
Pagi itu aku masih asyik dialam mimpi dalam tidurku, sampai
akhirnya aku terbangun oleh suara ketukan pintu kamarku dan terdengar suara mama
“ Adriaaan…bangun…ada Ririn nih cari kamu…” ucap mama dari balik pintu
“Iyaaa….tunggu sebentar…” ucapku malas sambil menguap,
mataku mencari jam dinding kamar, pukul 8.00 pagi, pantas saja aku masih mengantuk, aku juga baru tertidur jam 3.00 dini hari tadi.
Aku keluar kamar sambil mengucek mataku dan dengan rambut yang masih acak acakan, kamarku yang terletak persis disebelah ruang tamu,membuat aku harus melewati ruang tamu untuk menuju ruang belakang rumahku dan kamar mandi. Kulihat Ririn sedang duduk sambil membaca lembaran majalah lama
yang ada di bawah meja tamu.
“Eh Rin….aku pikir ga sepagi ini kamu datang….tau kamu akan datang pagi, sekalian aja subuh dan kita sholat berjamaah disini” ucapku asal sambil tersenyum.
Ririn tertawa dan membalas ucapanku “ Ahhh..kayak kamu bisa bangun pagi aja….”
“Hahahahah iya juga sih….” Balasku “ Ya udah tunggu sebentar ya? Mau mandi dulu….” Lanjutku lagi sambil berlalu didepannya.
“Sering sering datang nak Ririn….adrian kalo sabtu minggu biasanya ga pernah mandi…paling cuci muka doang” ucap mama agak keras dari ruang makan dibelakang rumah.
“mama ih…nurunin harga jual anak nya aja…” ucapku sambil tertawa.
Setelah mandi dan berganti pakaian , aku duduk di sofa tamu sebelah Ririn, yang masih membaca majalah sambil sesekali meneguk teh manis hangat yang disediakan mama.
“Sorry ya Adrian…aku datang kepagian ya? Soalnya tadi sekalian ikut keponakan ku yang mau pergi ke sekolahnya eks-skul dan kebetulan searah” ucap ririn sambil meletakkan majalah yang dibacanya.
“Gpp Rin…kita ambil hikmahnya saja”…balasku sok serius
“Hikmah? Hikmah apa? Kamu kayak acara ceramah pagi aja” balas Ririn
“Ya hikmahnya seperti kata mamaku tadi….aku jadi mandi “ucapku sambil tertawa
“Kamu ihhh….kirain apa” balas Ririn cemberut dan memukul pahaku dengan bantal sandaran sofa.
Satu jam kemudian Hendra adikku dan Tika pacarnya datang dan bergabung ngobrol bersama aku dan Ririn, dan seperti biasanya obrolan kami diselingi tawa dan saling ledek serta saling bercanda.
Tak terasa kami mengobrol …jam sudah menunjukkan pukul 15.00
“ Eh Adrian…anak orang udah bela belain datang…lu ajak jalan keluar kek, kesannya lu ga bermodal amat jadi cowok” ucap Hendra sambil melirik ke arah Ririn.
Aku tertawa dan menjawab “ Halah…lu
ngusir gue supaya leluasa pacaran sama Tika kan Dra? Sebenarnya cowok yang ga
bermodal itu ya elu..” aku seraya tertawa
Hendra hanya terpaut satu tahun
denganku, sehingga walau kami kakak beradik, kami bagaikan teman saja.
“Rin….mau aku ajak ke tempat
favoritku ga?” ucapku
“Dimana itu? Jauh ga?” balasnya
“ Ga kok…masih dijakarta juga…sebentar
aku ganti baju dan ambil Jaketku ya?” balasku sambil bangkit dari sofa dan
menuju kamarku.
“Kita mau kemana sih Adrian?” ucap
ririn diiringi suara angin dan suara deru motorku
__ADS_1
“Lihat aja nanti….tempatnya murah
meriah kok “ balasku setengah berteriak , takut Ririn tak mendengar karena helm
yang kukenakan dan suara knalpot motorku.
Aku berniat ajak Ririn ke tepi laut tempat favoritku melepas risau, tapi tentu saja aku tidak menceritakan bahwa tempat itu juga jadi tempatku sering bersama Sisca dulu.
Kupacu agak cepat sepeda motorku,
agar tiba disana sebelum gelap
“Jangan ngebut-ngebut Adrian…”
ucap Ririn setengah berteriak dibelakangku
“Peluk saja pinggangku kalo takut…”
balasku enteng sambil tertawa
Ririn mengikuti kata kataku, dipeluknya
pinggangku dan disandarkannya kepalanya di punggungku.
