
“Ada apa meysa? Masih subuh sudah
bangun?” ucap Rey sambil membuka pintu kamar.
“Meysa mau pipis bu….” Ujar Meysa
sambil menarik lengan Rey menuju kamar mandi.
Aku kembali memejamkan mataku
menghadap tembok kamar, baru saja aku hampir terlelap, kurasakan ada yang
menciumi leher belakangku, “Reeeey…meysa…”bisikku
“Sudah ke kamarnya lagi …..”
sahut Rey sambil memelukku
“Ihhhh Rey….geli…..” ucapku
sambil tertawa kecil saat Rey memegang leherku
“Biarin!!!...aku butuh kamu saat
ini Adrian…” bisik Rey ditelingaku
Tak ada kata cinta pagi itu, tak
ada rayuan hati saat itu…..hanya naluri dan hanyutkan diri seiring pagi
Aku enggan sekali bangun dari
tempat tidur dikamar Rey….suasana sejuk dan membuat malas untuk bangun dan
beraktivitas.
“Adrian…Lisa tadi bilang, keluarga
pacarnya bersedia menemui kita siang ini…kamu mau temani aku?” bisik Rey manja
.
“Ok…kebetulan lagi sedang tidak
banyak pekerjaan hari ini, kalo ada apa apa, Bernard pasti kabari aku..”
jawabku
“Makasih ya?” ujar Reyni seraya
tersenyum manis
“Iya…sekarang aku numpang mandi
ya?” balasku
Aku, Lisa, Rey dan Meysa, siang
itu datang dan berbicara dengan pihak keluarga pacar Lisa, akhirnya kami
sepakat kalo mereka akan menikah dua minggu lagi dengan sederhana dan di Kantor
Urusan Agama setempat
“Om….makasih ya? Sudah temani ibu
dan aku bicara dengan keluarga Rendi…” ucap Lisa di dalam mobilku dalam
perjalanan pulang
“Iya…yang penting…nanti setelah
anak Lisa lahir, Lisa janji sama om, lanjutkan sekolah lagi ya? Biar nanti Lisa
bisa kerja …besarkan anak dan tidak tergantung dengan laki laki….seperti ibu
kamu tuh….wanita tangguh dan pintar…” ujarku sambil melirik Reyni disebelahku.
“Iya om….Lisa janji….” Sahut Lisa
dengan senyum polosnya
“Aku pulang ya Rey…? “ ucapku
sambil menuju pintu rumahnya, Rey memegang tanganku seolah isyaratkan ga mau
aku pergi.
__ADS_1
“Kalo ikuti ego dan harus jujur,
aku ga mau kamu pulang Adrian…” ujar Rey sambil menatap sendu padaku
“Reeey….” Balasku pelan
“Iya…I know….aku ngerti….”
Ucapnya lagi dengan rona sedih diwajahnya
“Pak Adrian….gawat…Container kita
yang dibawa dari priok ke salah satu pabrik kita disukabumi, di segel orang Bea
dan Cukai…sekarang mereka menunggu pihak kita disana, Mr.Sanjeev minta pak
Adrian kesana…” ucap Bernard siang itu di telponku, saat itu aku sedang melobi
salah satu calon perwakilan Buyer/pembeli yang akan memberikan job atau order
kepada perusahaan kami.
“Oke pak…setelah selesai meeting
saya langsung menuju ke Sukabumi…” ujarku
Sesampainya di Pabrik cabang kami
di Sukabumi, kulihat muka muka garang dan penuh kekesalan terlihat di wajah
para petugas Bea dan Cukai. Aku mencoba melobi berdasarkan pengalamanku, tapi
Mr.Sanjeev dan wakilnya di pabrik sukabumi, telah melakukan kesalahan fatal dan
berucap keras kepada mereka, sehingga apapun yang aku katan…apapun yang aku
coba lobi tidak berhasil.
“Sekarang begini Pak Adrian…kami
menunggu anda datang untuk menandatangani Berita Acara penyegelan ….tadi kami
sudah diajari dengan keras oleh bos anda Mr.Sanjeev dan Mr.Badri, besok gentian
kami yang akan ajari anda dan bos bos anda di Kantor Pusat Dirjen Bea dan
Cukai….” Ucap salah satu petugas Intelejen Bea dan Cukai dengan ketus.
seperti ini…lobi apapun tidak akan pernah berhasil. Akhirnya aku tanda tangani
Berita Acara tersebut, dan Container berserta supir harus ikut mereka ke kantor
pusat Dirjen Bea dan Cukai di Rawamangun.
