
“Kami tidak bisa menemukan Gunadi
pak….handphone nya juga tidak aktif….kami juga sudah ke kantor Pak Wijaya
partner kita, tapi kata security area perkantoran mereka sudah pindah sebulan
yang lalu karena telah habis masa sewanya…” Ucap beberapa karyawanku
Kukepalkan tanganku mendengarnya,
kutahan emosiku agar tak meledak dan lepas kontrol, kutarik nafasku dalam
dalam, dan kunyalakan rokokku agar aku sedikit tenang.
Pada akhir bulan, aku terpaksa
mengurangi hampir seluruh pegawaiku, yang tersisa hanya Handoko , seperti saat
aku memulai awal usahaku ini. Aku bersyukur para karyawanku sangat mengerti
keadaanku, mereka tidak menuntut banyak selama bekerja padaku dan pada saat
harus meninggalkan perusahaanku.
“Pak…kami tahu kondisi dan
kesulitan Bapak…jujur kami prihatin….kami senang bekerja dengan Pak Adrian,
karena tidak kaku dalam memimpin…..ajarkan kami segala hal yang sebelumnya kami
tidak tahu…ajarkan kami rasa memiliki perusahaan agar mind set kami tidak hanya
sebagai pekerja atau karyawan…..kami sedih harus meninggalkan Bapak, kami tahu
bapak akan mempertahankan kami entah bagaimanpun caranya, tapi kami sadar bapak
juga banyak hal yang harus dibereskan….belum lagi ibu yang sedang sakit….jadi
kami memilih mengundurkan diri dan sementara bekerja di tempat lain…agar beban
perusahaan…beban bapak tidak terlalu besar…tapi nanti jika perusahaan bapak
sudah kembali maju dan besar…jangan lupakan kami ya pak?” ucap salah satu
pegawaiku mewakili rekan rekannya yang berdiri dihadapanku.
Aku cukup terharu mendengar ucapan
para pegawaiku…kutahan bulir air mata disudut mataku agar tak sampai keluar di
depan mereka, berkali kali helaan nafasku terdengar untuk redakan haru dan
sedihku.
“Saya pasti akan panggil
kalian…..saya janji itu…..kalian sudah bantu saya selama ini…maafkan saya belum
bisa memberi lebih dan sejahterkan kalian…..” ucapku dengan suara sedikit
bergetar, mereka masih muda tapi sikap dan cara mereka melebih para orang
dewasa bahkan yang tua , yang kadang malah berpikiran sempit bahkan picik.
“Bunda….kamu keberatan jika kita
harus jual rumah ini? Agar tidak dsita bank dan bisa bereskan sebagian hutang
hutag perusahaan, sisanya kita coba pakai untuk DP rumah berukuran kecil, dan
sementara kita sewa rumah kecil dulu….gimana pendapatmu?” ucapku setelah makan
malam pada Ita
“Ayah….rumah ini dulu kamu yang
beli…lalu kamu ajak aku dan clara, Mamamu dan Asty untuk tinggal disini….kami
sudah bahagia rasakan itu selama beberapa tahun ini, kalau sekarang rumah ini
harus dijual untuk selesaikan masalah kita…masalah perusahaanmu…itu sepenuhnya
hakmu….kami akan ikut apapun langkah yang kamu ambil….dan dalam kondisi ini
biar pengobatan ku cukup di rumah sakit pemerintah saja, karena pemeriksaan
intensif yang selama ini kita lakukan biaya nya lumayan besar…lebih baik kita
simpan untuk ditabung atau tambahan modal usahamu…” ujar Ita lembut sambil
bersandar di dadaku.
“terima kasih bunda….apapun akan
aku lakukan untuk berusaha bangkit lagi dan juga agar kamu bisa mendapat
pengobatan yang terbaik lagi agar segera sembuh total…” ku belai lembut rambut
dan pipi Ita.
