CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
AMARAHKU


__ADS_3

“Ada apa meysa? Masih subuh sudah


bangun?” ucap Rey sambil membuka pintu kamar.


“Meysa mau pipis bu….” Ujar Meysa


sambil menarik lengan Rey menuju kamar mandi.


Aku kembali memejamkan mataku


menghadap tembok kamar, baru saja aku hampir terlelap, kurasakan ada yang


menciumi leher belakangku, “Reeeey…meysa…”bisikku


“Sudah ke kamarnya lagi …..”


sahut Rey sambil memelukku


“Ihhhh Rey….geli…..” ucapku


sambil tertawa kecil saat Rey memegang leherku


“Biarin!!!...aku butuh kamu saat


ini Adrian…” bisik Rey ditelingaku


Tak ada kata cinta pagi itu, tak


ada rayuan hati saat itu…..hanya naluri dan hanyutkan diri seiring pagi


Aku enggan sekali bangun dari


tempat tidur dikamar Rey….suasana sejuk dan membuat malas untuk bangun dan


beraktivitas.


“Adrian…Lisa tadi bilang, keluarga


pacarnya bersedia menemui kita siang ini…kamu mau temani aku?” bisik Rey manja


.


“Ok…kebetulan lagi sedang tidak


banyak pekerjaan hari ini, kalo ada apa apa, Bernard pasti kabari aku..”


jawabku


“Makasih ya?” ujar Reyni seraya


tersenyum manis


“Iya…sekarang aku numpang mandi


ya?” balasku


Aku, Lisa, Rey dan Meysa, siang


itu datang dan berbicara dengan pihak keluarga pacar Lisa, akhirnya kami


sepakat kalo mereka akan menikah dua minggu lagi dengan sederhana dan di Kantor


Urusan Agama setempat


“Om….makasih ya? Sudah temani ibu


dan aku bicara dengan keluarga Rendi…” ucap Lisa di dalam mobilku dalam


perjalanan pulang


“Iya…yang penting…nanti setelah


anak Lisa lahir, Lisa janji sama om, lanjutkan sekolah lagi ya? Biar nanti Lisa


bisa kerja …besarkan anak dan tidak tergantung dengan laki laki….seperti ibu


kamu tuh….wanita tangguh dan pintar…” ujarku sambil melirik Reyni disebelahku.


“Iya om….Lisa janji….” Sahut Lisa


dengan senyum polosnya


“Aku pulang ya Rey…? “ ucapku


sambil menuju pintu rumahnya, Rey memegang tanganku seolah isyaratkan ga mau


aku pergi.

__ADS_1


“Kalo ikuti ego dan harus jujur,


aku ga mau kamu pulang Adrian…” ujar Rey sambil menatap sendu padaku


“Reeey….” Balasku pelan


“Iya…I know….aku ngerti….”


Ucapnya lagi dengan rona sedih diwajahnya


“Pak Adrian….gawat…Container kita


yang dibawa dari priok ke salah satu pabrik kita disukabumi, di segel orang Bea


dan Cukai…sekarang mereka menunggu pihak kita disana, Mr.Sanjeev minta pak


Adrian kesana…” ucap Bernard siang itu di telponku, saat itu aku sedang melobi


salah satu calon perwakilan Buyer/pembeli yang akan memberikan job atau order


kepada perusahaan kami.


“Oke pak…setelah selesai meeting


saya langsung menuju ke Sukabumi…” ujarku


Sesampainya di Pabrik cabang kami


di Sukabumi, kulihat muka muka garang dan penuh kekesalan terlihat di wajah


para petugas Bea dan Cukai. Aku mencoba melobi berdasarkan pengalamanku, tapi


Mr.Sanjeev dan wakilnya di pabrik sukabumi, telah melakukan kesalahan fatal dan


berucap keras kepada mereka, sehingga apapun yang aku katan…apapun yang aku


coba lobi tidak berhasil.


“Sekarang begini Pak Adrian…kami


menunggu anda datang untuk menandatangani Berita Acara penyegelan ….tadi kami


sudah diajari dengan keras oleh bos anda Mr.Sanjeev dan Mr.Badri, besok gentian


kami yang akan ajari anda dan bos bos anda di Kantor Pusat Dirjen Bea dan


Cukai….” Ucap salah satu petugas Intelejen Bea dan Cukai dengan ketus.


seperti ini…lobi apapun tidak akan pernah berhasil. Akhirnya aku tanda tangani


Berita Acara tersebut, dan Container berserta supir harus ikut mereka ke kantor


pusat Dirjen Bea dan Cukai di Rawamangun.