“You atur dengan Reyni masalah
ini….selesaikan…” ucap Mr.Sanjeev saat kami meeting pagi itu.
“Seebenarnya ini tidak akan jadi
masalah….jika you dan Mr.Badri tidak salah bicara atau kasar dengan mereka…”
ujarku dengan wajah kesal
“Sudah Pak Adrian…nanti kita
kesana dengan bu Reyi juga untuk selesaikan masalah ini” ucap Bernard menengahi
melihat raut wajah kesalku
“Ikut kami pak Adrian….” Aku
mengikuti langkah petugas bea cukai yang mewawancaraiku…atau lebih tepatnya
menyidikku.
“Lihat mereka pak? Mereka bos bos
perusahaan garment/pakaian juga dari Korea…mereka saja kami penjarakan …apalagi
bapak?” ucap petugas itu sinis. Dibenakku langsung terbayang Ita dan anak anak,
bagaimana mereka jika aku sampai dipenjara karena ketololan bos baru ku itu,
Cuma ini memang reiko dari jabatan manager yang ada padaku.
Reyni seperti mengerti apa yang
__ADS_1
aku pikirkan, dia menggenggam jemariku seolah berkata agar aku tenang dan
bersabar.
Aku benar benar lelah dengan
urusan perkara ini, bolak balik datang untuk di wawancara dan penyidikan belum
lagi entertain diluar jam kerja, agara kasus ini tidak makin rumit dan
diperpanjang.
Aku sangat beruntung, koneksi
pejabat Bea Cukai yang pernah aku kenal saat aku masih bekerja di perawatan dan
perbaikan pesawat terbang, sangat berguna dan mereka sangat membantuku dengan
menelpon para petugas yang tengah menyidikku agar tidak membuat panjang serta
membuat masalah menjadi makin rumit.
Akhirnya titik temupun aku
dapatkan, dan tinggal aku memenuhi permintaan mereka yang menurutku tidak
seberapa dibanding aku harus masuk penjara hanya gara gara perlakuan Mr.Sanjeev
dan Badri yang tidak mengerti etika juga menguasai prosedur.
“You pasti bersekongkol dengan
Bea dan Cukai ya Pak Adrian…? Agar saya bayar dan kalian bisa bagi bagi…” ucap
Mr.Sanjeev keras diruangannya dan terdengar hampir seluruh ruangan kantor.
Aku bertahun tahun bekerja, sejak
ikut Mr.Jimmy juga diperusahaan lain, tidak pernah aku marah dengan siapapun ,
para staff ,rekan kerja apalagi dengan atasan atau pemilik perusahaan. Tapi
saat mendengar ucapan Mr.Sanjeev darahku mendidih, lelahku berhari hari
berjuang agar kasus ini tidak naik kepermukaan dan selesai sebelum masuk ke
tahap yang lebih rumit, malah mendapat respon yang sangat membuatku marah
besar.
Kuraih beberapa odner file di rak
yang terpasang didinding kantor ruangan, ku lempar kesegala arah, mataku merah
menatap suami istri pemilik baru perusahaan yang pernah dipimpin Mr.Jimmy itu.
“BASTARD!!!...BOTH OF YOU….” Aku
berteriak sambil menunjuk Mr.Sanjeev dan Mrs.Devi
“IN THIS CASE, I NEVER SAW FOR
MONEY, I JUST DON’T WANT …THEY PUT ME IN JAIL…IN MY MIND ONLY MY FAMILY…AND
REMEMBER…IF THEY PUT ME IN JAIL, AS MANAGER WHO RESPONSIBLE FOR THIS MATTER,
THE NEXT GUY WILL COME INTO JAIL IS YOU….AS OWNER IN THIS COMPANY..” ucapku
setengah berteriak sambil keluar dan membanting pintu ruangan mereka berdua.
Seluruh pabrik langsung ramai
membicarakan tentangku, mereka bersimpati karena mereka sudah sangat mengenalku
sebagai perintis bersama Mr.Jimmy yang ikut membangun perusahaan ini.
“Sabar pak Adrian….” Bernard
menghampiriku seraya ikut turun dari lantai 2 pabrik bersamaku.
“Maafkan saya Pak Adrian…saya
yang membawa Sanjeev dan Devi ke perusahaan ini, ini ga akan terjadi jika saya
ga bawa mereka….” Ucap reyni dengan bahasa resmi karena dia cukup mengerti ada
Bernard dan kami berada dilingkungan perusahaan.
__ADS_1
“Sudahlah…sekarang lebih baik
kita pikirkan langkah apa selanjutnya…” Ucapku berusaha meredakan emosiku sendiri.