Setelah ku pasang Iklan di
Internet, akhirnya ada pembeli suami istri yang berminat membeli, akupun segera melunasi pinjamanku ke Bank untuk
menebus sertifikat rumahku dari DP yang aku terima , dan aku dan Ita serta anak
anak pindh ke rumah kontrakan kecil yang terletak diperkampungan diluar komplek
perumahan yang selama ini kami tempati.
Saat semua barang , Ita dan anak
anak sudah pindah di rumah sewaan, aku tinggal sendirian dirumah lama, mengecek
apakah ada sesuatu yang tertinggal sebelum menguncinya sebelum nantinya aku
berikan pada pihak pembeli saat akan pindah.
Kulihat sekeliling rumah yang
sudah kosong, semua kenangan yang pernah ada dirumah ini sejak saat pertama ku
beli….Ririn….Debby….lalu Ita dan Clara….mama dan Asty….kehadiran Calista …dan
masih banyak lagi kenangan yang kulewati, tak terasa aku menangis….air mataku
meleleh dari dua sudut mataku, aku sudah lewati kerasnya hidup, tapi baru kali
ini aku meneteskan air mata lagi.
Kesedihanku begitu mendalam
…harus kehilangan asset yang kubeli dari uang hasil kerja kerasku selama
bekerja diperusahaan Hendri dan Mr.Jimmy dulu….tapi terlintas sebuah kata kata
bijak yang pernah ku baca di sebuah media sosial….
TAK PERDULI SEBERAPA KERASNYA
KAMU TERJATUH…..YANG TERPENTING SEBERAP KERAS USAHAMU UNTUK BANGUN…BANGKIT DAN
KEMBALI BERLARI…
Ku hapus air mataku, aku berdiiri
__ADS_1
dan melangkah keluar rumah dan mengunci rumah dengan sejuta kenangan yang
kumiliki, aku harus buka jilid baru buku hidupku…Alm papa selalu tanamkan rasa
optimis dan percaya diri akan kemampuan yang kita miliki pada anak anaknya,
terutama aku…sebagai anak tertua..
Aku , Ita dan anak anak mulai
membiasakan diri hidup dirumah yang lebih kecil
Aku memulai kembali usahaku dari
nol dengan dibantu Handoko, akupun ikut turun ke lapangan untuk urusan
pengirman, pernah Handoko berkata padaku
“Bos…ga malu ikut angkat angkat
barang seperti ini…?” ucapnya melihat keringat yang keluar dari kening dan
leherku
Aku hanya tersenyum dan
menjawab…” Ko…pekerjaan kita ini halal….bukan menipu apalagi mencuri…buat apa
malu? Gengsi? Ga perlu Ko….hidup ini bagai jarum jam di dinding, berdetak tiap
detik ,menit dan jam….ada saatnya jarum itu berada dibawah tapi seiring waktu
jarum itu akan kembali keatas dan seterusnya….lagian anggap saja hitung hitung
olah raga…jadi sehat kan?”
“ADRIAN….INI IBU…..ITA
PINGSAN….DARI TADI TAK SADARKAN DIRI…KAMU BISA PULANG…?” ibu mertuaku
menleponku dengan suara panik, saat itu aku baru saja tiba diruko dengan
Handoko selesai mengambil beberapa barang dari tempat customer kami.
“BA…BAIK BU….ADRIAN SEGERA KE
RUMAH….”…..jawabku cepat
“KO…TURUNIN BARANG YUK DAN TEMANI
SAYA KERUMAH YA? SAYA MAU BAWA IBU KE RUMAH SAKIT…” lanjutku pada Handoko
“BAIK PAK….” Jawab Handoko
singkat dan dengan sigap langsung menurunkan barang barang dari mobil.
“Bagaimana keadaan Istri saya
Dok? “ ucapku kepada Dokter rumah sakit milik pemerintah daerah diruangan UGD,
Ita masih dalam keadaan tak sadarkan diri sampai saat ini.
