
Sejak kepergian Debby, bukan hanya hatiku yang makin membeku , tapi juga sikapku yang semakin dingin kepada
semua wanita. Di kalangan pabrik garmen perusahaan tempatku bekerja yang hampir rata rata karyawannya adalah karyawati atau wanita, menjuluki aku dengan sebutan MJ (Manager Jutek). Aku tak perduli dengan itu dan juga tidak marah dengan julukan atau ledekan tersebut. Kadang aku hanya tersenyum jika mendengar soal itu dari rekan kerjaku.
Siang itu sangat panas, jari jariku yang memegang stang motor terasa terbakar, aku baru saja kembali dari
urusan pekerjaan ku dipelabuhan tanjung priok , aku menepi kesebuah kedai yang menjual minuman dingin. Aku sengaja tidak mau diantar supir dengan mobil kantor, pertama karena akan memakan waktu lebih lama akibat macet dan kedua aku pasti harus kembali ke kantor untuk mengambil motorku. Jika aku pakai motor, aku dapat langsung pulang atau pergi ketempat yang aku mau setelah urusanku selesai, Cuma ya seperti ini, saat panas terik aku harus siap dijemur sinar matahari.
Ahh…nikmat rasanya saat ku minum segelas minuman dingin, di siang bolong dan terik seperti ini. Telpon genggamku berbunyi….mudah mudahan bukan dari kantor atau bosku yang memintaku kembali ke kantor.
BESOK CLARA ULANG TAHUN, MAU DIRAYAIN KECIL KECILAN…KAMU BISA DATANG?
Ternyata pesan dari Ita, segera kubalas pesannya;
__ADS_1
YA…AKU PASTI DATANG, BIAR NANTI KUE TART ULANG TAHUN NYA AKU YANG BELI DAN BAWA KESANA
Sejak kejadian kecelakaanku beberapa waktu silam, aku belum bertemu lagi dengan CLARA putriku, aku hanya
berkomunikasi lewat telpon dengan Ita dan mengirim sejumlah uang untuk keperluannya. Setelah rasa hausku dan penatku hilang, kulanjutkan perjalanan dengan motorku, aku putuskan untuk mampir ke toko kue untuk memesan kue ulang tahun untuk CLARA besok. Ah..seperti apa putriku sekarang? Hampir dua tahun lebih aku tak melihatnya.
Sore itu aku pulang lebih cepat, setelah aku ambil kue pesananku, kulanjutkan menuju ke rumah Ita. Kulihat
rumahnya sudah agak ramai dengan sanak keluarga nya, aku agak ragu dan grogi untuk melangkah masuk, karena sudah lama sekali aku tidak kesitu, tapi sudah kepalang tanggung, aku sudah disini dan membawa kue tart berukuran lumayan.
dengan baju pesta ulang tahunnya yang kedua. Clara hanya tersenyum melihatku, senyum polos anak seusianya, terakhir ku melihatnya dia masih didalam box bayi dan menyusu dari botol susu.
Naluri kebapak-an ku terenyuh, kebahagiaannya melihat kue tart yang kubawa….senyum dan tawa serta celotehnya kepada saudara saudara yang hampir seumurnya saat dia menunjukkan kua ulang tahunnya, buat hatiku meleleh dan bahagia melihatnya.
__ADS_1
Aku seperti setengah berhalusinasi, sekilas bayangan Debby melintas sambil mengacungkan jempol
kepadaku, seperti kebiasaannya dulu jika puas atau kagum pada sesuatu atau padaku.
Ku cium pipi Clara sesaat setelah dia meniup lilin kue ulang tahunnya, sungguh…aku sangat bahagia melihat tawanya…..dan celoteh polosnya….
Apakah ini yang dimaksud bayangan sekilas Debby dengan acungan jempolnya tadi? Apakah ini maksud Tuhan memberitahu bahwa ini ujung dari perjalanan dan petualangan cintaku? Cinta dan sayangku kepada putriku? Darah dagingku? Cinta yang tak hanya indah sesaat….Cinta yang tak pernah tinggalkan luka…
Aku merasa nyaman berada disamping Clara….dan Ita dengan segala kesabaran dan ketulusannya tetap ada
seiring semua jalan cerita hidupku yang ku lalui.
Tetapi bagaimana dengan Papa? Keluargaku? Bayang bayang masa lalu saat perseteruan keluargaku dan keluarga
__ADS_1
Ita kembali melintas.