CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
BELAHAN JIWA


__ADS_3

“Kami tidak bisa menemukan Gunadi


pak….handphone nya juga tidak aktif….kami juga sudah ke kantor Pak Wijaya


partner kita, tapi kata security area perkantoran mereka sudah pindah sebulan


yang lalu karena telah habis masa sewanya…” Ucap beberapa karyawanku


Kukepalkan tanganku mendengarnya,


kutahan emosiku agar tak meledak dan lepas kontrol, kutarik nafasku dalam


dalam, dan kunyalakan rokokku agar aku sedikit tenang.


Pada akhir bulan, aku terpaksa


mengurangi hampir seluruh pegawaiku, yang tersisa hanya Handoko , seperti saat


aku memulai awal usahaku ini. Aku bersyukur para karyawanku sangat mengerti


keadaanku, mereka tidak menuntut banyak selama bekerja padaku dan pada saat


harus meninggalkan perusahaanku.


“Pak…kami tahu kondisi dan


kesulitan Bapak…jujur kami prihatin….kami senang bekerja dengan Pak Adrian,


karena tidak kaku dalam memimpin…..ajarkan kami segala hal yang sebelumnya kami


tidak tahu…ajarkan kami rasa memiliki perusahaan agar mind set kami tidak hanya


sebagai pekerja atau karyawan…..kami sedih harus meninggalkan Bapak, kami tahu


bapak akan mempertahankan kami entah bagaimanpun caranya, tapi kami sadar bapak


juga banyak hal yang harus dibereskan….belum lagi ibu yang sedang sakit….jadi


kami memilih mengundurkan diri dan sementara bekerja di tempat lain…agar beban


perusahaan…beban bapak tidak terlalu besar…tapi nanti jika perusahaan bapak


sudah kembali maju dan besar…jangan lupakan kami ya pak?” ucap salah satu


pegawaiku mewakili rekan rekannya yang berdiri dihadapanku.


Aku cukup terharu mendengar ucapan


para pegawaiku…kutahan bulir air mata disudut mataku agar tak sampai keluar di


depan mereka, berkali kali helaan nafasku terdengar untuk redakan haru dan


sedihku.


“Saya pasti akan panggil


kalian…..saya janji itu…..kalian sudah bantu saya selama ini…maafkan saya belum


bisa memberi lebih dan sejahterkan kalian…..” ucapku dengan suara sedikit


bergetar, mereka masih muda tapi sikap dan cara mereka melebih para orang


dewasa bahkan yang tua , yang kadang malah berpikiran sempit bahkan picik.


“Bunda….kamu keberatan jika kita


harus jual rumah ini? Agar tidak dsita bank dan bisa bereskan sebagian hutang


hutag perusahaan, sisanya kita coba pakai untuk DP rumah berukuran kecil, dan


sementara kita sewa rumah kecil dulu….gimana pendapatmu?” ucapku setelah makan


malam pada Ita


“Ayah….rumah ini dulu kamu yang


beli…lalu kamu ajak aku dan clara, Mamamu dan Asty untuk tinggal disini….kami


sudah bahagia rasakan itu selama beberapa tahun ini, kalau sekarang rumah ini


harus dijual untuk selesaikan masalah kita…masalah perusahaanmu…itu sepenuhnya


hakmu….kami akan ikut apapun langkah yang kamu ambil….dan dalam kondisi ini


biar pengobatan ku cukup di rumah sakit pemerintah saja, karena pemeriksaan


intensif yang selama ini kita lakukan biaya nya lumayan besar…lebih baik kita


simpan untuk ditabung atau tambahan modal usahamu…” ujar Ita lembut sambil


bersandar di dadaku.


“terima kasih bunda….apapun akan


aku lakukan untuk berusaha bangkit lagi dan juga agar kamu bisa mendapat


pengobatan yang terbaik lagi agar segera sembuh total…” ku belai lembut rambut


dan pipi Ita.