“Sudah berapa lama Istri bapak
menderita Kelenjar Torid ini sejak serangan pertama dulu…?” jawab dokter itu
dengan pertanyaan kepadaku
“Sudah cukup lama Dok…mungkin
sekitar dua tahun, setelah itu rutin intensif medical check up setaip
minggunya…” jawabku
“Dan sudah berapa lama Ibu Ita
“Kira kira 3 – 4 bulan
Dok….sebenarnya bagaimana keadaan istri saya Dok?” ujarku penuh rasa penasaran
dengan semua pertanyaan Dokter muda itu.
‘Kelenjar Tiroid Istri Bapak
sudah menjalar kemana mana dan dari yang tadinya jinak sekarang levelnya
menjadi ganas, hampir sama dengan kanker….” Jelas Dokter itu
Tubuhku gemetar
mendengarnya….kedua lututku terasa lemas dan tubuhku nyaris limbung dan pandanganku sekjap terasa gelap,
untunglah ada Handoko yang memegang tubuhku , Ibu mertuaku menangis mendengar
keterangan Dokter. Untunglah anak anakku bersama Veronica adik iparku dirumah.
“Lalu solusi serta jalan
keluarnya bagaimana Dok…? “ ucapku mencoba kendalikan segala yang berkecamuk di
dadaku
“Seharusnya Istri Bapak di
operasi sejak lama, memang saya harus akui…biaya operasi tersebut sangat mahal
dan tidak semua rumah sakit bisa …hanya rumah sakit tertentu…bahkan banyak
pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit di Singapore …walaupun itu juga tidak
bisa menjamin 100% kesembuhan dan operasi itu akan berhasil….mungkin bapak
sudah pernah tahu penyakit selebriti Olga kan?” ujar Dokter itu lagi.
Dalam keadaan seperti
ini….simpanan uangkupun sisa dari penjualan rumah yang aku dan Ita rencanakan
untuk DP rumah pun ga akan cukup untuk membiayai pengobatan atau operasi yang
di katakana Dokter tadi.
“ Jujur Dok…untuk operasi apalagi
sampai berobat keluar negeri…finansial saya saat ini tidak memungkinkan ….tapi
jika Dokter diposisi saya…pasti ingin istrinya sembuh dengan cara apapun….”
Ucapku pelan dan ada sedikit nada keputusasaan.
“Pak Adrian….dunia medis hanya
jembatan ikhtiar manusia untuk sembuh….tapi semua juga tergantung oleh Tuhan
pak…Dia lah penyembuh yang sesungguhnya…..kita sebagai manusia hanya bisa berikhtiar…berusaha semaximal mungkin….sambil
berdoa….semua ga ada yang mustahil …jika Tuhan menginginkan pak…” ujar Dokte
ritu bijak
Ucapan dan perkataan Dokter muda
itu bagai tamparan dan petir yang menyambarku, begitu jauh aku selama ini
dengan Sang Pencipta….aku terlalu asik dan fokus dengan urusan duniawi dan
__ADS_1
ambisi memperbesar usahaku, tanpa sadar dan ingat kalau semua itu bisa di bolak
balik kan dalam sekejap oleh Dia yang mengatur skenario hidup ini.
“Kami mengerti kondisi
bapak….kami akan berusaha semaximal mungkin apa yang kami bisa untuk kesembuhan
Istri bapak….” Dokte ritu kembali berkata untuk menenangkanku
“Baik Dok….saya percaya Dokter
akan lakukan yang terbaik…saya ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya….”
Ucapku smabil menjabat tangan Dokter itu dan keluar dari ruangannya.
“Ko…kamu pulang saja…sudah
malam….besok kamu ke ruko dan atur barang barang yang kemarin kita mabil ya?
Buat dokumen nya satu satu berdasarkan daerah tujuannya ya?” Ujarku
“Baik Pak….yang sabar ya pak…saya
pamit dulu” ucap Handoko lalu berlalu dari hadapanku.