Jantungku sedikit berdegup kencang, ada perasaan aneh menjalar diseluruh tubuhku, tidak,…ga boleh, batinku….aku mengingat Ita dan rencana keputusanku menikah dengannya dalam waktu yang tidak
lama lagi.
Akhirnya kami sampai sebelum
gelap, sang surya masih terlihat dengan rona kemerahan di batas horizon laut
dikejauhan.
“Ini tempat favoritmu Adrian?”
ucap Ririn sambil melihat birunya laut bercampur nuansa orange karena senja dan sang surya yang akan tenggelam tinggalkan siang.
“Kamu romantis juga ya ternyata?”
ucap Ririn sambil tersenyum ke arahku
“Ahh romantis apanya….masa duduk melihat laut aja dibilang romantic Rin” ucapku setengah tertawa.
“Indah…Adrian….aku baru tahu dijakarta ada tempat biasa tapi enak untuk memandang laut seperti ini” Balas Ririn lagi
Aku tak menjawab, hanya tersenyum sambil menatap Ririn sesaat.
Sesaat kami berdua membisu dan asik dengan pikiran masing-masing, sambil memandang suasana sunset yang indah sore itu.
“Kamu lihat garis panjang tempat matahari akan terbenam Rin?” ucapku memecah kebisuan
“Ya…apa namanya ?” Tanya Ririn
sambil tetap menatap kea rah matahari terbenam
“Horizon…” balasku
“Oh ya Horizon….” Sahut Ririn
“Hidup…termasuk Cinta ….ibarat matahari dibatas Horizon sana….saat mengarungi waktu…pagi…lalu siang dan sore…mungkin
didalam waktu waktu tersebut akan cerah..hujan atau mungkin diselingi badai topan…tapi semua itu akan indah seperti yang kamu liat disana sore itu….
Hidup…juga Cinta akan indah pada saat mereka sampai di batas horizon,setelah arungi waktu….walau tak lama kemudian perlahan menghilang dibatas Horizon sana…” ucapku
“Jadi…maksudmu tidak ada keindahan
__ADS_1
yang abadi?” balas Ririn.
“Ga ada yang abadi didunia ini Rin….tapi
seperti yang kita lakukan saat ini, nikmati sebaik baiknya waktu yang kita
punya…. nikmati…dan rasakan keindahan yang sedang ada dihadapan kita sekarang”
balasku
“Kamu betul Adrian….dan aku juga
tidak akan sia siakan keindahan yang ku lihat…aku menyukaimu Adrian” ucap Ririn
sambil menatap ke arahku.
Aku kaget….tak pernah aku menduga
Ririn akan ucapkan kalimat seperti yang baru saja kudengar…
“ Jangan Rin…kamu belum lama mengenalku…kamu baik…wanita pintar…kamu layak dapat seseorang yang lebih baik….”
Balasku tanpa berani melihat kea rah Ririn.
“ Lalu kamu ga baik? Apa ini karena kamu belum bisa melupakan sisca?” ucap Ririrn lagi
Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala
“Atau sudah ada orang lain dihatimu saat ini?” lanjutnya lagi
Aku mengangguk pelan
“Siapa ? boleh aku tahu?” Ririn masih terus mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan
Ku hisap dalam dalam rokokku lalu kusebut sebuah nama….”Ita….”
“Aku tak asing dengar nama itu…tapi
bukankah yang ku dengar dari Hendra dan Tika…papa mamamu…” Ririn tak
melanjutkan kalimatnya.
Aku hanya kembali menggangguk dan
memberikan isyarat dengan bahasa tubuhku , bahwa apa yang dia katakan itu benar
tapi seperti inilah keadaannya.
“Tapi aku tetap menyukaimu…..dan
aku belum pernah menjalin hubungan kasih
dengan seseorang apalagi jatuh cinta Adrian…” imbuh Ririn lagi sambil memainkan
batu batu kecil disekitarnya.
Aku hanya menatapnya sesaat tanpa
satupun kata atau ucapan keluar dari mulutku.
Selang beberapa belas menit
kemudian kami pulang, diperjalanan kami lebih banyak diam, namun lingkar lengan
Ririn memeluk pinggangku semakin erat…seolah berucap “ terima cintaku Adrian…”
Tapi disana ada seorang wanita
__ADS_1
yang menanti dan mencintaiku sejak dulu…wanita mungil dan cantik yang sudah
mengenal seperti apa aku bertahun-tahun .