Setelah ku pasang Iklan di


Internet, akhirnya ada pembeli suami istri yang  berminat membeli, akupun segera melunasi pinjamanku ke Bank untuk


menebus sertifikat rumahku dari DP yang aku terima , dan aku dan Ita serta anak


anak pindh ke rumah kontrakan kecil yang terletak diperkampungan diluar komplek


perumahan yang selama ini kami tempati.


Saat semua barang , Ita dan anak


anak sudah pindah di rumah sewaan, aku tinggal sendirian dirumah lama, mengecek


apakah ada sesuatu yang tertinggal sebelum menguncinya sebelum nantinya aku


berikan pada pihak pembeli saat akan pindah.


Kulihat sekeliling rumah yang


sudah kosong, semua kenangan yang pernah ada dirumah ini sejak saat pertama ku


beli….Ririn….Debby….lalu Ita dan Clara….mama dan Asty….kehadiran Calista …dan


masih banyak lagi kenangan yang kulewati, tak terasa aku menangis….air mataku


meleleh dari dua sudut mataku, aku sudah lewati kerasnya hidup, tapi baru kali


ini aku meneteskan air mata lagi.


Kesedihanku begitu mendalam


…harus kehilangan asset yang kubeli dari uang hasil kerja kerasku selama


bekerja diperusahaan Hendri dan Mr.Jimmy dulu….tapi terlintas sebuah kata kata


bijak yang pernah ku baca di sebuah media sosial….


TAK PERDULI  SEBERAPA KERASNYA


KAMU TERJATUH…..YANG TERPENTING SEBERAP KERAS USAHAMU UNTUK BANGUN…BANGKIT DAN


KEMBALI BERLARI…


Ku hapus air mataku, aku berdiiri

__ADS_1


dan melangkah keluar rumah dan mengunci rumah dengan sejuta kenangan yang


kumiliki, aku harus buka jilid baru buku hidupku…Alm papa selalu tanamkan rasa


optimis dan percaya diri akan kemampuan yang kita miliki pada anak anaknya,


terutama aku…sebagai anak tertua..


Aku , Ita dan anak anak mulai


membiasakan diri hidup dirumah yang lebih kecil


Aku memulai kembali usahaku dari


nol dengan dibantu Handoko, akupun ikut turun ke lapangan untuk urusan


pengirman, pernah Handoko berkata padaku


“Bos…ga malu ikut angkat angkat


barang seperti ini…?” ucapnya melihat keringat yang keluar dari kening dan


leherku


Aku hanya tersenyum dan


menjawab…” Ko…pekerjaan kita ini halal….bukan menipu apalagi mencuri…buat apa


malu? Gengsi? Ga perlu Ko….hidup ini bagai jarum jam di dinding, berdetak tiap


detik ,menit dan jam….ada saatnya jarum itu berada dibawah tapi seiring waktu


jarum itu akan kembali keatas dan seterusnya….lagian anggap saja hitung hitung


olah raga…jadi sehat kan?”


“ADRIAN….INI IBU…..ITA


PINGSAN….DARI TADI TAK SADARKAN DIRI…KAMU BISA PULANG…?” ibu mertuaku


menleponku dengan suara panik, saat itu aku baru saja tiba diruko dengan


Handoko selesai mengambil beberapa barang dari tempat customer kami.


“BA…BAIK BU….ADRIAN SEGERA KE


RUMAH….”…..jawabku cepat


“KO…TURUNIN BARANG YUK DAN TEMANI


SAYA KERUMAH YA? SAYA MAU BAWA IBU KE RUMAH SAKIT…” lanjutku pada Handoko


“BAIK PAK….” Jawab Handoko


singkat dan dengan sigap langsung menurunkan barang barang dari mobil.


“Bagaimana keadaan Istri saya


Dok? “ ucapku kepada Dokter rumah sakit milik pemerintah daerah diruangan UGD,


Ita masih dalam keadaan tak sadarkan diri sampai saat ini.


