CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
Episode 26


__ADS_3

“Kita sudah dekat lebih dari setahun Rin…kini kamu tahu keseriusan hatiku…selama ini aku coba mengerti


posisiku dan belum berani untuk datang langsung kerumah dan bertemu papa mamamu…tapi aku sadar …cepat atau lambat….aku harus lakukan itu Rin….” Ucapku.


“Iya Adrian…biar aku bicara pelan pelan dengan papa mama ya? “ jawab Ririn               sambil bergelayut manja dilenganku.


“Lu kayaknya makin serius ya dengan Ririn ?” Tanya Hendra adikku siang itu diruang keluarga  sambil menonton siaran olah raga di televisi


“Iyalah…masa gw main main sama wanita polos dan baik seperti Ririn?” jawabku sambil menghirup


kopi yang kubuat


“Saya dekat dengan keluarga Ririn Kak….saran Tika , Kak Adrian ga perlu nunggu dari Ririn untuk datang kerumah dan perkenalkan diri ke orang tuanya…kelamaan kak…” ucap Tika adik iparku, ikut nimbrung dengan obrolan ku dengan Hendra.


“Iya…nanti kakak kesana saat ada momen yang tepat….kalo tahu tahu nyelonong kesana, ga


enak rasanya..” balasku


Seminggu kemudian, kudengar kabar dari Tika adik iparku kalau hari sabtu besok ada acara syukuran atas selesainya kuliah Ririn, ya Ririn memang kuliah sambil bekerja ,dua sampai tiga kali dalam seminggu tergantung mata kuliah yang dia ambil. Aku pikir ini momen yang tepat buatku untuk datang kerumahnya dan mengenal


keluarganya.

__ADS_1


Kubeli beberapa makanan ringan dan kue, sebelum aku melaju dengan sepeda motorku kerumah Ririn.


Dalam perjalanan jantungku berdegup ga karuan. “Ini  kok aku jadi kayak anak remaja yang pertama kali mau datang kerumah pacarnya ya?” aku tertawakan diriku saat itu.


Kulihat halaman rumah Ririn agak ramai dengan anak anak kecil yang berlarian dan juga beberapa


wanita dan laki laki paruh baya duduk duduk di teras rumah, hampir saja aku urungkan niatku dan ku putar balik tubuhku untuk kembali pulang…kalau saja seorang anak memanggilku dengan suara keras “Om mau cari siapa?????”


Aku membungkuk dan memegang pundak anak itu…”Mmmm…Tante Ririn nya ada?” tanyaku smabil


tersenyum ramah.


Kusalami satu persatu wanita dan laki laki paruh baya yang ada disitu, entah siapa….aku belum mengenalnya, ah paling paman atau bibi dari keluarga besarmya. Di pojok teras juga kulihat seorang laki laki muda , aku seperti pernah melihat wajah laki laki itu. Kucoba mengingat ingat…Ohhh iya…laki laki itu temannya Ririn, waktu itu dia yang mengantar Ririn ke Bandara . Ya aku lihat sekilas saat menjemput Ririn untuk pulang di lobi terminal bandara. Kuhampiri dan kusalami juga laki laki muda itu sambil tersenyum ramah. Laki laki itu hanya membalas jabatan


tanganku dengan muka yang dingin dan kaku ,sama seperti tatapannya sekilas saat berlalu dari hadapanku di bandara waktu itu.


Tak lama kemudian Ririn muncul dari dalam rumah sambil membawa minuman, wajah terkejutnya sangat terlihat. Ku lihat nampan yang dipegangnya untuk membawa gelas minuman sedikit bergetar…dia menuju teman laki laki yang duduk dipojok teras tadi, lalu meletakkan minuman di sampingnya.  Kemudian Ririn menghampiriku lalu berkata dengan suara sengaja dipelankan, “ Kok kamu ga kasih kabar kalo mau datang? “


“Iya…biar surprise…” jawabku sambil tersenyum.


Selang beberapa menit, seorang wanita sebaya dengan mamaku keluar dari balik pintu rumah, dan

__ADS_1


menghampiri aku dan Ririn.


“Siapa Rin…?” Tanya wanita itu yang kuduga adalah ibunya Ririn.


“Ini Adrian ma….kakaknya Hendra dan Tika…” ujar Ririn


Kusalami wanita itu, dia hanya menjabat tanganku secepat kilat


“Oh…kakaknya Hendra….ya sudah …kamu temani Farid sana Rin..kaishan dari tadi bengong sendirian”


ucap wanita itu. Ririn berlalu sambil sekilas melihat kearahku dan menghampiri laki laki muda itu yang ternyata bernama Farid itu.


Aku sedikit grogi dihadapan mamanya Ririn, wanita itu menatap tajam dan terkesan sedikit sinis padaku, aku mencoba menenangkan diri dan katakana dalam hatiku, mungkin memang seperti itu karakter dan pembawaan wanita ini. Untuk menghilang rasa grogi kulemparkan padanganku ke anak anak kecil yang sedang bermain di halaman.


Sesekali kulirik Ririn yang duduk disamping farid, dapat kulihat sikap serba salah dan kikuknya, tapi aku tetap berusaha tersenyum dan bersikap normal. Kulihat jam tanganku, hampir 10 menit aku disitu, aku putuskan untuk berpamitan.


“Aku pulang ya Rin? Oh ya…tadi sambil menuju kesini lihat ada toko kue, aku beli sekalian,tapi ga tahu ya ? itu enak atau ngga? “ ujarku sambil tersenyum kecil.


“Adrian…maafin aku…aku ga tahu kalo kamu….” Ririn berhenti berucap melihat aku menggeleng


dengan cepat. “Ga apa Rin…aku juga yang salah…datang ga kasih kabar….ya sudah…aku pamit ya?” sambil kemudian aku anggukan kepalaku kesemua yang ada disitu termasuk Farid.

__ADS_1


__ADS_2