“You atur dengan Reyni masalah


ini….selesaikan…” ucap Mr.Sanjeev saat kami meeting pagi itu.


“Seebenarnya ini tidak akan jadi


masalah….jika you dan Mr.Badri tidak salah bicara atau kasar dengan mereka…”


ujarku dengan wajah kesal


“Sudah Pak Adrian…nanti kita


kesana dengan bu Reyi juga untuk selesaikan masalah ini” ucap Bernard menengahi


melihat raut wajah kesalku


“Ikut kami pak Adrian….” Aku


mengikuti langkah petugas bea cukai yang mewawancaraiku…atau lebih tepatnya


menyidikku.


“Lihat mereka pak? Mereka bos bos


perusahaan garment/pakaian juga dari Korea…mereka saja kami penjarakan …apalagi


bapak?” ucap petugas itu sinis. Dibenakku langsung terbayang Ita dan anak anak,


bagaimana mereka jika aku sampai dipenjara karena ketololan bos baru ku itu,


Cuma ini memang reiko dari jabatan manager yang ada padaku.


Reyni seperti mengerti apa yang

__ADS_1


aku pikirkan, dia menggenggam jemariku seolah berkata agar aku tenang dan


bersabar.


Aku benar benar lelah dengan


urusan perkara ini, bolak balik datang untuk di wawancara dan penyidikan belum


lagi entertain diluar jam kerja, agara kasus ini tidak makin rumit dan


diperpanjang.


Aku sangat beruntung, koneksi


pejabat Bea Cukai yang pernah aku kenal saat aku masih bekerja di perawatan dan


perbaikan pesawat terbang, sangat berguna dan mereka sangat membantuku dengan


menelpon para petugas yang tengah menyidikku agar tidak membuat panjang serta


membuat masalah menjadi makin rumit.


Akhirnya titik temupun aku


dapatkan, dan tinggal aku memenuhi permintaan mereka yang menurutku tidak


seberapa dibanding aku harus masuk penjara hanya gara gara perlakuan Mr.Sanjeev


dan Badri yang tidak mengerti etika juga menguasai prosedur.


“You pasti bersekongkol dengan


Bea dan Cukai ya Pak Adrian…? Agar saya bayar dan kalian bisa bagi bagi…” ucap


Mr.Sanjeev keras diruangannya dan terdengar hampir seluruh ruangan kantor.


Aku bertahun tahun bekerja, sejak


ikut Mr.Jimmy juga diperusahaan lain, tidak pernah aku marah dengan siapapun ,


para staff ,rekan kerja apalagi dengan atasan atau pemilik perusahaan. Tapi


saat mendengar ucapan Mr.Sanjeev darahku mendidih, lelahku berhari hari


berjuang agar kasus ini tidak naik kepermukaan dan selesai sebelum masuk ke


tahap yang lebih rumit, malah mendapat respon yang sangat membuatku marah


besar.


Kuraih beberapa odner file di rak


yang terpasang didinding kantor ruangan, ku lempar kesegala arah, mataku merah


menatap suami istri pemilik baru perusahaan yang pernah dipimpin Mr.Jimmy itu.


“BASTARD!!!...BOTH OF YOU….” Aku


berteriak sambil menunjuk Mr.Sanjeev dan Mrs.Devi


“IN THIS CASE, I NEVER SAW FOR


MONEY, I JUST DON’T WANT …THEY PUT ME IN JAIL…IN MY MIND ONLY MY FAMILY…AND


REMEMBER…IF THEY PUT ME IN JAIL, AS MANAGER WHO RESPONSIBLE FOR THIS MATTER,


THE NEXT GUY WILL COME INTO JAIL IS YOU….AS OWNER IN THIS COMPANY..” ucapku


setengah berteriak sambil keluar dan membanting pintu ruangan mereka berdua.


Seluruh pabrik langsung ramai


membicarakan tentangku, mereka bersimpati karena mereka sudah sangat mengenalku


sebagai perintis bersama Mr.Jimmy yang ikut membangun perusahaan ini.


“Sabar pak Adrian….” Bernard


menghampiriku seraya ikut turun dari lantai 2 pabrik bersamaku.


“Maafkan saya Pak Adrian…saya


yang membawa Sanjeev dan Devi ke perusahaan ini, ini ga akan terjadi jika saya


ga bawa mereka….” Ucap reyni dengan bahasa resmi karena dia cukup mengerti ada


Bernard dan kami berada dilingkungan perusahaan.

__ADS_1


“Sudahlah…sekarang lebih baik


kita pikirkan langkah apa selanjutnya…” Ucapku berusaha meredakan emosiku sendiri.


__ADS_2