanya sembab karena menangis. Kulihat dokter baru saja selesai mengambil tindakan dan mengecek kondisi papa.
“Bagaimana ayah saya dok…?”tanyaku
“Ayah saudara terkena serangan stroke ringan dikarenakan kadar gula darah yang tinggi…tapi untunglah segera
dibawa kesini…” jawab dokter itu sambil memegang urat nadi dipergelangan tangan papa.
“Jadi maksud dokter ayah saya Diabetes?” lanjutku lagi.
“Ya…kadar gula ayah saudara diatas 500, tapi kita harus bersyukur, kondisi ketahanan fisik ayah anda cukup
__ADS_1
kuat, kalo yang kondisi fisiknya lemah, tidak akan bertahan saat dibawa kesini…dan ayah anda juga memiliki riwayat hypertensi atau tekanan darah tinggi…namun kali ini hanya gula darah yang tinggi yang menyebabkan stroke ringannya…” balas Dokter itu lagi.
“Kami sudah memberikan suntikan insulin kepada ayah anda…agar kadar gula darahnya kembali stabil atau
normal….nanti setelah stabil baru akan dipindahkan ke ruang rawat inap….” Lanjutnya.
“Oh baik Dok…terima kasih banyak…” ucapku
“Sama-sama …itu sudah kewajiban saya, hanya saja saya berpesan….ini serangan pertama…masih masuk kategori stroke ringan, kami harap jika sudah sembuh, mohon dijaga kondisi ayah saudara,terutama soal makanannya, karena jika tidak dijaga dan terkena serangan stroke yang kedua, akan mengakibatkan sebagaian organ organ tubuhnya tidak berfungsi…” Dokter rumah sakit kembali menjelaskan.
“Ma…asty….dengar tuh ya? Liatin dan kontrol makanan papa dirumah jika sudah sembuh nanti” ucapku kepada mama dan Asty adik perempuanku. Kulihat Ririn tengah mengelus pundak adikku Asty agar jangan bersedih lagi.
Papa harus dirawat beberapa hari dirumah sakit, aku dan Hendra bergantian menunggui papa, karena setiap beberapa jam sekali, kami harus membawa sample darah papa untuk dicek kadar gula darah sewaktunya di laboratorium. Dan karena diruamh sakit tersebut alat alat laboratoriumnya tidak lengkap, maka kami harus membawa sampel darah tersebut ke lab rumah sakit yang lebih besar, dan yang terdekat adalah RS.Pertamina. Tapi jika saat istri Hendra , Tika sedang bertugas jaga atau dinas, kami bisa beristirahat dirumah.
Malam itu giliranku menunggui papa, berangsur angsur kulihat kondisi papa kembali pulih dan segar kembali.
“Mau buah pier pa? tadi Ririn yang bawa saat jenguk tadi sore…” ucapku, papa hanya mengangguk, lalu aku potong buah itu menjadi beberapa bagian kecil agar mudah dikunyah oleh papa.
__ADS_1
“Pa…nanti kalo sembuh…papa jangan bawa taksi dulu ya? Atau papa usaha apa kek dirumah…kalo soal urusan sehari hari dan sekolah satria…asty…biar Adrian yang handle…” ujarku.
“Papa ga mau bebani kamu Adrian….lagi pula papa ga betah kalo hanya harus berdiam diri dirumah” jawab
papa pelan. Papa memang terkenal keras kepala, dan mungkin watak ini lah yang menurun padaku.
“Ya sudah kalo itu mau papa, tapi Adrian izinkan jika sudah benar benar sehat dan tidak boleh terlalu lelah dan
dijaga makannya…” ucapku lagi, aku tersenyum sendiri, karena saat aku sedang dirawat beberapa waktu lalu, akulah orang di ceramahi Ririrn soal hal ini.
10 menit kemudian , papa pun tertidur …aku juga coba pejamkan mata sambil mencoba mengambil posisi yang enak disandaran kursi untuk tidur. Baru beberapa saat mataku terpejam telpon genggamku bergetar tanda ada pesan yang masuk.
“KAMU GA INGIN BERTEMU ANAKMU..?ITA…”
“PAPA SEDANG DIRAWAT DI RS, NANTI JIKA PAPA SUDAH KELUAR RUMAH SAKIT, AKU TEMUI KAMU DAN ANAK KITA” kubalas pesan
dari Ita
__ADS_1