“Sudah berapa lama Istri bapak


menderita Kelenjar Torid ini sejak serangan pertama dulu…?” jawab dokter itu


dengan pertanyaan kepadaku


“Sudah cukup lama Dok…mungkin


sekitar dua tahun, setelah itu rutin intensif medical check up setaip


minggunya…” jawabku


“Dan sudah berapa lama Ibu Ita


“Kira kira 3 – 4 bulan


Dok….sebenarnya bagaimana keadaan istri saya Dok?” ujarku penuh rasa penasaran


dengan semua pertanyaan Dokter muda itu.


‘Kelenjar Tiroid Istri Bapak


sudah menjalar kemana mana dan dari yang tadinya jinak sekarang levelnya


menjadi ganas, hampir sama dengan kanker….” Jelas Dokter itu


Tubuhku gemetar


mendengarnya….kedua lututku terasa lemas  dan tubuhku nyaris limbung dan pandanganku sekjap terasa gelap,


untunglah ada Handoko yang memegang tubuhku , Ibu mertuaku menangis mendengar


keterangan Dokter. Untunglah anak anakku bersama Veronica adik iparku dirumah.


“Lalu solusi serta jalan


keluarnya bagaimana Dok…? “ ucapku mencoba kendalikan segala yang berkecamuk di


dadaku


“Seharusnya Istri Bapak di


operasi sejak lama, memang saya harus akui…biaya operasi tersebut sangat mahal


dan tidak semua rumah sakit bisa …hanya rumah sakit tertentu…bahkan banyak


pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit di Singapore …walaupun itu juga tidak


bisa menjamin 100% kesembuhan dan operasi itu akan berhasil….mungkin bapak


sudah pernah tahu penyakit selebriti Olga kan?” ujar Dokter itu lagi.


Dalam keadaan seperti


ini….simpanan uangkupun sisa dari penjualan rumah yang aku dan Ita rencanakan


untuk DP rumah pun ga akan cukup untuk membiayai pengobatan atau operasi yang


di katakana Dokter tadi.


“ Jujur Dok…untuk operasi apalagi


sampai berobat keluar negeri…finansial saya saat ini tidak memungkinkan ….tapi


jika Dokter diposisi saya…pasti ingin istrinya sembuh dengan cara apapun….”


Ucapku pelan dan ada sedikit nada keputusasaan.


“Pak Adrian….dunia medis hanya


jembatan ikhtiar manusia untuk sembuh….tapi semua juga tergantung oleh Tuhan


pak…Dia lah penyembuh yang sesungguhnya…..kita sebagai manusia  hanya bisa berikhtiar…berusaha semaximal mungkin….sambil


berdoa….semua ga ada yang mustahil …jika Tuhan menginginkan pak…” ujar Dokte


ritu bijak


Ucapan dan perkataan Dokter muda


itu bagai tamparan dan petir yang menyambarku, begitu jauh aku selama ini


dengan Sang Pencipta….aku terlalu asik dan fokus dengan urusan duniawi dan

__ADS_1


ambisi memperbesar usahaku, tanpa sadar dan ingat kalau semua itu bisa di bolak


balik kan dalam sekejap oleh Dia yang mengatur skenario  hidup ini.


“Kami mengerti kondisi


bapak….kami akan berusaha semaximal mungkin apa yang kami bisa untuk kesembuhan


Istri bapak….” Dokte ritu kembali berkata untuk menenangkanku


“Baik Dok….saya percaya Dokter


akan lakukan yang terbaik…saya ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya….”


Ucapku smabil menjabat tangan Dokter itu dan keluar dari ruangannya.


“Ko…kamu pulang saja…sudah


malam….besok kamu ke ruko dan atur barang barang yang kemarin kita mabil ya?


Buat dokumen nya satu satu berdasarkan daerah tujuannya ya?” Ujarku


“Baik Pak….yang sabar ya pak…saya


pamit dulu” ucap Handoko lalu berlalu dari hadapanku.