“Kamu naik apa pulangnya Ko…?”
tanyaku , aku baru tersadar kalau anak itu tadi dari kantor naik mobil
bersamaku kerumah untuk membawa Ita ke rumah sakit.
“Gampang Pak…saya bisa naik ojek
dan ambil motor saya di kantor…tenang aja pak kalo soial saya…yang penting
sekarang ibu pak….” Ujar Handoko lagi
“Terima kasih Ko…” Handoko pun
berlalu keluar UGD dan rumah sakit.
Semalaman aku menunggui Ita…dia
masih tetap tak sadarkan diri, tak ada tanda tanda dia akan siuman, saat
Veronica adik iparku datang dan bergantian menjaganya, aku berjalan di lorong
rumah sakit yang sepi, ku lihat saat itu jam 3.00 pagi, kucari mushola rumah
sakit, ku basuh tubuhku dengan wudhu dan dikeheningan malam yang beranjak
pagi….ku bersujud dan memohon….aku akui semua ego dan khilaf….aku sadari semua
lupa….aku panjatkan semua doa…..aku gumamkan semua pinta….
Namun pagi itu aku dapat semua
jawaban…..pagi itu aku tahu semua keinginan Tuhan….
Veronica berlari menuju mushola
dan kulihat wajah sedihnya dengan nafasnya yang masih terengah engah…
“Kak Adrian….Ka Ita……..sudah…..”
Veronica tak mampu lanjutkan kata katanya , isak tangisnya terdengar di setiap
lorong rumah sakit yang sepi….
Aku tak berucap….ku pakai
sepatuku dan berlari …Kulihat adik adiknya dan papa mamanya serta Clara dan
Calista disekeliling tubuh kaku Ita….perawat sedang mencabut selang oksigen dan
juga alat alat yang terpasang pada tubuh Ita.
Ku hanpiri Ita….lagi lagi aku
harus menahan sekuat tenaga air mataku, agar tetap tegar seperti saat kepergian
Debby dan Papa dulu….Ita terlihat seperti tertidur pulas….ku kecup
keningnya….dan kubisikkan ditelinganya…
“Maafkan aku selama ini belum
bisa bahagiakan kamu….sekarang kamu sudah ga sakit lagi…Bunda istirahat
ya?....aku janji akan berjuang dan berusaha keras agar anak anak hidup bahagia
nanti….sebagai penebusan bahagia yang kamu belum dapat kan selama ini….”
Tak ada pesan yang terucap…..tak
ada kata perpisahan untukku bersiap….
Hari ini aku kehilangan wanita
tersabar yang pernah ku kenal…wanita yang tidak pernah pikirkan dirinya sendiri
selain kebahagiaanku dan anak anakku….wanita setia yang selalu temaniku dalam
keadaan apapun
SELAMAT JALAN BELAHAN JIWA
Sering ku acuhkan tulus dan sabarmu….
Sering ku terlupa setiamu juga kelembutanmu
Tak terhitung kusakiti hatimu
Tak terhingga sabar dan ikhlasmu
Cinta tak pernah terucap di bibirmu
Tapi aku tahu semua hati kau curahkan untukku
Cinta tak pernah berpaling dari hatimu
Walau aku tahu berjuta salahku
Kini tak ada lagi angin sejuk yang hembuskan tubuhku dikala penat
Kini tak kudengar lagi tawa dan senyummu yang redakan semua resahku
Selamat jalan kekasih hidupku
Selamat jalan belahan jiwaku
Ku tatap pusara tanah merah
bertabur bunga….seraya kupeluk Clara dan Calista….
“Ini rumah baru bunda…..nanti
kita akan sering tengok bunda kesini ya?” bisikku pada Clara dan Calista
Langit tampak mendung siang
itu….kulangkah kan kaki meninggalkan area pemakaman….
“Akankah aku sanggup lewati hari
__ADS_1
tanpamu Ta..?” batinku