“Kamu naik apa pulangnya Ko…?”


tanyaku , aku baru tersadar kalau anak itu tadi dari kantor naik mobil


bersamaku kerumah untuk membawa Ita ke rumah sakit.


“Gampang Pak…saya bisa naik ojek


dan ambil motor saya di kantor…tenang aja pak kalo soial saya…yang penting


sekarang ibu pak….” Ujar Handoko lagi


“Terima kasih Ko…” Handoko pun


berlalu keluar UGD dan rumah sakit.


Semalaman aku menunggui Ita…dia


masih tetap tak sadarkan diri, tak ada tanda tanda dia akan siuman, saat


Veronica adik iparku datang dan bergantian menjaganya, aku berjalan di lorong


rumah sakit yang sepi, ku lihat saat itu jam 3.00 pagi, kucari mushola rumah


sakit, ku basuh tubuhku dengan wudhu dan dikeheningan malam yang beranjak


pagi….ku bersujud dan memohon….aku akui semua ego dan khilaf….aku sadari semua


lupa….aku panjatkan semua doa…..aku gumamkan semua pinta….


Namun pagi itu aku dapat semua


jawaban…..pagi itu aku tahu semua keinginan Tuhan….


Veronica berlari menuju mushola


dan kulihat wajah sedihnya dengan nafasnya yang masih terengah engah…


“Kak Adrian….Ka Ita……..sudah…..”


Veronica tak mampu lanjutkan kata katanya , isak tangisnya terdengar di setiap


lorong rumah sakit yang sepi….


Aku tak berucap….ku pakai


sepatuku dan berlari …Kulihat adik adiknya dan papa mamanya serta Clara dan


Calista disekeliling tubuh kaku Ita….perawat sedang mencabut selang oksigen dan


juga alat alat yang terpasang pada tubuh Ita.


Ku hanpiri Ita….lagi lagi aku


harus menahan sekuat tenaga air mataku, agar tetap tegar seperti saat kepergian


Debby dan Papa dulu….Ita terlihat seperti tertidur pulas….ku kecup


keningnya….dan kubisikkan ditelinganya…


“Maafkan aku selama ini belum


bisa bahagiakan kamu….sekarang kamu sudah ga sakit lagi…Bunda istirahat


ya?....aku janji akan berjuang dan berusaha keras agar anak anak hidup bahagia


nanti….sebagai penebusan bahagia yang kamu belum dapat kan selama ini….”


Tak ada pesan yang terucap…..tak


ada kata perpisahan untukku bersiap….


Hari ini aku kehilangan wanita


tersabar yang pernah ku kenal…wanita yang tidak pernah pikirkan dirinya sendiri


selain kebahagiaanku dan anak anakku….wanita setia yang selalu temaniku dalam


keadaan apapun


SELAMAT JALAN BELAHAN JIWA


Sering ku acuhkan tulus dan sabarmu….


Sering ku terlupa setiamu juga kelembutanmu


Tak terhitung kusakiti hatimu


Tak terhingga sabar dan ikhlasmu


Cinta tak pernah terucap di bibirmu


Tapi aku tahu semua hati kau curahkan untukku


Cinta tak pernah berpaling dari hatimu


Walau aku tahu berjuta salahku


Kini tak ada lagi angin sejuk yang hembuskan tubuhku dikala penat


Kini tak kudengar lagi tawa dan senyummu yang redakan semua resahku


Selamat jalan kekasih hidupku


Selamat jalan belahan jiwaku


Ku tatap pusara tanah merah


bertabur bunga….seraya kupeluk Clara dan Calista….


“Ini rumah baru bunda…..nanti


kita akan sering tengok bunda kesini ya?” bisikku pada Clara dan Calista


Langit tampak mendung siang


itu….kulangkah kan kaki meninggalkan area pemakaman….


“Akankah aku sanggup lewati hari

__ADS_1


tanpamu Ta..?” batinku


__ADS_2